Tampilkan postingan dengan label Oase. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Oase. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 Februari 2011

Mempersiapkan Masalah

Bismillaahirrohmaanirrohiim…

Hari ini, benar-benar ingin menjauh dari segala pernak-pernik yang berhubungan dengan kuliah. Saat ini saja..untuk merefleksikan hati dan bercengkrama dengan masalah..(efek UAS PTI kemarin sepertinya.. :D). Eit, tenang dulu sahabat...tak akan kubuat tulisan ini sia-sia, Insya Alloh..

Sebelum masuk ke topik inti (halaah... -_-“ ). Yuk kita kendurkan dulu ketegangan yang menghimpit kita dengan istighfar..sudah?! baiklah, tulisan ini hanya boleh dibaca oleh pihak-pihak yang mencintai senyum..hehe, ^^

Sahabat, pernahkah kita mempersiapkan sebuah masalah?
(lho ko masalah dipersiapkan? bukannya kita harus memberantas si masalah itu biar hati kita tenang?)

Oh,tidak bissa..!! maksudnya gini lho sahabatku, saya bantu dengan ilustrasi ya..

Misalkan, saya membayangkan kalau suatu hari nanti Alloh mengundang saya untuk berkunjung ke Baitulloh (Amiin Yaa Robb..) dengan rizki yang tidak diduga-duga. Tentunya pada saat itu saya akan sangat bersyukur, dan tanpa tedeng aling-aling langsung menerima undangan itu. Saya pun mulai membayangkan perjalanan indah saya ketika menaiki pesawat dengan jama’ah lain. Tapi tiba-tiba saya ingat kalau saya takut akan ketinggian!! (bukankah ini masalah?). Jelas saya tidak ingin membatalkan perjalanan ibadah yang sungguh sudah saya rindukan sejak lama hanya karena phobia ketinggian. Seketika itu otak saya pun mulai beraksi mencari solusi, membuat peta yang dapat mengantarkan saya menuju pintu keluar dari masalah itu. Pokoknya saya harus jadi pergi! Dan..taraaaaa, lampu ide pun menyala :D setelah mencoba mempelajari masalah, dan menyesuaikannya dengan kondisi yang ada, akhirnya saya menemukan jalan keluarnya yaitu saya tidak boleh duduk tepat disamping jendela pesawat. Yap, alhamdulillah masalah ini selesai dan solusi pun didapat.

Nah, sekarang sudah terbayang bukan apa itu “mempersiapkan masalah”?

Ya, terkadang ketika sedang merencanakan sesuatu seringkali kita tertahan oleh masalah-masalah yang kita bayangkan sendiri. Padahal masalah-masalah itu belum tentu terjadi, hanya saja seringkali kita ditakuti oleh ketidaksiapan kita dalam menghadapi masalah di kemudian hari. Tapi bersyukurlah sahabatku, disadari atau tidak saat sedang membayangkan sebuah masalah..hati dan pikiran kita secara spontan akan mencari jalan keluar sebagai langkah antisipasi. Betul?

Dalam sebuah buku, saya menemukan sebuah kalimat hikmah yang menggugah semangat saya. Begini bunyinya..

”Masalah adalah kesempatan untuk beristirahat, lalu bangkit dan berubah.”


Awalnya saya bingung kenapa harus dikatakan kesempatan untuk beristirahat? setelah saya renungi, ternyata memang benar..jika kita mampu menghadapi masalah dengan bijak, maka ia akan mengantarkan kita menuju sebuah pencerahan, menyingkap kabut yang menghalangi kemudahan..agar sadar kemana kita harus bersandar, mentafakuri kelemahan diri dan mengakui kebesaran Alloh Robbul Izzati yang menjanjikan jalan keluar dari setiap ujian masalah kita. Ujian adalah tarbiyah dari Alloh, apakah kita kan sabar ataupun sebaliknya.. (The Zikr)

“Kini, dengan yakin kukatakan..masalah itu nikmat!!dengannya kutelusuri kesalahan-kesalahan yang ada dalam diri ini, karenanya aku pun semakin mendekatkan diri pada Alloh..sungguh nikmat yang luar biasa.”


Selamat merangkum hikmah sahabat....semoga catatan yang sangat sederhana ini bermanfaat. Afwan, jika ada kata yang sia-sia..

Baiklah..masih dalam keadaan tersenyum ya, saya akhiri tulisan ini dengan sebuah do’a..

“Ya Tuhanku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah pula aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong.” (QS Al-Israa : 80)


Amiin Yaa Robbal ‘alamiin..

Barokallohu fiikum..^^

(Untukmu Saniku, Alloh tak pernah membatasi nikmat yang ia berikan untuk kita. Semangat ya.. \^_^/
Untukmu adikku, Azka..hikmah itu terhampar luas dan kaulah penentunya, akan disimpan dengan iman atau dibiarkan terserak begitu saja. Dari Ummi, abi dan dirimu, kutemukan sejatinya perjuangan.. \^_^/ )

Senandung Cinta Syuhada

Mati bagiku tiada masalah
Asalkan dalam ridho dan rahmat Alloh
Dengan jalan apa pun mati itu terjadi
Asalkan kerinduan kepadanya terpenuhi
Kuberserah menyerah kepada-Nya
Sesuai takdir dan kehendak-Nya
Semoga berkat dan rahmat Alloh tercurah
Pada setiap sobekan daging dan darah
(Khubaib Bin ‘Ady)



Bismillaahirrohmaanirrohiim...

Apa kabar sahabat? semoga selalu terpatri syukur yang tak terukur atas setiap aliran nikmat yang diberikan-Nya. Nikmat atas jari-jari kita yang masih leluasa melakukan sesuatu yang bermanfaat. Meski terlihat kecil, pernahkah terfikir jika suatu saat Alloh cabut nikmat atas jari telunjuk kita? mungkin karenanya kita akan kesulitan dalam menulis, bahkan kerepotan saat menyuapkan makanan..yuk bersyukur dari hal yang terkecil, agar semakin terbuka hati dan fikiran kita untuk merenungi setiap karunia dari-Nya..^^

Sahabat, pinjam waktumu sejenak..ada sekelumit kisah luar biasa dari seorang prajurit perindu syahid yang ingin kubagi, sejenak saja..InsyaAlloh terhampar hikmah yang mendalam dari kisahnya.

*****


Hari itu, haru menyeruak didalam hatinya. Lirih lisannya bergantian mengucap takbir dan tasbih. Selepas peperangan di Lembah Badar usai dan kaum muslimin menggenggam kemenangan, ia tak pernah menyangka akan memikul amanah yang agung dari sesosok yang dicintainya. Ya, hari itu ia terpilih sebagai duta yang diamanahi untuk menyebarkan cahaya kebenaran, menghujamkan ketauhidan dan mengajarkan islam kepada kabilah ‘udal dan Qarah.

Esoknya, berbekal keimanan yang kokoh, ia pun berangkat melakukan perjalanan bersama 9 orang duta lainnya yang diamanahi tugas yang sama. Sepanjang perjalanan ia terus merenungi bahwa ini bukanlah perjalanan yang mudah, musuh-musuh Alloh akan terus mengintai dan siap menghalangi perjalanan yang mulia itu kapan saja. Namun, kekhawatiran itu terkalahkan oleh ketaqwaan yang terpatri dalam dirinya dan rasa kecintaannya kepada Rasululloh.

Hingga suatu waktu, setibanya di sebuah perkampungan suku Hudzail yang terletak di perbatasan antara daerah ‘Usfan dan Makkah, sekelompok kafir Quraisy mencium keberadaan mereka. Para kafir Quraisy tentu tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, dengan sigap mereka menghimpun seluruh kaum kafir dari suku Hudzail untuk menghadang perjalanan utusan Rosululloh. Dengan nafsu yang membara para musuh Alloh itu menyiapkan beratus anak panah dan memburu mereka. Namun serbuan anak panah tersebut tidak menyurutkan langkah para pejuang kebenaran untuk melanjutkan perjalanan, hingga satu persatu dari mereka syahid dan hanya tersisa seorang saja yang luput dari pembunuhan itu. Adalah ia, yang kecintaannya terhadap Rosululloh sangatlah besar. Khubaib bin ‘Ady.

Setelah berhasil membunuh sahabat-sahabatnya, kafir Quraisy mengikatnya dengan perlakuan yang hina, lalu ia diiringkan ke Makkah dan dijual sebagai budak dengan harga yang mahal kepada keluarga Al-Harits bin ‘Amr bin Naufal, seorang bangsawan sekaligus pemimpin Quraisy yang ia bunuh di lembah Badar.
Seluruh keluarga yang mengetahui peristiwa kematian Al-Harits oleh dirinya langsung memperlakukannya seperti binatang peliharaan mereka dengan menawan dan merantainya di halaman rumah Bani Harits. Mereka membiarkan Khubaib tersiksa dalam keadaan seperti itu, mereka tidak memberinya makan dan membiarkannya terpanggang terik matahari.

Tibalah saatnya pengeksekusian khubaib..sebelum eksekusi dilakukan ia meminta izin untuk menegakkan sholat dua rakaat terlebih dahulu. Dengan tatapan yang menghinakan mereka pun mengizinkannya untuk sholat karena menyangka bahwa khubaib hendak mempertimbangkan untuk menyerah kalah dan menyatakan keingkarannya kepada Alloh, Rosululloh dan agama Islam. Namun ia tak menghiraukan tatapan-tatapan itu dan melanjutkan niatnya untuk melaksanakan sholat. Ia pun sholat dengan khusyu dan hati yang pasrah. Ia rasakan kenikmatan yang luar biasa dalam setiap rakaatnya yang panjang hingga ia enggan untuk meninggalkan sholat. Akan tetapi kemudian ia berpaling ke arah para algojo dan dengan lantang berkata..

“ Demi Alloh, jika bukan karena khawatir akan persangkaan kalian kepadaku bahwa aku takut mati, niscaya akan kulanjutkan lagi sholatku!!!”


*****


Pelepah kurma yang menyerupai kayu salib telah disiapkan kafir Quraisy, kemudian mereka pun menyeret Khubaib dan mengikatnya kukuh disana. Pada saat itu seorang Quraisy memberikan tawaran kebebasan kepadanya dengan Rosululloh sebagai tebusannya. Dengan tegas ia pun menjawab, mengalunkan senandung kecintaannya terhadap Rosululloh, manusia sempurna yang selalu ia rindukan kehadirannya..

“Demi Alloh, tak sudi aku bersama anak istriku selamat dan menikmati kesenangan dunia, sedang Rosululloh tertimpa musibah meski hanya oleh sepotong duri!!!”


Allohuakbar!!!!


Tanah Tan’im dipenuhi darah yang tumpah. Terik matahari di padang sahara, penyiksaan yang bertubi-tubi tak sedikit pun melunturkan keimanan yang telah kuat tertanam dalam dirinya. Hingga tak dihiraukannya lagi perih luka yang menyiksa tubuhnya, yang ia rasakan hanyalah syahdu mengantar detik-detik pertemuannya dengan Ar-Rahiim..menitiskan ketenangan dalam kalbunya yang terus membayangkan kenikmatan surga yang akan segera diraihnya dengan gelar syuhada. Hingga ia melemah dan tubuhnya sudah tak kuasa bergerak..hanya lirih lisannya mengucap do’a ditengah riuhnya suara-suara musuh Alloh yang menyiksanya..

“Allohu Robbi,,telah kami tunaikan tugas dari Rosul-Mu, maka sampaikanlah kepadanya tindakan orang-orang ini terhadap kami.”


Setelah itu, hening menyergap..Khubaib telah menjemput syahid, menyempurnakan pertemuannya dengan kekasih sejati yang telah lama ia rindu untuk melihatnya..Alloh Robbul Izzaty...

*****


Tak lama kemudian, Alloh mengabulkan doa Khubaib menjelang syahid. Rosululloh pun mengutus dua orang sahabat , Miqdad bin Amir dan Zubair bin Awwam untuk membebaskannya dari tiang salib. Biidznillah, sampailah mereka ke tempat itu dengan mudah. Keduanya segera menurunkan tubuh Khubaib. Sungguh, mereka takjub melihat tubuh Khubaib yang masih utuh dan tercium wangi yang semerbak darinya. Subhanalloh, bumi pun menyambut untuk merengkuh jasad Khubaib sepenuh cinta.

*****


(Terinspirasi dari buku Spiritual Problem Solving...terpetik hikmah di ahad pagi..^^ membaca kisah ini, saya kembali teringatkan dengan ayat cinta dari-Nya dalam QS Al-Imron 169-171.
“Kekokohan iman yang terpancar dari para syuhada tak akan pernah redup, karena dihati para perindu surga mereka tetaplah hidup..”
Pantaskah diri ini merindukan syahid????
Selamat merangkum hikmah sahabat.. ^^)

Selasa, 18 Mei 2010

Hiasan Perjuangan


Secercah cahaya kamera memotret pemilik mata sendunya..
Dengan setengah terpaksa..
Sesungging senyum di lontarkan ke arahnya..
Menjelajahi sorot mata yang menyimpan seribu cerita..
Terlihat jelas darinya..
Guratan-guratan urat perjuangan melawan berbagai masalah hidup
Yang dengan tegar ia lewati sejuta rintangan itu..
Meski penat dirasa..
Namun keyakinan akan indahnya janji abadi telah kokoh dalam jiwa
Dalam diamnya.
Ia mencoba bangkit..
Dan dalam diamnya..
Ia tegaskan pada dirinya sendiri..
“Wahai diri..
Lempar jauh-jauh rasa gelisah..
Duka..
Bimbang..
Yang bersemayam dalam hati..
Biarkan air mata menetes..
Hilangkan lara di hati..
Terima semua sebagai bagian perjalanan hidup ini..
Dengan kebesaran hati dan jiwa..
Engkau akan temukan
Apa rahasia dibalik titian kehidupan yang telah dijalani..
Hingga kelak akan kau rasakan..
Tak ada lagi riak kegelisahan dan keresahan saat sendiri..
Berhentilah sejenak
Agar hati damai dan tenang
hingga rasa itu menelusup ke tulang tulang..
Berharaplah sinar iman hadir
Hingga menyentuh hati.
Bila telah bersinar...
Sebesar apapun rintangan yang kan kau tempuhi.
Itulah hiasan perjuangan...
Dan tombak keyakinan harus selalu kau tancapkan dalam diri..
Bahwa keterkaitan hati & iman akn meneguhkan langkah..
Seperih apa pun garis hidup yang harus dijalani..
Hiingga Allah merengkuhmu dalam dekapan.
Memenuhi janjinya,untukmu yang tak lelah bertawakkal.."


Dalam indahnya ukhuwah fillah

Sunda_Sriwijaya

2010.Mei.18

(diannur'aeni.syarifahannisa.rahmaayupratiwi.sarahmar'atusshalihah.anisaaqilaazmahbahirah)

Kamis, 13 Mei 2010

Ya Allah...Aku Jatuh Cinta...


Kalau kau tau apa arti lain dari CINTA..
Selain getar aneh di dada…
Adalah dia yang menggugah rasa…
Adalah hidup bertabur bunga,
Dalam damai, ceria dan segala mesra...
Jatuh Cinta itu berjuta rasanya…

Ketika semua rasa bersatu padu dalam sebuah hati, hatimu merasakan kekuatan mencintai. Kamu tersenyum meski hatimu terluka, karena yakin ia milikmu. Kamu menangis kala bahagia bersama, karena yakin ia cintamu. Cinta melukis bahagia, sedih, sakit hati, cemburu, berduka dan hatimu tetap diwarnai mencintai, itulah dalamnya cinta…
Begitu engkau jatuh cinta, kau akan memberikan semua perhatian dan pikiranmu kepada apa yang kamu cintai. Ia yang selalu mempengaruhi waktu dan tindakanmu. Engkau berfikir hidup akan menjadi hampa tanpa kehadirannya.
Begitulah cinta yang coba kumaknai, meski aku hanyalah insan yang masih mengeja apa itu CINTA… Karena cinta pulalah kita ada di dunia. Maka isilah hari-harimu dengan CINTA dan engkau akan merasakan betapa HIDUP ITU INDAH… Life is beautiful…

Maka akan kukatakan bahwasanya......

Ya Allah,

Aku

Jatuh

Cinta


Cinta padaMu, cinta pada dakwah ini… Pada jalan yang dapat mendekatkanku padaMu, pada keridhoanMu, pada jannah-Mu yang indah, yang takkan pernah aku bisa membayangkannya…
“Dakwah merupakan perjalanan panjang yang penuh dengan duri dan rintangan. Kemenangan dakwah akan diperoleh jika anggota-anggotanya komitmen dan teguh dalam menapaki jalan dakwah.” (Fathi Yakan)

PUISI DAKWAH (Suatu inspirasi dari Arkanul Bai`ah)
Katakanlah, “Inilah jalanku, aku mengajak kalian kepada Allah dengan bashiroh, aku dan pengikut-pengikutku – mahasuci Allah, dan aku bukan termasuk orang-orang yang musyrik”.
Ikhwan wa Akhwatifillah, Para Da`i dan Da’iyah…
Jalan dakwah panjang terbentang jauh ke depan…
Duri dan batu terjal selalu mengganjal,…
Lurah dan bukit senantiasa menghadang…
Ujungnya bukan di usia, bukan pula di dunia…
Tetapi Cahaya Maha Cahaya,…
Syurga dan Ridho Allah…
Cinta adalah sumbernya,…
Hati dan jiwa adalah rumahnya…
Pergilah ke hati-hati manusia ajaklah ke jalan Rabbmu…
Nikmati perjalanannya, berdiskusilah dengan bahasa bijaksana…
Dan jika seseorang mendapat hidayah keranamu Itu lebih baik dari dunia dan segala isinya…

Ikhwan wal Akhwatifillah, Para Junudud Dakwah !!
Pergilah ke hati-hati manusia ajaklah ke jalan Rabbmu…

Jika engkau cinta maka dakwah adalah FAHAM…
Mengerti tentang Islam,…
Risalah Anbiya dan warisan ulama Hendaknya engkau fanatik dan bangga dengannya…
Seperti Mughirah bin Syu’bah di hadapan Rustum Panglima Kisra…
Jika engkau cinta maka dakwah adalah IKHLAS…
Menghiasi hati, memotivasi jiwa untuk berkarya…
Seperti Kata Abul Anbiya,…
“Sesungguhnya sholatku ibadahku, hidupku dan matiku semata bagi Rabb semesta”
Berikan hatimu untuk Dia, katakan “Allahu ghayatuna”
Jika engkau cinta maka dakwah adalah AMAL…
membangun kejayaan ummat bila dan di mana saja berada…
yang bernilai adalah kerja bukan semata ilmu apalagi lamunan…
Sasarannya adalah perbaikan dan perubahan, al ishlah wa taghyir…
Dari diri pribadi, keluarga, masyarakat hingga Negara…
Tingkatkan kerja secara tertib untuk mencapai nusrah dari Allah…
Jika engkau cinta maka dakwah adalah JIHAD…
Sungguh-sungguh di medan perjuangan melawan kebatilan…
Tinggikan kalimah Allah rendahkan kalimah syaitan durjana…
Kerja keras tak kenal lelah adalah rumusnya,…
Tinggalkan kemalasan, lamban, dan berpangkutangan…
Jika engkau cinta maka dakwah adalah TAAT…
Kepada Allah dan Rasul, Alqur-an dan Sunnahnya…
serta orang-orang bertaqwa yang tertata…
Taat adalah wujud syukurmu kepada hidayah Allah…
nikmat akan bertambah melimpah penuh berkah…
Jika engkau cinta maka dakwah adalah TADHHIYAH,…
Bukti kesetiaan dan kesiapan memberi, pantang meminta…
Bersedialah banyak kehilangan dengan sedikit menerima…
Karena yang disisi Allah lebih mulia, sedang di sisimu fana belaka…
Sedangkan tiap titisan keringat berpahala lipat ganda…
Jika engkau cinta maka dakwah adalah THABAT,…
Hati dan jiwa yang tegar walau banyak rintangan…
Buah dari sabar meniti jalan, teguh dalam barisan…
Istiqomah dalam perjuangan dengan kaki tak tergoyahkan…
Berjalan lempang jauh dari penyimpangan…
Jika engkau cinta maka dakwah adalah TAJARRUD…
Ikhlas di setiap langkah menggapai satu tujuan…
Padukan seluruh potensimu libatkan dalam jalan ini,…
Engkau da’i sebelum apapun adanya engkau…
Dakwah tugas utamamu sedang lainnya hanya sampingan…
Jika engkau cinta maka dakwah adalah TSIQOH…
Kepercayaan yang dilandasi iman suci penuh keyakinan…
Kepada Allah, Rasul, Islam, Qiyadah dan Junudnya…
Hilangkan keraguan dan pastikan kejujurannya…
Karena inilah kafilah kebenaran yang penuh berkah…
Jika engkau cinta maka dakwah adalah UKHUWAH…
Lekatnya ikatan hati berjalin dalam nilai-nilai persaudaraan…
Bersaudaralah dengan muslimin sedunia, utamanya mukmin mujahidin…
Salamatus Shodri merupakan syarat terendahnya,…
Itsar bentuk tertingginya…
Dan Allah yang mengetahui menghimpun hati-hati para da’ie dalam cinta-Nya…
berjumpa karena taat kepada-Nya…
Melebur satu dalam dakwah ke jalan Allah, saling berjanji untuk menolong syariat-Nya…

Memang seperti itu dakwah. Dakwah adalah cinta. Dan cinta akan meminta semuanya dari dirimu. Sampai pikiranmu. Sampai perhatianmu. Berjalan, duduk, dan tidurmu.
Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah. Tentang umat yang kau cintai.
Lagi-lagi memang seperti itu DAKWAH. Menyedot saripati energimu. Sampai tulang belulangmu. Sampai daging terakhir yang menempel di tubuh rentamu. Tubuh yang luluh lantak diseret-seret. Tubuh yang hancur lebur dipaksa berlari…

Seperti itu pula kejadiannya pada rambut Rasulullah saw. Beliau memang akan tua juga. Tapi kepalanya beruban karena beban berat dari ayat yang diturunkan Allah.
Sebagaimana tubuh mulia Umar bin Abdul Aziz. Dia memimpin hanya sebentar. Tapi kaum muslimin sudah dibuat bingung. Tidak ada lagi orang miskin yang bisa diberi sedekah. Tubuh mulia itu terkoyak-koyak. Sulit membayangkan sekeras apa sang Khalifah bekerja. Tubuh yang segar bugar itu sampai rontok. Hanya dalam 2 tahun, ia sakit parah kemudian meninggal. Toh memang itu yang diharapkannya; mati sebagai jiwa yang tenang.
Dan di etalase akhirat kelak, mungkin tubuh Umar bin Khathab juga terlihat tercabik-cabik. Kepalanya sampai botak. Umar yang perkasa pun akhirnya membawa tongkat ke mana-mana. Kurang heroik? Akhirnya diperjelas dengan salah satu luka paling legendaris sepanjang sejarah; luka ditikamnya seorang Khalifah yang sholih, yang sedang bermesra-mesraan dengan Tuhannya saat sholat.
Dakwah bukannya tidak melelahkan. Bukannya tidak membosankan. Dakwah bukannya tidak menyakitkan. Bahkan juga para pejuang risalah bukannya sepi dari godaan kefuturan.
Tidak… Justru kelelahan. Justru rasa sakit itu selalu bersama mereka sepanjang hidupnya. Setiap hari. Satu kisah heroik, akan segera mereka sambung lagi dengan amalan yang jauh lebih “tragis”. Justru karena rasa sakit itu selalu mereka rasakan, selalu menemani… Justru karena rasa sakit itu selalu mengintai ke mana pun mereka pergi… Akhirnya menjadi adaptasi. Kalau iman dan godaan rasa lelah selalu bertempur, pada akhirnya salah satunya harus mengalah. Dan rasa lelah itu sendiri yang akhirnya lelah untuk mencekik iman. Lalu keimanan akan terus berkobar dalam dada.
Begitu pula rasa sakit. Hingga luka tak kau rasa lagi sebagai luka. Hingga “hasrat untuk mengeluh” tidak lagi terlalu menggoda dibandingkan jihad yang begitu cantik. Begitupun Umar. Saat Rasulullah wafat, ia histeris. Saat Abu Bakar wafat, ia tidak lagi mengamuk. Bukannya tidak cinta pada abu Bakar. Tapi saking seringnya “ditinggalkan”, hal itu sudah menjadi kewajaran. Dan menjadi semacam tonik bagi iman..
Karena itu kamu tahu. Pejuang yang heboh ria MEMAMER-MAMERKAN AMALNYA adalah anak kemarin sore. Yang takjub pada rasa sakit dan pengorbanannya juga begitu. Karena mereka jarang disakiti di jalan Allah. Karena tidak setiap saat mereka memproduksi karya-karya
besar. Maka sekalinya hal itu mereka kerjakan, sekalinya hal itu mereka rasakan, mereka merasa menjadi orang besar. Dan mereka justru jadi target doa para mujahid sejati,
“Ya Allah, berilah dia petunjuk… Sungguh Engkau Maha Pengasih lagi maha Penyayang…“
Maka satu lagi seorang pejuang tubuhnya luluh lantak. Jasadnya dikoyak beban dakwah.
Tapi iman di hatinya memancarkan cinta… Mengajak kita untuk terus berlari…

“Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu.
Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu.
Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu.
Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu.
Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu.”
(Alm. Ust Rahmat Abdullah)


Ketika CINTA itu tak lagi seindah dulu, di mana engkau benar-benar merasakan cinta pada perjumpaan pertama (di awal hijrah)... Maka cobalah tuk kembali mengingat masa-masa indah itu, masa di mana engkau selalu merasa rindu tuk bersama ia yang engkau cintai...
Rasakan kembali nuansa cinta yang indah itu, kala engkau tersenyum meski saat itu engkau ingin menangis... Jangan hanya mengingat ketika hatimu terluka karena sesuatu di masa itu...

Semoga kita bisa kembali merasakan CINTA itu lagi... Amiiin...

(Copas, dengan sedikit perubahan....semoga bermanfaat..hamasah!!!!)

Sabtu, 09 Januari 2010

Aku dan tangis mereka

Lama tak bersua tangis
Pelupuk terasa kering tiada beningnya tetesan
Bukan tak ingin
Namun jika kutumpahkan
Aku takut semua terurai hanya karena dunia,tanpa keimanan.
....
Malu, mengenang tangis seorang kaya
Ketika sahabat'y bertanya sebab
Ia menjawab,
'Tangisku bkn karena dunia, sungguh aku takut termasuk orang2 yang dipercepat kebaikannya di dunia dan ditahan dari sahabat2 karena banyaknya hartaku!'
....
Aku,terkadang masih berbaur dengan sifat2 dunia,
bahkan bulir tangisku terbuang sia-sia karenanya.
...
Malu, mengingat seorang pemimpin
Yang banyak tersedu karena takut padaNya.
Bergetar hebat hatinya dalam bilangan ayat yang ia bacakan,
Hingga butir bening itu berderai membasahi janggutnya
Hingga tenggorokannya hampir tercekik dan terjatuh dalam tangis..
mengetahui dahsyatnya adzabMu.
...
Aku,sering melantunkan ayatMu
Namun sedikit memahami
Seakan sulit mengiringinya dengan tangis karenaMu.
...
Menangislah wahai diriku,
Karena air matamu sungguh dirindukanNya.
Biarkan bulir itu mengalir
menyatu dengan rasa takut
Bercampur rasa malu
Pada Dia..
Hanya untukNya.

(daLam renungan 070110)

Kamis, 22 Oktober 2009

Hati Menemukan Kedamaian dengan Mengingat Allah

Menurut penelitian oleh David B Larson dan timnya dari the American National Health Research Center [Pusat Penelitian Kesehatan Nasional Amerika], pembandingan antara orang Amerika yang taat dan yang tidak taat beragama telah menunjukkan hasil yang sangat mengejutkan. Sebagai contoh, dibandingkan mereka yang sedikit atau tidak memiliki keyakinan agama, orang yang taat beragama menderita penyakit jantung 60% lebih sedikit, tingkat bunuh diri 100% lebih rendah, menderita tekanan darah tinggi dengan tingkat yang jauh lebih rendah, dan angka perbandingan ini adalah 7:1 di antara para perokok. 1
Ibadah dan keimanan kepada Allah memiliki lebih banyak pengaruh baik pada kesehatan manusia daripada keimanan kepada apa pun yang lain.

Dalam sebuah pengkajian yang diterbitkan dalam International Journal of Psychiatry in Medicine, sebuah sumber ilmiah penting di dunia kedokteran, dilaporkan bahwa orang yang mengaku dirinya tidak berkeyakinan agama menjadi lebih sering sakit dan mempunyai masa hidup lebih pendek. Menurut hasil penelitian tersebut, mereka yang tidak beragama berpeluang dua kali lebih besar menderita penyakit usus-lambung daripada mereka yang beragama, dan tingkat kematian mereka akibat penyakit pernapasan 66% lebih tinggi daripada mereka yang beragama.

Para pakar psikologi yang sekuler cenderung merujuk angka-angka serupa sebagai "dampak kejiwaan". Ini berarti bahwa keyakinan agama meningkatkan semangat orang, dan hal ini berpengaruh baik pada kesehatan. Penjelasan ini mungkin sungguh beralasan, namun sebuah kesimpulan yang lebih mengejutkan muncul ketika orang-orang tersebut diperiksa. Keimanan kepada Allah jauh lebih kuat daripada pengaruh kejiwaan apa pun. Penelitian yang mencakup banyak segi tentang hubungan antara keyakinan agama dan kesehatan jasmani yang dilakukan oleh Dr. Herbert Benson dari Fakultas Kedokteran Harvard telah menghasilkan kesimpulan yang mencengangkan di bidang ini. Walaupun bukan seorang yang beragama, Dr. Benson telah menyimpulkan bahwa ibadah dan keimanan kepada Allah memiliki lebih banyak pengaruh baik pada kesehatan manusia daripada keimanan kepada apa pun yang lain. Benson menyatakan, dia telah menyimpulkan bahwa tidak ada keimanan yang dapat memberikan banyak kedamaian jiwa sebagaimana keimanan kepada Allah. 2

Apa yang mendasari adanya hubungan antara keimanan dan jiwa raga manusia ini? Kesimpulan yang dicapai oleh sang peneliti sekuler Benson adalah, dalam kata-katanya sendiri, bahwa jasmani dan ruhani manusia telah dikendalikan untuk percaya kepada Allah. 3

Kenyataan ini, yang oleh dunia kedokteran pelan-pelan telah mulai diterima, adalah sebuah rahasia yang dinyatakan dalam Al Qur'an dengan kalimat ini "...Hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar Ra’d, 13:28). Alasan mengapa orang-orang yang beriman kepada Allah, yang berdoa dan berharap kepada-Nya, lebih sehat secara ruhani dan jasmani adalah karena mereka berperilaku sesuai dengan tujuan penciptaan mereka. Filsafat dan sistem yang tidak selaras dengan penciptaan manusia selalu mengarah pada penderitaan dan ketidakbahagiaan.

Kedokteran modern sekarang sedang mengarah menuju pemahaman tentang kebenaran ini. Seperti kata Patrick Glynn: "Penelitian ilmiah di bidang psikologi selama lebih dari 24 tahun silam telah menunjukkan bahwa, ... keyakinan agama adalah satu di antara sejumlah kaitan paling serasi dari keseluruhan kesehatan jiwa dan kebahagiaan." 4

Sikap Memaafkan dan Manfaatnya bagi Kesehatan

Salah satu sifat mulia yang dianjurkan dalam Al Qur’an adalah sikap memaafkan:

Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh. (QS. Al Qur’an, 7:199)

Dalam ayat lain Allah berfirman: "...dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. An Nuur, 24:22)

Mereka yang tidak mengikuti ajaran mulia Al Qur'an akan merasa sulit memaafkan orang lain. Sebab, mereka mudah marah terhadap kesalahan apa pun yang diperbuat. Padahal, Allah telah menganjurkan orang beriman bahwa memaafkan adalah lebih baik:

... dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS. At Taghaabun, 64:14)

Juga dinyatakan dalam Al Qur'an bahwa pemaaf adalah sifat mulia yang terpuji. "Tetapi barang siapa bersabar dan memaafkan, sungguh yang demikian itu termasuk perbuatan yang mulia." (Qur'an 42:43) Berlandaskan hal tersebut, kaum beriman adalah orang-orang yang bersifat memaafkan, pengasih dan berlapang dada, sebagaimana dinyatakan dalam Al Qur'an, "...menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain." (QS. Ali ‘Imraan, 3:134)
Para peneliti percaya bahwa pelepasan hormon stres, kebutuhan oksigen yang meningkat oleh sel-sel otot jantung, dan kekentalan yang bertambah dari keeping-keping darah, yang memicu pembekuan darah menjelaskan bagaimana kemarahan meningkatkan peluang terjadinya serangan jantung. Ketika marah, detak jantung meningkat melebihi batas wajar, dan menyebabkan naiknya tekanan darah pada pembuluh nadi, dan oleh karenanya memperbesar kemungkinan terkena serangan jantung.

Pemahaman orang-orang beriman tentang sikap memaafkan sangatlah berbeda dari mereka yang tidak menjalani hidup sesuai ajaran Al Qur'an. Meskipun banyak orang mungkin berkata mereka telah memaafkan seseorang yang menyakiti mereka, namun perlu waktu lama untuk membebaskan diri dari rasa benci dan marah dalam hati mereka. Sikap mereka cenderung menampakkan rasa marah itu. Di lain pihak, sikap memaafkan orang-orang beriman adalah tulus. Karena mereka tahu bahwa manusia diuji di dunia ini, dan belajar dari kesalahan mereka, mereka berlapang dada dan bersifat pengasih. Lebih dari itu, orang-orang beriman juga mampu memaafkan walau sebenarnya mereka benar dan orang lain salah. Ketika memaafkan, mereka tidak membedakan antara kesalahan besar dan kecil. Seseorang dapat saja sangat menyakiti mereka tanpa sengaja. Akan tetapi, orang-orang beriman tahu bahwa segala sesuatu terjadi menurut kehendak Allah, dan berjalan sesuai takdir tertentu, dan karena itu, mereka berserah diri dengan peristiwa ini, tidak pernah terbelenggu oleh amarah.

Menurut penelitian terakhir, para ilmuwan Amerika membuktikan bahwa mereka yang mampu memaafkan adalah lebih sehat baik jiwa maupun raga. Orang-orang yang diteliti menyatakan bahwa penderitaan mereka berkurang setelah memaafkan orang yang menyakiti mereka. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa orang yang belajar memaafkan merasa lebih baik, tidak hanya secara batiniyah namun juga jasmaniyah. Sebagai contoh, telah dibuktikan bahwa berdasarkan penelitian, gejala-gejala pada kejiwaan dan tubuh seperti sakit punggung akibat stress [tekanan jiwa], susah tidur dan sakit perut sangatlah berkurang pada orang-orang ini.
Memaafkan, adalah salah satu perilaku yang membuat orang tetap sehat, dan sebuah sikap mulia yang seharusnya diamalkan setiap orang

Dalam bukunya, Forgive for Good [Maafkanlah demi Kebaikan], Dr. Frederic Luskin menjelaskan sifat pemaaf sebagai resep yang telah terbukti bagi kesehatan dan kebahagiaan. Buku tersebut memaparkan bagaimana sifat pemaaf memicu terciptanya keadaan baik dalam pikiran seperti harapan, kesabaran dan percaya diri dengan mengurangi kemarahan, penderitaan, lemah semangat dan stres. Menurut Dr. Luskin, kemarahan yang dipelihara menyebabkan dampak ragawi yang dapat teramati pada diri seseorang. Dia melanjutkan dengan mengatakan bahwa:

Permasalahan tentang kemarahan jangka panjang atau yang tak berkesudahan adalah kita telah melihatnya menyetel ulang sistem pengatur suhu di dalam tubuh. Ketika Anda terbiasa dengan kemarahan tingkat rendah sepanjang waktu, Anda tidak menyadari seperti apa normal itu. Hal tersebut menyebabkan semacam aliran adrenalin yang membuat orang terbiasa. Hal itu membakar tubuh dan menjadikannya sulit berpikir jernih – memperburuk keadaan.

Sebuah tulisan berjudul "Forgiveness" [Memaafkan], yang diterbitkan Healing Current Magazine [Majalah Penyembuhan Masa Kini] edisi bulan September-Oktober 1996, menyebutkan bahwa kemarahan terhadap seseorang atau suatu peristiwa menimbulkan emosi negatif dalam diri orang, dan merusak keseimbangan emosional bahkan kesehatan jasmani mereka. Artikel tersebut juga menyebutkan bahwa orang menyadari setelah beberapa saat bahwa kemarahan itu mengganggu mereka, dan kemudian berkeinginan memperbaiki kerusakan hubungan. Jadi, mereka mengambil langkah-langkah untuk memaafkan. Disebutkan pula bahwa, meskipun mereka tahan dengan segala hal itu, orang tidak ingin menghabiskan waktu-waktu berharga dari hidup mereka dalam kemarahan dan kegelisahan, dan lebih suka memaafkan diri mereka sendiri dan orang lain.

Semua penelitian yang ada menunjukkan bahwa kemarahan adalah sebuah keadaan pikiran yang sangat merusak kesehatan manusia. Memaafkan, di sisi lain, meskipun terasa berat, terasa membahagiakan, satu bagian dari akhlak terpuji, yang menghilangkan segala dampak merusak dari kemarahan, dan membantu orang tersebut menikmati hidup yang sehat, baik secara lahir maupun batin. Namun, tujuan sebenarnya dari memaafkan –sebagaimana segala sesuatu lainnya – haruslah untuk mendapatkan ridha Allah. Kenyataan bahwa sifat-sifat akhlak seperti ini, dan bahwa manfaatnya telah dibuktikan secara ilmiah, telah dinyatakan dalam banyak ayat Al Qur’an, adalah satu saja dari banyak sumber kearifan yang dikandungnya.

Kamis, 24 September 2009

Jalan Cinta Para Pejuang

di sana, ada cita dan tujuan
yang membuatmu menatap jauh ke depan
di kala malam begitu pekat
dan mata sebaiknya dipejam saja
cintamu masih lincah melesat
jauh melampaui ruang dan masa
kelananya menjejakkan mimpi-mimpi

lalu di sepertiga malam terakhir
engkau terjaga, sadar, dan memilih menyalakan lampu
melanjutkan mimpi indah yang belum selesai
dengan cita yang besar, tinggi, dan bening
dengan gairah untuk menerjemahkan cinta sebagai kerja
dengan nurani, tempatmu berkaca tiap kali
dan cinta yang selalu mendengarkan suara hati

teruslah melanglang di jalan cinta para pejuang
menebar kebajikan, menghentikan kebiadaban, menyeru pada iman
walau duri merantaskan kaki, walau kerikil mencacah telapak
sampai engkau lelah, sampai engkau payah
sampai keringat dan darah tumpah

tetapi yakinlah, bidadarimu akan tetap tersenyum
di jalan cinta para pejuang

Salim A. Fillah

Rabu, 23 September 2009

Menakar Kejujuran

“Tetapi harga sebenarnya Cuma 200 dirham. Mari ke kedai saya supaya saya dapat mengembalikan uang selebihnya kepada Anda, “ kata Yunus lagi. “Biarlah, tidak perlu. Aku merasa senang dan beruntung dengan harga 400 dirham itu, sebab di kampungku harga barang ini paling murah 500 dirham.”

----------

Suatu hari seorang saudagar perhiasan di zaman Tabiin bernama Yunus bin Ubaid, menyuruh saudaranya menjaga kedainya karena ia akan melaksanakan shalat. Saat itu datanglah seorang Badui yang hendak membeli perhiasan di kedai tersebut. Maka terjadilah jual beli di antara Badui dan penjaga kedai yang diamanahkan tuannya. Satu barang perhiasan permata yang hendak dibeli harganya 400 dirham. Saudara Yunus menunjukkan barang yang sebetulnya harganya 200 dirham. Barang tersebut dibeli oleh Badui tadi tanpa diminta mengurangkan harganya.

Di tengah jalan, dia berpapasan dengan Yunus bin Ubaid. Yunus lalu bertanya kepada si Badui yang membawa perhiasan yang dibeli dari kedainya. Sementara dia mengenali barang tersebut adalah dari kedainya. Yunus bertanya kepada Badui itu, “Berapakah harga barang ini kamu beli?”

Badui menjawab, “Empat ratus dirham.”

“Tetapi harga sebenarnya Cuma 200 dirham. Mari ke kedai saya supaya saya dapat mengembalikan uang selebihnya kepada Anda, “ kata Yunus lagi. “Biarlah, tidak perlu. Aku merasa senang dan beruntung dengan harga 400 dirham itu, sebab di kampungku harga barang ini paling murah 500 dirham.”

Tetapi saudagar Yunus itu tidak mau melepaskan Badui itu pergi. Didesaknya juga agar Badui itu kembali ke kedainya dan bila tiba dikembalikan uang lebih kepada Badui itu. Setelah Badui pergi, berkatalah Yunus pada saudaranya, “Apakah kamu tidak merasa malu dan takut kepada Allah atas perbuatanmu menjual barang tadi dengan dua kali ganda?”

“Tetapi dia sendiri yang mau membelinya dengan harga 400 dirham.” Saudaranya mencoba mempertahankan bahwa dialah yang benar.

Yunus berkata, “Ya, tapi di atas kita terpikul satu amanah untuk memperlakukan saudara kita seperti memperlakukan terhadap diri kita sendiri.”

***

Jika kisah ini dapat dijadikan tauladan bagi pedagang-pedagang kita yang beriman, amatlah tepat. Karena ini menunjukkan pribadi seorang pedagang yang jujur dan amanah di jalan mencari rezeki yang halal. Jika semuanya berjalan dengan aman dan tenteram karena tidak ada penipuan dalam perniagaan.

Dalamhal ini Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah itu penetap harga, yang menahan, yang melepas, dan membagi rezeki, dan sesungguhnya aku harap bertemu Allah di dalam keadaan tidak seorang pun dari kata menuntut aku lantaran menzalimi jiwa atau harga.” (Diriwayatkan lima imam kecuali Nasa’i)

[Sabili]

Minggu, 31 Mei 2009

Dari sahabatku..

Huftt..lagi2 hatiku tersandung..tapi heyy..masih ada sahabat2ku..kuc0ba minta sedikit tausiah dari mereka.
Dan Subhanalloh..benar dugaanku,mereka sungguh peduli aku..mereka memberi melebihi yg kuinginkan.
Inilah penyejuk dari sahabat2ku yg menguatkanku saat itu..
.
.
.
***
-Kuatkan hatimu dg selalu mengingat Alloh Sya..rencana Alloh itu indah.

-Ayo...semangat Nisa!!jangan berlebihan menghadapi kesedihan.Jadilah seperti Nisa yg ana kenal..Ana yakin Nisa bisa melewatinya.
Alloh selalu menyayangimu ukhtiku..

-Nis,percayalah..Alloh akan meninggikan derajatmu kalo kamu bisa melewati ujian ini.
Semangat ya..

-Pelangi gak hanya sesuai dg warna kesukaan Nisa kan?!Pelangi gak hanya biru Nis..
Ada warna2 lain yg menjadikannya lebih indah.
Begitupun kehidupan..Gak selamanya sesuai yg Nisa harapkan.Tp yakinlah,Alloh selalu berikan warna yg lebih indah agar kita selalu bersyukur.
Anggap ujian ini salah satu warna-Nya..jalani semampu Nisa..
Keikhlasanmu lagi diuji Nis...
Semangat ya..

-Adikku,kalo keimanan kita sedang surut,mk cepat2lah beristighfar&ucapkan Laailaahaillallaah,karena bisa jadi syetan sedang senang dekat2 qt,tp bukan hanya diucapkan ukht,barengilah dg keikhlasan & mintalah supaya hati qt selalu terpaut pada-Nya,datangilh Allah di 1/3 malammu. Rindukanlah Allah ukht,rindu pada-Nya itu sangat indah.
InsyaAllah bsa menguatkan hati kita.
***
Subhanalloh..
Allohku..saatku terjatuh dalam kesedihan.Tak lain,hanya Kau sebaik-baiknya tempatku mengadu.
Selalu kuungkapkan semuanya padaMu..
Dan Kau berikanku banyak sahabat..Melalui perantara mereka Kau berikan aku kekuatan..Ya,sahabat2 yg selalu menguatkan hati ini..sahabat2 yg selalu kurindu nasihat2'y..sahabat2 yg selalu menjadi penyejuk bagiku.
Syukurku tak pernah henti untukMu.Terima kasih Alloh,Kau ciptakan mereka untukku....Kau ikatkan ukhuwah ini dalam ridhoMu.
Sungguh, aku mencintai mereka karenaMu..

(Luph u all c0z Alloh.. :D 310509)

Sabtu, 30 Mei 2009

Ajari aku..

"Semangat ya...
komunikasikan fikiran dan hati..
Ikhlas Nis.."

Ya Alloh...ternyata ini jawaban yg kubutuhkan.
IKHLAS...
Kata sederhana yg membuatku sadar,menyemangatiku tuk selalu melakukan sesuatu hanya karena-Mu..
Sungguh..,
Allohku...Ajari aku tuk bisa menancapkan keikhlasan dalam hati ini..

(Jazakillah atas spiritnya..Uhibbuki fillah ya ukhti..m0ga ukhuwah ini kan selalu terjaga...abadi hingga kita bertemu d Jannah-Nya..Amiin..)
Tampilkan postingan dengan label Oase. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Oase. Tampilkan semua postingan

Mempersiapkan Masalah

Bismillaahirrohmaanirrohiim…

Hari ini, benar-benar ingin menjauh dari segala pernak-pernik yang berhubungan dengan kuliah. Saat ini saja..untuk merefleksikan hati dan bercengkrama dengan masalah..(efek UAS PTI kemarin sepertinya.. :D). Eit, tenang dulu sahabat...tak akan kubuat tulisan ini sia-sia, Insya Alloh..

Sebelum masuk ke topik inti (halaah... -_-“ ). Yuk kita kendurkan dulu ketegangan yang menghimpit kita dengan istighfar..sudah?! baiklah, tulisan ini hanya boleh dibaca oleh pihak-pihak yang mencintai senyum..hehe, ^^

Sahabat, pernahkah kita mempersiapkan sebuah masalah?
(lho ko masalah dipersiapkan? bukannya kita harus memberantas si masalah itu biar hati kita tenang?)

Oh,tidak bissa..!! maksudnya gini lho sahabatku, saya bantu dengan ilustrasi ya..

Misalkan, saya membayangkan kalau suatu hari nanti Alloh mengundang saya untuk berkunjung ke Baitulloh (Amiin Yaa Robb..) dengan rizki yang tidak diduga-duga. Tentunya pada saat itu saya akan sangat bersyukur, dan tanpa tedeng aling-aling langsung menerima undangan itu. Saya pun mulai membayangkan perjalanan indah saya ketika menaiki pesawat dengan jama’ah lain. Tapi tiba-tiba saya ingat kalau saya takut akan ketinggian!! (bukankah ini masalah?). Jelas saya tidak ingin membatalkan perjalanan ibadah yang sungguh sudah saya rindukan sejak lama hanya karena phobia ketinggian. Seketika itu otak saya pun mulai beraksi mencari solusi, membuat peta yang dapat mengantarkan saya menuju pintu keluar dari masalah itu. Pokoknya saya harus jadi pergi! Dan..taraaaaa, lampu ide pun menyala :D setelah mencoba mempelajari masalah, dan menyesuaikannya dengan kondisi yang ada, akhirnya saya menemukan jalan keluarnya yaitu saya tidak boleh duduk tepat disamping jendela pesawat. Yap, alhamdulillah masalah ini selesai dan solusi pun didapat.

Nah, sekarang sudah terbayang bukan apa itu “mempersiapkan masalah”?

Ya, terkadang ketika sedang merencanakan sesuatu seringkali kita tertahan oleh masalah-masalah yang kita bayangkan sendiri. Padahal masalah-masalah itu belum tentu terjadi, hanya saja seringkali kita ditakuti oleh ketidaksiapan kita dalam menghadapi masalah di kemudian hari. Tapi bersyukurlah sahabatku, disadari atau tidak saat sedang membayangkan sebuah masalah..hati dan pikiran kita secara spontan akan mencari jalan keluar sebagai langkah antisipasi. Betul?

Dalam sebuah buku, saya menemukan sebuah kalimat hikmah yang menggugah semangat saya. Begini bunyinya..

”Masalah adalah kesempatan untuk beristirahat, lalu bangkit dan berubah.”


Awalnya saya bingung kenapa harus dikatakan kesempatan untuk beristirahat? setelah saya renungi, ternyata memang benar..jika kita mampu menghadapi masalah dengan bijak, maka ia akan mengantarkan kita menuju sebuah pencerahan, menyingkap kabut yang menghalangi kemudahan..agar sadar kemana kita harus bersandar, mentafakuri kelemahan diri dan mengakui kebesaran Alloh Robbul Izzati yang menjanjikan jalan keluar dari setiap ujian masalah kita. Ujian adalah tarbiyah dari Alloh, apakah kita kan sabar ataupun sebaliknya.. (The Zikr)

“Kini, dengan yakin kukatakan..masalah itu nikmat!!dengannya kutelusuri kesalahan-kesalahan yang ada dalam diri ini, karenanya aku pun semakin mendekatkan diri pada Alloh..sungguh nikmat yang luar biasa.”


Selamat merangkum hikmah sahabat....semoga catatan yang sangat sederhana ini bermanfaat. Afwan, jika ada kata yang sia-sia..

Baiklah..masih dalam keadaan tersenyum ya, saya akhiri tulisan ini dengan sebuah do’a..

“Ya Tuhanku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah pula aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong.” (QS Al-Israa : 80)


Amiin Yaa Robbal ‘alamiin..

Barokallohu fiikum..^^

(Untukmu Saniku, Alloh tak pernah membatasi nikmat yang ia berikan untuk kita. Semangat ya.. \^_^/
Untukmu adikku, Azka..hikmah itu terhampar luas dan kaulah penentunya, akan disimpan dengan iman atau dibiarkan terserak begitu saja. Dari Ummi, abi dan dirimu, kutemukan sejatinya perjuangan.. \^_^/ )

Senandung Cinta Syuhada

Mati bagiku tiada masalah
Asalkan dalam ridho dan rahmat Alloh
Dengan jalan apa pun mati itu terjadi
Asalkan kerinduan kepadanya terpenuhi
Kuberserah menyerah kepada-Nya
Sesuai takdir dan kehendak-Nya
Semoga berkat dan rahmat Alloh tercurah
Pada setiap sobekan daging dan darah
(Khubaib Bin ‘Ady)



Bismillaahirrohmaanirrohiim...

Apa kabar sahabat? semoga selalu terpatri syukur yang tak terukur atas setiap aliran nikmat yang diberikan-Nya. Nikmat atas jari-jari kita yang masih leluasa melakukan sesuatu yang bermanfaat. Meski terlihat kecil, pernahkah terfikir jika suatu saat Alloh cabut nikmat atas jari telunjuk kita? mungkin karenanya kita akan kesulitan dalam menulis, bahkan kerepotan saat menyuapkan makanan..yuk bersyukur dari hal yang terkecil, agar semakin terbuka hati dan fikiran kita untuk merenungi setiap karunia dari-Nya..^^

Sahabat, pinjam waktumu sejenak..ada sekelumit kisah luar biasa dari seorang prajurit perindu syahid yang ingin kubagi, sejenak saja..InsyaAlloh terhampar hikmah yang mendalam dari kisahnya.

*****


Hari itu, haru menyeruak didalam hatinya. Lirih lisannya bergantian mengucap takbir dan tasbih. Selepas peperangan di Lembah Badar usai dan kaum muslimin menggenggam kemenangan, ia tak pernah menyangka akan memikul amanah yang agung dari sesosok yang dicintainya. Ya, hari itu ia terpilih sebagai duta yang diamanahi untuk menyebarkan cahaya kebenaran, menghujamkan ketauhidan dan mengajarkan islam kepada kabilah ‘udal dan Qarah.

Esoknya, berbekal keimanan yang kokoh, ia pun berangkat melakukan perjalanan bersama 9 orang duta lainnya yang diamanahi tugas yang sama. Sepanjang perjalanan ia terus merenungi bahwa ini bukanlah perjalanan yang mudah, musuh-musuh Alloh akan terus mengintai dan siap menghalangi perjalanan yang mulia itu kapan saja. Namun, kekhawatiran itu terkalahkan oleh ketaqwaan yang terpatri dalam dirinya dan rasa kecintaannya kepada Rasululloh.

Hingga suatu waktu, setibanya di sebuah perkampungan suku Hudzail yang terletak di perbatasan antara daerah ‘Usfan dan Makkah, sekelompok kafir Quraisy mencium keberadaan mereka. Para kafir Quraisy tentu tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, dengan sigap mereka menghimpun seluruh kaum kafir dari suku Hudzail untuk menghadang perjalanan utusan Rosululloh. Dengan nafsu yang membara para musuh Alloh itu menyiapkan beratus anak panah dan memburu mereka. Namun serbuan anak panah tersebut tidak menyurutkan langkah para pejuang kebenaran untuk melanjutkan perjalanan, hingga satu persatu dari mereka syahid dan hanya tersisa seorang saja yang luput dari pembunuhan itu. Adalah ia, yang kecintaannya terhadap Rosululloh sangatlah besar. Khubaib bin ‘Ady.

Setelah berhasil membunuh sahabat-sahabatnya, kafir Quraisy mengikatnya dengan perlakuan yang hina, lalu ia diiringkan ke Makkah dan dijual sebagai budak dengan harga yang mahal kepada keluarga Al-Harits bin ‘Amr bin Naufal, seorang bangsawan sekaligus pemimpin Quraisy yang ia bunuh di lembah Badar.
Seluruh keluarga yang mengetahui peristiwa kematian Al-Harits oleh dirinya langsung memperlakukannya seperti binatang peliharaan mereka dengan menawan dan merantainya di halaman rumah Bani Harits. Mereka membiarkan Khubaib tersiksa dalam keadaan seperti itu, mereka tidak memberinya makan dan membiarkannya terpanggang terik matahari.

Tibalah saatnya pengeksekusian khubaib..sebelum eksekusi dilakukan ia meminta izin untuk menegakkan sholat dua rakaat terlebih dahulu. Dengan tatapan yang menghinakan mereka pun mengizinkannya untuk sholat karena menyangka bahwa khubaib hendak mempertimbangkan untuk menyerah kalah dan menyatakan keingkarannya kepada Alloh, Rosululloh dan agama Islam. Namun ia tak menghiraukan tatapan-tatapan itu dan melanjutkan niatnya untuk melaksanakan sholat. Ia pun sholat dengan khusyu dan hati yang pasrah. Ia rasakan kenikmatan yang luar biasa dalam setiap rakaatnya yang panjang hingga ia enggan untuk meninggalkan sholat. Akan tetapi kemudian ia berpaling ke arah para algojo dan dengan lantang berkata..

“ Demi Alloh, jika bukan karena khawatir akan persangkaan kalian kepadaku bahwa aku takut mati, niscaya akan kulanjutkan lagi sholatku!!!”


*****


Pelepah kurma yang menyerupai kayu salib telah disiapkan kafir Quraisy, kemudian mereka pun menyeret Khubaib dan mengikatnya kukuh disana. Pada saat itu seorang Quraisy memberikan tawaran kebebasan kepadanya dengan Rosululloh sebagai tebusannya. Dengan tegas ia pun menjawab, mengalunkan senandung kecintaannya terhadap Rosululloh, manusia sempurna yang selalu ia rindukan kehadirannya..

“Demi Alloh, tak sudi aku bersama anak istriku selamat dan menikmati kesenangan dunia, sedang Rosululloh tertimpa musibah meski hanya oleh sepotong duri!!!”


Allohuakbar!!!!


Tanah Tan’im dipenuhi darah yang tumpah. Terik matahari di padang sahara, penyiksaan yang bertubi-tubi tak sedikit pun melunturkan keimanan yang telah kuat tertanam dalam dirinya. Hingga tak dihiraukannya lagi perih luka yang menyiksa tubuhnya, yang ia rasakan hanyalah syahdu mengantar detik-detik pertemuannya dengan Ar-Rahiim..menitiskan ketenangan dalam kalbunya yang terus membayangkan kenikmatan surga yang akan segera diraihnya dengan gelar syuhada. Hingga ia melemah dan tubuhnya sudah tak kuasa bergerak..hanya lirih lisannya mengucap do’a ditengah riuhnya suara-suara musuh Alloh yang menyiksanya..

“Allohu Robbi,,telah kami tunaikan tugas dari Rosul-Mu, maka sampaikanlah kepadanya tindakan orang-orang ini terhadap kami.”


Setelah itu, hening menyergap..Khubaib telah menjemput syahid, menyempurnakan pertemuannya dengan kekasih sejati yang telah lama ia rindu untuk melihatnya..Alloh Robbul Izzaty...

*****


Tak lama kemudian, Alloh mengabulkan doa Khubaib menjelang syahid. Rosululloh pun mengutus dua orang sahabat , Miqdad bin Amir dan Zubair bin Awwam untuk membebaskannya dari tiang salib. Biidznillah, sampailah mereka ke tempat itu dengan mudah. Keduanya segera menurunkan tubuh Khubaib. Sungguh, mereka takjub melihat tubuh Khubaib yang masih utuh dan tercium wangi yang semerbak darinya. Subhanalloh, bumi pun menyambut untuk merengkuh jasad Khubaib sepenuh cinta.

*****


(Terinspirasi dari buku Spiritual Problem Solving...terpetik hikmah di ahad pagi..^^ membaca kisah ini, saya kembali teringatkan dengan ayat cinta dari-Nya dalam QS Al-Imron 169-171.
“Kekokohan iman yang terpancar dari para syuhada tak akan pernah redup, karena dihati para perindu surga mereka tetaplah hidup..”
Pantaskah diri ini merindukan syahid????
Selamat merangkum hikmah sahabat.. ^^)

Hiasan Perjuangan


Secercah cahaya kamera memotret pemilik mata sendunya..
Dengan setengah terpaksa..
Sesungging senyum di lontarkan ke arahnya..
Menjelajahi sorot mata yang menyimpan seribu cerita..
Terlihat jelas darinya..
Guratan-guratan urat perjuangan melawan berbagai masalah hidup
Yang dengan tegar ia lewati sejuta rintangan itu..
Meski penat dirasa..
Namun keyakinan akan indahnya janji abadi telah kokoh dalam jiwa
Dalam diamnya.
Ia mencoba bangkit..
Dan dalam diamnya..
Ia tegaskan pada dirinya sendiri..
“Wahai diri..
Lempar jauh-jauh rasa gelisah..
Duka..
Bimbang..
Yang bersemayam dalam hati..
Biarkan air mata menetes..
Hilangkan lara di hati..
Terima semua sebagai bagian perjalanan hidup ini..
Dengan kebesaran hati dan jiwa..
Engkau akan temukan
Apa rahasia dibalik titian kehidupan yang telah dijalani..
Hingga kelak akan kau rasakan..
Tak ada lagi riak kegelisahan dan keresahan saat sendiri..
Berhentilah sejenak
Agar hati damai dan tenang
hingga rasa itu menelusup ke tulang tulang..
Berharaplah sinar iman hadir
Hingga menyentuh hati.
Bila telah bersinar...
Sebesar apapun rintangan yang kan kau tempuhi.
Itulah hiasan perjuangan...
Dan tombak keyakinan harus selalu kau tancapkan dalam diri..
Bahwa keterkaitan hati & iman akn meneguhkan langkah..
Seperih apa pun garis hidup yang harus dijalani..
Hiingga Allah merengkuhmu dalam dekapan.
Memenuhi janjinya,untukmu yang tak lelah bertawakkal.."


Dalam indahnya ukhuwah fillah

Sunda_Sriwijaya

2010.Mei.18

(diannur'aeni.syarifahannisa.rahmaayupratiwi.sarahmar'atusshalihah.anisaaqilaazmahbahirah)

Ya Allah...Aku Jatuh Cinta...


Kalau kau tau apa arti lain dari CINTA..
Selain getar aneh di dada…
Adalah dia yang menggugah rasa…
Adalah hidup bertabur bunga,
Dalam damai, ceria dan segala mesra...
Jatuh Cinta itu berjuta rasanya…

Ketika semua rasa bersatu padu dalam sebuah hati, hatimu merasakan kekuatan mencintai. Kamu tersenyum meski hatimu terluka, karena yakin ia milikmu. Kamu menangis kala bahagia bersama, karena yakin ia cintamu. Cinta melukis bahagia, sedih, sakit hati, cemburu, berduka dan hatimu tetap diwarnai mencintai, itulah dalamnya cinta…
Begitu engkau jatuh cinta, kau akan memberikan semua perhatian dan pikiranmu kepada apa yang kamu cintai. Ia yang selalu mempengaruhi waktu dan tindakanmu. Engkau berfikir hidup akan menjadi hampa tanpa kehadirannya.
Begitulah cinta yang coba kumaknai, meski aku hanyalah insan yang masih mengeja apa itu CINTA… Karena cinta pulalah kita ada di dunia. Maka isilah hari-harimu dengan CINTA dan engkau akan merasakan betapa HIDUP ITU INDAH… Life is beautiful…

Maka akan kukatakan bahwasanya......

Ya Allah,

Aku

Jatuh

Cinta


Cinta padaMu, cinta pada dakwah ini… Pada jalan yang dapat mendekatkanku padaMu, pada keridhoanMu, pada jannah-Mu yang indah, yang takkan pernah aku bisa membayangkannya…
“Dakwah merupakan perjalanan panjang yang penuh dengan duri dan rintangan. Kemenangan dakwah akan diperoleh jika anggota-anggotanya komitmen dan teguh dalam menapaki jalan dakwah.” (Fathi Yakan)

PUISI DAKWAH (Suatu inspirasi dari Arkanul Bai`ah)
Katakanlah, “Inilah jalanku, aku mengajak kalian kepada Allah dengan bashiroh, aku dan pengikut-pengikutku – mahasuci Allah, dan aku bukan termasuk orang-orang yang musyrik”.
Ikhwan wa Akhwatifillah, Para Da`i dan Da’iyah…
Jalan dakwah panjang terbentang jauh ke depan…
Duri dan batu terjal selalu mengganjal,…
Lurah dan bukit senantiasa menghadang…
Ujungnya bukan di usia, bukan pula di dunia…
Tetapi Cahaya Maha Cahaya,…
Syurga dan Ridho Allah…
Cinta adalah sumbernya,…
Hati dan jiwa adalah rumahnya…
Pergilah ke hati-hati manusia ajaklah ke jalan Rabbmu…
Nikmati perjalanannya, berdiskusilah dengan bahasa bijaksana…
Dan jika seseorang mendapat hidayah keranamu Itu lebih baik dari dunia dan segala isinya…

Ikhwan wal Akhwatifillah, Para Junudud Dakwah !!
Pergilah ke hati-hati manusia ajaklah ke jalan Rabbmu…

Jika engkau cinta maka dakwah adalah FAHAM…
Mengerti tentang Islam,…
Risalah Anbiya dan warisan ulama Hendaknya engkau fanatik dan bangga dengannya…
Seperti Mughirah bin Syu’bah di hadapan Rustum Panglima Kisra…
Jika engkau cinta maka dakwah adalah IKHLAS…
Menghiasi hati, memotivasi jiwa untuk berkarya…
Seperti Kata Abul Anbiya,…
“Sesungguhnya sholatku ibadahku, hidupku dan matiku semata bagi Rabb semesta”
Berikan hatimu untuk Dia, katakan “Allahu ghayatuna”
Jika engkau cinta maka dakwah adalah AMAL…
membangun kejayaan ummat bila dan di mana saja berada…
yang bernilai adalah kerja bukan semata ilmu apalagi lamunan…
Sasarannya adalah perbaikan dan perubahan, al ishlah wa taghyir…
Dari diri pribadi, keluarga, masyarakat hingga Negara…
Tingkatkan kerja secara tertib untuk mencapai nusrah dari Allah…
Jika engkau cinta maka dakwah adalah JIHAD…
Sungguh-sungguh di medan perjuangan melawan kebatilan…
Tinggikan kalimah Allah rendahkan kalimah syaitan durjana…
Kerja keras tak kenal lelah adalah rumusnya,…
Tinggalkan kemalasan, lamban, dan berpangkutangan…
Jika engkau cinta maka dakwah adalah TAAT…
Kepada Allah dan Rasul, Alqur-an dan Sunnahnya…
serta orang-orang bertaqwa yang tertata…
Taat adalah wujud syukurmu kepada hidayah Allah…
nikmat akan bertambah melimpah penuh berkah…
Jika engkau cinta maka dakwah adalah TADHHIYAH,…
Bukti kesetiaan dan kesiapan memberi, pantang meminta…
Bersedialah banyak kehilangan dengan sedikit menerima…
Karena yang disisi Allah lebih mulia, sedang di sisimu fana belaka…
Sedangkan tiap titisan keringat berpahala lipat ganda…
Jika engkau cinta maka dakwah adalah THABAT,…
Hati dan jiwa yang tegar walau banyak rintangan…
Buah dari sabar meniti jalan, teguh dalam barisan…
Istiqomah dalam perjuangan dengan kaki tak tergoyahkan…
Berjalan lempang jauh dari penyimpangan…
Jika engkau cinta maka dakwah adalah TAJARRUD…
Ikhlas di setiap langkah menggapai satu tujuan…
Padukan seluruh potensimu libatkan dalam jalan ini,…
Engkau da’i sebelum apapun adanya engkau…
Dakwah tugas utamamu sedang lainnya hanya sampingan…
Jika engkau cinta maka dakwah adalah TSIQOH…
Kepercayaan yang dilandasi iman suci penuh keyakinan…
Kepada Allah, Rasul, Islam, Qiyadah dan Junudnya…
Hilangkan keraguan dan pastikan kejujurannya…
Karena inilah kafilah kebenaran yang penuh berkah…
Jika engkau cinta maka dakwah adalah UKHUWAH…
Lekatnya ikatan hati berjalin dalam nilai-nilai persaudaraan…
Bersaudaralah dengan muslimin sedunia, utamanya mukmin mujahidin…
Salamatus Shodri merupakan syarat terendahnya,…
Itsar bentuk tertingginya…
Dan Allah yang mengetahui menghimpun hati-hati para da’ie dalam cinta-Nya…
berjumpa karena taat kepada-Nya…
Melebur satu dalam dakwah ke jalan Allah, saling berjanji untuk menolong syariat-Nya…

Memang seperti itu dakwah. Dakwah adalah cinta. Dan cinta akan meminta semuanya dari dirimu. Sampai pikiranmu. Sampai perhatianmu. Berjalan, duduk, dan tidurmu.
Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah. Tentang umat yang kau cintai.
Lagi-lagi memang seperti itu DAKWAH. Menyedot saripati energimu. Sampai tulang belulangmu. Sampai daging terakhir yang menempel di tubuh rentamu. Tubuh yang luluh lantak diseret-seret. Tubuh yang hancur lebur dipaksa berlari…

Seperti itu pula kejadiannya pada rambut Rasulullah saw. Beliau memang akan tua juga. Tapi kepalanya beruban karena beban berat dari ayat yang diturunkan Allah.
Sebagaimana tubuh mulia Umar bin Abdul Aziz. Dia memimpin hanya sebentar. Tapi kaum muslimin sudah dibuat bingung. Tidak ada lagi orang miskin yang bisa diberi sedekah. Tubuh mulia itu terkoyak-koyak. Sulit membayangkan sekeras apa sang Khalifah bekerja. Tubuh yang segar bugar itu sampai rontok. Hanya dalam 2 tahun, ia sakit parah kemudian meninggal. Toh memang itu yang diharapkannya; mati sebagai jiwa yang tenang.
Dan di etalase akhirat kelak, mungkin tubuh Umar bin Khathab juga terlihat tercabik-cabik. Kepalanya sampai botak. Umar yang perkasa pun akhirnya membawa tongkat ke mana-mana. Kurang heroik? Akhirnya diperjelas dengan salah satu luka paling legendaris sepanjang sejarah; luka ditikamnya seorang Khalifah yang sholih, yang sedang bermesra-mesraan dengan Tuhannya saat sholat.
Dakwah bukannya tidak melelahkan. Bukannya tidak membosankan. Dakwah bukannya tidak menyakitkan. Bahkan juga para pejuang risalah bukannya sepi dari godaan kefuturan.
Tidak… Justru kelelahan. Justru rasa sakit itu selalu bersama mereka sepanjang hidupnya. Setiap hari. Satu kisah heroik, akan segera mereka sambung lagi dengan amalan yang jauh lebih “tragis”. Justru karena rasa sakit itu selalu mereka rasakan, selalu menemani… Justru karena rasa sakit itu selalu mengintai ke mana pun mereka pergi… Akhirnya menjadi adaptasi. Kalau iman dan godaan rasa lelah selalu bertempur, pada akhirnya salah satunya harus mengalah. Dan rasa lelah itu sendiri yang akhirnya lelah untuk mencekik iman. Lalu keimanan akan terus berkobar dalam dada.
Begitu pula rasa sakit. Hingga luka tak kau rasa lagi sebagai luka. Hingga “hasrat untuk mengeluh” tidak lagi terlalu menggoda dibandingkan jihad yang begitu cantik. Begitupun Umar. Saat Rasulullah wafat, ia histeris. Saat Abu Bakar wafat, ia tidak lagi mengamuk. Bukannya tidak cinta pada abu Bakar. Tapi saking seringnya “ditinggalkan”, hal itu sudah menjadi kewajaran. Dan menjadi semacam tonik bagi iman..
Karena itu kamu tahu. Pejuang yang heboh ria MEMAMER-MAMERKAN AMALNYA adalah anak kemarin sore. Yang takjub pada rasa sakit dan pengorbanannya juga begitu. Karena mereka jarang disakiti di jalan Allah. Karena tidak setiap saat mereka memproduksi karya-karya
besar. Maka sekalinya hal itu mereka kerjakan, sekalinya hal itu mereka rasakan, mereka merasa menjadi orang besar. Dan mereka justru jadi target doa para mujahid sejati,
“Ya Allah, berilah dia petunjuk… Sungguh Engkau Maha Pengasih lagi maha Penyayang…“
Maka satu lagi seorang pejuang tubuhnya luluh lantak. Jasadnya dikoyak beban dakwah.
Tapi iman di hatinya memancarkan cinta… Mengajak kita untuk terus berlari…

“Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu.
Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu.
Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu.
Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu.
Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu.”
(Alm. Ust Rahmat Abdullah)


Ketika CINTA itu tak lagi seindah dulu, di mana engkau benar-benar merasakan cinta pada perjumpaan pertama (di awal hijrah)... Maka cobalah tuk kembali mengingat masa-masa indah itu, masa di mana engkau selalu merasa rindu tuk bersama ia yang engkau cintai...
Rasakan kembali nuansa cinta yang indah itu, kala engkau tersenyum meski saat itu engkau ingin menangis... Jangan hanya mengingat ketika hatimu terluka karena sesuatu di masa itu...

Semoga kita bisa kembali merasakan CINTA itu lagi... Amiiin...

(Copas, dengan sedikit perubahan....semoga bermanfaat..hamasah!!!!)

Aku dan tangis mereka

Lama tak bersua tangis
Pelupuk terasa kering tiada beningnya tetesan
Bukan tak ingin
Namun jika kutumpahkan
Aku takut semua terurai hanya karena dunia,tanpa keimanan.
....
Malu, mengenang tangis seorang kaya
Ketika sahabat'y bertanya sebab
Ia menjawab,
'Tangisku bkn karena dunia, sungguh aku takut termasuk orang2 yang dipercepat kebaikannya di dunia dan ditahan dari sahabat2 karena banyaknya hartaku!'
....
Aku,terkadang masih berbaur dengan sifat2 dunia,
bahkan bulir tangisku terbuang sia-sia karenanya.
...
Malu, mengingat seorang pemimpin
Yang banyak tersedu karena takut padaNya.
Bergetar hebat hatinya dalam bilangan ayat yang ia bacakan,
Hingga butir bening itu berderai membasahi janggutnya
Hingga tenggorokannya hampir tercekik dan terjatuh dalam tangis..
mengetahui dahsyatnya adzabMu.
...
Aku,sering melantunkan ayatMu
Namun sedikit memahami
Seakan sulit mengiringinya dengan tangis karenaMu.
...
Menangislah wahai diriku,
Karena air matamu sungguh dirindukanNya.
Biarkan bulir itu mengalir
menyatu dengan rasa takut
Bercampur rasa malu
Pada Dia..
Hanya untukNya.

(daLam renungan 070110)

Hati Menemukan Kedamaian dengan Mengingat Allah

Menurut penelitian oleh David B Larson dan timnya dari the American National Health Research Center [Pusat Penelitian Kesehatan Nasional Amerika], pembandingan antara orang Amerika yang taat dan yang tidak taat beragama telah menunjukkan hasil yang sangat mengejutkan. Sebagai contoh, dibandingkan mereka yang sedikit atau tidak memiliki keyakinan agama, orang yang taat beragama menderita penyakit jantung 60% lebih sedikit, tingkat bunuh diri 100% lebih rendah, menderita tekanan darah tinggi dengan tingkat yang jauh lebih rendah, dan angka perbandingan ini adalah 7:1 di antara para perokok. 1
Ibadah dan keimanan kepada Allah memiliki lebih banyak pengaruh baik pada kesehatan manusia daripada keimanan kepada apa pun yang lain.

Dalam sebuah pengkajian yang diterbitkan dalam International Journal of Psychiatry in Medicine, sebuah sumber ilmiah penting di dunia kedokteran, dilaporkan bahwa orang yang mengaku dirinya tidak berkeyakinan agama menjadi lebih sering sakit dan mempunyai masa hidup lebih pendek. Menurut hasil penelitian tersebut, mereka yang tidak beragama berpeluang dua kali lebih besar menderita penyakit usus-lambung daripada mereka yang beragama, dan tingkat kematian mereka akibat penyakit pernapasan 66% lebih tinggi daripada mereka yang beragama.

Para pakar psikologi yang sekuler cenderung merujuk angka-angka serupa sebagai "dampak kejiwaan". Ini berarti bahwa keyakinan agama meningkatkan semangat orang, dan hal ini berpengaruh baik pada kesehatan. Penjelasan ini mungkin sungguh beralasan, namun sebuah kesimpulan yang lebih mengejutkan muncul ketika orang-orang tersebut diperiksa. Keimanan kepada Allah jauh lebih kuat daripada pengaruh kejiwaan apa pun. Penelitian yang mencakup banyak segi tentang hubungan antara keyakinan agama dan kesehatan jasmani yang dilakukan oleh Dr. Herbert Benson dari Fakultas Kedokteran Harvard telah menghasilkan kesimpulan yang mencengangkan di bidang ini. Walaupun bukan seorang yang beragama, Dr. Benson telah menyimpulkan bahwa ibadah dan keimanan kepada Allah memiliki lebih banyak pengaruh baik pada kesehatan manusia daripada keimanan kepada apa pun yang lain. Benson menyatakan, dia telah menyimpulkan bahwa tidak ada keimanan yang dapat memberikan banyak kedamaian jiwa sebagaimana keimanan kepada Allah. 2

Apa yang mendasari adanya hubungan antara keimanan dan jiwa raga manusia ini? Kesimpulan yang dicapai oleh sang peneliti sekuler Benson adalah, dalam kata-katanya sendiri, bahwa jasmani dan ruhani manusia telah dikendalikan untuk percaya kepada Allah. 3

Kenyataan ini, yang oleh dunia kedokteran pelan-pelan telah mulai diterima, adalah sebuah rahasia yang dinyatakan dalam Al Qur'an dengan kalimat ini "...Hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar Ra’d, 13:28). Alasan mengapa orang-orang yang beriman kepada Allah, yang berdoa dan berharap kepada-Nya, lebih sehat secara ruhani dan jasmani adalah karena mereka berperilaku sesuai dengan tujuan penciptaan mereka. Filsafat dan sistem yang tidak selaras dengan penciptaan manusia selalu mengarah pada penderitaan dan ketidakbahagiaan.

Kedokteran modern sekarang sedang mengarah menuju pemahaman tentang kebenaran ini. Seperti kata Patrick Glynn: "Penelitian ilmiah di bidang psikologi selama lebih dari 24 tahun silam telah menunjukkan bahwa, ... keyakinan agama adalah satu di antara sejumlah kaitan paling serasi dari keseluruhan kesehatan jiwa dan kebahagiaan." 4

Sikap Memaafkan dan Manfaatnya bagi Kesehatan

Salah satu sifat mulia yang dianjurkan dalam Al Qur’an adalah sikap memaafkan:

Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh. (QS. Al Qur’an, 7:199)

Dalam ayat lain Allah berfirman: "...dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. An Nuur, 24:22)

Mereka yang tidak mengikuti ajaran mulia Al Qur'an akan merasa sulit memaafkan orang lain. Sebab, mereka mudah marah terhadap kesalahan apa pun yang diperbuat. Padahal, Allah telah menganjurkan orang beriman bahwa memaafkan adalah lebih baik:

... dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS. At Taghaabun, 64:14)

Juga dinyatakan dalam Al Qur'an bahwa pemaaf adalah sifat mulia yang terpuji. "Tetapi barang siapa bersabar dan memaafkan, sungguh yang demikian itu termasuk perbuatan yang mulia." (Qur'an 42:43) Berlandaskan hal tersebut, kaum beriman adalah orang-orang yang bersifat memaafkan, pengasih dan berlapang dada, sebagaimana dinyatakan dalam Al Qur'an, "...menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain." (QS. Ali ‘Imraan, 3:134)
Para peneliti percaya bahwa pelepasan hormon stres, kebutuhan oksigen yang meningkat oleh sel-sel otot jantung, dan kekentalan yang bertambah dari keeping-keping darah, yang memicu pembekuan darah menjelaskan bagaimana kemarahan meningkatkan peluang terjadinya serangan jantung. Ketika marah, detak jantung meningkat melebihi batas wajar, dan menyebabkan naiknya tekanan darah pada pembuluh nadi, dan oleh karenanya memperbesar kemungkinan terkena serangan jantung.

Pemahaman orang-orang beriman tentang sikap memaafkan sangatlah berbeda dari mereka yang tidak menjalani hidup sesuai ajaran Al Qur'an. Meskipun banyak orang mungkin berkata mereka telah memaafkan seseorang yang menyakiti mereka, namun perlu waktu lama untuk membebaskan diri dari rasa benci dan marah dalam hati mereka. Sikap mereka cenderung menampakkan rasa marah itu. Di lain pihak, sikap memaafkan orang-orang beriman adalah tulus. Karena mereka tahu bahwa manusia diuji di dunia ini, dan belajar dari kesalahan mereka, mereka berlapang dada dan bersifat pengasih. Lebih dari itu, orang-orang beriman juga mampu memaafkan walau sebenarnya mereka benar dan orang lain salah. Ketika memaafkan, mereka tidak membedakan antara kesalahan besar dan kecil. Seseorang dapat saja sangat menyakiti mereka tanpa sengaja. Akan tetapi, orang-orang beriman tahu bahwa segala sesuatu terjadi menurut kehendak Allah, dan berjalan sesuai takdir tertentu, dan karena itu, mereka berserah diri dengan peristiwa ini, tidak pernah terbelenggu oleh amarah.

Menurut penelitian terakhir, para ilmuwan Amerika membuktikan bahwa mereka yang mampu memaafkan adalah lebih sehat baik jiwa maupun raga. Orang-orang yang diteliti menyatakan bahwa penderitaan mereka berkurang setelah memaafkan orang yang menyakiti mereka. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa orang yang belajar memaafkan merasa lebih baik, tidak hanya secara batiniyah namun juga jasmaniyah. Sebagai contoh, telah dibuktikan bahwa berdasarkan penelitian, gejala-gejala pada kejiwaan dan tubuh seperti sakit punggung akibat stress [tekanan jiwa], susah tidur dan sakit perut sangatlah berkurang pada orang-orang ini.
Memaafkan, adalah salah satu perilaku yang membuat orang tetap sehat, dan sebuah sikap mulia yang seharusnya diamalkan setiap orang

Dalam bukunya, Forgive for Good [Maafkanlah demi Kebaikan], Dr. Frederic Luskin menjelaskan sifat pemaaf sebagai resep yang telah terbukti bagi kesehatan dan kebahagiaan. Buku tersebut memaparkan bagaimana sifat pemaaf memicu terciptanya keadaan baik dalam pikiran seperti harapan, kesabaran dan percaya diri dengan mengurangi kemarahan, penderitaan, lemah semangat dan stres. Menurut Dr. Luskin, kemarahan yang dipelihara menyebabkan dampak ragawi yang dapat teramati pada diri seseorang. Dia melanjutkan dengan mengatakan bahwa:

Permasalahan tentang kemarahan jangka panjang atau yang tak berkesudahan adalah kita telah melihatnya menyetel ulang sistem pengatur suhu di dalam tubuh. Ketika Anda terbiasa dengan kemarahan tingkat rendah sepanjang waktu, Anda tidak menyadari seperti apa normal itu. Hal tersebut menyebabkan semacam aliran adrenalin yang membuat orang terbiasa. Hal itu membakar tubuh dan menjadikannya sulit berpikir jernih – memperburuk keadaan.

Sebuah tulisan berjudul "Forgiveness" [Memaafkan], yang diterbitkan Healing Current Magazine [Majalah Penyembuhan Masa Kini] edisi bulan September-Oktober 1996, menyebutkan bahwa kemarahan terhadap seseorang atau suatu peristiwa menimbulkan emosi negatif dalam diri orang, dan merusak keseimbangan emosional bahkan kesehatan jasmani mereka. Artikel tersebut juga menyebutkan bahwa orang menyadari setelah beberapa saat bahwa kemarahan itu mengganggu mereka, dan kemudian berkeinginan memperbaiki kerusakan hubungan. Jadi, mereka mengambil langkah-langkah untuk memaafkan. Disebutkan pula bahwa, meskipun mereka tahan dengan segala hal itu, orang tidak ingin menghabiskan waktu-waktu berharga dari hidup mereka dalam kemarahan dan kegelisahan, dan lebih suka memaafkan diri mereka sendiri dan orang lain.

Semua penelitian yang ada menunjukkan bahwa kemarahan adalah sebuah keadaan pikiran yang sangat merusak kesehatan manusia. Memaafkan, di sisi lain, meskipun terasa berat, terasa membahagiakan, satu bagian dari akhlak terpuji, yang menghilangkan segala dampak merusak dari kemarahan, dan membantu orang tersebut menikmati hidup yang sehat, baik secara lahir maupun batin. Namun, tujuan sebenarnya dari memaafkan –sebagaimana segala sesuatu lainnya – haruslah untuk mendapatkan ridha Allah. Kenyataan bahwa sifat-sifat akhlak seperti ini, dan bahwa manfaatnya telah dibuktikan secara ilmiah, telah dinyatakan dalam banyak ayat Al Qur’an, adalah satu saja dari banyak sumber kearifan yang dikandungnya.

Jalan Cinta Para Pejuang

di sana, ada cita dan tujuan
yang membuatmu menatap jauh ke depan
di kala malam begitu pekat
dan mata sebaiknya dipejam saja
cintamu masih lincah melesat
jauh melampaui ruang dan masa
kelananya menjejakkan mimpi-mimpi

lalu di sepertiga malam terakhir
engkau terjaga, sadar, dan memilih menyalakan lampu
melanjutkan mimpi indah yang belum selesai
dengan cita yang besar, tinggi, dan bening
dengan gairah untuk menerjemahkan cinta sebagai kerja
dengan nurani, tempatmu berkaca tiap kali
dan cinta yang selalu mendengarkan suara hati

teruslah melanglang di jalan cinta para pejuang
menebar kebajikan, menghentikan kebiadaban, menyeru pada iman
walau duri merantaskan kaki, walau kerikil mencacah telapak
sampai engkau lelah, sampai engkau payah
sampai keringat dan darah tumpah

tetapi yakinlah, bidadarimu akan tetap tersenyum
di jalan cinta para pejuang

Salim A. Fillah

Menakar Kejujuran

“Tetapi harga sebenarnya Cuma 200 dirham. Mari ke kedai saya supaya saya dapat mengembalikan uang selebihnya kepada Anda, “ kata Yunus lagi. “Biarlah, tidak perlu. Aku merasa senang dan beruntung dengan harga 400 dirham itu, sebab di kampungku harga barang ini paling murah 500 dirham.”

----------

Suatu hari seorang saudagar perhiasan di zaman Tabiin bernama Yunus bin Ubaid, menyuruh saudaranya menjaga kedainya karena ia akan melaksanakan shalat. Saat itu datanglah seorang Badui yang hendak membeli perhiasan di kedai tersebut. Maka terjadilah jual beli di antara Badui dan penjaga kedai yang diamanahkan tuannya. Satu barang perhiasan permata yang hendak dibeli harganya 400 dirham. Saudara Yunus menunjukkan barang yang sebetulnya harganya 200 dirham. Barang tersebut dibeli oleh Badui tadi tanpa diminta mengurangkan harganya.

Di tengah jalan, dia berpapasan dengan Yunus bin Ubaid. Yunus lalu bertanya kepada si Badui yang membawa perhiasan yang dibeli dari kedainya. Sementara dia mengenali barang tersebut adalah dari kedainya. Yunus bertanya kepada Badui itu, “Berapakah harga barang ini kamu beli?”

Badui menjawab, “Empat ratus dirham.”

“Tetapi harga sebenarnya Cuma 200 dirham. Mari ke kedai saya supaya saya dapat mengembalikan uang selebihnya kepada Anda, “ kata Yunus lagi. “Biarlah, tidak perlu. Aku merasa senang dan beruntung dengan harga 400 dirham itu, sebab di kampungku harga barang ini paling murah 500 dirham.”

Tetapi saudagar Yunus itu tidak mau melepaskan Badui itu pergi. Didesaknya juga agar Badui itu kembali ke kedainya dan bila tiba dikembalikan uang lebih kepada Badui itu. Setelah Badui pergi, berkatalah Yunus pada saudaranya, “Apakah kamu tidak merasa malu dan takut kepada Allah atas perbuatanmu menjual barang tadi dengan dua kali ganda?”

“Tetapi dia sendiri yang mau membelinya dengan harga 400 dirham.” Saudaranya mencoba mempertahankan bahwa dialah yang benar.

Yunus berkata, “Ya, tapi di atas kita terpikul satu amanah untuk memperlakukan saudara kita seperti memperlakukan terhadap diri kita sendiri.”

***

Jika kisah ini dapat dijadikan tauladan bagi pedagang-pedagang kita yang beriman, amatlah tepat. Karena ini menunjukkan pribadi seorang pedagang yang jujur dan amanah di jalan mencari rezeki yang halal. Jika semuanya berjalan dengan aman dan tenteram karena tidak ada penipuan dalam perniagaan.

Dalamhal ini Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah itu penetap harga, yang menahan, yang melepas, dan membagi rezeki, dan sesungguhnya aku harap bertemu Allah di dalam keadaan tidak seorang pun dari kata menuntut aku lantaran menzalimi jiwa atau harga.” (Diriwayatkan lima imam kecuali Nasa’i)

[Sabili]

Dari sahabatku..

Huftt..lagi2 hatiku tersandung..tapi heyy..masih ada sahabat2ku..kuc0ba minta sedikit tausiah dari mereka.
Dan Subhanalloh..benar dugaanku,mereka sungguh peduli aku..mereka memberi melebihi yg kuinginkan.
Inilah penyejuk dari sahabat2ku yg menguatkanku saat itu..
.
.
.
***
-Kuatkan hatimu dg selalu mengingat Alloh Sya..rencana Alloh itu indah.

-Ayo...semangat Nisa!!jangan berlebihan menghadapi kesedihan.Jadilah seperti Nisa yg ana kenal..Ana yakin Nisa bisa melewatinya.
Alloh selalu menyayangimu ukhtiku..

-Nis,percayalah..Alloh akan meninggikan derajatmu kalo kamu bisa melewati ujian ini.
Semangat ya..

-Pelangi gak hanya sesuai dg warna kesukaan Nisa kan?!Pelangi gak hanya biru Nis..
Ada warna2 lain yg menjadikannya lebih indah.
Begitupun kehidupan..Gak selamanya sesuai yg Nisa harapkan.Tp yakinlah,Alloh selalu berikan warna yg lebih indah agar kita selalu bersyukur.
Anggap ujian ini salah satu warna-Nya..jalani semampu Nisa..
Keikhlasanmu lagi diuji Nis...
Semangat ya..

-Adikku,kalo keimanan kita sedang surut,mk cepat2lah beristighfar&ucapkan Laailaahaillallaah,karena bisa jadi syetan sedang senang dekat2 qt,tp bukan hanya diucapkan ukht,barengilah dg keikhlasan & mintalah supaya hati qt selalu terpaut pada-Nya,datangilh Allah di 1/3 malammu. Rindukanlah Allah ukht,rindu pada-Nya itu sangat indah.
InsyaAllah bsa menguatkan hati kita.
***
Subhanalloh..
Allohku..saatku terjatuh dalam kesedihan.Tak lain,hanya Kau sebaik-baiknya tempatku mengadu.
Selalu kuungkapkan semuanya padaMu..
Dan Kau berikanku banyak sahabat..Melalui perantara mereka Kau berikan aku kekuatan..Ya,sahabat2 yg selalu menguatkan hati ini..sahabat2 yg selalu kurindu nasihat2'y..sahabat2 yg selalu menjadi penyejuk bagiku.
Syukurku tak pernah henti untukMu.Terima kasih Alloh,Kau ciptakan mereka untukku....Kau ikatkan ukhuwah ini dalam ridhoMu.
Sungguh, aku mencintai mereka karenaMu..

(Luph u all c0z Alloh.. :D 310509)

Ajari aku..

"Semangat ya...
komunikasikan fikiran dan hati..
Ikhlas Nis.."

Ya Alloh...ternyata ini jawaban yg kubutuhkan.
IKHLAS...
Kata sederhana yg membuatku sadar,menyemangatiku tuk selalu melakukan sesuatu hanya karena-Mu..
Sungguh..,
Allohku...Ajari aku tuk bisa menancapkan keikhlasan dalam hati ini..

(Jazakillah atas spiritnya..Uhibbuki fillah ya ukhti..m0ga ukhuwah ini kan selalu terjaga...abadi hingga kita bertemu d Jannah-Nya..Amiin..)