Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Agustus 2012

PANTAI HALOGENIA (Sekilas tentang Pendekatan Multiple Intelligence Semasa SMA)



Semburat warna mentari menyapa pagi dengan ramah, lembut menelusup celah-celah nyiur hijau yang berderet sepanjang tepian pantai. Pagi ini penduduk sekitar Pantai Halogenia nampak lebih sibuk dari biasanya. Sekumpulan anak-anak nelayan berlari-lari dengan riang, satu sama lain saling berkejaran menuju deburan ombak, menciduk airnya kedalam ember dan cepat-cepat membasahi gundukan pasir kering yang terletak agak jauh di pesisir pantai. Sebagian temannya yang lain tengah sibuk membentuk padatan pasir basah dengan cetakan-cetakan sederhana yang unik, membangun istana impian mereka.

Sementara itu tak jauh dari pantai, di sebuah gubuk sederhana, Nenek Halida terlihat sangat bersemangat memasukkan Kristal-kristal garam hasil panen siang kemarin kedalam bungkus-bungkus plastik kecil. Sesekali ia meneriaki cucu-cucunya Fluor, Clor, Brom dan Iod yang tengah bermain air laut untuk berhati-hati.

Pantai Halogenia yang eksotis semakin ramai dengan kunjungan para wisatawan yang hendak berlibur menikmati panorama indah yang menarik hati …


Pantai Halogenia? Memang ada ya? Dimana, dimana?

Hehe, teman-teman cari di peta mana pun, InsyaAllah saya yakin tidak akan menemukannya :D

Prolog diatas adalah sekilas cuplikan sebuah naskah, dan Pantai Halogenia adalah hasil imajinasi kami semasa belajar di kelas 3 SMA.

***

Berawal dari keresahan seorang guru kimia ketika mendapati nilai ulangan kimia kami  tidak juga menunjukkan kemajuan yang signifikan, padahal kimia termasuk salah satu mata pelajaran yang diikutsertakan dalam Ujian Nasional. Saat itu guru kimia kami sempat menanyakan dan mengevaluasi bersama mengapa hal itu bisa terjadi, dan salah satu penyebabnya adalah kebanyakan dari kami merasa jenuh dengan metode belajar klasik yang kami dapati di hampir semua mata pelajaran. Hingga muncullah ide cemerlang dari beliau yang membuat kami bingung cukup lama (hehe, aslinya sih saya yang bingung :D)

Waktu itu guru kami langsung membagi siswa-siswi yang ada di kelas menjadi beberapa kelompok dan memberi nama kelompok sesuai dengan judul BAB yang harus depelajari. Pikir kami, paling juga kami disuruh buat power point lagi, lalu mempresentasikannya di depan kelas. Tapi ternyata semua prasangka kami salaah besar.

Tak lama dari itu Pak Hadyan (guru kimia) menjelaskan tugas yang harus kami kerjakan yaitu menyajikan materi kimia dengan bermain drama. Sontak kami kaget, kelas tiba-tiba ramai..bagaimana bisa? Ini pelajaran kimia atau kesenian? Kemudian Pak Hadyan segera menenangkan kami dengan menyampaikan beberapa poin yang dapat kami lakukan untuk memulai proses pengerjaan tugas. Prinsipnya sebenarnya sama saja dengan presentasi, sebelum menyajikan kami harus mendalami materi terlebih dahulu, hanya perbedaannya sajian dibuat lebih kreatif melalui drama dan power point yang biasa dibuat berubah menjadi bentuk naskah.

Sebelum menyusun naskah, anggota kelompok yang pintar di pelajaran kimia mau tidak mau harus memahami lebih dulu sebelum membagi ilmu yang ia fahami kepada anggota kelompok lain, kemudian kami berdiskusi untuk menyamakan persepsi agar tidak salah menyampaikan materi dalam drama.

Setelah materi kami fahami, waktunya para penyusun naskah ambil bagian. Bermunculanlah ide kreatif dari semua anggota kelompok tentang drama yang akan dimainkan, mulai dari setting tempat, alur cerita, penokohan, sampai ide2 jenaka sebagai bumbu dalam drama. Kebetulan saat itu kelompok saya kebagian BAB tentang HALOGEN. Karena halogen adalah unsure pembentuk garam dan biasanya pembentukan garam identik terjadi di laut, akhirnya tercetuslah PANTAI HALOGENIA menjadi latar tempat dalam drama kami.

Awalnya cukup kesulitan juga ketika materi kimia yang biasa disampaikan dalam bahasa formal harus diolah kedalam bahasa naskah yang  harus mudah difahami oleh penonton. Tapi alhamdulillaah, mungkin karena baru kali itu kami merasakan belajar kimia dengan enjoy, tanpa dipusingkan dengan rumus2 yang njelimet, lalu mengalirlah inspirasi-inspirasi kami.

Untuk memudahkan dalam menyampaikan materi, kami membuat tokoh2 dalam drama berperan langsung sebagai unsure-unsure halogen dan unsure lain sebagai pereaksi. Agar kesannya tidak menggurui, kami menyampaikan sifat masing-masing unsure dengan candaan anak-anak nelayan yang sedang bermain di pantai. Salah satu contoh ketika menerangkan kereaktifan unsure2 halogen, kami mengemasnya menjadi bentuk permainan oray-orayan (saya kurang tau bahasa Indonesianya oray-orayan apa, ular-ularan gitu ya? -__-“) dimana setiap anak-anak yang memerankan tokoh Fluor (Fluorin), Clor (Clorin), Brom (Bromin), Iod (Iodin), dan Asti (Astatin) disusun berurutan sesuai dengan kereaktifan paling tinggi berdiri di depan, menyusul unsure-unsure dengan kereaktifan lebih rendah di belakangnya.

Uniknya, teman-teman yang mengaku kurang ngeuh dengan pelajaran kimia justru terlihat sangat menikmati perannya. Karena, saat itu proses belajar tidak semata terpaku pada kemampuan kognitif yang terkesan menganaktirikan teman-teman yang memiliki potensi dan kecerdasan di aspek lain. Ada teman saya yang sangat suka menari, dan ia pun mampu memaksimalkan potensi yang dimilikinya dengan memunculkan ide tarian anak-anak sebelum bermain pasir (bahkan lagu pengiringnya pun masih terekam jelas dalam ingatan saya, lagu milik penyanyi cilik Eno Lerian DuDiDuDiDam). Ada juga yang kecerdasannya muncul di musical, sibuk memilih musik-musik yang tepat untuk meramaikan drama.

Walaupun begitu kami tetap memahami esensi dari materi kimia yang harus kami sajikan, karena kami sadari selain memahamkan diri sendiri kami juga harus memahamkan isi materi kelompok kami kepada siswa lain. Satu hal yang menyenangkan bahwa kami dapat  memahami dan menyampaikan materi yang terbilang sulit dengan gaya belajar kami sendiri, sesuai kecerdasan yang dimiliki masing-masing. Cukup adil bukan?

***

Selama proses mendalami materi, penyusunan naskah, hingga pagelaran drama itulah yang selalu saya ingat sampai sekarang. Bagi saya drama kimia ini merupakan metode belajar yang paling mengesankan selama belajar di bangku sekolah. Pak Hadyan telah berhasil menstimulus kami untuk mempelajari kimia dengan kemasan yang terbilang aneh saat itu, hingga saya melihat teman-teman saya sangat maksimal memunculkan masing-masing potensi yang dimilikinya. Kami bisa dengan bebas mengeksplorasi kemampuan dan mengembangkan sayap-sayap imajinasi kami untuk dituangkan dalam drama kimia.

Sederhananya saya menyimpulkan bahwa seperti inilah salah satu potret penerapan strategy belajar dengan pendekatan Multiple Intelligence yang tengah marak dibahas di kalangan para pendidik. Dimana guru mampu membangunkan dan menarik keluar semua potensi yang terpendam dalam diri siswa didik dengan tidak memandang sebelah mata kecerdasan siswa lain yang mungkin dalam ukuran penilaia kognitifnya kurang, sehingga siswa merasa dapat memberikan manfaat dan kontribusi dalam setiap pembelajaran yang dilakukan.

Jujur saya masih sangaaattt sedikit pengalamannya di dunia pendidikan, masih harus banyak belajar. Hanya ingin berbagi pengalaman dan semoga apa yang telah didapat dari guru saya ini bisa menjadi inspirasi bagi guru-guru lainnya untuk lebih melejitkan kreativitasnya dalam mendidik siswa.

Terakhir saya ucapkan banyak terimakasih kepada guru-guru kehidupan yang telah sabar mendidik saya hingga saat ini. Semoga Alloh karuniakan balasan atas setiap ilmu yang diberikan dengan limpahan nikmat yang jauh lebih sempurna disisiNYA. Aamiin Yaa Rabb

Syarifatun Nisa NH
Penghujung Pagi, 150812



Rabu, 23 Juni 2010

Duhai Pria Manapun Yang Kelak Mendampingiku

Duhai seseorang disana .....

Bila Allah mengizinkan kita bertemu kelak . . .
Bila Allah mewujudkan takdir pernikahan kita kelak . . .

Dan bila kemudian disaat kita hidup bersama, lantas terlihat sisi salah pada diriku, semoga Allah mengkaruniakanmu kemampuan untuk melihat sisi baikku. Sungguh Allah SWT yang mempertemukan dan menyatukan hati kita berpesan, "Dan pergaulilah mereka (isterimu) dengan baik. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak." [QS: An Nisa' 19]. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam yang kita cintai pun berpesan, "Sempurnanya iman seseorang mukmin adalah mereka yang baik akhlaknya, dan yang terbaik (pergaulannya) dengan istri-istri mereka." Jika engkau melihat kekurangan pada diriku, ingatlah kembali pesan beliau, Jangan membenci seorang mukmin (laki-laki) pada mukminat (perempuan) jika ia tidak suka suatu kelakuannya pasti ada juga kelakuan lainnya yang ia sukai. (HR. Muslim)

Sadarkah engkau bahwa tiada manusia di dunia ini yang sempurna segalanya? Bukankah engkau tahu bahwa hanyalah Alllah yang Maha Sempurna. bukankah kurang bijaksana bila kau hanya menghitung-hitung kekurangan pasangan hidupmu? Janganlah engkau mencari-cari selalu kesalahanku, padahal aku telah taat kepadamu.

Saat diriku rela pergi bersama dirimu, kutinggalkan orangtua dan sanak saudaraku, ku ingin engkaulah yang mengisi kekosongan hatiku. Naungilah diriku dengan kasih sayang, dan senyuman darimu. Ku ingat pula saat aku ragu memilih siapa pendampingku, ketakwaan yang terlihat dalam keseharianmu-lah yang mempesona diriku. Bukankah sahabat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam, Ali bin Abi Tholib saat ditanya oleh seorang, "Sesungguhnya aku mempunyai seorang anak perempuan, dengan siapakah sepatutnya aku nikahkan dia?" Ali r.a. pun menjawab, "Kawinkanlah dia dengan lelaki yang bertakwa kepada Allah, sebab jika laki-laki itu mencintainya maka dia akan memuliakannya, dan jika ia tidak menyukainya maka dia tidak akan menzaliminya." Ku harap engkaulah laki-laki itu, duhai suamiku.

Saat terjadi kesalahan yang tak sengaja ku lakukan, mungkin saat itu engkau mendambakan diriku sebagai istri tanpa kekurangan dan kelemahan. Perbaikilah kekurangan diriku dengan lemah lembut, janganlah kasar terhadapku. Bukankah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam telah mengajarkan kepada dirimu, saat Muawiah bin Ubaidah bertanya kepada beliau tentang tanggungjawab suami terhadap istri, beliaupun menjawab, "Dia memberinya makan ketika ia makan, dan memberinya pakaian ketika dia berpakaian." Janganlah engkau keras terhadapku, karena Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam pun tak pernah berbuat kasar terhadap istri-istrinya.

Duhai Calon Suamiku...
Tahukah engkau anugerah yang akan engkau terima dari Allah di akhirat kelak? Tahukah engkau pula balasan yang akan dianugerahkan kepada suami-suami yang berlaku baik terhadap istri-istri mereka? Renungkanlah bahwa, "Mereka yang berlaku adil, kelak di hari kiamat akan bertahta di singgasana yang terbuat dari cahaya. Mereka adalah orang yang berlaku adil ketika menghukum, dan adil terhadap istri-istri mereka serta orang-orang yang menjadi tanggungjawabnya." [HR Muslim]. Kudoakan bahwa engkaulah yang kelak salah satu yang menempati singgasana tersebut, dan aku adalah permaisuri di istanamu.

Jika engkau ada waktu ajarkanlah diriku dengan ilmu yang telah Allah berikan kepadamu. Apabila engkau sibuk, maka biarkan aku menuntut ilmu, namun tak akan kulupakan tanggungjawabku, sehingga kelak diriku dapat menjadi sekolah buat putra-putrimu. Bukankah seorang ibu adalah madrasah ilmu pertama buat putra-putrinya? Semoga engkau selalu mendampingiku dalam mendidik putra-putri kita dan bertakwa kepada Allah.

Ya Allah,
Engkau-lah saksi ikatan hati ini...
Engkau-lah yang telah menentukan hatiku jatuh pada lelaki ini,
jadikanlah cinta ku pada calon suamiku ini sebagai penambah kekuatan ku untuk mencintai-Mu.
Namun, kumohon pula, jagalah cintaku ini agar tidak melebihi cintaku kepada-Mu,
hingga aku tidak terjatuh pada jurang cinta yang semu,
jagalah hatiku padanya agar tidak berpaling pada hati-Mu. Jika ia rindu,
jadikanlah rindu syahid di jalan-Mu lebih ia rindukan daripada kerinduannya terhadapku,
jadikan pula kerinduan terhadapku tidak melupakan kerinduannya terhadap surga-Mu.
Bila cintaku padanya telah mengalahkan cintaku kepada-Mu,
ingatkanlah diriku, jangan Engkau biarkan aku tertatih kemudian tergapai-gapai merengkuh cinta-Mu.

Ya Allah,
Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu,
telah berjumpa pada taat pada-Mu,
telah bersatu dalam dakwah pada-Mu,
telah berpadu dalam membela syariat-Mu.
Kokohkanlah ya Allah ikatannya. Kekalkanlah cintanya.
Tunjukilah jalan-jalannya. Penuhilah hati-hati ini dengan nur-Mu yang tiada pernah pudar.
Lapangkanlah dada-dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan bertawakal di jalan-Mu.

Amin ya rabbal alamin.

Minggu, 11 April 2010

Wanita Shalihah Pendidik Generasi Muslim

Wanita shalihah tak ubahnya mata yang "menyihir" dan pendidik yang mahir. Wanita shalihah harus dipersiapkan dan diajarkan untuk mengemban berbagai tugas yang diharapkan dapat mendatangkan keridhaan Allah SWT.

Dari Abu Sa’id Al-Khudri, dia berkata bahwa suatu ketika para wanita pernah berkata kepada Rasulullah, “Kaum laki-laki telah mengalahkan kami, maka jadikanlah satu hari untuk kami.” Nabi Muhammad pun menjanjikan satu hari untuk dapat bertemu dengan mereka, kemudian Nabi memberikan nasihat dan perintah kepada mereka. Salah satu ucapan beliau kepada mereka adalah: “Tidaklah seorang wanita di antara kalian yang ditinggal mati tiga anaknya, melainkan mereka adalah penghalang baginya dari api neraka.” Seorang wanita bertanya, “Bagaimana kalau hanya dua?” Beliau menjawab, “Juga dua.” (HR. Al-Bukhari)

Di hadits tersebut terdapat sebuah penegasan (afirmasi) betapa pentingnya memberi pengajaran kepada para wanita. Tengoklah bagaimana Nabi Muhammad mengkhususkan waktu satu hari untuk mengajarkan dan menasehati para wanita. Ini mengingat, wanita memiliki andil dan kontribusi dalam membangun masyarakat dan mendidik generasi muslim.

...Nabi Muhammad mengkhususkan waktu satu hari untuk mengajarkan dan menasehati para wanita. Ini mengingat, wanita memiliki andil dan kontribusi dalam membangun masyarakat dan mendidik generasi muslim....

Seperti halnya kaum laki-laki, wanita bertanggungjawab atas agama dan ibadahnya, mengetahui hukum-hukum tentang halal dan haram, serta mampu membedakan antara yang haq dan batil. Jika demikian, maka wanita harus mendapatkan pengarahan dan pembelajaran, agar dapat istiqamah melakoni segenap keutamaan terpuji dan menyelesaikan setiap perkara dengan cerdas.

Oleh karena itu, kita bisa menyaksikan banyak shahabiyah yang berinisiatif mencari ilmu, memprioritaskan diri mereka untuk mendapatkan berbagai pelajaran. Sedemikian tingginya perhatian dan aktivitas mereka dalam menuntut ilmu. Terlebih lagi ketika kita membuka lembaran-lembaran sejarah Ummahatul Mukminin, kita mendapatkan mereka memiliki kapabilitas keilmuan yang tinggi dan banyak meriwayatkan hadits Nabi Muhammad. Mereka juga menjadi referensi penting atas berbagai pertanyaan sahabat beliau. Yang terdepan di antara mereka adalah Ummul Mukminin Aisyah RA.

Diriwayatkan dari Urwah bin Az-Zubair, dia berkata, “Aku tidak mendapatkan seorang wanita yang lebih mengetahui Al-Qur’an, kewajiban agama, fikih, kedokteran, dan syair daripada Aisyah.” (Diriwayatkan Al-Hakim di dalam Al-Mustadrak, 11/4, dan Ath-Thabarani di dalam Al-Kabir, 23/182)

Riwayat tersebut memotivasi para muslimah untuk mempelajari beragam ilmu bermanfaat, menghafal Al-Qur’an, mentadaburi makna-maknanya, sehingga memicu mereka untuk konsisten dalam beragama, beretika, dan memberi manfaat kepada masyarakat sekitar.

...Wahai para pendidik generasi muslim, apabila kebanyakan wanita dewasa ini berlomba-lomba untuk melakukan tindakan amoral, tampil seksi dan terbuka, maka kalian semestinya berlomba-lomba untuk memiliki rasa malu dan harga diri serta mempunyai hati suci yang bercahaya....

Wahai para muslimah, bergegaslah untuk berkontribusi menegakkan panji tauhid di segenap penjuru. Wahai para pendidik generasi muslim, wujudkanlah masa depan gemilang dengan cahaya Al-Qur’an. Apabila kebanyakan wanita dewasa ini berlomba-lomba untuk melakukan tindakan amoral, tampil seksi dan terbuka, maka kalian semestinya berlomba-lomba untuk memiliki rasa malu dan harga diri serta mempunyai hati suci yang bercahaya.

Seorang penyair bersenandung:

Anak-anakmu wahai ibunda orang-orang baik ialah pelopor masa kini
Tunjukkanlah kepada mereka bagaimana seharusnya mereka beretika
Mereka memiliki kesucian berdasarkan cahaya ayat-ayat suci
Tunjukkanlah kepada mereka bagaimana seharusnya berambisi
namun tetap tunduk kepada keteguhan yang tulus.

[ganna pryadha/voa-islam.com]

Kamis, 22 Oktober 2009

Sikap Memaafkan dan Manfaatnya bagi Kesehatan

Salah satu sifat mulia yang dianjurkan dalam Al Qur’an adalah sikap memaafkan:

Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh. (QS. Al Qur’an, 7:199)

Dalam ayat lain Allah berfirman: "...dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. An Nuur, 24:22)

Mereka yang tidak mengikuti ajaran mulia Al Qur'an akan merasa sulit memaafkan orang lain. Sebab, mereka mudah marah terhadap kesalahan apa pun yang diperbuat. Padahal, Allah telah menganjurkan orang beriman bahwa memaafkan adalah lebih baik:

... dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS. At Taghaabun, 64:14)

Juga dinyatakan dalam Al Qur'an bahwa pemaaf adalah sifat mulia yang terpuji. "Tetapi barang siapa bersabar dan memaafkan, sungguh yang demikian itu termasuk perbuatan yang mulia." (Qur'an 42:43) Berlandaskan hal tersebut, kaum beriman adalah orang-orang yang bersifat memaafkan, pengasih dan berlapang dada, sebagaimana dinyatakan dalam Al Qur'an, "...menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain." (QS. Ali ‘Imraan, 3:134)
Para peneliti percaya bahwa pelepasan hormon stres, kebutuhan oksigen yang meningkat oleh sel-sel otot jantung, dan kekentalan yang bertambah dari keeping-keping darah, yang memicu pembekuan darah menjelaskan bagaimana kemarahan meningkatkan peluang terjadinya serangan jantung. Ketika marah, detak jantung meningkat melebihi batas wajar, dan menyebabkan naiknya tekanan darah pada pembuluh nadi, dan oleh karenanya memperbesar kemungkinan terkena serangan jantung.

Pemahaman orang-orang beriman tentang sikap memaafkan sangatlah berbeda dari mereka yang tidak menjalani hidup sesuai ajaran Al Qur'an. Meskipun banyak orang mungkin berkata mereka telah memaafkan seseorang yang menyakiti mereka, namun perlu waktu lama untuk membebaskan diri dari rasa benci dan marah dalam hati mereka. Sikap mereka cenderung menampakkan rasa marah itu. Di lain pihak, sikap memaafkan orang-orang beriman adalah tulus. Karena mereka tahu bahwa manusia diuji di dunia ini, dan belajar dari kesalahan mereka, mereka berlapang dada dan bersifat pengasih. Lebih dari itu, orang-orang beriman juga mampu memaafkan walau sebenarnya mereka benar dan orang lain salah. Ketika memaafkan, mereka tidak membedakan antara kesalahan besar dan kecil. Seseorang dapat saja sangat menyakiti mereka tanpa sengaja. Akan tetapi, orang-orang beriman tahu bahwa segala sesuatu terjadi menurut kehendak Allah, dan berjalan sesuai takdir tertentu, dan karena itu, mereka berserah diri dengan peristiwa ini, tidak pernah terbelenggu oleh amarah.

Menurut penelitian terakhir, para ilmuwan Amerika membuktikan bahwa mereka yang mampu memaafkan adalah lebih sehat baik jiwa maupun raga. Orang-orang yang diteliti menyatakan bahwa penderitaan mereka berkurang setelah memaafkan orang yang menyakiti mereka. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa orang yang belajar memaafkan merasa lebih baik, tidak hanya secara batiniyah namun juga jasmaniyah. Sebagai contoh, telah dibuktikan bahwa berdasarkan penelitian, gejala-gejala pada kejiwaan dan tubuh seperti sakit punggung akibat stress [tekanan jiwa], susah tidur dan sakit perut sangatlah berkurang pada orang-orang ini.
Memaafkan, adalah salah satu perilaku yang membuat orang tetap sehat, dan sebuah sikap mulia yang seharusnya diamalkan setiap orang

Dalam bukunya, Forgive for Good [Maafkanlah demi Kebaikan], Dr. Frederic Luskin menjelaskan sifat pemaaf sebagai resep yang telah terbukti bagi kesehatan dan kebahagiaan. Buku tersebut memaparkan bagaimana sifat pemaaf memicu terciptanya keadaan baik dalam pikiran seperti harapan, kesabaran dan percaya diri dengan mengurangi kemarahan, penderitaan, lemah semangat dan stres. Menurut Dr. Luskin, kemarahan yang dipelihara menyebabkan dampak ragawi yang dapat teramati pada diri seseorang. Dia melanjutkan dengan mengatakan bahwa:

Permasalahan tentang kemarahan jangka panjang atau yang tak berkesudahan adalah kita telah melihatnya menyetel ulang sistem pengatur suhu di dalam tubuh. Ketika Anda terbiasa dengan kemarahan tingkat rendah sepanjang waktu, Anda tidak menyadari seperti apa normal itu. Hal tersebut menyebabkan semacam aliran adrenalin yang membuat orang terbiasa. Hal itu membakar tubuh dan menjadikannya sulit berpikir jernih – memperburuk keadaan.

Sebuah tulisan berjudul "Forgiveness" [Memaafkan], yang diterbitkan Healing Current Magazine [Majalah Penyembuhan Masa Kini] edisi bulan September-Oktober 1996, menyebutkan bahwa kemarahan terhadap seseorang atau suatu peristiwa menimbulkan emosi negatif dalam diri orang, dan merusak keseimbangan emosional bahkan kesehatan jasmani mereka. Artikel tersebut juga menyebutkan bahwa orang menyadari setelah beberapa saat bahwa kemarahan itu mengganggu mereka, dan kemudian berkeinginan memperbaiki kerusakan hubungan. Jadi, mereka mengambil langkah-langkah untuk memaafkan. Disebutkan pula bahwa, meskipun mereka tahan dengan segala hal itu, orang tidak ingin menghabiskan waktu-waktu berharga dari hidup mereka dalam kemarahan dan kegelisahan, dan lebih suka memaafkan diri mereka sendiri dan orang lain.

Semua penelitian yang ada menunjukkan bahwa kemarahan adalah sebuah keadaan pikiran yang sangat merusak kesehatan manusia. Memaafkan, di sisi lain, meskipun terasa berat, terasa membahagiakan, satu bagian dari akhlak terpuji, yang menghilangkan segala dampak merusak dari kemarahan, dan membantu orang tersebut menikmati hidup yang sehat, baik secara lahir maupun batin. Namun, tujuan sebenarnya dari memaafkan –sebagaimana segala sesuatu lainnya – haruslah untuk mendapatkan ridha Allah. Kenyataan bahwa sifat-sifat akhlak seperti ini, dan bahwa manfaatnya telah dibuktikan secara ilmiah, telah dinyatakan dalam banyak ayat Al Qur’an, adalah satu saja dari banyak sumber kearifan yang dikandungnya.

Sikap Memaafkan dan Manfaatnya bagi Kesehatan

Salah satu sifat mulia yang dianjurkan dalam Al Qur’an adalah sikap memaafkan:

Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh. (QS. Al Qur’an, 7:199)

Dalam ayat lain Allah berfirman: "...dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. An Nuur, 24:22)

Mereka yang tidak mengikuti ajaran mulia Al Qur'an akan merasa sulit memaafkan orang lain. Sebab, mereka mudah marah terhadap kesalahan apa pun yang diperbuat. Padahal, Allah telah menganjurkan orang beriman bahwa memaafkan adalah lebih baik:

... dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS. At Taghaabun, 64:14)

Juga dinyatakan dalam Al Qur'an bahwa pemaaf adalah sifat mulia yang terpuji. "Tetapi barang siapa bersabar dan memaafkan, sungguh yang demikian itu termasuk perbuatan yang mulia." (Qur'an 42:43) Berlandaskan hal tersebut, kaum beriman adalah orang-orang yang bersifat memaafkan, pengasih dan berlapang dada, sebagaimana dinyatakan dalam Al Qur'an, "...menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain." (QS. Ali ‘Imraan, 3:134)
Para peneliti percaya bahwa pelepasan hormon stres, kebutuhan oksigen yang meningkat oleh sel-sel otot jantung, dan kekentalan yang bertambah dari keeping-keping darah, yang memicu pembekuan darah menjelaskan bagaimana kemarahan meningkatkan peluang terjadinya serangan jantung. Ketika marah, detak jantung meningkat melebihi batas wajar, dan menyebabkan naiknya tekanan darah pada pembuluh nadi, dan oleh karenanya memperbesar kemungkinan terkena serangan jantung.

Pemahaman orang-orang beriman tentang sikap memaafkan sangatlah berbeda dari mereka yang tidak menjalani hidup sesuai ajaran Al Qur'an. Meskipun banyak orang mungkin berkata mereka telah memaafkan seseorang yang menyakiti mereka, namun perlu waktu lama untuk membebaskan diri dari rasa benci dan marah dalam hati mereka. Sikap mereka cenderung menampakkan rasa marah itu. Di lain pihak, sikap memaafkan orang-orang beriman adalah tulus. Karena mereka tahu bahwa manusia diuji di dunia ini, dan belajar dari kesalahan mereka, mereka berlapang dada dan bersifat pengasih. Lebih dari itu, orang-orang beriman juga mampu memaafkan walau sebenarnya mereka benar dan orang lain salah. Ketika memaafkan, mereka tidak membedakan antara kesalahan besar dan kecil. Seseorang dapat saja sangat menyakiti mereka tanpa sengaja. Akan tetapi, orang-orang beriman tahu bahwa segala sesuatu terjadi menurut kehendak Allah, dan berjalan sesuai takdir tertentu, dan karena itu, mereka berserah diri dengan peristiwa ini, tidak pernah terbelenggu oleh amarah.

Menurut penelitian terakhir, para ilmuwan Amerika membuktikan bahwa mereka yang mampu memaafkan adalah lebih sehat baik jiwa maupun raga. Orang-orang yang diteliti menyatakan bahwa penderitaan mereka berkurang setelah memaafkan orang yang menyakiti mereka. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa orang yang belajar memaafkan merasa lebih baik, tidak hanya secara batiniyah namun juga jasmaniyah. Sebagai contoh, telah dibuktikan bahwa berdasarkan penelitian, gejala-gejala pada kejiwaan dan tubuh seperti sakit punggung akibat stress [tekanan jiwa], susah tidur dan sakit perut sangatlah berkurang pada orang-orang ini.
Memaafkan, adalah salah satu perilaku yang membuat orang tetap sehat, dan sebuah sikap mulia yang seharusnya diamalkan setiap orang

Dalam bukunya, Forgive for Good [Maafkanlah demi Kebaikan], Dr. Frederic Luskin menjelaskan sifat pemaaf sebagai resep yang telah terbukti bagi kesehatan dan kebahagiaan. Buku tersebut memaparkan bagaimana sifat pemaaf memicu terciptanya keadaan baik dalam pikiran seperti harapan, kesabaran dan percaya diri dengan mengurangi kemarahan, penderitaan, lemah semangat dan stres. Menurut Dr. Luskin, kemarahan yang dipelihara menyebabkan dampak ragawi yang dapat teramati pada diri seseorang. Dia melanjutkan dengan mengatakan bahwa:

Permasalahan tentang kemarahan jangka panjang atau yang tak berkesudahan adalah kita telah melihatnya menyetel ulang sistem pengatur suhu di dalam tubuh. Ketika Anda terbiasa dengan kemarahan tingkat rendah sepanjang waktu, Anda tidak menyadari seperti apa normal itu. Hal tersebut menyebabkan semacam aliran adrenalin yang membuat orang terbiasa. Hal itu membakar tubuh dan menjadikannya sulit berpikir jernih – memperburuk keadaan.

Sebuah tulisan berjudul "Forgiveness" [Memaafkan], yang diterbitkan Healing Current Magazine [Majalah Penyembuhan Masa Kini] edisi bulan September-Oktober 1996, menyebutkan bahwa kemarahan terhadap seseorang atau suatu peristiwa menimbulkan emosi negatif dalam diri orang, dan merusak keseimbangan emosional bahkan kesehatan jasmani mereka. Artikel tersebut juga menyebutkan bahwa orang menyadari setelah beberapa saat bahwa kemarahan itu mengganggu mereka, dan kemudian berkeinginan memperbaiki kerusakan hubungan. Jadi, mereka mengambil langkah-langkah untuk memaafkan. Disebutkan pula bahwa, meskipun mereka tahan dengan segala hal itu, orang tidak ingin menghabiskan waktu-waktu berharga dari hidup mereka dalam kemarahan dan kegelisahan, dan lebih suka memaafkan diri mereka sendiri dan orang lain.

Semua penelitian yang ada menunjukkan bahwa kemarahan adalah sebuah keadaan pikiran yang sangat merusak kesehatan manusia. Memaafkan, di sisi lain, meskipun terasa berat, terasa membahagiakan, satu bagian dari akhlak terpuji, yang menghilangkan segala dampak merusak dari kemarahan, dan membantu orang tersebut menikmati hidup yang sehat, baik secara lahir maupun batin. Namun, tujuan sebenarnya dari memaafkan –sebagaimana segala sesuatu lainnya – haruslah untuk mendapatkan ridha Allah. Kenyataan bahwa sifat-sifat akhlak seperti ini, dan bahwa manfaatnya telah dibuktikan secara ilmiah, telah dinyatakan dalam banyak ayat Al Qur’an, adalah satu saja dari banyak sumber kearifan yang dikandungnya.

Selasa, 24 Februari 2009

ANTARA MAHALNYA BIAYA PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN MENCARI ILMU…..

“Teu kudu sakola luhur-luhur teuing,Jang! Nu penting mah bisa neangan duit sing loba! Jang naon sakola oge, ari hasilna ngan saukur macul deui mah!” ujar seorang nenek pada cucunya.
Pernah dengar komentar kaya gini? Kalo misalkan kita yang dinasihati seperti itu, apa perasaan kita? Ugh, yang pasti mah bete banget. Lagian apakah kesuksesan kita dalam menuntut ilmu harus ditandai dengan bekerja yang ngehasilin duit gede? Gak lha yaw!!!
Menuntut ilmu sangatlah diwajibkan bagi setiap muslim. Satu orang yang berilmu lebih baik dari seratus orang ahli ibadah. Bahkan Allah berjanji, akan meninggikan derajat orang yang berilmu dan akan memudahkan jalannya ke surga.
Ilmu gak akan habis dilindas zaman sobat! Bahkan sampai kita meninggal pun pahala ilmu yang bermanfaat akan terus mengalir pada kita. Manfaat ilmu bisa menembus ratusan bahkan ribuan generasi. Sedangkan harta, paling cuma mentok sampe tujuh turunan. Manfaat ilmu jauh lebih tinggi kalo hanya diukur dengan keuntungan materi. Jika kita perhatikan, ternyata daya saing keilmuan generasi muslim saat ini, jauh lebih merosot dibanding keilmuan kaum muslim masa lampau. Penyebab utamanya hanya karena pemikiran kita bahwa ilmu yang kita cari hanyalah untuk mendapatkan keuntungan materi yang banyak.
Menuntut ilmu yang hanya bertujuan untuk mengeruk keuntungan materi , apa pun bentuknya tidak akan kekal dan tidak akan pernah menumbuhkan manfaat yang besar bagi diri kita maupun orang lain. Gak aneh kalo banyak anak pelajar yang merasa sulit ngedapatin kerja setelah mereka lulus. Mereka merasa putus asa duluan karena tuntutan balik modal setelah lulus sehingga tidak dapat memotivasi mereka, untuk terus bersemangat dalam memecahkan ilmu yang rumit dan menghasilkan karya baru. Apalagi biaya sekolah zaman sekarang yang muahal banget. Ukh, kayanya bikin mereka tambah puyeng aza. Entah darimana dan dari siapa kita ditanamkan bahwa tujuan sekolah yang tinggi adalah supaya kita mendapatkan gaji yang gede and kerjaan yang bagus.
Ilmu yang digali karena kesungguhan hati dan kesadaran yang penuh bahwa ilmu jauh lebih bermanfaat bagi harkat hidup kemanusiaan daripada menuntut ilmu sekedar ingin mendapat uang yang banyak, jauh lebih tinggi derajatnya dimata Allah. Lihat saja ilmu matematika dan astronomi yang digagas oleh Abul Wafa Muhammad al Buzjani di abad 940 M, ilmu optik yang ditemukan oleh Ibnu Haitam, Abu Musa Jabir Ibnu Hayyan yang menemukan ilmu kimia, atau al-Khawarizmi penemu angka nol, dan serentetan penemu lainnya. Kerja keras mereka, sangatlah kita rasakan manfaatnya setelah beribu-ribu tahun lamanya mereka meninggal. Gagasan mereka, telah membuat manusia saat ini lebih maju, bisa ekspedisi ke luar angkasa, bahkan melakukan rekayasa genetika. Itulah pencarian ilmu yang sebenar-benarnya, demi menguak misteri kehidupan dan kemajuan peradaban manusia. Dengan bantuan tangan Allah, ilmu tersebut telah sampai manfaatnya pada berlapis-lapis manusia di seluruh penjuru dunia.
Bukan hanya kita yang dituntut untuk sadar dalam mencari ilmu, bahkan pemerintah pun berkewajiban memenuhi sarana-sarana pendidikan, sistemnya, dan orang-orang yang digaji untuk mendidik kita. Negara Islam sangatlah menghargai pendidikan. Contohnya mereka menerapkan sistem bebas biaya. Seperti Madrasah Al-Muntashiriah di Baghdad yang setiap siswanya menerima beasiswa berupa emas seharga 1 dinar (1 dinar = 4.25 gr emas). Selain itu,kebutuhan hidup mereka pun dijamin sepenuhnya oleh negara. Subhanallah, sungguh sejahteranya sistem pendidikan di negeri sana.
Beda banget sama sistem pendidikan di negara kita ini. Mulai dari biaya sekolah yang mahal, fasilitas belajar mengajar yang kurang memadai, atau nasib pengajarnya, selalu ada masalah. Selain itu, kurikulum nasional pun gak mampu mengatasi jutaan lulusan SMA yang terpaksa menganggur, karena tidak memiliki keterampilan untuk berwirausaha dan bekerja.
So, hayu ah, kita cari ilmu sebanyak-banyaknya. Yang penting kita selalu ikhlas dalam mencari ilmu, sabar menghadapi ujian ketika menimba ilmu and jangan malas-malasan. Insya Allah, ilmu yang kita cari gak bakalan sia-sia. Selain itu, kita harus bisa berbuat dan melihat dari sisi pandang baru, bahwa ilmu demi materi bukanlah tujuan satu. Ada sisi pandang lain yang lebih besar yaitu ilmu bisa merubah sesuatu yang gak baik menjadi lebih baik. Kita harus menerapkan sifat kerja keras dalam diri kita, seperti kerja kerasnya para Ilmuwan Islam demi kemajuan ilmu kaumnya. Sehingga pelajar Indonesia bisa lebih kreatuf dan maju and gak ketinggalan terus oleh negara-negara lain…Ok!!!
SEMANGATTTT…..
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

PANTAI HALOGENIA (Sekilas tentang Pendekatan Multiple Intelligence Semasa SMA)



Semburat warna mentari menyapa pagi dengan ramah, lembut menelusup celah-celah nyiur hijau yang berderet sepanjang tepian pantai. Pagi ini penduduk sekitar Pantai Halogenia nampak lebih sibuk dari biasanya. Sekumpulan anak-anak nelayan berlari-lari dengan riang, satu sama lain saling berkejaran menuju deburan ombak, menciduk airnya kedalam ember dan cepat-cepat membasahi gundukan pasir kering yang terletak agak jauh di pesisir pantai. Sebagian temannya yang lain tengah sibuk membentuk padatan pasir basah dengan cetakan-cetakan sederhana yang unik, membangun istana impian mereka.

Sementara itu tak jauh dari pantai, di sebuah gubuk sederhana, Nenek Halida terlihat sangat bersemangat memasukkan Kristal-kristal garam hasil panen siang kemarin kedalam bungkus-bungkus plastik kecil. Sesekali ia meneriaki cucu-cucunya Fluor, Clor, Brom dan Iod yang tengah bermain air laut untuk berhati-hati.

Pantai Halogenia yang eksotis semakin ramai dengan kunjungan para wisatawan yang hendak berlibur menikmati panorama indah yang menarik hati …


Pantai Halogenia? Memang ada ya? Dimana, dimana?

Hehe, teman-teman cari di peta mana pun, InsyaAllah saya yakin tidak akan menemukannya :D

Prolog diatas adalah sekilas cuplikan sebuah naskah, dan Pantai Halogenia adalah hasil imajinasi kami semasa belajar di kelas 3 SMA.

***

Berawal dari keresahan seorang guru kimia ketika mendapati nilai ulangan kimia kami  tidak juga menunjukkan kemajuan yang signifikan, padahal kimia termasuk salah satu mata pelajaran yang diikutsertakan dalam Ujian Nasional. Saat itu guru kimia kami sempat menanyakan dan mengevaluasi bersama mengapa hal itu bisa terjadi, dan salah satu penyebabnya adalah kebanyakan dari kami merasa jenuh dengan metode belajar klasik yang kami dapati di hampir semua mata pelajaran. Hingga muncullah ide cemerlang dari beliau yang membuat kami bingung cukup lama (hehe, aslinya sih saya yang bingung :D)

Waktu itu guru kami langsung membagi siswa-siswi yang ada di kelas menjadi beberapa kelompok dan memberi nama kelompok sesuai dengan judul BAB yang harus depelajari. Pikir kami, paling juga kami disuruh buat power point lagi, lalu mempresentasikannya di depan kelas. Tapi ternyata semua prasangka kami salaah besar.

Tak lama dari itu Pak Hadyan (guru kimia) menjelaskan tugas yang harus kami kerjakan yaitu menyajikan materi kimia dengan bermain drama. Sontak kami kaget, kelas tiba-tiba ramai..bagaimana bisa? Ini pelajaran kimia atau kesenian? Kemudian Pak Hadyan segera menenangkan kami dengan menyampaikan beberapa poin yang dapat kami lakukan untuk memulai proses pengerjaan tugas. Prinsipnya sebenarnya sama saja dengan presentasi, sebelum menyajikan kami harus mendalami materi terlebih dahulu, hanya perbedaannya sajian dibuat lebih kreatif melalui drama dan power point yang biasa dibuat berubah menjadi bentuk naskah.

Sebelum menyusun naskah, anggota kelompok yang pintar di pelajaran kimia mau tidak mau harus memahami lebih dulu sebelum membagi ilmu yang ia fahami kepada anggota kelompok lain, kemudian kami berdiskusi untuk menyamakan persepsi agar tidak salah menyampaikan materi dalam drama.

Setelah materi kami fahami, waktunya para penyusun naskah ambil bagian. Bermunculanlah ide kreatif dari semua anggota kelompok tentang drama yang akan dimainkan, mulai dari setting tempat, alur cerita, penokohan, sampai ide2 jenaka sebagai bumbu dalam drama. Kebetulan saat itu kelompok saya kebagian BAB tentang HALOGEN. Karena halogen adalah unsure pembentuk garam dan biasanya pembentukan garam identik terjadi di laut, akhirnya tercetuslah PANTAI HALOGENIA menjadi latar tempat dalam drama kami.

Awalnya cukup kesulitan juga ketika materi kimia yang biasa disampaikan dalam bahasa formal harus diolah kedalam bahasa naskah yang  harus mudah difahami oleh penonton. Tapi alhamdulillaah, mungkin karena baru kali itu kami merasakan belajar kimia dengan enjoy, tanpa dipusingkan dengan rumus2 yang njelimet, lalu mengalirlah inspirasi-inspirasi kami.

Untuk memudahkan dalam menyampaikan materi, kami membuat tokoh2 dalam drama berperan langsung sebagai unsure-unsure halogen dan unsure lain sebagai pereaksi. Agar kesannya tidak menggurui, kami menyampaikan sifat masing-masing unsure dengan candaan anak-anak nelayan yang sedang bermain di pantai. Salah satu contoh ketika menerangkan kereaktifan unsure2 halogen, kami mengemasnya menjadi bentuk permainan oray-orayan (saya kurang tau bahasa Indonesianya oray-orayan apa, ular-ularan gitu ya? -__-“) dimana setiap anak-anak yang memerankan tokoh Fluor (Fluorin), Clor (Clorin), Brom (Bromin), Iod (Iodin), dan Asti (Astatin) disusun berurutan sesuai dengan kereaktifan paling tinggi berdiri di depan, menyusul unsure-unsure dengan kereaktifan lebih rendah di belakangnya.

Uniknya, teman-teman yang mengaku kurang ngeuh dengan pelajaran kimia justru terlihat sangat menikmati perannya. Karena, saat itu proses belajar tidak semata terpaku pada kemampuan kognitif yang terkesan menganaktirikan teman-teman yang memiliki potensi dan kecerdasan di aspek lain. Ada teman saya yang sangat suka menari, dan ia pun mampu memaksimalkan potensi yang dimilikinya dengan memunculkan ide tarian anak-anak sebelum bermain pasir (bahkan lagu pengiringnya pun masih terekam jelas dalam ingatan saya, lagu milik penyanyi cilik Eno Lerian DuDiDuDiDam). Ada juga yang kecerdasannya muncul di musical, sibuk memilih musik-musik yang tepat untuk meramaikan drama.

Walaupun begitu kami tetap memahami esensi dari materi kimia yang harus kami sajikan, karena kami sadari selain memahamkan diri sendiri kami juga harus memahamkan isi materi kelompok kami kepada siswa lain. Satu hal yang menyenangkan bahwa kami dapat  memahami dan menyampaikan materi yang terbilang sulit dengan gaya belajar kami sendiri, sesuai kecerdasan yang dimiliki masing-masing. Cukup adil bukan?

***

Selama proses mendalami materi, penyusunan naskah, hingga pagelaran drama itulah yang selalu saya ingat sampai sekarang. Bagi saya drama kimia ini merupakan metode belajar yang paling mengesankan selama belajar di bangku sekolah. Pak Hadyan telah berhasil menstimulus kami untuk mempelajari kimia dengan kemasan yang terbilang aneh saat itu, hingga saya melihat teman-teman saya sangat maksimal memunculkan masing-masing potensi yang dimilikinya. Kami bisa dengan bebas mengeksplorasi kemampuan dan mengembangkan sayap-sayap imajinasi kami untuk dituangkan dalam drama kimia.

Sederhananya saya menyimpulkan bahwa seperti inilah salah satu potret penerapan strategy belajar dengan pendekatan Multiple Intelligence yang tengah marak dibahas di kalangan para pendidik. Dimana guru mampu membangunkan dan menarik keluar semua potensi yang terpendam dalam diri siswa didik dengan tidak memandang sebelah mata kecerdasan siswa lain yang mungkin dalam ukuran penilaia kognitifnya kurang, sehingga siswa merasa dapat memberikan manfaat dan kontribusi dalam setiap pembelajaran yang dilakukan.

Jujur saya masih sangaaattt sedikit pengalamannya di dunia pendidikan, masih harus banyak belajar. Hanya ingin berbagi pengalaman dan semoga apa yang telah didapat dari guru saya ini bisa menjadi inspirasi bagi guru-guru lainnya untuk lebih melejitkan kreativitasnya dalam mendidik siswa.

Terakhir saya ucapkan banyak terimakasih kepada guru-guru kehidupan yang telah sabar mendidik saya hingga saat ini. Semoga Alloh karuniakan balasan atas setiap ilmu yang diberikan dengan limpahan nikmat yang jauh lebih sempurna disisiNYA. Aamiin Yaa Rabb

Syarifatun Nisa NH
Penghujung Pagi, 150812



Duhai Pria Manapun Yang Kelak Mendampingiku

Duhai seseorang disana .....

Bila Allah mengizinkan kita bertemu kelak . . .
Bila Allah mewujudkan takdir pernikahan kita kelak . . .

Dan bila kemudian disaat kita hidup bersama, lantas terlihat sisi salah pada diriku, semoga Allah mengkaruniakanmu kemampuan untuk melihat sisi baikku. Sungguh Allah SWT yang mempertemukan dan menyatukan hati kita berpesan, "Dan pergaulilah mereka (isterimu) dengan baik. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak." [QS: An Nisa' 19]. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam yang kita cintai pun berpesan, "Sempurnanya iman seseorang mukmin adalah mereka yang baik akhlaknya, dan yang terbaik (pergaulannya) dengan istri-istri mereka." Jika engkau melihat kekurangan pada diriku, ingatlah kembali pesan beliau, Jangan membenci seorang mukmin (laki-laki) pada mukminat (perempuan) jika ia tidak suka suatu kelakuannya pasti ada juga kelakuan lainnya yang ia sukai. (HR. Muslim)

Sadarkah engkau bahwa tiada manusia di dunia ini yang sempurna segalanya? Bukankah engkau tahu bahwa hanyalah Alllah yang Maha Sempurna. bukankah kurang bijaksana bila kau hanya menghitung-hitung kekurangan pasangan hidupmu? Janganlah engkau mencari-cari selalu kesalahanku, padahal aku telah taat kepadamu.

Saat diriku rela pergi bersama dirimu, kutinggalkan orangtua dan sanak saudaraku, ku ingin engkaulah yang mengisi kekosongan hatiku. Naungilah diriku dengan kasih sayang, dan senyuman darimu. Ku ingat pula saat aku ragu memilih siapa pendampingku, ketakwaan yang terlihat dalam keseharianmu-lah yang mempesona diriku. Bukankah sahabat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam, Ali bin Abi Tholib saat ditanya oleh seorang, "Sesungguhnya aku mempunyai seorang anak perempuan, dengan siapakah sepatutnya aku nikahkan dia?" Ali r.a. pun menjawab, "Kawinkanlah dia dengan lelaki yang bertakwa kepada Allah, sebab jika laki-laki itu mencintainya maka dia akan memuliakannya, dan jika ia tidak menyukainya maka dia tidak akan menzaliminya." Ku harap engkaulah laki-laki itu, duhai suamiku.

Saat terjadi kesalahan yang tak sengaja ku lakukan, mungkin saat itu engkau mendambakan diriku sebagai istri tanpa kekurangan dan kelemahan. Perbaikilah kekurangan diriku dengan lemah lembut, janganlah kasar terhadapku. Bukankah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam telah mengajarkan kepada dirimu, saat Muawiah bin Ubaidah bertanya kepada beliau tentang tanggungjawab suami terhadap istri, beliaupun menjawab, "Dia memberinya makan ketika ia makan, dan memberinya pakaian ketika dia berpakaian." Janganlah engkau keras terhadapku, karena Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam pun tak pernah berbuat kasar terhadap istri-istrinya.

Duhai Calon Suamiku...
Tahukah engkau anugerah yang akan engkau terima dari Allah di akhirat kelak? Tahukah engkau pula balasan yang akan dianugerahkan kepada suami-suami yang berlaku baik terhadap istri-istri mereka? Renungkanlah bahwa, "Mereka yang berlaku adil, kelak di hari kiamat akan bertahta di singgasana yang terbuat dari cahaya. Mereka adalah orang yang berlaku adil ketika menghukum, dan adil terhadap istri-istri mereka serta orang-orang yang menjadi tanggungjawabnya." [HR Muslim]. Kudoakan bahwa engkaulah yang kelak salah satu yang menempati singgasana tersebut, dan aku adalah permaisuri di istanamu.

Jika engkau ada waktu ajarkanlah diriku dengan ilmu yang telah Allah berikan kepadamu. Apabila engkau sibuk, maka biarkan aku menuntut ilmu, namun tak akan kulupakan tanggungjawabku, sehingga kelak diriku dapat menjadi sekolah buat putra-putrimu. Bukankah seorang ibu adalah madrasah ilmu pertama buat putra-putrinya? Semoga engkau selalu mendampingiku dalam mendidik putra-putri kita dan bertakwa kepada Allah.

Ya Allah,
Engkau-lah saksi ikatan hati ini...
Engkau-lah yang telah menentukan hatiku jatuh pada lelaki ini,
jadikanlah cinta ku pada calon suamiku ini sebagai penambah kekuatan ku untuk mencintai-Mu.
Namun, kumohon pula, jagalah cintaku ini agar tidak melebihi cintaku kepada-Mu,
hingga aku tidak terjatuh pada jurang cinta yang semu,
jagalah hatiku padanya agar tidak berpaling pada hati-Mu. Jika ia rindu,
jadikanlah rindu syahid di jalan-Mu lebih ia rindukan daripada kerinduannya terhadapku,
jadikan pula kerinduan terhadapku tidak melupakan kerinduannya terhadap surga-Mu.
Bila cintaku padanya telah mengalahkan cintaku kepada-Mu,
ingatkanlah diriku, jangan Engkau biarkan aku tertatih kemudian tergapai-gapai merengkuh cinta-Mu.

Ya Allah,
Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu,
telah berjumpa pada taat pada-Mu,
telah bersatu dalam dakwah pada-Mu,
telah berpadu dalam membela syariat-Mu.
Kokohkanlah ya Allah ikatannya. Kekalkanlah cintanya.
Tunjukilah jalan-jalannya. Penuhilah hati-hati ini dengan nur-Mu yang tiada pernah pudar.
Lapangkanlah dada-dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan bertawakal di jalan-Mu.

Amin ya rabbal alamin.

Wanita Shalihah Pendidik Generasi Muslim

Wanita shalihah tak ubahnya mata yang "menyihir" dan pendidik yang mahir. Wanita shalihah harus dipersiapkan dan diajarkan untuk mengemban berbagai tugas yang diharapkan dapat mendatangkan keridhaan Allah SWT.

Dari Abu Sa’id Al-Khudri, dia berkata bahwa suatu ketika para wanita pernah berkata kepada Rasulullah, “Kaum laki-laki telah mengalahkan kami, maka jadikanlah satu hari untuk kami.” Nabi Muhammad pun menjanjikan satu hari untuk dapat bertemu dengan mereka, kemudian Nabi memberikan nasihat dan perintah kepada mereka. Salah satu ucapan beliau kepada mereka adalah: “Tidaklah seorang wanita di antara kalian yang ditinggal mati tiga anaknya, melainkan mereka adalah penghalang baginya dari api neraka.” Seorang wanita bertanya, “Bagaimana kalau hanya dua?” Beliau menjawab, “Juga dua.” (HR. Al-Bukhari)

Di hadits tersebut terdapat sebuah penegasan (afirmasi) betapa pentingnya memberi pengajaran kepada para wanita. Tengoklah bagaimana Nabi Muhammad mengkhususkan waktu satu hari untuk mengajarkan dan menasehati para wanita. Ini mengingat, wanita memiliki andil dan kontribusi dalam membangun masyarakat dan mendidik generasi muslim.

...Nabi Muhammad mengkhususkan waktu satu hari untuk mengajarkan dan menasehati para wanita. Ini mengingat, wanita memiliki andil dan kontribusi dalam membangun masyarakat dan mendidik generasi muslim....

Seperti halnya kaum laki-laki, wanita bertanggungjawab atas agama dan ibadahnya, mengetahui hukum-hukum tentang halal dan haram, serta mampu membedakan antara yang haq dan batil. Jika demikian, maka wanita harus mendapatkan pengarahan dan pembelajaran, agar dapat istiqamah melakoni segenap keutamaan terpuji dan menyelesaikan setiap perkara dengan cerdas.

Oleh karena itu, kita bisa menyaksikan banyak shahabiyah yang berinisiatif mencari ilmu, memprioritaskan diri mereka untuk mendapatkan berbagai pelajaran. Sedemikian tingginya perhatian dan aktivitas mereka dalam menuntut ilmu. Terlebih lagi ketika kita membuka lembaran-lembaran sejarah Ummahatul Mukminin, kita mendapatkan mereka memiliki kapabilitas keilmuan yang tinggi dan banyak meriwayatkan hadits Nabi Muhammad. Mereka juga menjadi referensi penting atas berbagai pertanyaan sahabat beliau. Yang terdepan di antara mereka adalah Ummul Mukminin Aisyah RA.

Diriwayatkan dari Urwah bin Az-Zubair, dia berkata, “Aku tidak mendapatkan seorang wanita yang lebih mengetahui Al-Qur’an, kewajiban agama, fikih, kedokteran, dan syair daripada Aisyah.” (Diriwayatkan Al-Hakim di dalam Al-Mustadrak, 11/4, dan Ath-Thabarani di dalam Al-Kabir, 23/182)

Riwayat tersebut memotivasi para muslimah untuk mempelajari beragam ilmu bermanfaat, menghafal Al-Qur’an, mentadaburi makna-maknanya, sehingga memicu mereka untuk konsisten dalam beragama, beretika, dan memberi manfaat kepada masyarakat sekitar.

...Wahai para pendidik generasi muslim, apabila kebanyakan wanita dewasa ini berlomba-lomba untuk melakukan tindakan amoral, tampil seksi dan terbuka, maka kalian semestinya berlomba-lomba untuk memiliki rasa malu dan harga diri serta mempunyai hati suci yang bercahaya....

Wahai para muslimah, bergegaslah untuk berkontribusi menegakkan panji tauhid di segenap penjuru. Wahai para pendidik generasi muslim, wujudkanlah masa depan gemilang dengan cahaya Al-Qur’an. Apabila kebanyakan wanita dewasa ini berlomba-lomba untuk melakukan tindakan amoral, tampil seksi dan terbuka, maka kalian semestinya berlomba-lomba untuk memiliki rasa malu dan harga diri serta mempunyai hati suci yang bercahaya.

Seorang penyair bersenandung:

Anak-anakmu wahai ibunda orang-orang baik ialah pelopor masa kini
Tunjukkanlah kepada mereka bagaimana seharusnya mereka beretika
Mereka memiliki kesucian berdasarkan cahaya ayat-ayat suci
Tunjukkanlah kepada mereka bagaimana seharusnya berambisi
namun tetap tunduk kepada keteguhan yang tulus.

[ganna pryadha/voa-islam.com]

Sikap Memaafkan dan Manfaatnya bagi Kesehatan

Salah satu sifat mulia yang dianjurkan dalam Al Qur’an adalah sikap memaafkan:

Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh. (QS. Al Qur’an, 7:199)

Dalam ayat lain Allah berfirman: "...dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. An Nuur, 24:22)

Mereka yang tidak mengikuti ajaran mulia Al Qur'an akan merasa sulit memaafkan orang lain. Sebab, mereka mudah marah terhadap kesalahan apa pun yang diperbuat. Padahal, Allah telah menganjurkan orang beriman bahwa memaafkan adalah lebih baik:

... dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS. At Taghaabun, 64:14)

Juga dinyatakan dalam Al Qur'an bahwa pemaaf adalah sifat mulia yang terpuji. "Tetapi barang siapa bersabar dan memaafkan, sungguh yang demikian itu termasuk perbuatan yang mulia." (Qur'an 42:43) Berlandaskan hal tersebut, kaum beriman adalah orang-orang yang bersifat memaafkan, pengasih dan berlapang dada, sebagaimana dinyatakan dalam Al Qur'an, "...menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain." (QS. Ali ‘Imraan, 3:134)
Para peneliti percaya bahwa pelepasan hormon stres, kebutuhan oksigen yang meningkat oleh sel-sel otot jantung, dan kekentalan yang bertambah dari keeping-keping darah, yang memicu pembekuan darah menjelaskan bagaimana kemarahan meningkatkan peluang terjadinya serangan jantung. Ketika marah, detak jantung meningkat melebihi batas wajar, dan menyebabkan naiknya tekanan darah pada pembuluh nadi, dan oleh karenanya memperbesar kemungkinan terkena serangan jantung.

Pemahaman orang-orang beriman tentang sikap memaafkan sangatlah berbeda dari mereka yang tidak menjalani hidup sesuai ajaran Al Qur'an. Meskipun banyak orang mungkin berkata mereka telah memaafkan seseorang yang menyakiti mereka, namun perlu waktu lama untuk membebaskan diri dari rasa benci dan marah dalam hati mereka. Sikap mereka cenderung menampakkan rasa marah itu. Di lain pihak, sikap memaafkan orang-orang beriman adalah tulus. Karena mereka tahu bahwa manusia diuji di dunia ini, dan belajar dari kesalahan mereka, mereka berlapang dada dan bersifat pengasih. Lebih dari itu, orang-orang beriman juga mampu memaafkan walau sebenarnya mereka benar dan orang lain salah. Ketika memaafkan, mereka tidak membedakan antara kesalahan besar dan kecil. Seseorang dapat saja sangat menyakiti mereka tanpa sengaja. Akan tetapi, orang-orang beriman tahu bahwa segala sesuatu terjadi menurut kehendak Allah, dan berjalan sesuai takdir tertentu, dan karena itu, mereka berserah diri dengan peristiwa ini, tidak pernah terbelenggu oleh amarah.

Menurut penelitian terakhir, para ilmuwan Amerika membuktikan bahwa mereka yang mampu memaafkan adalah lebih sehat baik jiwa maupun raga. Orang-orang yang diteliti menyatakan bahwa penderitaan mereka berkurang setelah memaafkan orang yang menyakiti mereka. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa orang yang belajar memaafkan merasa lebih baik, tidak hanya secara batiniyah namun juga jasmaniyah. Sebagai contoh, telah dibuktikan bahwa berdasarkan penelitian, gejala-gejala pada kejiwaan dan tubuh seperti sakit punggung akibat stress [tekanan jiwa], susah tidur dan sakit perut sangatlah berkurang pada orang-orang ini.
Memaafkan, adalah salah satu perilaku yang membuat orang tetap sehat, dan sebuah sikap mulia yang seharusnya diamalkan setiap orang

Dalam bukunya, Forgive for Good [Maafkanlah demi Kebaikan], Dr. Frederic Luskin menjelaskan sifat pemaaf sebagai resep yang telah terbukti bagi kesehatan dan kebahagiaan. Buku tersebut memaparkan bagaimana sifat pemaaf memicu terciptanya keadaan baik dalam pikiran seperti harapan, kesabaran dan percaya diri dengan mengurangi kemarahan, penderitaan, lemah semangat dan stres. Menurut Dr. Luskin, kemarahan yang dipelihara menyebabkan dampak ragawi yang dapat teramati pada diri seseorang. Dia melanjutkan dengan mengatakan bahwa:

Permasalahan tentang kemarahan jangka panjang atau yang tak berkesudahan adalah kita telah melihatnya menyetel ulang sistem pengatur suhu di dalam tubuh. Ketika Anda terbiasa dengan kemarahan tingkat rendah sepanjang waktu, Anda tidak menyadari seperti apa normal itu. Hal tersebut menyebabkan semacam aliran adrenalin yang membuat orang terbiasa. Hal itu membakar tubuh dan menjadikannya sulit berpikir jernih – memperburuk keadaan.

Sebuah tulisan berjudul "Forgiveness" [Memaafkan], yang diterbitkan Healing Current Magazine [Majalah Penyembuhan Masa Kini] edisi bulan September-Oktober 1996, menyebutkan bahwa kemarahan terhadap seseorang atau suatu peristiwa menimbulkan emosi negatif dalam diri orang, dan merusak keseimbangan emosional bahkan kesehatan jasmani mereka. Artikel tersebut juga menyebutkan bahwa orang menyadari setelah beberapa saat bahwa kemarahan itu mengganggu mereka, dan kemudian berkeinginan memperbaiki kerusakan hubungan. Jadi, mereka mengambil langkah-langkah untuk memaafkan. Disebutkan pula bahwa, meskipun mereka tahan dengan segala hal itu, orang tidak ingin menghabiskan waktu-waktu berharga dari hidup mereka dalam kemarahan dan kegelisahan, dan lebih suka memaafkan diri mereka sendiri dan orang lain.

Semua penelitian yang ada menunjukkan bahwa kemarahan adalah sebuah keadaan pikiran yang sangat merusak kesehatan manusia. Memaafkan, di sisi lain, meskipun terasa berat, terasa membahagiakan, satu bagian dari akhlak terpuji, yang menghilangkan segala dampak merusak dari kemarahan, dan membantu orang tersebut menikmati hidup yang sehat, baik secara lahir maupun batin. Namun, tujuan sebenarnya dari memaafkan –sebagaimana segala sesuatu lainnya – haruslah untuk mendapatkan ridha Allah. Kenyataan bahwa sifat-sifat akhlak seperti ini, dan bahwa manfaatnya telah dibuktikan secara ilmiah, telah dinyatakan dalam banyak ayat Al Qur’an, adalah satu saja dari banyak sumber kearifan yang dikandungnya.

Sikap Memaafkan dan Manfaatnya bagi Kesehatan

Salah satu sifat mulia yang dianjurkan dalam Al Qur’an adalah sikap memaafkan:

Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh. (QS. Al Qur’an, 7:199)

Dalam ayat lain Allah berfirman: "...dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. An Nuur, 24:22)

Mereka yang tidak mengikuti ajaran mulia Al Qur'an akan merasa sulit memaafkan orang lain. Sebab, mereka mudah marah terhadap kesalahan apa pun yang diperbuat. Padahal, Allah telah menganjurkan orang beriman bahwa memaafkan adalah lebih baik:

... dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS. At Taghaabun, 64:14)

Juga dinyatakan dalam Al Qur'an bahwa pemaaf adalah sifat mulia yang terpuji. "Tetapi barang siapa bersabar dan memaafkan, sungguh yang demikian itu termasuk perbuatan yang mulia." (Qur'an 42:43) Berlandaskan hal tersebut, kaum beriman adalah orang-orang yang bersifat memaafkan, pengasih dan berlapang dada, sebagaimana dinyatakan dalam Al Qur'an, "...menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain." (QS. Ali ‘Imraan, 3:134)
Para peneliti percaya bahwa pelepasan hormon stres, kebutuhan oksigen yang meningkat oleh sel-sel otot jantung, dan kekentalan yang bertambah dari keeping-keping darah, yang memicu pembekuan darah menjelaskan bagaimana kemarahan meningkatkan peluang terjadinya serangan jantung. Ketika marah, detak jantung meningkat melebihi batas wajar, dan menyebabkan naiknya tekanan darah pada pembuluh nadi, dan oleh karenanya memperbesar kemungkinan terkena serangan jantung.

Pemahaman orang-orang beriman tentang sikap memaafkan sangatlah berbeda dari mereka yang tidak menjalani hidup sesuai ajaran Al Qur'an. Meskipun banyak orang mungkin berkata mereka telah memaafkan seseorang yang menyakiti mereka, namun perlu waktu lama untuk membebaskan diri dari rasa benci dan marah dalam hati mereka. Sikap mereka cenderung menampakkan rasa marah itu. Di lain pihak, sikap memaafkan orang-orang beriman adalah tulus. Karena mereka tahu bahwa manusia diuji di dunia ini, dan belajar dari kesalahan mereka, mereka berlapang dada dan bersifat pengasih. Lebih dari itu, orang-orang beriman juga mampu memaafkan walau sebenarnya mereka benar dan orang lain salah. Ketika memaafkan, mereka tidak membedakan antara kesalahan besar dan kecil. Seseorang dapat saja sangat menyakiti mereka tanpa sengaja. Akan tetapi, orang-orang beriman tahu bahwa segala sesuatu terjadi menurut kehendak Allah, dan berjalan sesuai takdir tertentu, dan karena itu, mereka berserah diri dengan peristiwa ini, tidak pernah terbelenggu oleh amarah.

Menurut penelitian terakhir, para ilmuwan Amerika membuktikan bahwa mereka yang mampu memaafkan adalah lebih sehat baik jiwa maupun raga. Orang-orang yang diteliti menyatakan bahwa penderitaan mereka berkurang setelah memaafkan orang yang menyakiti mereka. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa orang yang belajar memaafkan merasa lebih baik, tidak hanya secara batiniyah namun juga jasmaniyah. Sebagai contoh, telah dibuktikan bahwa berdasarkan penelitian, gejala-gejala pada kejiwaan dan tubuh seperti sakit punggung akibat stress [tekanan jiwa], susah tidur dan sakit perut sangatlah berkurang pada orang-orang ini.
Memaafkan, adalah salah satu perilaku yang membuat orang tetap sehat, dan sebuah sikap mulia yang seharusnya diamalkan setiap orang

Dalam bukunya, Forgive for Good [Maafkanlah demi Kebaikan], Dr. Frederic Luskin menjelaskan sifat pemaaf sebagai resep yang telah terbukti bagi kesehatan dan kebahagiaan. Buku tersebut memaparkan bagaimana sifat pemaaf memicu terciptanya keadaan baik dalam pikiran seperti harapan, kesabaran dan percaya diri dengan mengurangi kemarahan, penderitaan, lemah semangat dan stres. Menurut Dr. Luskin, kemarahan yang dipelihara menyebabkan dampak ragawi yang dapat teramati pada diri seseorang. Dia melanjutkan dengan mengatakan bahwa:

Permasalahan tentang kemarahan jangka panjang atau yang tak berkesudahan adalah kita telah melihatnya menyetel ulang sistem pengatur suhu di dalam tubuh. Ketika Anda terbiasa dengan kemarahan tingkat rendah sepanjang waktu, Anda tidak menyadari seperti apa normal itu. Hal tersebut menyebabkan semacam aliran adrenalin yang membuat orang terbiasa. Hal itu membakar tubuh dan menjadikannya sulit berpikir jernih – memperburuk keadaan.

Sebuah tulisan berjudul "Forgiveness" [Memaafkan], yang diterbitkan Healing Current Magazine [Majalah Penyembuhan Masa Kini] edisi bulan September-Oktober 1996, menyebutkan bahwa kemarahan terhadap seseorang atau suatu peristiwa menimbulkan emosi negatif dalam diri orang, dan merusak keseimbangan emosional bahkan kesehatan jasmani mereka. Artikel tersebut juga menyebutkan bahwa orang menyadari setelah beberapa saat bahwa kemarahan itu mengganggu mereka, dan kemudian berkeinginan memperbaiki kerusakan hubungan. Jadi, mereka mengambil langkah-langkah untuk memaafkan. Disebutkan pula bahwa, meskipun mereka tahan dengan segala hal itu, orang tidak ingin menghabiskan waktu-waktu berharga dari hidup mereka dalam kemarahan dan kegelisahan, dan lebih suka memaafkan diri mereka sendiri dan orang lain.

Semua penelitian yang ada menunjukkan bahwa kemarahan adalah sebuah keadaan pikiran yang sangat merusak kesehatan manusia. Memaafkan, di sisi lain, meskipun terasa berat, terasa membahagiakan, satu bagian dari akhlak terpuji, yang menghilangkan segala dampak merusak dari kemarahan, dan membantu orang tersebut menikmati hidup yang sehat, baik secara lahir maupun batin. Namun, tujuan sebenarnya dari memaafkan –sebagaimana segala sesuatu lainnya – haruslah untuk mendapatkan ridha Allah. Kenyataan bahwa sifat-sifat akhlak seperti ini, dan bahwa manfaatnya telah dibuktikan secara ilmiah, telah dinyatakan dalam banyak ayat Al Qur’an, adalah satu saja dari banyak sumber kearifan yang dikandungnya.

ANTARA MAHALNYA BIAYA PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN MENCARI ILMU…..

“Teu kudu sakola luhur-luhur teuing,Jang! Nu penting mah bisa neangan duit sing loba! Jang naon sakola oge, ari hasilna ngan saukur macul deui mah!” ujar seorang nenek pada cucunya.
Pernah dengar komentar kaya gini? Kalo misalkan kita yang dinasihati seperti itu, apa perasaan kita? Ugh, yang pasti mah bete banget. Lagian apakah kesuksesan kita dalam menuntut ilmu harus ditandai dengan bekerja yang ngehasilin duit gede? Gak lha yaw!!!
Menuntut ilmu sangatlah diwajibkan bagi setiap muslim. Satu orang yang berilmu lebih baik dari seratus orang ahli ibadah. Bahkan Allah berjanji, akan meninggikan derajat orang yang berilmu dan akan memudahkan jalannya ke surga.
Ilmu gak akan habis dilindas zaman sobat! Bahkan sampai kita meninggal pun pahala ilmu yang bermanfaat akan terus mengalir pada kita. Manfaat ilmu bisa menembus ratusan bahkan ribuan generasi. Sedangkan harta, paling cuma mentok sampe tujuh turunan. Manfaat ilmu jauh lebih tinggi kalo hanya diukur dengan keuntungan materi. Jika kita perhatikan, ternyata daya saing keilmuan generasi muslim saat ini, jauh lebih merosot dibanding keilmuan kaum muslim masa lampau. Penyebab utamanya hanya karena pemikiran kita bahwa ilmu yang kita cari hanyalah untuk mendapatkan keuntungan materi yang banyak.
Menuntut ilmu yang hanya bertujuan untuk mengeruk keuntungan materi , apa pun bentuknya tidak akan kekal dan tidak akan pernah menumbuhkan manfaat yang besar bagi diri kita maupun orang lain. Gak aneh kalo banyak anak pelajar yang merasa sulit ngedapatin kerja setelah mereka lulus. Mereka merasa putus asa duluan karena tuntutan balik modal setelah lulus sehingga tidak dapat memotivasi mereka, untuk terus bersemangat dalam memecahkan ilmu yang rumit dan menghasilkan karya baru. Apalagi biaya sekolah zaman sekarang yang muahal banget. Ukh, kayanya bikin mereka tambah puyeng aza. Entah darimana dan dari siapa kita ditanamkan bahwa tujuan sekolah yang tinggi adalah supaya kita mendapatkan gaji yang gede and kerjaan yang bagus.
Ilmu yang digali karena kesungguhan hati dan kesadaran yang penuh bahwa ilmu jauh lebih bermanfaat bagi harkat hidup kemanusiaan daripada menuntut ilmu sekedar ingin mendapat uang yang banyak, jauh lebih tinggi derajatnya dimata Allah. Lihat saja ilmu matematika dan astronomi yang digagas oleh Abul Wafa Muhammad al Buzjani di abad 940 M, ilmu optik yang ditemukan oleh Ibnu Haitam, Abu Musa Jabir Ibnu Hayyan yang menemukan ilmu kimia, atau al-Khawarizmi penemu angka nol, dan serentetan penemu lainnya. Kerja keras mereka, sangatlah kita rasakan manfaatnya setelah beribu-ribu tahun lamanya mereka meninggal. Gagasan mereka, telah membuat manusia saat ini lebih maju, bisa ekspedisi ke luar angkasa, bahkan melakukan rekayasa genetika. Itulah pencarian ilmu yang sebenar-benarnya, demi menguak misteri kehidupan dan kemajuan peradaban manusia. Dengan bantuan tangan Allah, ilmu tersebut telah sampai manfaatnya pada berlapis-lapis manusia di seluruh penjuru dunia.
Bukan hanya kita yang dituntut untuk sadar dalam mencari ilmu, bahkan pemerintah pun berkewajiban memenuhi sarana-sarana pendidikan, sistemnya, dan orang-orang yang digaji untuk mendidik kita. Negara Islam sangatlah menghargai pendidikan. Contohnya mereka menerapkan sistem bebas biaya. Seperti Madrasah Al-Muntashiriah di Baghdad yang setiap siswanya menerima beasiswa berupa emas seharga 1 dinar (1 dinar = 4.25 gr emas). Selain itu,kebutuhan hidup mereka pun dijamin sepenuhnya oleh negara. Subhanallah, sungguh sejahteranya sistem pendidikan di negeri sana.
Beda banget sama sistem pendidikan di negara kita ini. Mulai dari biaya sekolah yang mahal, fasilitas belajar mengajar yang kurang memadai, atau nasib pengajarnya, selalu ada masalah. Selain itu, kurikulum nasional pun gak mampu mengatasi jutaan lulusan SMA yang terpaksa menganggur, karena tidak memiliki keterampilan untuk berwirausaha dan bekerja.
So, hayu ah, kita cari ilmu sebanyak-banyaknya. Yang penting kita selalu ikhlas dalam mencari ilmu, sabar menghadapi ujian ketika menimba ilmu and jangan malas-malasan. Insya Allah, ilmu yang kita cari gak bakalan sia-sia. Selain itu, kita harus bisa berbuat dan melihat dari sisi pandang baru, bahwa ilmu demi materi bukanlah tujuan satu. Ada sisi pandang lain yang lebih besar yaitu ilmu bisa merubah sesuatu yang gak baik menjadi lebih baik. Kita harus menerapkan sifat kerja keras dalam diri kita, seperti kerja kerasnya para Ilmuwan Islam demi kemajuan ilmu kaumnya. Sehingga pelajar Indonesia bisa lebih kreatuf dan maju and gak ketinggalan terus oleh negara-negara lain…Ok!!!
SEMANGATTTT…..