Tampilkan postingan dengan label Memory. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Memory. Tampilkan semua postingan

Jumat, 31 Agustus 2012

BASHIRAH, ditengah Terbatasnya Mata Lahir



Bismillaahirrahmaanirraahiim…

Purnama nyaris sempurna, sinarnya benderang bak pelita di pekat malam. Sayup-sayup simfoni malam mulai meredup tak terdengar. Sunyi mengantarkan saya pada sebuah renungan tentang hakikat sebuah kebahagiaan ditengah keterbatasan.

Allah tak pernah pilih kasih terhadap hambaNYA. Semua hal yang Ia ciptakan telah diatur dengan desain paling sempurna, melalui ketelitian yang sedimikian rupa, melewati proses panjang yang sarat hikmah. Siang & malam Ia sibuk mengurusi hambaNYA tanpa kenal lelah.  Hingga terciptalah kita, makhluk  dengan sebaik-baik bentuk. Meski secara kasat mata, dalam pandangan manusia yang serba tak sempurna, nampaklah beberapa sosok dengan kondisi lahiriah yang terbatas.

Beberapa minggu terakhir, berkali-kali Allah pertemukan saya dengan seorang tunanetra. Di angkot, di perjalanan menuju kampus, di majlis ilmu, dan di tempat kerja.  Setiap kali bertemu mereka, yang pertama kali terbersit adalah rasa iba. Sempitnya saya merasa, betapa tidak nyamannya menyaksikan kehidupan alam yang memiliki berjuta pesona ini hanya dalam satu warna serta kondisi, hitam & gelap.  Betapa menyusahkannya ketika pergi kemana-mana harus membawa tongkat yang menjadi penuntun jalan. Betapa sedihnya saat ia tak mampu melihat lekuk wajah orang-orang yang dicintai & disayanginya.  Ah, sayangnya ketika rasa iba menguasai diri yang terpikirkan justru hanya satu titik saja, kelemahan. Nyatanya, siapa bilang mereka tak pernah bahagia?

***

Setahun lalu ketika saya masih tinggal di asrama, ada sosok luar biasa yang begitu berjasa dalam menyemangati & membentuk diri saya untuk konsisten berdekatan dengan Al-Qur’an. Beliau dan keluarganya tinggal persis disamping asrama santri. Karena akses kami dengan beliau cukup mudah, tak jarang setiap kali ada masalah atau keperluan yang berhubungan dengan asrama kami konsultasikan kepada beliau. Pun ketika ada beberapa santri yang mengalami kesulitan dalam belajar ,muraja’ah, dan menghafal Qur’an, kami tak segan untuk berbagi dan meminta solusi dari beliau. Sosok sederhana nan penuh semangat  ini tak lain adalah ustadz pembimbing tahfidz saya. Beliau hanya memiliki kemampuan melihat kurang lebih 50%. Kadang ketika berpapasan dengan para santri, ustadz seringkali keliru memanggil nama kami karena penglihatannya yang tidak jelas.

Beliau adalah seorang hafidz, kami seringkali dibuat terkesan oleh sosoknya. Sebelum waktu setor hafalan tiba, biasanya ustadz selalu mengompori kami untuk meningkatkan semangat menghafal dengan kisah2 hikmah ataupun petuah menggunggah yang sungguh kami nantikan setiap pagi.  Ketika tiba giliran menyetor hafalan, dengan sabar ustadz mendengarkan, memperbaiki hafalan yang salah, juga membenarkan makhraj & tajwid yang kurang tepat. Sempurna. Hafalan ustadz sangat kokoh, seakan-akan beliau hafal letak dari huruf ke huruf pada setiap ayat Al-Qur’an. Padahal penglihatannya sangat terbatas. Subhanallaah, ditengah keterbatasan Allah tlah memuliakannya dengan Al-Qur’an. Al-Qur’an telah menjadikan beliau sosok yang berpembawaan tenang, tajam pikirannya, bijaksana dalam menyikapi masalah, dan peka dalam setiap situasi.

Banyak contoh yang telah memberikan ibrah mendalam dalam diri saya dari seorang tunanetra. Ada Kang Hanan, siswa Aliyah yang buta sejak lahir namun telah beberapa kali menjuarai lomba pidato di pesantren, sekolah, hingga tingkat kabupaten. Ada juga LSM Ummi Maktum Voice, yang menginspirasi orang-orang agar bersegera menginfakkan sebagian rezekinya untuk menyebarkan Al-Qur’an Braille bagi para tunanetra. Dan masih banyak lagi sosok inspirasi dari kalangan mereka yang menyadarkan saya untuk tidak memandang sebelah mata atas kekurangannya.

***

BASHIRAH, kekuatan mata hati, adalah salah satu hadiah yang Allah berikan kepada orang-orang seperti mereka. Kondisi penglihatan yang terbatas mampu membuat mereka lebih peka menyikapi apa yang mereka dengar, lihat, raba dan rasakan. Ia adalah cahaya hati yang benderang, menuntun pemiliknya untuk berjalan sesuai hati nuraninya. Allah Maha Adil, mengangkat sebagian orang dengan kekurangan fisiknya dan menjatuhkan lainnya walaupun berjasad sempurna. Lihatlah bagaimana cara Allah mencukupi rezeki ditengah gelapnya pandangan seorang tunanetra. Bagaimana Allah meninggikan derajat seorang yang terbatas penglihatannya dengan sesuatu yang sangat mulia, Al-Qur’an. 

Kekuatan mata hati menjadi pelitanya. Allah telah menggantikan kebutaan matanya sebagai cahaya dalam pandangan dan pancaran di hati. Sehingga ia dapat melihat dengan mata hati, apa-apa yang tidak dapat dilihat oleh mata kepala orang lain. Mereka bahagia hingga tak lagi merasai kekurangan itu.

Lalu bagaimana dengan kita yang telah Allah sempurnakan lahiriahnya? Semoga tak pernah lupa mengurai syukur…karena disanalah sebenarnya kunci setiap kebahagiaan.


Syarifatun Nisa NH

Dalam renungan..

Sabtu, 25 Agustus 2012

Teruntuk Adinda



Ingin kulukis senja..

Menyinar gradasi jingga di bening mata,

Menghapus gerimis-gerimis di sayu cahaya

Meski resahmu tak jua mereda

Adakah kau maknai adinda?

Untuk satu bilik makna

Hari ini dan seterusnya tak pernah berbeda

Pun ketika kau harus terluka,

Ada asa yang harus kita renda,

Selamanya tanpa jeda..

Di setiap hening masa,

Dalam seruak rasa,.

hati tak pernah sendiri , adinda ..

Ada Allah yang tak pernah tiada,

Menenun  cinta NYA untuk kita,

Menanti yang hina segera berbalut taqwa..

Rindui taubat hamba..

Karena hidup hanyalah tentang DIA



Beriring  ridhaNYA yang menyejuk di jiwa.



(Teruntuk adikku yang jauh dari pelupuk mata, semoga sedikit membasuh lara, meski tak cukup istimewa :) 
      

Selasa, 14 Agustus 2012

PANTAI HALOGENIA (Sekilas tentang Pendekatan Multiple Intelligence Semasa SMA)



Semburat warna mentari menyapa pagi dengan ramah, lembut menelusup celah-celah nyiur hijau yang berderet sepanjang tepian pantai. Pagi ini penduduk sekitar Pantai Halogenia nampak lebih sibuk dari biasanya. Sekumpulan anak-anak nelayan berlari-lari dengan riang, satu sama lain saling berkejaran menuju deburan ombak, menciduk airnya kedalam ember dan cepat-cepat membasahi gundukan pasir kering yang terletak agak jauh di pesisir pantai. Sebagian temannya yang lain tengah sibuk membentuk padatan pasir basah dengan cetakan-cetakan sederhana yang unik, membangun istana impian mereka.

Sementara itu tak jauh dari pantai, di sebuah gubuk sederhana, Nenek Halida terlihat sangat bersemangat memasukkan Kristal-kristal garam hasil panen siang kemarin kedalam bungkus-bungkus plastik kecil. Sesekali ia meneriaki cucu-cucunya Fluor, Clor, Brom dan Iod yang tengah bermain air laut untuk berhati-hati.

Pantai Halogenia yang eksotis semakin ramai dengan kunjungan para wisatawan yang hendak berlibur menikmati panorama indah yang menarik hati …


Pantai Halogenia? Memang ada ya? Dimana, dimana?

Hehe, teman-teman cari di peta mana pun, InsyaAllah saya yakin tidak akan menemukannya :D

Prolog diatas adalah sekilas cuplikan sebuah naskah, dan Pantai Halogenia adalah hasil imajinasi kami semasa belajar di kelas 3 SMA.

***

Berawal dari keresahan seorang guru kimia ketika mendapati nilai ulangan kimia kami  tidak juga menunjukkan kemajuan yang signifikan, padahal kimia termasuk salah satu mata pelajaran yang diikutsertakan dalam Ujian Nasional. Saat itu guru kimia kami sempat menanyakan dan mengevaluasi bersama mengapa hal itu bisa terjadi, dan salah satu penyebabnya adalah kebanyakan dari kami merasa jenuh dengan metode belajar klasik yang kami dapati di hampir semua mata pelajaran. Hingga muncullah ide cemerlang dari beliau yang membuat kami bingung cukup lama (hehe, aslinya sih saya yang bingung :D)

Waktu itu guru kami langsung membagi siswa-siswi yang ada di kelas menjadi beberapa kelompok dan memberi nama kelompok sesuai dengan judul BAB yang harus depelajari. Pikir kami, paling juga kami disuruh buat power point lagi, lalu mempresentasikannya di depan kelas. Tapi ternyata semua prasangka kami salaah besar.

Tak lama dari itu Pak Hadyan (guru kimia) menjelaskan tugas yang harus kami kerjakan yaitu menyajikan materi kimia dengan bermain drama. Sontak kami kaget, kelas tiba-tiba ramai..bagaimana bisa? Ini pelajaran kimia atau kesenian? Kemudian Pak Hadyan segera menenangkan kami dengan menyampaikan beberapa poin yang dapat kami lakukan untuk memulai proses pengerjaan tugas. Prinsipnya sebenarnya sama saja dengan presentasi, sebelum menyajikan kami harus mendalami materi terlebih dahulu, hanya perbedaannya sajian dibuat lebih kreatif melalui drama dan power point yang biasa dibuat berubah menjadi bentuk naskah.

Sebelum menyusun naskah, anggota kelompok yang pintar di pelajaran kimia mau tidak mau harus memahami lebih dulu sebelum membagi ilmu yang ia fahami kepada anggota kelompok lain, kemudian kami berdiskusi untuk menyamakan persepsi agar tidak salah menyampaikan materi dalam drama.

Setelah materi kami fahami, waktunya para penyusun naskah ambil bagian. Bermunculanlah ide kreatif dari semua anggota kelompok tentang drama yang akan dimainkan, mulai dari setting tempat, alur cerita, penokohan, sampai ide2 jenaka sebagai bumbu dalam drama. Kebetulan saat itu kelompok saya kebagian BAB tentang HALOGEN. Karena halogen adalah unsure pembentuk garam dan biasanya pembentukan garam identik terjadi di laut, akhirnya tercetuslah PANTAI HALOGENIA menjadi latar tempat dalam drama kami.

Awalnya cukup kesulitan juga ketika materi kimia yang biasa disampaikan dalam bahasa formal harus diolah kedalam bahasa naskah yang  harus mudah difahami oleh penonton. Tapi alhamdulillaah, mungkin karena baru kali itu kami merasakan belajar kimia dengan enjoy, tanpa dipusingkan dengan rumus2 yang njelimet, lalu mengalirlah inspirasi-inspirasi kami.

Untuk memudahkan dalam menyampaikan materi, kami membuat tokoh2 dalam drama berperan langsung sebagai unsure-unsure halogen dan unsure lain sebagai pereaksi. Agar kesannya tidak menggurui, kami menyampaikan sifat masing-masing unsure dengan candaan anak-anak nelayan yang sedang bermain di pantai. Salah satu contoh ketika menerangkan kereaktifan unsure2 halogen, kami mengemasnya menjadi bentuk permainan oray-orayan (saya kurang tau bahasa Indonesianya oray-orayan apa, ular-ularan gitu ya? -__-“) dimana setiap anak-anak yang memerankan tokoh Fluor (Fluorin), Clor (Clorin), Brom (Bromin), Iod (Iodin), dan Asti (Astatin) disusun berurutan sesuai dengan kereaktifan paling tinggi berdiri di depan, menyusul unsure-unsure dengan kereaktifan lebih rendah di belakangnya.

Uniknya, teman-teman yang mengaku kurang ngeuh dengan pelajaran kimia justru terlihat sangat menikmati perannya. Karena, saat itu proses belajar tidak semata terpaku pada kemampuan kognitif yang terkesan menganaktirikan teman-teman yang memiliki potensi dan kecerdasan di aspek lain. Ada teman saya yang sangat suka menari, dan ia pun mampu memaksimalkan potensi yang dimilikinya dengan memunculkan ide tarian anak-anak sebelum bermain pasir (bahkan lagu pengiringnya pun masih terekam jelas dalam ingatan saya, lagu milik penyanyi cilik Eno Lerian DuDiDuDiDam). Ada juga yang kecerdasannya muncul di musical, sibuk memilih musik-musik yang tepat untuk meramaikan drama.

Walaupun begitu kami tetap memahami esensi dari materi kimia yang harus kami sajikan, karena kami sadari selain memahamkan diri sendiri kami juga harus memahamkan isi materi kelompok kami kepada siswa lain. Satu hal yang menyenangkan bahwa kami dapat  memahami dan menyampaikan materi yang terbilang sulit dengan gaya belajar kami sendiri, sesuai kecerdasan yang dimiliki masing-masing. Cukup adil bukan?

***

Selama proses mendalami materi, penyusunan naskah, hingga pagelaran drama itulah yang selalu saya ingat sampai sekarang. Bagi saya drama kimia ini merupakan metode belajar yang paling mengesankan selama belajar di bangku sekolah. Pak Hadyan telah berhasil menstimulus kami untuk mempelajari kimia dengan kemasan yang terbilang aneh saat itu, hingga saya melihat teman-teman saya sangat maksimal memunculkan masing-masing potensi yang dimilikinya. Kami bisa dengan bebas mengeksplorasi kemampuan dan mengembangkan sayap-sayap imajinasi kami untuk dituangkan dalam drama kimia.

Sederhananya saya menyimpulkan bahwa seperti inilah salah satu potret penerapan strategy belajar dengan pendekatan Multiple Intelligence yang tengah marak dibahas di kalangan para pendidik. Dimana guru mampu membangunkan dan menarik keluar semua potensi yang terpendam dalam diri siswa didik dengan tidak memandang sebelah mata kecerdasan siswa lain yang mungkin dalam ukuran penilaia kognitifnya kurang, sehingga siswa merasa dapat memberikan manfaat dan kontribusi dalam setiap pembelajaran yang dilakukan.

Jujur saya masih sangaaattt sedikit pengalamannya di dunia pendidikan, masih harus banyak belajar. Hanya ingin berbagi pengalaman dan semoga apa yang telah didapat dari guru saya ini bisa menjadi inspirasi bagi guru-guru lainnya untuk lebih melejitkan kreativitasnya dalam mendidik siswa.

Terakhir saya ucapkan banyak terimakasih kepada guru-guru kehidupan yang telah sabar mendidik saya hingga saat ini. Semoga Alloh karuniakan balasan atas setiap ilmu yang diberikan dengan limpahan nikmat yang jauh lebih sempurna disisiNYA. Aamiin Yaa Rabb

Syarifatun Nisa NH
Penghujung Pagi, 150812



Selasa, 17 April 2012

Hikmah# Kejutan Sepanjang Perjalanan

Matahari semakin terik, udara terasa tidak bersahabat, panasnya menjalar hingga ke ubun-ubun. Akhir-akhir ini cuaca sedang tidak stabil. Paginya panas, lalu siangnya tiba-tiba hujan lebat, atau terkadang sebaliknya. Keadaan ini membuat beberapa penumpang angkot Ledeng-Caheum nampak tidak nyaman. Di jok paling ujung seorang ibu terlihat sibuk mengibas-ngibaskan kipas kecilnya sampil mengusap dahi anaknya yang bercucuran keringat, disebelahnya sesosok lelaki berusaha menggeser kaca angkot yang macet. Saya sendiri memilih duduk dekat pintu angkot. Angin yang berhembus kencang lewat pintu yang terbuka, cukup mengurangi rasa gerah yang dirasa.



Alhamdulillaah, selang beberapa menit kemudian angkot merapat di terminal Cicaheum. Saya yang baru turun langsung diserbu oleh beberapa kuli angkut dan kondektur bus yang menawarkan jasa. Dengan cepat saya pun melesat, melewati tempat pembelian tiket yang sesak dan menaiki bus Budiman jurusan Pangandaran. Bus terlihat lengang, penumpang bisa dihitung jari. Satu, dua pedagang asongan yang sejak tadi bertahan di bus mulai putus asa menyodorkan dagangannya. Rasa lelah mendorong saya untuk segera duduk, dan hup... akhirnya saya menepi di jok terdepan belakang supir.



Langit nampak tenang seiring mata saya yang mulai meredup diserang kantuk. Sayup-sayup dari headset masih terdengar suara Ustadz Roni tengah mengisahkan shirah sahabat di MQFM. Budiman perlahan merayap diikuti bertambahnya para penumpang, termasuk dua jok samping kiri saya sekarang terisi. Sepasang suami istri itu melempar senyum santun kepada saya, siapa sangka, dua orang ini akan memberi baanyak sekali kejutan dan hikmah sepanjang perjalanan pulang…apa pasal???



***



Melewati kampus UIN Sunung Djati, tiba-tiba saya dan para penumpang dikejutkan oleh suara tinggi seorang bapak,



“Jadi minantu the sing sopan, ulah sok dulak delek lamun panggih jeung kolot urang the!!!” ujarnya dengan nada menyentak.



Saya yang sedang menikmati kajian shirah di MQ sontak menoleh kearah pemilik suara tersebut. Persis selang satu jok disamping saya terdapat seorang bapak dengan wajah gusar tengah memarah-marahi istrinya, telunjuknya menunjuk kejam kearah sang istri, si istri yang tak terima dengan perlakuan suami dengan sengit melawan sentakannya, begitu seterusnya, suaminya pun terus membentak dan membeberkan semua kekurangan istrinya dengan kencang. Beberapa menit kemudian keluarlah ultimatum dari mulut sang istri.



“Ceuk urang ge naon, lamun teu minat rumah tangga jeung urang, teu kudu kawin baheula the, hanjakal!!!” matanya menyolot.



(sebelumnya saya minta maaf memuat percakapan suami istri tersebut yg terkesan sangat kasar)



Saat itu posisi saya tepat dipojok suami istri tersebut, melihat dengan mata sendiri kronologis kejadiannya. Bingung, sambil terus beristighfar.. maksud hati ingin melerai tapi situasi tidak memungkinkan. Kondektur yang bertubuh kekar saja terlihat kesulitan menenangkan dua sejoli ini, bagaimana lagi saya? Sampai pada akhirnya pertengkaran pun terhenti oleh dering HP sang suami “Yaa Rosulalloh..Yaa Habiiballoh, Muhammad ibn abdillaah….” Syahdu sholawat terlantun, saya hanya bisa terbengong mendengarnya. Heran bukan kepalang... Alhamdulillaah, atas izin Alloh sholawat mampu meredamkan emosi keduanya. Dalam hati saya bergumam, untunglah bapak itu masih teringat Rosululloh.



Waktu yang tepat untuk pindah tempat duduk, dengan hati-hati saya pun segera meminta ijin untuk pindah tempat.



Di tempat duduk yang baru, hati saya terus mendengungkan keheranan, otak saya tak habis pikir atas kejadian tadi. Kok bisa ya suami memarahi istri di depan banyak orang? Kok bisa ya istri berani menyentak dan menyumpahi suami sendiri? Kejadian tadi berlangsung sekitar 20 menit, dan banyak sekali ibrah yang bisa saya petik darinya.



***



Pemicu utama pertengkaran sebenarnya berawal dari salahnya komunikasi, saya yakin maksud suaminya baik yaitu mengingatkan istrinya untuk berlaku sopan kepada mertuanya. Tapi, karena kehendak yang ia inginkan disampaikan dengan buruk, terkesan memojokkan sang istri, jadilah prahara memanjang. Pikir saya (sudut pandang orang yang belum menikah, hehe :D), alangkah baiknya jika dalam situasi ini istri berusaha menenangkan suami dan meredakan emosinya terlebih dahulu lalu kemudian mengajak berbicara dengan baik-baik. Tapi sayang yang terlihat justru sebaliknya, sang suami keukeuh dengan kesalahan istri yang baru ia tahu dari orang lain, sang istri mempertahankan dirinya dengan menujukkan ketidakmauan dikoreksi, terlihat kurang pandai dalam menyampaikan keinginan dengan lancar sehingga muncul salah paham dan memicu kemarahan satu sama lain, imbasnya terbeberlah aib kedua pasangan dan hilangnya rasa hormat istri kepada suami. Islam sendiri dengan indah telah memberi solusi dalam mengatasi masalah tsb, yaitu dengan melakukan tabayun (mencari kebenaran atas informasi yang didapat) terlebih dahulu, agar jelas tanduk permasalahannya. Andai saja sang suami tahu indahnya komunikasi Rosululloh ketika menasihati istrinya yang cemburu. Mari kita simak….



Dari Aisyah rodhiyallohu ‘anha, dia berkata,

“Aku tidak pernah melihat orang yang pandai memasak seperti halnya Shafiyah. Suatu hari dia membuatkan makanan bagi Rasululloh shollallohu ‘alaihi wassalam yang ketika itu beliau di rumahku. Seketika itu badanku gemetar karena rasa cemburu yang menggelegak. Lalu aku memecahkan bejana Shafiyah. Aku pun menjadi menyesal sendiri. Aku berkata ‘Wahai Rosululloh, apa tebusan atas apa yang kulakukan ini?’ Beliau menjawab, ‘Bejana harus diganti dengan bejana yang sama, makanan harus diganti dengan makanan yang sama’” (HR Abu Dawud dan Nasa’i)



Dalam riwayat lain diceritakan dari Anas rhodiyallohu ‘anhu,

“Ada diantara istri Nabi shollallohu ‘alaihi wassalam yang menghadiahkan semangkuk roti dicampur kuah kepada beliau, selagi beliau ada dirumah istri beliau yang lain (Aisyah). Aisyah menepis tangan pembantu yang membawa mangkuk, sehingga mangkuk itu pun jatuh dan pecah Nabi langsung memunguti roti itu dan meletakkan kembali diatas mangkuk, seraya berkata, ‘Makanlah, ibu kalian sedang cemburu.’ Setelah itu beliau menunggu mangkuk pengganti dan memberikan mangkuk yang pecah tadi kepada Aisyah.” (Diriwatkan oleh Bukhori, Tirmidzi, Ahmad, Abu daud dan Nasa’i)



Subhanalloh, tidaklah beliau mengatakan dan memperlakukan istrinya dengan kasar melainkan dengan teladan dan kata-kata yang haq. Tidak cukupkah dua hadits ini menjadi renungan?



Jika ada surga di dunia, maka itu adalah pernikahan yang bahagia. Tetapi jika ada neraka di dunia itulah rumah tangga yang penuh pertengkaran. Semua orang pastilah mengidamkan keluarga sakinah yang dikaruniai Alloh mawaddah dan rohmah. Dalam mencapai ini, maka komunikasi keduanya menjadi bagian yang sangat penting mengingat sebagian besar waktu kita adalah untuk berkomunikasi satu sama lain. Gagal berkomunikasi antara suami, istri maupun anak sangat rentan mengganggu keutuhan keluarga.



Kalau kata guru saya, “Teko hanya mengeluarkan isi teko, jika isinya kopi maka yang keluar pun kopi, jika isinya air bening maka yang keluarnya pun air bening.” Analogi ini mencerminkan bahwa perlakuan khususnya perkataan yang kita keluarkan adalah cermin dari hati kita, bisa jadi ketika suami istri mengucapkan kata-kata kasar satu sama lain berarti juga mencerminkan keadaan hatinya yang jauh dari Alloh. Wallohua’lam..maka, betapa pentingnya bagi kita untuk memohon selalu pertolongan dan bimbingan dari Alloh dalam keadaan ini, karena kita yakini betul bahwa hanya Alloh saja penggenggam hati kita.



Menurut Cahyadi Takariyawan, untuk membangun komunikasi yang baik antar komponen keluarga, hal yang pertama kali harus dimiliki adalah menciptakan visi keluarga yang jelas. Harus ada cita-cita besar yang terang benderang dan menjadi sebuah ikatan moral yang kokoh untuk diwujudkan dalam kehidupan. Mardhotillaah…Inilah visi yang sangat kokoh yang mengikat keluarga menuju muara yang sangat jelas, berlaku baik satu sama lain hingga bersama-sama meraih surga dan merindukan ridho Alloh dalam setiap kehidupannya. Wallohua’lam..



***



Tidak terasa bus sudah menempuh setengah perjalanan menuju Banjar, artinya sudah dua jam pertengkaran suami istri itu mereda. Diam-diam saya lihat pasangan itu sedang berbicara dengan tenang dan duduk berdampingan. Alhamdulillaah, singkatnya saya menebak mereka sudah berdamai..horeeee :D



Saya mulai menikmati perjalanan, gradasi warna senja yang terlukis dilangit terlihat sangat indah. Lamat-lamat terdengar adzan maghrib. Saya pun menyempatkan waktu mustajab antara adzan dan iqomat dengan memperbanyak do’a. Yaa Alloh, karuniakan padaku pendamping yang sholih, yang membersamaiku memikul amanah dariMU, bersama-sama menghidupkan ruh Al-Qur’an dalam keluarga kami kelak, menulis, berbagi, menebar hikmah dan manfaat kepada sesama. Jika suatu saat ada percikan ujian yang menimpa, lapangkan hati kami untuk menghadapinya bersama dan kokohkan ikatan kami dalam keimanan. Aamiin Yaa Robb..



Terima kasih atas kejutan singkat penuh ibrah itu Alloh, perjalanan panjang yang sarat hikmah. Sepertinya kejadian ini menjadi salah satu pengalaman yang tak terlupakan dan InsyaAlloh menjadi bekal bagi kehidupan saya kedepannya. Dengan kejadian ini, mungkin Alloh hendak membina diri saya untuk memikirkan dan melakukan aksi perbaikan diri terus menerus. Ya, semoga saja begitu. Pasangan kita adalah cerminan diri kita juga bukan?!



#Selamat merangkum hikmah sahabat :)



Syarifatun Nisa NH, 130412

Di teduhnya rumah tercinta ^__^

Kamis, 08 Desember 2011

SEBENTUK KOMITMEN

Ini bukanlah hari menyejarah, bahkan masih terlalu jauh jika yang dimaksud adalah hari kelahiran..Ntah kenapa, sudah beberapa pekan perhatianku ditarik paksa menuju angka 19. Jika bukan karena tayangan itu, mungkin aku tak akan semerinding ini. Aku dibuat malu, menyaksikan sekumpulan kecil itu..riang sekali, teduh wajahnya mengalihkan semua penat yang sempat bertengger menyesakkan saraf. Aku larut dalam kisah mereka yang tak kasat mata, namun memancarkan bermilyar cahaya… Laksana buah utrujjah yang sangat harum aromanya, indah warnanya dan manis rasanya..mereka luar biasa melebihi yang lain.

Jika hidup ini diibaratkan sebuah perjalanan, seharusnya dalam hitungan tahun ke-19 aku telah menempuh jarak yang sangat jauh, maka anggaplah aku sempat merasa kelelahan mengayun langkah hingga suatu waktu ditengah perjalanan aku menemukan sebuah pohon yang sangat rindang memayungi sekelilingnya dan aku pun tak mampu mengelak untuk berteduh dibawahnya sembari menenangkan diri dan mempersiapkan kembali bekal perjalanan selanjutnya. Maka pohon yang menyejukkan itu adalah mereka…

Lekat kuikuti kembali kisah mereka di layar, lalu aku mulai membandingkan 19 itu dengan angka-angka yang mereka miliki, ada 5, 6, 7, 11, 15..selisih yang cukup jauh bukan? Angkaku jelas lebih tinggi dari mereka. Namun, dalam seketika aku pun terpekur memaknai hal itu, usiaku tepaut jauh dari mereka tapi prestasi mulia yang mereka raih jauh melampauiku. MasyaAlloh, kurasakan butir-butir itu mengalir. Al-Qur’an yang membuat mereka begitu bercahaya dalam pandanganku. Aku malu pada sosok-sosok suci itu, mereka telah mampu menghafal, menjaga, dan mengamalkan Al-Qur’an dalam usia dini yang penuh keimanan. Bagaimana tidak tergetar hatiku melihat kenyataan ini?

“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal sholih bahwa bagi mereka adalah pahala yang besar.” (Al-Isro’ [17] : 9)


Aku kecipratan kabar gembira yang tertoreh dalam Al-Qur’an dari mukmin-mukmin kecil itu, sahabat... Betapa bahagianya…istirahatku akhirnya membuahkan bekal.

Sedikit mendekati penghujung ke-19 yang tak lama lagi meningkat, aku akan melanjutkan perjalanan. Teriring do’a dari mereka yang tak lelah membimbing dan menyemangati, semoga istiqomah dan mampu menjadi sahabat Al-Qur’an. Perjalanan ini adalah sebentuk komitmen yang tak bisa ditawar lagi, dengan memohon selalu pertolongan dan rahmat Alloh, semoga angka2 bertingkat itu tak sekedar menjadi penghias usia..hingga pergantiannya selalu beriringan dengan nafas-nafas Al-Qur’an yang mendampingi perjalananku, hingga kutemui ridhoNya..

“Lihat dan renungkan,setiap orang yg bertekad akan sampai tujuan.
Dan tujuan yang paling mulia adalah menghafal Alquran sekalipun dapat di abaikan..
Jika engkau berniat,bergegaslah....
Jika engkau bertekad maka bulatkan,dan ketahuilah bahwa orang yang rela di barisan akhir tidak akan menemukan kebahagiaan....
Wahai yang bercita-cita tinggi untuk menghafal Al-Qur'an,
ruhmu merindukan keutamaan,semangatmu terpancar untuk melampaui perkebunan indah ini,agar engkau bisa memetik buah dan bunganya......
sekarang,sekarang saatnya engkau bergerak merapat menuju mushafmu.....menambah dan mengingat hafalan mu!!!”
(Ustadz Suhud)


"Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Quran untuk peringatan, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?."

Rabu, 13 Juli 2011

Bersabarlah Wahai Putri Ummi..

Ketika bunga itu telah mekar, maka ia akan menebarkan harumnya. Memberikan kesejukan bagi yang memandangnya, memberikan rasa tenang untuk sekelilingnya, menebarkan keindahan yang menyenangkan, bahkan anginpun selalu menyapanya dengan penuh kelembutan, serta matahari turut memberikan sinaran kehidupan yang selalu menggelorakan.


Pada saatnya nanti akan ada seorang yang akan mendatanginya, dengan membawa maksud untuk melindunginya. Tenanglah duhai putri ummi, pada waktunya nanti, pahlawanmu akan datang menjemput dengan penuh keridhoan dari Rabb-Nya.



Maka, tidak perlu ada keresahan ataupun rasa was-was untuk sebuah penantian. Karena semua telah ada yang mengurusnya. Pada waktunya kelak, akan ada sebuah moment indah yang tiada pernah terbayang.



Tak perlu keresahan itu menghantui, tak perlu kegelisahan menggelayuti. Asalkan kau terus berjalan dan memelihara hatimu sesuai yang disyariatkan oleh Tuhan-Mu wahai permata hati keluarga.



Rabb-Mu bahkan telah menakdirkan sosok belahan jiwamu ketika ruh mu baru saja ditiupkan dalam rahim ibu. Hanya do'a yang bisa memenuhi harapanmu, karena Allah pasti akan selalu merengkuh segala pengharapan-Mu pada-Nya. Hanya senandung do'amu lah yang bisa mengubah takdir yang buruk menjadi takdir indah.



Ketahuilah , janji Allah tiada pernah ingkar. Bahwa ketika engkau menjadi muslimah yang menghambakan diri sepenuhnya kepada Allah, lalu di hatimu hanya ada kecintaan kepada yang Maha memiliki cinta. Maka, yang akan menjemputmu kelak adalah hamba yang juga hatinya dipenuhi ketaqwaan, seorang hamba yang jiwanya selalu dekat dengan Rabb nya.



Kini, yang perlu kau lakukan adalah berkaca pada air mata kehidupan yang bening. Sudahkah engkau menjaga hati-Mu, wahai putri abi? Sudahkah kau junjung tinggi harkat dan martabatmu sebagai wanita yang kelak akan melahirkan penerus agama? Sudahkan engkau mulai mendo'akan segala kebaikan bagi permata hati yang kelak lahir dari rahimmu? Sudahkan engkau tersadar bahwa begitu banyak hal yang masih perlu kau renungi dan engkau persiapkan dalam masa penantian?



Berdamailah dengan jiwamu wahai perhiasan dunia, bahwa penantian adalah sebuah hadiah suci dari Rabb-Mu, penantian adalah sebuah keindahan dalam kehidupan, dan penantian adalah sebuah pendidikan langsung dari Yang Maha Memiliki Hati. Sebab kelak engkau akan menjadi samudra kehidupan bagi anak-anakmu. Penyejuk hati bagi Pendamping-Mu, penguat hati bagi belahan jiwamu, . Serta rahmat bagi sekeliling-Mu.



Ketika dalam setiap helaan nafasmu telah dipenuhi dengan kepasrahan kepada Rabb-Mu, maka tak perlu lagi kecemasan dan kekhawatiran akan sosok yang kelak menjadi pasanganmu. Kerana Allah Maha Mengetahui sedang dirimu tiada mengetahui apapun. Bahkan segala yang masih menjadi rahasia Allah, akan menjadi sebuah kejutan yang mengharukan batin bagimu.



Ketika dengan sepenuh jiwa dan raga kau berjuang menjaga diri dari segala kehinaan. Tak perlu kau dirundung pilu. Kerana Allah telah menyiapkan seorang hamba yang kelak dengan sepenuh jiwa dan raganya menjagamu, membimbingmu dalam menggapai ridho ilahi, dan mencintaimu karena Allah.



Maka, buatlah bidadari surga cemburu padamu, cemburu akan keteguhan menjaga harga diri muslimah, cemburu akan ketaatanmu kepada Allah, cemburu akan pesona yang engkau tebarkan untuk makhluk semesta, cemburu akan cinta dan kasih sayangmu yang sedalam dan seluas samudra, dan kesabaranmu dalam penantian… Kerana engkaupun pasti bisa menjadi bidadari dunia akhirat yang penuh dengan anugrah cinta dari Allah. Percayalah….=)


* renungan dalam "taman kebaikan", semoga bermanfaat dunia akhirat, amin ya Rabb..


**Kiriman dari ukhty dear, Mahshuna...


"Apa yang kau takutkan untuk sebuah pernikahan ukhti? sementara Allah dan RasulNya tlh memberikan banyak kebaikan didalamnya.. :)" tak lama setelah kiriman itu..ia, sahabatku, menanyakannya..

Aku menerawang, meski sedikit sesak kuutarakan,

"Aku khawatir, belum mampu menjadi madrasah terbaik untuk jundi-jundiku kelak. Sejenak ukhti, aku sedang mempersiapkannya dulu untuk amanahku. Tidak usah khawatir, tak ada yang kutakuti darinya. Semoga ia yang mendampingiku nanti tak pernah menyesali kebaradaanku dan selalu meridhai aku sebagai ibu dari jundi-jundinya :)
do'akan aku :)"

Jumat, 01 Juli 2011

Tak Semua Rasa Bisa Ia Lisankan

Nyaman, setiap kali melihatnya dengan wajah ceria sekalipun aku tau tak banyak waktu yang ia gunakan untuk sekedar merebah lelah. Ia..dua tahun diatasku, wajahnya sederhana pun penampilannya. Sayang..ia sama sekali tak bisa membuatku sedikit saja membuang senyum, meski hanya sekedar berpapasan dengannya ^___^
Pagi itu, setelah beberapa lama bejibaku dengan tugas kuliah dan tuntutan kerja masing2, kami bertemu, lagi.. pandangannya lekat kearahku, namun sedikit sekali kulihat senyumnya.
"Ada apa?" heranku terucap, sambil sesekali melirik pakaian dan merapihkan jilbab, khawatir ada yang membuatnya tak nyaman dengan penampilanku saat itu.
"Tidak ada, " singkat.
Tak biasanya..
Kugamit lengannya, "Kenapa teteh….teteh kangen nisa ya?" kuajak ia tersenyum.
Ia diam, lalu melepas tanganku, sedikit kikuk ia pun menghambur kearahku, lirihnya
"Iyaa nisa, teteh kangen nisa, tapi teteh malu mau bilangnya."
Allah… di titik inilah kurasakan manisnya ukhuwah. Meski tak semua rasa bisa ia lisankan, bahkan untuk mengungkap rindu pada seorang adik pun begitu malu. Ada saatnya memang rasa-rasa itu tak perlu diobral, sekalipun tak diucapkan, keterkaitan hati dengan sendirinya meyampaikan. Alhamdulillah, terimakasih Yaa Rabb..atas rindu yang Kau titipkan padanya, untukku :)

Kamis, 05 Mei 2011

Teruslah Berbuat

Semuanya terasa serba teratur meski dzahirnya terlihat tak tersusun, karena rangkaian cerita yang Alloh tetapkan selalu lebih indah dari yang kurangkai sendiri..selalu mengalir tak terencanakan, mencerminkan bahwa aku hanya mampu berperan sebagai konseptor kesekian setelah keMaha teraturan konsepNya. Dia, Alloh yang Maha Penyayang , tak ingin azzam dan ikhtiarku tertahan diujung pena..hingga dalam prosesnya Alloh yakinkan langkah ini, seakan kudengar titahNya, “Teruslah berbuat, AKU ingin melihat hambaKu berjuang lebih tangguh dari sebelumnya. AKU ingin meridhoi setiap langkahnya, maka jadikan niatmu selalu tertuju padaKU!!”
..Dan kubiarkan diri ini lelah di dunia, karena aku berharap istirahatku kelak bermanja-manja bersama Alloh Al-Lathif dan Rosululloh SAW..
Amiin Yaa Mujib...

Minggu, 27 Maret 2011

Kembali Menyusun Hikmah

Pada awalnya, mungkin, ia terlalu tinggi menengadahkan harapan..tanpa menyadari bahwa dalam semua ikhtiarnya tetaplah ada skenario Alloh yang tak akan mampu terelak. Bukan harapan sebenarnya yang menjadi masalah, hanya orientasinya pada saat itu belum benar-benar lurus menuju ridha-Mu, hingga Alloh membuatnya terdampar pada sebuah suasana yang belum pernah ia rencanakan. Karena cinta-Mu, Engkau tawarkan harapan lain yang lebih ia butuhkan.

Saat itu, otaknya terus memutar kendali, mencari makna apa yang ingin Dia sampaikan dari semua keputusan itu. Namun, ia sadari..ada sesuatu yang tak cukup difahami oleh akal semata, imanlah yang mengawali terbukanya keterhijaban hati menuju hikmah.

Cukup lama ia ikuti alur yang harus dijalani, sesekali matanya terpejam..adakah ia belum ridho atas ketetapanNya? Melihat kondisi tempatnya mencari ilmu tak sesuai yang ia harapkan, terlebih suasana yang membuat ia kikuk untuk melakukan sesuatu.
Suasana hati, ya suasana hati belum selaras dengan apa yang diyakini. Imbasnya, ia mulai keteteran mengikuti pelajaran yang disampaikan, hanya karena satu alasan..”Ini bukan bidangku, aku tidak mampu melanjutkan ini.”

Untunglah Dia tak pernah sedikitpun letih membimbingnya. Teguran seorang teman cukup membuatnya tersentak..

“Sebenarnya anti hanya membuat alibi agar anti bisa pindah dari tempat itu. Bukan anti tak mampu mempelajarinya, tapi belum ikhlasnya anti untuk berada ditempat itu mengacaukan semua sistem yang seharusnya dapat mendukungmu untuk belajar.”

Yaa Rahiim, ia terhempas merasakan letih atas apa yang ia hadapi. Letih yang ia buat sendiri. Lalu ia putuskan untuk menghimpun kembali kekuatan. Sepertinya, kebelumikhlasan ia atas ketetapanMu telah menguap membentuk kabut yang menghalanginya untuk menikmati hikmah. Entah dimana hatinya ketika ayat-ayatMu ia tilawahkan, entah dimana ia letakkan ilmu mengelola hati yang selama ini ia dapat dari para asatidz.

Inilah saat yang tepat untuk mengkomunikasikan hati dan pikiran, lirihnya. Ia pun memilih menyendiri, berlari menuju rumahMu. Baru ia tapakkan kakinya dipelataran, sudah sangat terasa betapa Alloh merindukannya. Di masjid berlantai kayu itu, ia utarakan semua yang menghimpitnya padaMu. Ia menangisi dirinya sendiri, betapa kerdilnya iman yang ia miliki ketika ia berpikir bahwa kebahagiaan hanya terletak pada yang kasat mata saja. Hingga ia rindukan dirinya yang dulu, diri yang bahagia dengan senyumannya, diri yang bahagia dengan setiap amanah yang Alloh berikan, diri yang bahagia karena yakinnya terhadap janjiMu bahwa dibalik kesulitan itu selalu ada kemudahan.

Al Kariim, tanpa disadari, terbilang hitungan hari ia sempat menjauh dariMU. Padahal letihnya raga, tak seharusnya melemahkan hati. Kini ia kembali mengurai syukur, karena disamping tempat itu, Engkau posisikan ia disebuah pesantren sebagai penyeimbang. Disini Engkau beri ia kesempatan untuk memaknai ilmuMu lebih dalam lagi, ilmu yang InsyaAlloh mendekatkannya pada al-haq. Alhamdulillah, ia kembali menyusun hikmah. Karena cinta-Mu, Engkau tawarkan harapan lain yang lebih ia butuhkan.

“Kadang bukan suasana yang harus diganti, tapi rasa yang harus diperbaiki. Kau belum tentu bahagia dengan hanya berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Kembalilah kepada rasa yang seharusya ada pada dirimu agar kau bahagia.” (Aidh bin Abdullah Al Qarniy)

“Katakanlah, “Wahai hamba-hambaku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Alloh! Sesungguhnya Alloh mengampuni dosa-dosa dari semuanya. Sungguh Dialah yang Maha Pengampun, Maha Penyayang. Dan kembalilah kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepadaNya....” (QS Az-Zumar 53-54)


(Alhamdulillah, terimakasih Alloh, Kau berikan sebuah amanah yang membuatku tak bisa pindah dari kampus ini. Mungkin ini caraMu untuk memberiku kebahagiaan itu. Terimakasih ummi & abi tercinta yang sudah setia mendengarkan cerita2ku disini :) Akhirnyaa, Jazakumullah.. zahra, deli, nita, esty & teman2 yg lain...kalian yang menguatkanku untuk bertahan di tempat ini. Semoga Alloh selalu berikan keistiqomahan dalam setiap gerak hati, fikiran dan lisan kita. Amiin Yaa Robb. Hamasah!!)

*Semua ketetapanNya sangat patut disyukuri ^^

Minggu, 15 Agustus 2010

Karya-Nya yang Kurindu

Salah satu karya terindah Allah yang kurindu untuk menikmatinya, lagi…menghirup sejuknya pagi ditengah rimbun pepohonan dan gemuruh takbir alam semesta, merenungi keindahan langit yang terlihat tak berjarak dengan bumi, menyusuri hamparan pasir yang halus menggelitik ditemani pasukan burung pencari nafkah dengan bekal tasbih di setiap kepakannya. Ah…serasa ingin terlempar kembali ke masa dimana aku menatap semua kebesaran Allah ini, rasanya semua pelik & penat yang kubawa saat itu luruh seketika, ada yang menariknya dengan lembut melebur bersama lautan ombak, hingga semuanya tak nampak lagi ke permukaan. Ringaaaaan…
Subhanallah, jika sudah seperti ini tak ingin kudekati lagi apapun yang dapat menggiringku untuk melupakan syukur. Maka nikmat-Mu yang mana lagi yang kan kudustakan?
Aku rindu wangi ombak…Aku rindu mengintip makhluk2 indah dibalik karang…aku rindu menyatu dengan laut, karya hebat-Mu yang bila kutuliskan semua tentangnya tak akan pernah bisa kurampungkan sampai halaman terakhir, karena sungguh nikmat-Mu tak terbatas dan tiada akhir..
Untuk melepas kerinduanku, untuk menggugah kekaguman rasa akan kebesaran-Nya, yuuuk kita selami potret indah ciptaan Allah yang satu ini….hehe.. 

_^Karang Tawulan, 2 tahun yang lalu^_






Subhanallah,Indahnya...barangkali ada yang berminat untuk rihlah kesini, :)

Minggu, 31 Mei 2009

Inginku berlari menujuMU..

Seutas kisah diri yg lupa..
Lalai..,
Terlalu lama bermain dalam kebimbangan.
Allohku..Kau tetap menenangkanku..
Inginku berlari menujuMu..
Meski pada kenyataannya belumlah seperti itu.
Aku masih merangkak untuk mendekatiMu..
Kau segera memelukku..
Sekuat tenaga kulakukan itu,
namun kusempat terjatuh..
Hingga hatiku pun tern0da..
Kau masih membangunkanku..
PadaMu kuadukan semua..
Gelisahku..rasaku..harapku.
Aku tersungkur dalam sujud,
MenemuiMu..
Kau membelaiku..
Kutahu Kau merindukanku Alloh...
Kau rindu air mataku..
Kau rindu d0'a2ku..
Kau rindu amalan2 baikku..
Kenapa baru kusadari ini?!?
Ampuni aku yg tlah lalai..
Ampuni aku yg tak mampu menundukkan hati..
Sungguh..,
Inginku berlari menujuMu..
Berlari dg segala keterbatasan iman yg kumiliki saat ini,
Mengejar ketertinggalan meski tak kan tergantikan..
Kau kuatkan langkahku..
Walau tersandung..
Kau tetap menyemangatiku..
Ya Rabb..
Segenap hati ingin kuucap..
Teguhkan hatiku..
agar aku bisa mencintai-Mu semampuku..

(Renungan saat hatiku tersandung..310509)
Tampilkan postingan dengan label Memory. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Memory. Tampilkan semua postingan

BASHIRAH, ditengah Terbatasnya Mata Lahir



Bismillaahirrahmaanirraahiim…

Purnama nyaris sempurna, sinarnya benderang bak pelita di pekat malam. Sayup-sayup simfoni malam mulai meredup tak terdengar. Sunyi mengantarkan saya pada sebuah renungan tentang hakikat sebuah kebahagiaan ditengah keterbatasan.

Allah tak pernah pilih kasih terhadap hambaNYA. Semua hal yang Ia ciptakan telah diatur dengan desain paling sempurna, melalui ketelitian yang sedimikian rupa, melewati proses panjang yang sarat hikmah. Siang & malam Ia sibuk mengurusi hambaNYA tanpa kenal lelah.  Hingga terciptalah kita, makhluk  dengan sebaik-baik bentuk. Meski secara kasat mata, dalam pandangan manusia yang serba tak sempurna, nampaklah beberapa sosok dengan kondisi lahiriah yang terbatas.

Beberapa minggu terakhir, berkali-kali Allah pertemukan saya dengan seorang tunanetra. Di angkot, di perjalanan menuju kampus, di majlis ilmu, dan di tempat kerja.  Setiap kali bertemu mereka, yang pertama kali terbersit adalah rasa iba. Sempitnya saya merasa, betapa tidak nyamannya menyaksikan kehidupan alam yang memiliki berjuta pesona ini hanya dalam satu warna serta kondisi, hitam & gelap.  Betapa menyusahkannya ketika pergi kemana-mana harus membawa tongkat yang menjadi penuntun jalan. Betapa sedihnya saat ia tak mampu melihat lekuk wajah orang-orang yang dicintai & disayanginya.  Ah, sayangnya ketika rasa iba menguasai diri yang terpikirkan justru hanya satu titik saja, kelemahan. Nyatanya, siapa bilang mereka tak pernah bahagia?

***

Setahun lalu ketika saya masih tinggal di asrama, ada sosok luar biasa yang begitu berjasa dalam menyemangati & membentuk diri saya untuk konsisten berdekatan dengan Al-Qur’an. Beliau dan keluarganya tinggal persis disamping asrama santri. Karena akses kami dengan beliau cukup mudah, tak jarang setiap kali ada masalah atau keperluan yang berhubungan dengan asrama kami konsultasikan kepada beliau. Pun ketika ada beberapa santri yang mengalami kesulitan dalam belajar ,muraja’ah, dan menghafal Qur’an, kami tak segan untuk berbagi dan meminta solusi dari beliau. Sosok sederhana nan penuh semangat  ini tak lain adalah ustadz pembimbing tahfidz saya. Beliau hanya memiliki kemampuan melihat kurang lebih 50%. Kadang ketika berpapasan dengan para santri, ustadz seringkali keliru memanggil nama kami karena penglihatannya yang tidak jelas.

Beliau adalah seorang hafidz, kami seringkali dibuat terkesan oleh sosoknya. Sebelum waktu setor hafalan tiba, biasanya ustadz selalu mengompori kami untuk meningkatkan semangat menghafal dengan kisah2 hikmah ataupun petuah menggunggah yang sungguh kami nantikan setiap pagi.  Ketika tiba giliran menyetor hafalan, dengan sabar ustadz mendengarkan, memperbaiki hafalan yang salah, juga membenarkan makhraj & tajwid yang kurang tepat. Sempurna. Hafalan ustadz sangat kokoh, seakan-akan beliau hafal letak dari huruf ke huruf pada setiap ayat Al-Qur’an. Padahal penglihatannya sangat terbatas. Subhanallaah, ditengah keterbatasan Allah tlah memuliakannya dengan Al-Qur’an. Al-Qur’an telah menjadikan beliau sosok yang berpembawaan tenang, tajam pikirannya, bijaksana dalam menyikapi masalah, dan peka dalam setiap situasi.

Banyak contoh yang telah memberikan ibrah mendalam dalam diri saya dari seorang tunanetra. Ada Kang Hanan, siswa Aliyah yang buta sejak lahir namun telah beberapa kali menjuarai lomba pidato di pesantren, sekolah, hingga tingkat kabupaten. Ada juga LSM Ummi Maktum Voice, yang menginspirasi orang-orang agar bersegera menginfakkan sebagian rezekinya untuk menyebarkan Al-Qur’an Braille bagi para tunanetra. Dan masih banyak lagi sosok inspirasi dari kalangan mereka yang menyadarkan saya untuk tidak memandang sebelah mata atas kekurangannya.

***

BASHIRAH, kekuatan mata hati, adalah salah satu hadiah yang Allah berikan kepada orang-orang seperti mereka. Kondisi penglihatan yang terbatas mampu membuat mereka lebih peka menyikapi apa yang mereka dengar, lihat, raba dan rasakan. Ia adalah cahaya hati yang benderang, menuntun pemiliknya untuk berjalan sesuai hati nuraninya. Allah Maha Adil, mengangkat sebagian orang dengan kekurangan fisiknya dan menjatuhkan lainnya walaupun berjasad sempurna. Lihatlah bagaimana cara Allah mencukupi rezeki ditengah gelapnya pandangan seorang tunanetra. Bagaimana Allah meninggikan derajat seorang yang terbatas penglihatannya dengan sesuatu yang sangat mulia, Al-Qur’an. 

Kekuatan mata hati menjadi pelitanya. Allah telah menggantikan kebutaan matanya sebagai cahaya dalam pandangan dan pancaran di hati. Sehingga ia dapat melihat dengan mata hati, apa-apa yang tidak dapat dilihat oleh mata kepala orang lain. Mereka bahagia hingga tak lagi merasai kekurangan itu.

Lalu bagaimana dengan kita yang telah Allah sempurnakan lahiriahnya? Semoga tak pernah lupa mengurai syukur…karena disanalah sebenarnya kunci setiap kebahagiaan.


Syarifatun Nisa NH

Dalam renungan..

Teruntuk Adinda



Ingin kulukis senja..

Menyinar gradasi jingga di bening mata,

Menghapus gerimis-gerimis di sayu cahaya

Meski resahmu tak jua mereda

Adakah kau maknai adinda?

Untuk satu bilik makna

Hari ini dan seterusnya tak pernah berbeda

Pun ketika kau harus terluka,

Ada asa yang harus kita renda,

Selamanya tanpa jeda..

Di setiap hening masa,

Dalam seruak rasa,.

hati tak pernah sendiri , adinda ..

Ada Allah yang tak pernah tiada,

Menenun  cinta NYA untuk kita,

Menanti yang hina segera berbalut taqwa..

Rindui taubat hamba..

Karena hidup hanyalah tentang DIA



Beriring  ridhaNYA yang menyejuk di jiwa.



(Teruntuk adikku yang jauh dari pelupuk mata, semoga sedikit membasuh lara, meski tak cukup istimewa :) 
      

PANTAI HALOGENIA (Sekilas tentang Pendekatan Multiple Intelligence Semasa SMA)



Semburat warna mentari menyapa pagi dengan ramah, lembut menelusup celah-celah nyiur hijau yang berderet sepanjang tepian pantai. Pagi ini penduduk sekitar Pantai Halogenia nampak lebih sibuk dari biasanya. Sekumpulan anak-anak nelayan berlari-lari dengan riang, satu sama lain saling berkejaran menuju deburan ombak, menciduk airnya kedalam ember dan cepat-cepat membasahi gundukan pasir kering yang terletak agak jauh di pesisir pantai. Sebagian temannya yang lain tengah sibuk membentuk padatan pasir basah dengan cetakan-cetakan sederhana yang unik, membangun istana impian mereka.

Sementara itu tak jauh dari pantai, di sebuah gubuk sederhana, Nenek Halida terlihat sangat bersemangat memasukkan Kristal-kristal garam hasil panen siang kemarin kedalam bungkus-bungkus plastik kecil. Sesekali ia meneriaki cucu-cucunya Fluor, Clor, Brom dan Iod yang tengah bermain air laut untuk berhati-hati.

Pantai Halogenia yang eksotis semakin ramai dengan kunjungan para wisatawan yang hendak berlibur menikmati panorama indah yang menarik hati …


Pantai Halogenia? Memang ada ya? Dimana, dimana?

Hehe, teman-teman cari di peta mana pun, InsyaAllah saya yakin tidak akan menemukannya :D

Prolog diatas adalah sekilas cuplikan sebuah naskah, dan Pantai Halogenia adalah hasil imajinasi kami semasa belajar di kelas 3 SMA.

***

Berawal dari keresahan seorang guru kimia ketika mendapati nilai ulangan kimia kami  tidak juga menunjukkan kemajuan yang signifikan, padahal kimia termasuk salah satu mata pelajaran yang diikutsertakan dalam Ujian Nasional. Saat itu guru kimia kami sempat menanyakan dan mengevaluasi bersama mengapa hal itu bisa terjadi, dan salah satu penyebabnya adalah kebanyakan dari kami merasa jenuh dengan metode belajar klasik yang kami dapati di hampir semua mata pelajaran. Hingga muncullah ide cemerlang dari beliau yang membuat kami bingung cukup lama (hehe, aslinya sih saya yang bingung :D)

Waktu itu guru kami langsung membagi siswa-siswi yang ada di kelas menjadi beberapa kelompok dan memberi nama kelompok sesuai dengan judul BAB yang harus depelajari. Pikir kami, paling juga kami disuruh buat power point lagi, lalu mempresentasikannya di depan kelas. Tapi ternyata semua prasangka kami salaah besar.

Tak lama dari itu Pak Hadyan (guru kimia) menjelaskan tugas yang harus kami kerjakan yaitu menyajikan materi kimia dengan bermain drama. Sontak kami kaget, kelas tiba-tiba ramai..bagaimana bisa? Ini pelajaran kimia atau kesenian? Kemudian Pak Hadyan segera menenangkan kami dengan menyampaikan beberapa poin yang dapat kami lakukan untuk memulai proses pengerjaan tugas. Prinsipnya sebenarnya sama saja dengan presentasi, sebelum menyajikan kami harus mendalami materi terlebih dahulu, hanya perbedaannya sajian dibuat lebih kreatif melalui drama dan power point yang biasa dibuat berubah menjadi bentuk naskah.

Sebelum menyusun naskah, anggota kelompok yang pintar di pelajaran kimia mau tidak mau harus memahami lebih dulu sebelum membagi ilmu yang ia fahami kepada anggota kelompok lain, kemudian kami berdiskusi untuk menyamakan persepsi agar tidak salah menyampaikan materi dalam drama.

Setelah materi kami fahami, waktunya para penyusun naskah ambil bagian. Bermunculanlah ide kreatif dari semua anggota kelompok tentang drama yang akan dimainkan, mulai dari setting tempat, alur cerita, penokohan, sampai ide2 jenaka sebagai bumbu dalam drama. Kebetulan saat itu kelompok saya kebagian BAB tentang HALOGEN. Karena halogen adalah unsure pembentuk garam dan biasanya pembentukan garam identik terjadi di laut, akhirnya tercetuslah PANTAI HALOGENIA menjadi latar tempat dalam drama kami.

Awalnya cukup kesulitan juga ketika materi kimia yang biasa disampaikan dalam bahasa formal harus diolah kedalam bahasa naskah yang  harus mudah difahami oleh penonton. Tapi alhamdulillaah, mungkin karena baru kali itu kami merasakan belajar kimia dengan enjoy, tanpa dipusingkan dengan rumus2 yang njelimet, lalu mengalirlah inspirasi-inspirasi kami.

Untuk memudahkan dalam menyampaikan materi, kami membuat tokoh2 dalam drama berperan langsung sebagai unsure-unsure halogen dan unsure lain sebagai pereaksi. Agar kesannya tidak menggurui, kami menyampaikan sifat masing-masing unsure dengan candaan anak-anak nelayan yang sedang bermain di pantai. Salah satu contoh ketika menerangkan kereaktifan unsure2 halogen, kami mengemasnya menjadi bentuk permainan oray-orayan (saya kurang tau bahasa Indonesianya oray-orayan apa, ular-ularan gitu ya? -__-“) dimana setiap anak-anak yang memerankan tokoh Fluor (Fluorin), Clor (Clorin), Brom (Bromin), Iod (Iodin), dan Asti (Astatin) disusun berurutan sesuai dengan kereaktifan paling tinggi berdiri di depan, menyusul unsure-unsure dengan kereaktifan lebih rendah di belakangnya.

Uniknya, teman-teman yang mengaku kurang ngeuh dengan pelajaran kimia justru terlihat sangat menikmati perannya. Karena, saat itu proses belajar tidak semata terpaku pada kemampuan kognitif yang terkesan menganaktirikan teman-teman yang memiliki potensi dan kecerdasan di aspek lain. Ada teman saya yang sangat suka menari, dan ia pun mampu memaksimalkan potensi yang dimilikinya dengan memunculkan ide tarian anak-anak sebelum bermain pasir (bahkan lagu pengiringnya pun masih terekam jelas dalam ingatan saya, lagu milik penyanyi cilik Eno Lerian DuDiDuDiDam). Ada juga yang kecerdasannya muncul di musical, sibuk memilih musik-musik yang tepat untuk meramaikan drama.

Walaupun begitu kami tetap memahami esensi dari materi kimia yang harus kami sajikan, karena kami sadari selain memahamkan diri sendiri kami juga harus memahamkan isi materi kelompok kami kepada siswa lain. Satu hal yang menyenangkan bahwa kami dapat  memahami dan menyampaikan materi yang terbilang sulit dengan gaya belajar kami sendiri, sesuai kecerdasan yang dimiliki masing-masing. Cukup adil bukan?

***

Selama proses mendalami materi, penyusunan naskah, hingga pagelaran drama itulah yang selalu saya ingat sampai sekarang. Bagi saya drama kimia ini merupakan metode belajar yang paling mengesankan selama belajar di bangku sekolah. Pak Hadyan telah berhasil menstimulus kami untuk mempelajari kimia dengan kemasan yang terbilang aneh saat itu, hingga saya melihat teman-teman saya sangat maksimal memunculkan masing-masing potensi yang dimilikinya. Kami bisa dengan bebas mengeksplorasi kemampuan dan mengembangkan sayap-sayap imajinasi kami untuk dituangkan dalam drama kimia.

Sederhananya saya menyimpulkan bahwa seperti inilah salah satu potret penerapan strategy belajar dengan pendekatan Multiple Intelligence yang tengah marak dibahas di kalangan para pendidik. Dimana guru mampu membangunkan dan menarik keluar semua potensi yang terpendam dalam diri siswa didik dengan tidak memandang sebelah mata kecerdasan siswa lain yang mungkin dalam ukuran penilaia kognitifnya kurang, sehingga siswa merasa dapat memberikan manfaat dan kontribusi dalam setiap pembelajaran yang dilakukan.

Jujur saya masih sangaaattt sedikit pengalamannya di dunia pendidikan, masih harus banyak belajar. Hanya ingin berbagi pengalaman dan semoga apa yang telah didapat dari guru saya ini bisa menjadi inspirasi bagi guru-guru lainnya untuk lebih melejitkan kreativitasnya dalam mendidik siswa.

Terakhir saya ucapkan banyak terimakasih kepada guru-guru kehidupan yang telah sabar mendidik saya hingga saat ini. Semoga Alloh karuniakan balasan atas setiap ilmu yang diberikan dengan limpahan nikmat yang jauh lebih sempurna disisiNYA. Aamiin Yaa Rabb

Syarifatun Nisa NH
Penghujung Pagi, 150812



Hikmah# Kejutan Sepanjang Perjalanan

Matahari semakin terik, udara terasa tidak bersahabat, panasnya menjalar hingga ke ubun-ubun. Akhir-akhir ini cuaca sedang tidak stabil. Paginya panas, lalu siangnya tiba-tiba hujan lebat, atau terkadang sebaliknya. Keadaan ini membuat beberapa penumpang angkot Ledeng-Caheum nampak tidak nyaman. Di jok paling ujung seorang ibu terlihat sibuk mengibas-ngibaskan kipas kecilnya sampil mengusap dahi anaknya yang bercucuran keringat, disebelahnya sesosok lelaki berusaha menggeser kaca angkot yang macet. Saya sendiri memilih duduk dekat pintu angkot. Angin yang berhembus kencang lewat pintu yang terbuka, cukup mengurangi rasa gerah yang dirasa.



Alhamdulillaah, selang beberapa menit kemudian angkot merapat di terminal Cicaheum. Saya yang baru turun langsung diserbu oleh beberapa kuli angkut dan kondektur bus yang menawarkan jasa. Dengan cepat saya pun melesat, melewati tempat pembelian tiket yang sesak dan menaiki bus Budiman jurusan Pangandaran. Bus terlihat lengang, penumpang bisa dihitung jari. Satu, dua pedagang asongan yang sejak tadi bertahan di bus mulai putus asa menyodorkan dagangannya. Rasa lelah mendorong saya untuk segera duduk, dan hup... akhirnya saya menepi di jok terdepan belakang supir.



Langit nampak tenang seiring mata saya yang mulai meredup diserang kantuk. Sayup-sayup dari headset masih terdengar suara Ustadz Roni tengah mengisahkan shirah sahabat di MQFM. Budiman perlahan merayap diikuti bertambahnya para penumpang, termasuk dua jok samping kiri saya sekarang terisi. Sepasang suami istri itu melempar senyum santun kepada saya, siapa sangka, dua orang ini akan memberi baanyak sekali kejutan dan hikmah sepanjang perjalanan pulang…apa pasal???



***



Melewati kampus UIN Sunung Djati, tiba-tiba saya dan para penumpang dikejutkan oleh suara tinggi seorang bapak,



“Jadi minantu the sing sopan, ulah sok dulak delek lamun panggih jeung kolot urang the!!!” ujarnya dengan nada menyentak.



Saya yang sedang menikmati kajian shirah di MQ sontak menoleh kearah pemilik suara tersebut. Persis selang satu jok disamping saya terdapat seorang bapak dengan wajah gusar tengah memarah-marahi istrinya, telunjuknya menunjuk kejam kearah sang istri, si istri yang tak terima dengan perlakuan suami dengan sengit melawan sentakannya, begitu seterusnya, suaminya pun terus membentak dan membeberkan semua kekurangan istrinya dengan kencang. Beberapa menit kemudian keluarlah ultimatum dari mulut sang istri.



“Ceuk urang ge naon, lamun teu minat rumah tangga jeung urang, teu kudu kawin baheula the, hanjakal!!!” matanya menyolot.



(sebelumnya saya minta maaf memuat percakapan suami istri tersebut yg terkesan sangat kasar)



Saat itu posisi saya tepat dipojok suami istri tersebut, melihat dengan mata sendiri kronologis kejadiannya. Bingung, sambil terus beristighfar.. maksud hati ingin melerai tapi situasi tidak memungkinkan. Kondektur yang bertubuh kekar saja terlihat kesulitan menenangkan dua sejoli ini, bagaimana lagi saya? Sampai pada akhirnya pertengkaran pun terhenti oleh dering HP sang suami “Yaa Rosulalloh..Yaa Habiiballoh, Muhammad ibn abdillaah….” Syahdu sholawat terlantun, saya hanya bisa terbengong mendengarnya. Heran bukan kepalang... Alhamdulillaah, atas izin Alloh sholawat mampu meredamkan emosi keduanya. Dalam hati saya bergumam, untunglah bapak itu masih teringat Rosululloh.



Waktu yang tepat untuk pindah tempat duduk, dengan hati-hati saya pun segera meminta ijin untuk pindah tempat.



Di tempat duduk yang baru, hati saya terus mendengungkan keheranan, otak saya tak habis pikir atas kejadian tadi. Kok bisa ya suami memarahi istri di depan banyak orang? Kok bisa ya istri berani menyentak dan menyumpahi suami sendiri? Kejadian tadi berlangsung sekitar 20 menit, dan banyak sekali ibrah yang bisa saya petik darinya.



***



Pemicu utama pertengkaran sebenarnya berawal dari salahnya komunikasi, saya yakin maksud suaminya baik yaitu mengingatkan istrinya untuk berlaku sopan kepada mertuanya. Tapi, karena kehendak yang ia inginkan disampaikan dengan buruk, terkesan memojokkan sang istri, jadilah prahara memanjang. Pikir saya (sudut pandang orang yang belum menikah, hehe :D), alangkah baiknya jika dalam situasi ini istri berusaha menenangkan suami dan meredakan emosinya terlebih dahulu lalu kemudian mengajak berbicara dengan baik-baik. Tapi sayang yang terlihat justru sebaliknya, sang suami keukeuh dengan kesalahan istri yang baru ia tahu dari orang lain, sang istri mempertahankan dirinya dengan menujukkan ketidakmauan dikoreksi, terlihat kurang pandai dalam menyampaikan keinginan dengan lancar sehingga muncul salah paham dan memicu kemarahan satu sama lain, imbasnya terbeberlah aib kedua pasangan dan hilangnya rasa hormat istri kepada suami. Islam sendiri dengan indah telah memberi solusi dalam mengatasi masalah tsb, yaitu dengan melakukan tabayun (mencari kebenaran atas informasi yang didapat) terlebih dahulu, agar jelas tanduk permasalahannya. Andai saja sang suami tahu indahnya komunikasi Rosululloh ketika menasihati istrinya yang cemburu. Mari kita simak….



Dari Aisyah rodhiyallohu ‘anha, dia berkata,

“Aku tidak pernah melihat orang yang pandai memasak seperti halnya Shafiyah. Suatu hari dia membuatkan makanan bagi Rasululloh shollallohu ‘alaihi wassalam yang ketika itu beliau di rumahku. Seketika itu badanku gemetar karena rasa cemburu yang menggelegak. Lalu aku memecahkan bejana Shafiyah. Aku pun menjadi menyesal sendiri. Aku berkata ‘Wahai Rosululloh, apa tebusan atas apa yang kulakukan ini?’ Beliau menjawab, ‘Bejana harus diganti dengan bejana yang sama, makanan harus diganti dengan makanan yang sama’” (HR Abu Dawud dan Nasa’i)



Dalam riwayat lain diceritakan dari Anas rhodiyallohu ‘anhu,

“Ada diantara istri Nabi shollallohu ‘alaihi wassalam yang menghadiahkan semangkuk roti dicampur kuah kepada beliau, selagi beliau ada dirumah istri beliau yang lain (Aisyah). Aisyah menepis tangan pembantu yang membawa mangkuk, sehingga mangkuk itu pun jatuh dan pecah Nabi langsung memunguti roti itu dan meletakkan kembali diatas mangkuk, seraya berkata, ‘Makanlah, ibu kalian sedang cemburu.’ Setelah itu beliau menunggu mangkuk pengganti dan memberikan mangkuk yang pecah tadi kepada Aisyah.” (Diriwatkan oleh Bukhori, Tirmidzi, Ahmad, Abu daud dan Nasa’i)



Subhanalloh, tidaklah beliau mengatakan dan memperlakukan istrinya dengan kasar melainkan dengan teladan dan kata-kata yang haq. Tidak cukupkah dua hadits ini menjadi renungan?



Jika ada surga di dunia, maka itu adalah pernikahan yang bahagia. Tetapi jika ada neraka di dunia itulah rumah tangga yang penuh pertengkaran. Semua orang pastilah mengidamkan keluarga sakinah yang dikaruniai Alloh mawaddah dan rohmah. Dalam mencapai ini, maka komunikasi keduanya menjadi bagian yang sangat penting mengingat sebagian besar waktu kita adalah untuk berkomunikasi satu sama lain. Gagal berkomunikasi antara suami, istri maupun anak sangat rentan mengganggu keutuhan keluarga.



Kalau kata guru saya, “Teko hanya mengeluarkan isi teko, jika isinya kopi maka yang keluar pun kopi, jika isinya air bening maka yang keluarnya pun air bening.” Analogi ini mencerminkan bahwa perlakuan khususnya perkataan yang kita keluarkan adalah cermin dari hati kita, bisa jadi ketika suami istri mengucapkan kata-kata kasar satu sama lain berarti juga mencerminkan keadaan hatinya yang jauh dari Alloh. Wallohua’lam..maka, betapa pentingnya bagi kita untuk memohon selalu pertolongan dan bimbingan dari Alloh dalam keadaan ini, karena kita yakini betul bahwa hanya Alloh saja penggenggam hati kita.



Menurut Cahyadi Takariyawan, untuk membangun komunikasi yang baik antar komponen keluarga, hal yang pertama kali harus dimiliki adalah menciptakan visi keluarga yang jelas. Harus ada cita-cita besar yang terang benderang dan menjadi sebuah ikatan moral yang kokoh untuk diwujudkan dalam kehidupan. Mardhotillaah…Inilah visi yang sangat kokoh yang mengikat keluarga menuju muara yang sangat jelas, berlaku baik satu sama lain hingga bersama-sama meraih surga dan merindukan ridho Alloh dalam setiap kehidupannya. Wallohua’lam..



***



Tidak terasa bus sudah menempuh setengah perjalanan menuju Banjar, artinya sudah dua jam pertengkaran suami istri itu mereda. Diam-diam saya lihat pasangan itu sedang berbicara dengan tenang dan duduk berdampingan. Alhamdulillaah, singkatnya saya menebak mereka sudah berdamai..horeeee :D



Saya mulai menikmati perjalanan, gradasi warna senja yang terlukis dilangit terlihat sangat indah. Lamat-lamat terdengar adzan maghrib. Saya pun menyempatkan waktu mustajab antara adzan dan iqomat dengan memperbanyak do’a. Yaa Alloh, karuniakan padaku pendamping yang sholih, yang membersamaiku memikul amanah dariMU, bersama-sama menghidupkan ruh Al-Qur’an dalam keluarga kami kelak, menulis, berbagi, menebar hikmah dan manfaat kepada sesama. Jika suatu saat ada percikan ujian yang menimpa, lapangkan hati kami untuk menghadapinya bersama dan kokohkan ikatan kami dalam keimanan. Aamiin Yaa Robb..



Terima kasih atas kejutan singkat penuh ibrah itu Alloh, perjalanan panjang yang sarat hikmah. Sepertinya kejadian ini menjadi salah satu pengalaman yang tak terlupakan dan InsyaAlloh menjadi bekal bagi kehidupan saya kedepannya. Dengan kejadian ini, mungkin Alloh hendak membina diri saya untuk memikirkan dan melakukan aksi perbaikan diri terus menerus. Ya, semoga saja begitu. Pasangan kita adalah cerminan diri kita juga bukan?!



#Selamat merangkum hikmah sahabat :)



Syarifatun Nisa NH, 130412

Di teduhnya rumah tercinta ^__^

SEBENTUK KOMITMEN

Ini bukanlah hari menyejarah, bahkan masih terlalu jauh jika yang dimaksud adalah hari kelahiran..Ntah kenapa, sudah beberapa pekan perhatianku ditarik paksa menuju angka 19. Jika bukan karena tayangan itu, mungkin aku tak akan semerinding ini. Aku dibuat malu, menyaksikan sekumpulan kecil itu..riang sekali, teduh wajahnya mengalihkan semua penat yang sempat bertengger menyesakkan saraf. Aku larut dalam kisah mereka yang tak kasat mata, namun memancarkan bermilyar cahaya… Laksana buah utrujjah yang sangat harum aromanya, indah warnanya dan manis rasanya..mereka luar biasa melebihi yang lain.

Jika hidup ini diibaratkan sebuah perjalanan, seharusnya dalam hitungan tahun ke-19 aku telah menempuh jarak yang sangat jauh, maka anggaplah aku sempat merasa kelelahan mengayun langkah hingga suatu waktu ditengah perjalanan aku menemukan sebuah pohon yang sangat rindang memayungi sekelilingnya dan aku pun tak mampu mengelak untuk berteduh dibawahnya sembari menenangkan diri dan mempersiapkan kembali bekal perjalanan selanjutnya. Maka pohon yang menyejukkan itu adalah mereka…

Lekat kuikuti kembali kisah mereka di layar, lalu aku mulai membandingkan 19 itu dengan angka-angka yang mereka miliki, ada 5, 6, 7, 11, 15..selisih yang cukup jauh bukan? Angkaku jelas lebih tinggi dari mereka. Namun, dalam seketika aku pun terpekur memaknai hal itu, usiaku tepaut jauh dari mereka tapi prestasi mulia yang mereka raih jauh melampauiku. MasyaAlloh, kurasakan butir-butir itu mengalir. Al-Qur’an yang membuat mereka begitu bercahaya dalam pandanganku. Aku malu pada sosok-sosok suci itu, mereka telah mampu menghafal, menjaga, dan mengamalkan Al-Qur’an dalam usia dini yang penuh keimanan. Bagaimana tidak tergetar hatiku melihat kenyataan ini?

“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal sholih bahwa bagi mereka adalah pahala yang besar.” (Al-Isro’ [17] : 9)


Aku kecipratan kabar gembira yang tertoreh dalam Al-Qur’an dari mukmin-mukmin kecil itu, sahabat... Betapa bahagianya…istirahatku akhirnya membuahkan bekal.

Sedikit mendekati penghujung ke-19 yang tak lama lagi meningkat, aku akan melanjutkan perjalanan. Teriring do’a dari mereka yang tak lelah membimbing dan menyemangati, semoga istiqomah dan mampu menjadi sahabat Al-Qur’an. Perjalanan ini adalah sebentuk komitmen yang tak bisa ditawar lagi, dengan memohon selalu pertolongan dan rahmat Alloh, semoga angka2 bertingkat itu tak sekedar menjadi penghias usia..hingga pergantiannya selalu beriringan dengan nafas-nafas Al-Qur’an yang mendampingi perjalananku, hingga kutemui ridhoNya..

“Lihat dan renungkan,setiap orang yg bertekad akan sampai tujuan.
Dan tujuan yang paling mulia adalah menghafal Alquran sekalipun dapat di abaikan..
Jika engkau berniat,bergegaslah....
Jika engkau bertekad maka bulatkan,dan ketahuilah bahwa orang yang rela di barisan akhir tidak akan menemukan kebahagiaan....
Wahai yang bercita-cita tinggi untuk menghafal Al-Qur'an,
ruhmu merindukan keutamaan,semangatmu terpancar untuk melampaui perkebunan indah ini,agar engkau bisa memetik buah dan bunganya......
sekarang,sekarang saatnya engkau bergerak merapat menuju mushafmu.....menambah dan mengingat hafalan mu!!!”
(Ustadz Suhud)


"Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Quran untuk peringatan, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?."

Bersabarlah Wahai Putri Ummi..

Ketika bunga itu telah mekar, maka ia akan menebarkan harumnya. Memberikan kesejukan bagi yang memandangnya, memberikan rasa tenang untuk sekelilingnya, menebarkan keindahan yang menyenangkan, bahkan anginpun selalu menyapanya dengan penuh kelembutan, serta matahari turut memberikan sinaran kehidupan yang selalu menggelorakan.


Pada saatnya nanti akan ada seorang yang akan mendatanginya, dengan membawa maksud untuk melindunginya. Tenanglah duhai putri ummi, pada waktunya nanti, pahlawanmu akan datang menjemput dengan penuh keridhoan dari Rabb-Nya.



Maka, tidak perlu ada keresahan ataupun rasa was-was untuk sebuah penantian. Karena semua telah ada yang mengurusnya. Pada waktunya kelak, akan ada sebuah moment indah yang tiada pernah terbayang.



Tak perlu keresahan itu menghantui, tak perlu kegelisahan menggelayuti. Asalkan kau terus berjalan dan memelihara hatimu sesuai yang disyariatkan oleh Tuhan-Mu wahai permata hati keluarga.



Rabb-Mu bahkan telah menakdirkan sosok belahan jiwamu ketika ruh mu baru saja ditiupkan dalam rahim ibu. Hanya do'a yang bisa memenuhi harapanmu, karena Allah pasti akan selalu merengkuh segala pengharapan-Mu pada-Nya. Hanya senandung do'amu lah yang bisa mengubah takdir yang buruk menjadi takdir indah.



Ketahuilah , janji Allah tiada pernah ingkar. Bahwa ketika engkau menjadi muslimah yang menghambakan diri sepenuhnya kepada Allah, lalu di hatimu hanya ada kecintaan kepada yang Maha memiliki cinta. Maka, yang akan menjemputmu kelak adalah hamba yang juga hatinya dipenuhi ketaqwaan, seorang hamba yang jiwanya selalu dekat dengan Rabb nya.



Kini, yang perlu kau lakukan adalah berkaca pada air mata kehidupan yang bening. Sudahkah engkau menjaga hati-Mu, wahai putri abi? Sudahkah kau junjung tinggi harkat dan martabatmu sebagai wanita yang kelak akan melahirkan penerus agama? Sudahkan engkau mulai mendo'akan segala kebaikan bagi permata hati yang kelak lahir dari rahimmu? Sudahkan engkau tersadar bahwa begitu banyak hal yang masih perlu kau renungi dan engkau persiapkan dalam masa penantian?



Berdamailah dengan jiwamu wahai perhiasan dunia, bahwa penantian adalah sebuah hadiah suci dari Rabb-Mu, penantian adalah sebuah keindahan dalam kehidupan, dan penantian adalah sebuah pendidikan langsung dari Yang Maha Memiliki Hati. Sebab kelak engkau akan menjadi samudra kehidupan bagi anak-anakmu. Penyejuk hati bagi Pendamping-Mu, penguat hati bagi belahan jiwamu, . Serta rahmat bagi sekeliling-Mu.



Ketika dalam setiap helaan nafasmu telah dipenuhi dengan kepasrahan kepada Rabb-Mu, maka tak perlu lagi kecemasan dan kekhawatiran akan sosok yang kelak menjadi pasanganmu. Kerana Allah Maha Mengetahui sedang dirimu tiada mengetahui apapun. Bahkan segala yang masih menjadi rahasia Allah, akan menjadi sebuah kejutan yang mengharukan batin bagimu.



Ketika dengan sepenuh jiwa dan raga kau berjuang menjaga diri dari segala kehinaan. Tak perlu kau dirundung pilu. Kerana Allah telah menyiapkan seorang hamba yang kelak dengan sepenuh jiwa dan raganya menjagamu, membimbingmu dalam menggapai ridho ilahi, dan mencintaimu karena Allah.



Maka, buatlah bidadari surga cemburu padamu, cemburu akan keteguhan menjaga harga diri muslimah, cemburu akan ketaatanmu kepada Allah, cemburu akan pesona yang engkau tebarkan untuk makhluk semesta, cemburu akan cinta dan kasih sayangmu yang sedalam dan seluas samudra, dan kesabaranmu dalam penantian… Kerana engkaupun pasti bisa menjadi bidadari dunia akhirat yang penuh dengan anugrah cinta dari Allah. Percayalah….=)


* renungan dalam "taman kebaikan", semoga bermanfaat dunia akhirat, amin ya Rabb..


**Kiriman dari ukhty dear, Mahshuna...


"Apa yang kau takutkan untuk sebuah pernikahan ukhti? sementara Allah dan RasulNya tlh memberikan banyak kebaikan didalamnya.. :)" tak lama setelah kiriman itu..ia, sahabatku, menanyakannya..

Aku menerawang, meski sedikit sesak kuutarakan,

"Aku khawatir, belum mampu menjadi madrasah terbaik untuk jundi-jundiku kelak. Sejenak ukhti, aku sedang mempersiapkannya dulu untuk amanahku. Tidak usah khawatir, tak ada yang kutakuti darinya. Semoga ia yang mendampingiku nanti tak pernah menyesali kebaradaanku dan selalu meridhai aku sebagai ibu dari jundi-jundinya :)
do'akan aku :)"

Tak Semua Rasa Bisa Ia Lisankan

Nyaman, setiap kali melihatnya dengan wajah ceria sekalipun aku tau tak banyak waktu yang ia gunakan untuk sekedar merebah lelah. Ia..dua tahun diatasku, wajahnya sederhana pun penampilannya. Sayang..ia sama sekali tak bisa membuatku sedikit saja membuang senyum, meski hanya sekedar berpapasan dengannya ^___^
Pagi itu, setelah beberapa lama bejibaku dengan tugas kuliah dan tuntutan kerja masing2, kami bertemu, lagi.. pandangannya lekat kearahku, namun sedikit sekali kulihat senyumnya.
"Ada apa?" heranku terucap, sambil sesekali melirik pakaian dan merapihkan jilbab, khawatir ada yang membuatnya tak nyaman dengan penampilanku saat itu.
"Tidak ada, " singkat.
Tak biasanya..
Kugamit lengannya, "Kenapa teteh….teteh kangen nisa ya?" kuajak ia tersenyum.
Ia diam, lalu melepas tanganku, sedikit kikuk ia pun menghambur kearahku, lirihnya
"Iyaa nisa, teteh kangen nisa, tapi teteh malu mau bilangnya."
Allah… di titik inilah kurasakan manisnya ukhuwah. Meski tak semua rasa bisa ia lisankan, bahkan untuk mengungkap rindu pada seorang adik pun begitu malu. Ada saatnya memang rasa-rasa itu tak perlu diobral, sekalipun tak diucapkan, keterkaitan hati dengan sendirinya meyampaikan. Alhamdulillah, terimakasih Yaa Rabb..atas rindu yang Kau titipkan padanya, untukku :)

Teruslah Berbuat

Semuanya terasa serba teratur meski dzahirnya terlihat tak tersusun, karena rangkaian cerita yang Alloh tetapkan selalu lebih indah dari yang kurangkai sendiri..selalu mengalir tak terencanakan, mencerminkan bahwa aku hanya mampu berperan sebagai konseptor kesekian setelah keMaha teraturan konsepNya. Dia, Alloh yang Maha Penyayang , tak ingin azzam dan ikhtiarku tertahan diujung pena..hingga dalam prosesnya Alloh yakinkan langkah ini, seakan kudengar titahNya, “Teruslah berbuat, AKU ingin melihat hambaKu berjuang lebih tangguh dari sebelumnya. AKU ingin meridhoi setiap langkahnya, maka jadikan niatmu selalu tertuju padaKU!!”
..Dan kubiarkan diri ini lelah di dunia, karena aku berharap istirahatku kelak bermanja-manja bersama Alloh Al-Lathif dan Rosululloh SAW..
Amiin Yaa Mujib...

Kembali Menyusun Hikmah

Pada awalnya, mungkin, ia terlalu tinggi menengadahkan harapan..tanpa menyadari bahwa dalam semua ikhtiarnya tetaplah ada skenario Alloh yang tak akan mampu terelak. Bukan harapan sebenarnya yang menjadi masalah, hanya orientasinya pada saat itu belum benar-benar lurus menuju ridha-Mu, hingga Alloh membuatnya terdampar pada sebuah suasana yang belum pernah ia rencanakan. Karena cinta-Mu, Engkau tawarkan harapan lain yang lebih ia butuhkan.

Saat itu, otaknya terus memutar kendali, mencari makna apa yang ingin Dia sampaikan dari semua keputusan itu. Namun, ia sadari..ada sesuatu yang tak cukup difahami oleh akal semata, imanlah yang mengawali terbukanya keterhijaban hati menuju hikmah.

Cukup lama ia ikuti alur yang harus dijalani, sesekali matanya terpejam..adakah ia belum ridho atas ketetapanNya? Melihat kondisi tempatnya mencari ilmu tak sesuai yang ia harapkan, terlebih suasana yang membuat ia kikuk untuk melakukan sesuatu.
Suasana hati, ya suasana hati belum selaras dengan apa yang diyakini. Imbasnya, ia mulai keteteran mengikuti pelajaran yang disampaikan, hanya karena satu alasan..”Ini bukan bidangku, aku tidak mampu melanjutkan ini.”

Untunglah Dia tak pernah sedikitpun letih membimbingnya. Teguran seorang teman cukup membuatnya tersentak..

“Sebenarnya anti hanya membuat alibi agar anti bisa pindah dari tempat itu. Bukan anti tak mampu mempelajarinya, tapi belum ikhlasnya anti untuk berada ditempat itu mengacaukan semua sistem yang seharusnya dapat mendukungmu untuk belajar.”

Yaa Rahiim, ia terhempas merasakan letih atas apa yang ia hadapi. Letih yang ia buat sendiri. Lalu ia putuskan untuk menghimpun kembali kekuatan. Sepertinya, kebelumikhlasan ia atas ketetapanMu telah menguap membentuk kabut yang menghalanginya untuk menikmati hikmah. Entah dimana hatinya ketika ayat-ayatMu ia tilawahkan, entah dimana ia letakkan ilmu mengelola hati yang selama ini ia dapat dari para asatidz.

Inilah saat yang tepat untuk mengkomunikasikan hati dan pikiran, lirihnya. Ia pun memilih menyendiri, berlari menuju rumahMu. Baru ia tapakkan kakinya dipelataran, sudah sangat terasa betapa Alloh merindukannya. Di masjid berlantai kayu itu, ia utarakan semua yang menghimpitnya padaMu. Ia menangisi dirinya sendiri, betapa kerdilnya iman yang ia miliki ketika ia berpikir bahwa kebahagiaan hanya terletak pada yang kasat mata saja. Hingga ia rindukan dirinya yang dulu, diri yang bahagia dengan senyumannya, diri yang bahagia dengan setiap amanah yang Alloh berikan, diri yang bahagia karena yakinnya terhadap janjiMu bahwa dibalik kesulitan itu selalu ada kemudahan.

Al Kariim, tanpa disadari, terbilang hitungan hari ia sempat menjauh dariMU. Padahal letihnya raga, tak seharusnya melemahkan hati. Kini ia kembali mengurai syukur, karena disamping tempat itu, Engkau posisikan ia disebuah pesantren sebagai penyeimbang. Disini Engkau beri ia kesempatan untuk memaknai ilmuMu lebih dalam lagi, ilmu yang InsyaAlloh mendekatkannya pada al-haq. Alhamdulillah, ia kembali menyusun hikmah. Karena cinta-Mu, Engkau tawarkan harapan lain yang lebih ia butuhkan.

“Kadang bukan suasana yang harus diganti, tapi rasa yang harus diperbaiki. Kau belum tentu bahagia dengan hanya berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Kembalilah kepada rasa yang seharusya ada pada dirimu agar kau bahagia.” (Aidh bin Abdullah Al Qarniy)

“Katakanlah, “Wahai hamba-hambaku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Alloh! Sesungguhnya Alloh mengampuni dosa-dosa dari semuanya. Sungguh Dialah yang Maha Pengampun, Maha Penyayang. Dan kembalilah kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepadaNya....” (QS Az-Zumar 53-54)


(Alhamdulillah, terimakasih Alloh, Kau berikan sebuah amanah yang membuatku tak bisa pindah dari kampus ini. Mungkin ini caraMu untuk memberiku kebahagiaan itu. Terimakasih ummi & abi tercinta yang sudah setia mendengarkan cerita2ku disini :) Akhirnyaa, Jazakumullah.. zahra, deli, nita, esty & teman2 yg lain...kalian yang menguatkanku untuk bertahan di tempat ini. Semoga Alloh selalu berikan keistiqomahan dalam setiap gerak hati, fikiran dan lisan kita. Amiin Yaa Robb. Hamasah!!)

*Semua ketetapanNya sangat patut disyukuri ^^

Karya-Nya yang Kurindu

Salah satu karya terindah Allah yang kurindu untuk menikmatinya, lagi…menghirup sejuknya pagi ditengah rimbun pepohonan dan gemuruh takbir alam semesta, merenungi keindahan langit yang terlihat tak berjarak dengan bumi, menyusuri hamparan pasir yang halus menggelitik ditemani pasukan burung pencari nafkah dengan bekal tasbih di setiap kepakannya. Ah…serasa ingin terlempar kembali ke masa dimana aku menatap semua kebesaran Allah ini, rasanya semua pelik & penat yang kubawa saat itu luruh seketika, ada yang menariknya dengan lembut melebur bersama lautan ombak, hingga semuanya tak nampak lagi ke permukaan. Ringaaaaan…
Subhanallah, jika sudah seperti ini tak ingin kudekati lagi apapun yang dapat menggiringku untuk melupakan syukur. Maka nikmat-Mu yang mana lagi yang kan kudustakan?
Aku rindu wangi ombak…Aku rindu mengintip makhluk2 indah dibalik karang…aku rindu menyatu dengan laut, karya hebat-Mu yang bila kutuliskan semua tentangnya tak akan pernah bisa kurampungkan sampai halaman terakhir, karena sungguh nikmat-Mu tak terbatas dan tiada akhir..
Untuk melepas kerinduanku, untuk menggugah kekaguman rasa akan kebesaran-Nya, yuuuk kita selami potret indah ciptaan Allah yang satu ini….hehe.. 

_^Karang Tawulan, 2 tahun yang lalu^_






Subhanallah,Indahnya...barangkali ada yang berminat untuk rihlah kesini, :)

Inginku berlari menujuMU..

Seutas kisah diri yg lupa..
Lalai..,
Terlalu lama bermain dalam kebimbangan.
Allohku..Kau tetap menenangkanku..
Inginku berlari menujuMu..
Meski pada kenyataannya belumlah seperti itu.
Aku masih merangkak untuk mendekatiMu..
Kau segera memelukku..
Sekuat tenaga kulakukan itu,
namun kusempat terjatuh..
Hingga hatiku pun tern0da..
Kau masih membangunkanku..
PadaMu kuadukan semua..
Gelisahku..rasaku..harapku.
Aku tersungkur dalam sujud,
MenemuiMu..
Kau membelaiku..
Kutahu Kau merindukanku Alloh...
Kau rindu air mataku..
Kau rindu d0'a2ku..
Kau rindu amalan2 baikku..
Kenapa baru kusadari ini?!?
Ampuni aku yg tlah lalai..
Ampuni aku yg tak mampu menundukkan hati..
Sungguh..,
Inginku berlari menujuMu..
Berlari dg segala keterbatasan iman yg kumiliki saat ini,
Mengejar ketertinggalan meski tak kan tergantikan..
Kau kuatkan langkahku..
Walau tersandung..
Kau tetap menyemangatiku..
Ya Rabb..
Segenap hati ingin kuucap..
Teguhkan hatiku..
agar aku bisa mencintai-Mu semampuku..

(Renungan saat hatiku tersandung..310509)