Kamis, 30 Agustus 2012

Lembar Cinta untuk Ananda # Pengantar Sederhana..



Bismillaahirrahmaanirraahiim…

Ada rindu yang mengendap setiap kali melihat teduh pandangan seorang anak. Ada cinta yang menyeruak ketika wajah-wajah polos nan pancarkan kejujuran itu tersenyum menyapa. Sesekali asa memainkan naluri keibuan diri, kelak akankah kujumpa permata hatiku? 




Ananda, penyejuk hati bunda..

Tak mengapa, meski saat ini kau masih terlukis sempurna dalam impian. Namun ketahuilah, sejak Allah amanahkan diri ini sebagai seorang wanita, saat itu pula bunda merasa telah dititipi benih yang akan menghuni rahim bunda kelak. Sibiran daging bukti keagungan Allah yang harus terjaga dengan sempurna. Bahkan jauh hari sebelum bunda menyempurnakan separuh agama, kau telah memiliki hak untuk bunda rawat dalam kebaikan.

Anakku, banyak orang bilang..buah tak akan pernah jatuh jauh dari pohonnya. Mungkin tak keliru jika bunda mengartikan kelak ketaatanmu kepada Allah, kecintaanmu kepada Rasulullaah, komitmenmu terhadap dien Islam, kedekatanmu dengan Al-Qur’an tak akan jauh berbeda dari apa yang tertanam dalam diri bunda sejak saat ini. Baik, setengah-setengah ataukah buruk? Tentu bunda inginkan yang terbaik untukmu, nak…

Ananda, penentram jiwa bunda..

Seorang ibu adalah madrasah pertama untuk anaknya, yang apabila ia mempersiapkannya dengan baik maka akan terlahirlah generasi-generasi yang hebat buah dari pendidikannya. Lalu bunda tersadar, semua persiapan itu tidaklah instan, semua persiapan itu tidak bisa tercapai tiba-tiba. Perlu proses  panjang yang akhirnya membuat bunda banyak belajar dan memahami makna keutamaan sebuah “madrasah”. Ibarat menanam benih yang baik, agar ia tumbuh subur dan dapat memberi manfaat kelak kepada banyak orang, maka bunda harus mengetahui kapan saat terbaik untuk menyiramnya, pupuk apa saja yang akan menopang tumbuh kembangnya, bagaimana ilmu untuk merawatnya. Bunda harus telaten dan sabar untuk itu. Tak elok rasanya jika bunda inginkan yang terbaik untukmu, tapi bunda sendiri enggan berjuang memantaskan diri di hadapan Allah.

Untuk itu, sekuat tenaga bunda berusaha menempa dan mendidik diri sejak saat ini. Agar kau terbina sejak dini..bahkan sebelum kau terbentuk dan lahir dari rahim bunda, kuharap nanda sudah merasakan indahnya tarbiyah melalui diri bunda..Biidznillaahi ta’ala..

InsyaAllah, besok kita jumpa lagi ya, nanda…ini hanya pengantar sederhana dari banyak lembar impian, harapan dan do’a bunda untukmu..Sepertinya bibimu mulai kesulitan dengan tugasnya, bunda harus bantu bibi dulu.. :)

Bunda bingkis doa terindah untukmu nak,


“Rabby hably minash shaalihiin.” 
Shalih, shalihah, kelak jadilah permata hati bunda yang mencinta & dicintai Allah...




3 komentar:

Lembar Cinta untuk Ananda # Pengantar Sederhana..



Bismillaahirrahmaanirraahiim…

Ada rindu yang mengendap setiap kali melihat teduh pandangan seorang anak. Ada cinta yang menyeruak ketika wajah-wajah polos nan pancarkan kejujuran itu tersenyum menyapa. Sesekali asa memainkan naluri keibuan diri, kelak akankah kujumpa permata hatiku? 




Ananda, penyejuk hati bunda..

Tak mengapa, meski saat ini kau masih terlukis sempurna dalam impian. Namun ketahuilah, sejak Allah amanahkan diri ini sebagai seorang wanita, saat itu pula bunda merasa telah dititipi benih yang akan menghuni rahim bunda kelak. Sibiran daging bukti keagungan Allah yang harus terjaga dengan sempurna. Bahkan jauh hari sebelum bunda menyempurnakan separuh agama, kau telah memiliki hak untuk bunda rawat dalam kebaikan.

Anakku, banyak orang bilang..buah tak akan pernah jatuh jauh dari pohonnya. Mungkin tak keliru jika bunda mengartikan kelak ketaatanmu kepada Allah, kecintaanmu kepada Rasulullaah, komitmenmu terhadap dien Islam, kedekatanmu dengan Al-Qur’an tak akan jauh berbeda dari apa yang tertanam dalam diri bunda sejak saat ini. Baik, setengah-setengah ataukah buruk? Tentu bunda inginkan yang terbaik untukmu, nak…

Ananda, penentram jiwa bunda..

Seorang ibu adalah madrasah pertama untuk anaknya, yang apabila ia mempersiapkannya dengan baik maka akan terlahirlah generasi-generasi yang hebat buah dari pendidikannya. Lalu bunda tersadar, semua persiapan itu tidaklah instan, semua persiapan itu tidak bisa tercapai tiba-tiba. Perlu proses  panjang yang akhirnya membuat bunda banyak belajar dan memahami makna keutamaan sebuah “madrasah”. Ibarat menanam benih yang baik, agar ia tumbuh subur dan dapat memberi manfaat kelak kepada banyak orang, maka bunda harus mengetahui kapan saat terbaik untuk menyiramnya, pupuk apa saja yang akan menopang tumbuh kembangnya, bagaimana ilmu untuk merawatnya. Bunda harus telaten dan sabar untuk itu. Tak elok rasanya jika bunda inginkan yang terbaik untukmu, tapi bunda sendiri enggan berjuang memantaskan diri di hadapan Allah.

Untuk itu, sekuat tenaga bunda berusaha menempa dan mendidik diri sejak saat ini. Agar kau terbina sejak dini..bahkan sebelum kau terbentuk dan lahir dari rahim bunda, kuharap nanda sudah merasakan indahnya tarbiyah melalui diri bunda..Biidznillaahi ta’ala..

InsyaAllah, besok kita jumpa lagi ya, nanda…ini hanya pengantar sederhana dari banyak lembar impian, harapan dan do’a bunda untukmu..Sepertinya bibimu mulai kesulitan dengan tugasnya, bunda harus bantu bibi dulu.. :)

Bunda bingkis doa terindah untukmu nak,


“Rabby hably minash shaalihiin.” 
Shalih, shalihah, kelak jadilah permata hati bunda yang mencinta & dicintai Allah...