”Lakukanlah segala kebaikan yang bisa kita kerjakan, selama kita bisa dan harus selalu berusaha untuk BISA....”
“Subhanallah, kata penyemangat yang dahsyat!!!” gumamku sambil menutup lembaran akhir majalah pemberian kak Syifa. Segera kumasukkan majalah itu kedalam tas.
Semalam Kak Syifa pulang dengan membawa seabreg buku untukku. Seperti biasa, tanpa babibu segera kuraih buku-buku itu dari tangannya, itung-itung meringankan beban dia. Hehe…Aku suka lihat senyum manis Kak Syifa, walaupun wajahnya kelihatan sangat lelah saat itu.
“Kakak senang….nanti kakak beli lagi ya. Insya Alloh!!!” janji Kak Syifa sambil memamerkan senyum manisnya itu. Selalu itu yang ia katakan. Buku seolah-olah sudah menjadi oleh-oleh wajib setiap dia pulang. Ntah sudah berapa banyak buku pemberiannya. Yang pasti sekarang rak ‘perpustakaan mini’ di kamarku telah dipenuhi koleksi buku dari Kak Syifa.
“ Meskipun dari kampung, pemikiran kita gak boleh ngampung!!!Makanya tanamkan semangat membaca dari sekarang, agar kita mempu bersaing dengan orang-orang kota..oke!!!” pesan Kak Syifa suatu hari.
****
“ Daaarrrr!!!!! Hayoo..ngelamun terus Naf…kunaon atuh??” gadis manis itu mengagetkanku.
“Astaghfirullah, ichaa! Untung aku gak jantungan. Lagian hobi banget sih ngagetin orang!!!” bentakku.
Eh, yang dibentak malah mesem-mesem sendiri sambil nunjukin wajah usilnya.
“ Aih, Nafisa!!! Laa taghdhab…aku kan cuma becanda. Hehe..yaudah, aku daftarin Facebook ya cantik.” Bujuk icha.
“Fb????gak usah ah cha….!!” Jawabku ragu.
“Ga apa-apa ko Naf!!!.Fb banyak manfaatnya juga lho. Lewat Fb, kita bisa sharing sama anak-anak rohis dari sekolah lain, belum lagi banyak ilmu yang akan kita dapat dari mereka. Ya kan???gak usah khawatir gitu lah.” Lagi-lagi bujukan sahabatku ini mengalahkanku. Gak tega rasanya lihat icha kecewa.
“Yaudah, tapi gak janji sering aku buka lho Fb-nya..”
“Iya, terserah kamu aja deh..aku buatin sekarang ya!” tawar icha penuh semangat.
Aku hanya bisa mengangguk mendengar tawarannya. Kebetulan hari ini Pak Tedi guru fisika kami gak hadir. Jadi icha bisa dengan bebas memainkan Accer hitam kesayangannya. Wajahnya berseri-seri saat ia mulai berselancar di dunia maya. Ah, aku bahkan gak tertarik dengan berbagai aktivitas seperti itu. Bagiku cukuplah dunia maya sebagai salah satu media informasi bukan untuk main-main.
****
“Makasih ya cha!” kuraih HP-ku dari tangannya sambil melemparkan senyumku.
Ya, setelah berhasil mendaftarkan aku di Facebook icha langsung meminjam HP-ku. Aku pun meminjamkannya tanpa curiga. Kuperhatikan saja tangan mungilnya yang menari lincah diatas keypad HP-ku. Sesekali ia tersenyum riang tanda kemenangan.
“Sama-sama..udah mau nyampe rumah kamu tuh. Siap-siap gih!!” icha mengingatkan.
“Yup,Duluan ya cha…Assalamu’alaikum ukhti!!” aku pamit, berlari kecil mendekati pintu bis. Sayup kudengar teriakan icha.
“Wa’alaikumussalaam…jangan lupa coba dibuka di rumah ya Naf Fb-nya!! Udah aku sediain tuh aplikasinya di HP kamu.”
Kulambaikan tanganku pada icha tanda mengerti. Bis pun berhenti tepat di depan rumah sederhanaku.
****
Letih, segera kurebahkan badanku setelah kulahap habis satu buku seri Motivasi pemberian kak Syifa semalam. Rakus ya…gak apa!!! asalkan itu bisa membuatku menjadi lebih baik, kenapa tidak segera kulahap ilmunya?
“Icha tadi masukkan aplikasi apa ya???ah, gak ada salahnya aku coba. Anggap saja sebagai tanda bahwa aku menghargainya. Sekali ini saja, mudah-mudah gak keterusan!” gumamku dalam hati.
Tiba-tiba rasa penasaran menjalar dalam hatiku. Kuraih Sony Ericsson K700i kesayanganku.
Klik..kubuka salah satu aplikasi itu. Kutuliskan alamat Facebookku didalamnya. Loading…aku tak sabar menunggu. Ada apakah gerangan dibalik Facebook itu? Complete.. akhirnya Fb-ku terbuka sudah. Kujelajahi akun baruku itu. Sepertinya Icha sudah menambahkan banyak teman untukku. Kucoba mengisi status Fb-ku dengan kata hikmah yang kudapat tadi pagi.
Waaah…Subhanallah begitu banyak teman yang memberi komentar di statusku. Aku pun mulai asyik membalas komentar-komentar itu. Hmm… Benar kata icha, aku bisa dapat banyak ilmu disini. Senangnya bisa diskusi dengan banyak ikhwah di dunia maya. Tapi tiba-tiba saja koneksi internet di HP-ku terputus. Oow, ternyata pulsaku habis.
“Lho???tadi kan masih ada 2000, ko udah habis lagi…? Yah, padahal lagi seru-serunya diskusi nih.” Aku ngedumel sendiri dalam hati. “Ahaa, isi lagi aja ah pulsanya…masih ada uang simpanan ini.”
Tiba-tiba saja aku merasa mendapat energi untuk pergi membeli pulsa ke Counter Wafa, satu-satunya Counter yang ada di kampungku. Aneh, biasanya aku paling malas kalau harus jalan kaki ke Counter Wafa hanya untuk beli pulsa 5 ribu. Maklum jaraknya dari rumahku cukup jauh. Biasanya sih kalau isi pulsa cukup kirim SMS ke Mang Entis yang punya Counter itu. Barulah aku bayar besoknya sambil berangkat sekolah. Sayangnya sisa pulsaku sekarang gak cukup untuk ngirim 1 SMS pun. Yah, kutanggung sendiri deh akibatnya.
****
Dua bulan sudah aku aktif di dunia maya. Ntah itu untuk sekedar mencari informasi atau hanya main-main. Jangkauan komunikasinya pun sekarang semakin meluas mulai dari YM, Gtalk, dan Nimbuzz. Aku ketagihan chatting. Ya seperti itulah, seakan ada virus dunia maya yang begitu dahsyat menyerangku. Susah melepasnya. Waktu luang yang biasa kumanfaatkan untuk membaca kini kugunakan hanya untuk menyapa teman-teman yang online di YM atau yang lainnya.
Lihatlah buku-buku di rak ‘perpustakaan miniku’ semakin tak terawat, usang dan berdebu. Belum lagi setumpuk oleh-oleh wajib dari Kak Syifa 1 bulan lalu, masih teronggok diatas meja belajarku. Sama sekali belum tersentuh mpunya. Andai kak Syifa tahu, masihkah dia tersenyum manis untukku??Kakak…maafkan Nafisa!
Tidak hanya itu, pengeluaranku pun semakin tidak terkontrol karena seringnya beli pulsa. Pulsa 5 ribu yang biasanya kutargetkan habis selama 2 minggu, kini hanya terpakai 2-3 hari saja. Astaghfirullah…bukankah orang-orang yang boros itu temannya Syaithan??
Dilihat dari segi manfaatnya sih kuakui banyak yang kudapat darisana. Lewat itu semua aku bisa memperluas silaturahmi dengan saudara-saudara muslim di seluruh dunia khususnya Indonesia, selain itu banyak ilmu yang kudapat dari teman-teman dunia mayaku.
Subhanallah….tapi aku pun tak harus mengorbankan banyak waktu untuk melakukannya. Ntah sampai kapan kelalaian ini berakhir seandainya aku tidak menyadarinya dari sekarang. Aku gak berhak menyalahkan Icha yang telah memgenalkanku pada dunia ini. Karena ini salahku yang telah mengonsumsi internet secara berlebihan diluar kebutuhan. Meskipun pada dasarnya Icha ikut andil dalam masalah ini.
Aku teringat materi mentoring minggu lalu yang sempat membuatku bergidik. Saat itu mentorku menyampaikan perkataan Ibnu Qayyim Al-Jauziyah tentang kelalaian manusia :
“Dan barangsiapa memperhatikan keadaan manusia, maka dia pasti dapatkan mereka seluruhnya –kecuali sedikit saja- merupakan golongan dari orang-orang yang hatinya lalai dari mengingat Alloh SWT, mereka mengikuti hawa nafsunya, sehingga urusan-urusan dan kepentingan mereka terabaikan, yaitu mereka kurang perhatian terhadap hal-hal yang mendatangkan manfaat dan kemaslahatan baginya, sedang mereka menyibukkan diri dengan hal-hal yang sama sekali tidak bermanfaat baginya, bahkan justru mendatangkan malapetaka bagi mereka, baik sekarang maupun di masa mendatang.”
Ah Yaa Rabb, benarlah adanya bahwa eksistensiku untuk mengingatMu sudah tak semantap dulu lagi. Waktu panjang yang seharusnya kugunakan untuk bertemu dengan-Mu kian terkikis oleh kelalaian-kelalaian yang merugikan. Sehingga durasi untuk menyapa-Mu pun semakin berkurang. Padahal aku harus menyiapkan banyak amunisi untuk menghadapi akhirat nanti.
Cukuplah pengalaman itu kujadikan cambuk untuk memperbaiki diri. Karena aku tak ingin hidayah-Mu memudar hingga hatiku pias tanpa kesejukan mengingatMu.
Rasanya diri ini semakin bergetar ketakutan saat mengingat laranganMu itu..
“….Janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (Al-Araf 205)
Yaa Ghaffar, ampuni aku yang telah lalai.
Kuputuskan untuk MENGAKHIRINYA!!!!!!
(hehe….dibuat pas lagi sering2nya chatting…sayang belum bisa benar-benar mengakhiri aslinya mah. Masih dalam proses, InsyaAlloh!!!!setidaknya sekarang udah bisa mengurangi jatah internetan…Ya, masih banyak yang harus dilakukan selain ini. Tetap seMangaaaat!!!!!!!!)
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Kamis, 08 Oktober 2009
Selasa, 24 Februari 2009
Om Rian…
Pagi ini hujan semakin deras. Kubuka jendela kamar, dinginnya udara membuatku sangat menggigil. Segera kupakai mantel biru kesukaanku, lalu aku pun kembali mendekati jendela. Kuperhatikan air hujan yang berjatuhan, Ada rasa rindu terbersit di hati setelah 4 bulan lamanya hujan tak menyapaku. “ Terima kasih Allah, Kau telah akhiri kemarau yang panjang ini.” gumamku dalam hati.
Tiba-tiba HP-ku berderit, nyaris mengagetkanku. Segera kuraih Nokia 6600 kesayanganku.
“ Hallo..! Assalamualaikum, ada apa Bunda?” sapaku
“ Waalaikumsalam, Dinda! Gak ada apa-apa ko. Kamu udah sarapan belum?” Tanya Bunda di seberang sana.
“ Baru aja mu sarapan! Bunda kapan pulang? Dinda kesal ni sendirian terus di rumah!”
“ Bunda juga belum tau! Paling 1 atau 2 minggu lagi, Bunda pulang. Kan ada Bi Inah, masa kesal si?”
“ Tadi pagi Bi Inah pulang, katanya Mang Asep sakit. Ah Bunda! Ko pulangnya lama banget si? Oya Bun, boleh gak Dinda ajak Tiara nginap disini? Dinda kan takut tidur sendirian!”
“ Ya udah, boleh ko! Udah dulu ya, workshopnya udah dimulai tuh! Assalamualaikum, hati-hati di rumah ya sayang!”
“ Waalaikumsalam, sama-sama, Bun!” jawabku sambil menyimpan HP.
*****
“ Duh, Tiara mana ya? Ko belum datang juga?”
Tiba-tiba…( Tok..tok..tok..) “ Nah, pasti Tiara!” ujarku sambil membukakan pintu.
“ Tiara, kamu ko lama ba…. Om Rian??? Ko Om pulang? bukannya kemarin Om masih di Australia??” tanyaku kaget..
“ Assalamualaikum Dinda! kamu kaget ya? Maaf, Om gak sempat ngasih tau kamu kalo Om mu pulang! kebetulan Om libur kuliah satu bulan. Di Australia kan lagi musim semi!” ujar Om Rian.
“ Waalaikumsalam! Iya ni, Om Rian bikin Dinda kaget aja. O.. gitu ya! masuk yu Om.”
“ Makasih, Bunda sama Ayah kemana? Rumah ko sepi?”
“ Bunda ma Ayah lagi dinas di luar kota, jadinya Dinda sendirian di rumah! Eh..taunya Om datang, Dinda seneng banget lo Om! Dinda kangen banget ma Om. Ya udah, Om istirahat dulu gih! Terus jangan lupa mandi, badan Om bau banget!”
“ Ye…ni anak! Orang baru datang, langsung disuruh mandi.”
“ Aduh… ampun! Jangan nyubit donk, baru datang udah nyebelin!”
Om Rian pun masuk kamarnya sambil nyengir. Kuperhatikan dia sampai pintu. MasyaAllah, kepala Om Rian ko berdarah?? Aku pun segera mendekatinya, terlihat darah segar membasahi rambutnya. Ya Alloh… ada apa dengan Om Rian? Aku nyaris berteriak, kaget. Tapi tiba-tiba HPku bergetar ‘1 new message’ “ Din, kayanya aku ga jadi ke rumah kamu. Ibu ngadak-ngadak sakit, gak apa-apa kan Din? Sorry!”. Kubaca SMS dari Tiara, aku pun segera membalasnya.
“ Din, tolong dong jemur handuk Om!” teriak Om Rian dari kamar, refleks aku pun kaget.
“ Iya Om, sebentar! Dinda lagi balas SMS teman dulu ni, lagian diluar kan hujan!”
“ Cie…teman apa teman? jadi curiga nih. Kamu punya pacar ya? Ya udah, Om gak jadi jemur handuknya deh!”
“ Ye.. main curigaan aja! Pacar??? Gak juga ko! Nah..gitu donk, Dinda kan gak jadi repot.”
“ Dinda keponakan Om yang cantik, bukannya Om curiga! Tapi, Om mu pesan ma kamu. Kamu harus belajar yang benar, jangan dulu deh pacaran! Kalo kamu udah sukses kan enak. Jodoh mah tar juga datang sendiri, Okey!” nasihat Om Rian
“ Iya Omku yang baik, Dinda mau belajar yang benar and gak bakalan pacaran dulu deh!” janjiku sama Om Rian.
“ Oya Din, jalan-jalan keluar yuk! Om lapar ni.. gimana kalo kita ke restoran Sunda. Om kangen banget ma pasakan Sunda. Lagian di Australia mah makanannya gak bersahabat di lidah, gak variatif juga menurut om.” keluh Om Rian
“ Iya ni, Dinda juga lapar. Yu akh…. Eh, bentar dulu Om! Kesananya pake apa? Pake motor Dinda aja ya!”
“ Ya udah, kamu ambil kuncinya gih! Biar Om yang nyetir.”
Aku segera berlari ke kamar untuk mengambil kunci. Kuberikan kunci motorku pada Om Rian. Om Rian pun langsung tancap gas.
Setibanya di restoran, kami disambut hangat oleh para pelayan. Karena perut kami udah keroncongan banget, kami segera memesan makanan and langsung makan. Kulihat Om Rian makan dengan lahap. Tapi… darah yang tadi aku lihat di kepalanya ko hilang??? Lagian, kenapa wajahnya pucat ??? Akh, mungkin cuma kecapain, jarak Australia-Indonesia kan jauh banget. Tapi darah itu bikin aku makin penasaran.
“ Din, ko malah melongo sih? Ayo makan!” tiba-tiba Om Rian membuyarkan lamunanku.
“ Eh...i…iya Om!” jawabku.
Setelah perut kami terisi penuh, kami pun segera pulang. Sepanjang perjalanan, aku terus memikirkan kejadian itu. Akhirnya kuputuskan untuk menanyakannya sama Om Rian, nanti setibanya di rumah.
“ Ukh, masuk yu ah Din! Om udah kedinginan banget nih!” ajak Om Rian setelah menyimpan motorku di garasi.
Kami segera menuju ruang tengah dan segera menonton kartun Tom and Jerry. Ternyata selera Om Rian masih kaya anak kecil. Tiba-tiba, aku teringat akan niatku tadi,
“ Om, wajah Om ko pucat banget? Om cape ya? istirahat dulu gih, Dinda ambilin selimut ya biar Om gak kedinginan.” Tawarku.
“ Gak usah Din, disini udah hangat ko! Om pucat ya? Tapi, Om gak apa-apa ko. Swear…!”
“ Oh… ! tapi, boleh gak Dinda nanya sesuatu ma Om????”
“ Emang kamu mu nanya apa Dinda? kayanya serius banget ni!”
“ Gini… tadi, Dinda ngeliat darah di kepala Om! Om sakit ya???”
“ Akh, kamu salah liat kali! Coba deh perhatiin sekarang, apa kepala Om masih ada darahnya? Gak kan?”
“ Iya si! Tapi, tadi Dinda bener-bener liat ko Om!”
“ Ya udah, jangan terlalu dipikirin. Mungkin kamu cuma berhalusinasi!” pinta Om Rian.
“ Tapi, Dinda khawatir banget sama Om!”
“ Udah…! tuh liat, kartunnya lucu banget!”
Aku pun segera membalikan kepalaku ke arah TV. Tapi, rasa penasaran itu mendorongku untuk bertanya sekali lagi sama Om Rian. Sayang, Om Rian tidur. Akhirnya kuurungkan niat tersebut. Kupandangi Om Rian, dia memang sosok cowo yang ideal. Bayangin deh, punya wajah ganteng, soleh, bahkan otaknya pun bener-bener kaya Einstein. Kuliahnya aja di Trinity College Melbourne Australia, dapat beasiswa lagi. Wow… keren banget kan! Pasti banyak cewe yang naksir. Ah, kalau aja aku punya suami kaya Om Rian, pasti aku bangga banget. He… masih anak SMP ko udah mikirin nikah ya??
Saking serunya ngelamun, gak terasa aku jadi pengen ikutan tidur.
*****
( Tok…Tok…Tok ) tiba-tiba sebuah ketukan pintu membangunkanku. Tapi, Om Rian mana ya? ah, mungkin lagi sholat. Kebetulan aku lagi haid, jadinya aku gak sholat. Ketukan pintu itu terdengar lagi, aku pun segera menuju ruang tamu dan membukakan pintu.
“Bunda….?”
Seketika itu Bunda langsung memelukku.
“ Ada apa Bunda? Bunda ko nangis? Lagian kenapa Bunda udah pulang? bukannya tadi Bunda bilang seminggu lagi?” tanyaku sewot
“ Sayang, Bunda harap kamu gak kaget dengar berita yang Bunda bawa!”
“ Ada apa si? Dinda bingung ni Bun!”
Bunda pun segera mengajakku duduk di sofa.
“ Sayang, semalam Om Rian kirim E-mail sama Bunda katanya hari ini dia mu pulang. Tapi, barusan Bunda dapat telepon dari bandara di Australia. Katanya pesawat yang Om Rian naiki tergelincir. Dan Om Rian…Om Rian meninggal Dinda, hiks…” cerita bunda sambil terus menangis.
“ Ah, mereka salah liat mungkin Bun! Om Rian udah datang ko..liat aja deh Bun!” segera kutarik tangan Bunda menuju kamar Om Rian akan kutunjukan bukti kalo Om Rian benar-benar sudah pulang.
Tapi, hatiku sungguh kaget. Kamar Om Rian masih seperti dulu sebelum dia pulang. Langsung kuperiksa lemari Om Rian, kosong… Lalu, koper yang tadi aku simpan mana? Merasa belum yakin, aku pun mengajak Bnda ke ruang tengah, yang ada cuma bantal yang tadi kupakai. Bungkus Phitato yang tadi Om Rian makan ko gak ada??? Om Rian dimana???
Seketika itu darahku seakan berhenti mengalir. Astaghfirulloh… Om Rian…!Aku pun memeluk Bunda dengan erat dan menangis sejadi-jadinya.
(Cerpen Nisa yang pertama nih…waktu itu masih kelas 2 SMP…Afwan ya kawan kalo alurnya masih ga nyambung..he2)
Tiba-tiba HP-ku berderit, nyaris mengagetkanku. Segera kuraih Nokia 6600 kesayanganku.
“ Hallo..! Assalamualaikum, ada apa Bunda?” sapaku
“ Waalaikumsalam, Dinda! Gak ada apa-apa ko. Kamu udah sarapan belum?” Tanya Bunda di seberang sana.
“ Baru aja mu sarapan! Bunda kapan pulang? Dinda kesal ni sendirian terus di rumah!”
“ Bunda juga belum tau! Paling 1 atau 2 minggu lagi, Bunda pulang. Kan ada Bi Inah, masa kesal si?”
“ Tadi pagi Bi Inah pulang, katanya Mang Asep sakit. Ah Bunda! Ko pulangnya lama banget si? Oya Bun, boleh gak Dinda ajak Tiara nginap disini? Dinda kan takut tidur sendirian!”
“ Ya udah, boleh ko! Udah dulu ya, workshopnya udah dimulai tuh! Assalamualaikum, hati-hati di rumah ya sayang!”
“ Waalaikumsalam, sama-sama, Bun!” jawabku sambil menyimpan HP.
*****
“ Duh, Tiara mana ya? Ko belum datang juga?”
Tiba-tiba…( Tok..tok..tok..) “ Nah, pasti Tiara!” ujarku sambil membukakan pintu.
“ Tiara, kamu ko lama ba…. Om Rian??? Ko Om pulang? bukannya kemarin Om masih di Australia??” tanyaku kaget..
“ Assalamualaikum Dinda! kamu kaget ya? Maaf, Om gak sempat ngasih tau kamu kalo Om mu pulang! kebetulan Om libur kuliah satu bulan. Di Australia kan lagi musim semi!” ujar Om Rian.
“ Waalaikumsalam! Iya ni, Om Rian bikin Dinda kaget aja. O.. gitu ya! masuk yu Om.”
“ Makasih, Bunda sama Ayah kemana? Rumah ko sepi?”
“ Bunda ma Ayah lagi dinas di luar kota, jadinya Dinda sendirian di rumah! Eh..taunya Om datang, Dinda seneng banget lo Om! Dinda kangen banget ma Om. Ya udah, Om istirahat dulu gih! Terus jangan lupa mandi, badan Om bau banget!”
“ Ye…ni anak! Orang baru datang, langsung disuruh mandi.”
“ Aduh… ampun! Jangan nyubit donk, baru datang udah nyebelin!”
Om Rian pun masuk kamarnya sambil nyengir. Kuperhatikan dia sampai pintu. MasyaAllah, kepala Om Rian ko berdarah?? Aku pun segera mendekatinya, terlihat darah segar membasahi rambutnya. Ya Alloh… ada apa dengan Om Rian? Aku nyaris berteriak, kaget. Tapi tiba-tiba HPku bergetar ‘1 new message’ “ Din, kayanya aku ga jadi ke rumah kamu. Ibu ngadak-ngadak sakit, gak apa-apa kan Din? Sorry!”. Kubaca SMS dari Tiara, aku pun segera membalasnya.
“ Din, tolong dong jemur handuk Om!” teriak Om Rian dari kamar, refleks aku pun kaget.
“ Iya Om, sebentar! Dinda lagi balas SMS teman dulu ni, lagian diluar kan hujan!”
“ Cie…teman apa teman? jadi curiga nih. Kamu punya pacar ya? Ya udah, Om gak jadi jemur handuknya deh!”
“ Ye.. main curigaan aja! Pacar??? Gak juga ko! Nah..gitu donk, Dinda kan gak jadi repot.”
“ Dinda keponakan Om yang cantik, bukannya Om curiga! Tapi, Om mu pesan ma kamu. Kamu harus belajar yang benar, jangan dulu deh pacaran! Kalo kamu udah sukses kan enak. Jodoh mah tar juga datang sendiri, Okey!” nasihat Om Rian
“ Iya Omku yang baik, Dinda mau belajar yang benar and gak bakalan pacaran dulu deh!” janjiku sama Om Rian.
“ Oya Din, jalan-jalan keluar yuk! Om lapar ni.. gimana kalo kita ke restoran Sunda. Om kangen banget ma pasakan Sunda. Lagian di Australia mah makanannya gak bersahabat di lidah, gak variatif juga menurut om.” keluh Om Rian
“ Iya ni, Dinda juga lapar. Yu akh…. Eh, bentar dulu Om! Kesananya pake apa? Pake motor Dinda aja ya!”
“ Ya udah, kamu ambil kuncinya gih! Biar Om yang nyetir.”
Aku segera berlari ke kamar untuk mengambil kunci. Kuberikan kunci motorku pada Om Rian. Om Rian pun langsung tancap gas.
Setibanya di restoran, kami disambut hangat oleh para pelayan. Karena perut kami udah keroncongan banget, kami segera memesan makanan and langsung makan. Kulihat Om Rian makan dengan lahap. Tapi… darah yang tadi aku lihat di kepalanya ko hilang??? Lagian, kenapa wajahnya pucat ??? Akh, mungkin cuma kecapain, jarak Australia-Indonesia kan jauh banget. Tapi darah itu bikin aku makin penasaran.
“ Din, ko malah melongo sih? Ayo makan!” tiba-tiba Om Rian membuyarkan lamunanku.
“ Eh...i…iya Om!” jawabku.
Setelah perut kami terisi penuh, kami pun segera pulang. Sepanjang perjalanan, aku terus memikirkan kejadian itu. Akhirnya kuputuskan untuk menanyakannya sama Om Rian, nanti setibanya di rumah.
“ Ukh, masuk yu ah Din! Om udah kedinginan banget nih!” ajak Om Rian setelah menyimpan motorku di garasi.
Kami segera menuju ruang tengah dan segera menonton kartun Tom and Jerry. Ternyata selera Om Rian masih kaya anak kecil. Tiba-tiba, aku teringat akan niatku tadi,
“ Om, wajah Om ko pucat banget? Om cape ya? istirahat dulu gih, Dinda ambilin selimut ya biar Om gak kedinginan.” Tawarku.
“ Gak usah Din, disini udah hangat ko! Om pucat ya? Tapi, Om gak apa-apa ko. Swear…!”
“ Oh… ! tapi, boleh gak Dinda nanya sesuatu ma Om????”
“ Emang kamu mu nanya apa Dinda? kayanya serius banget ni!”
“ Gini… tadi, Dinda ngeliat darah di kepala Om! Om sakit ya???”
“ Akh, kamu salah liat kali! Coba deh perhatiin sekarang, apa kepala Om masih ada darahnya? Gak kan?”
“ Iya si! Tapi, tadi Dinda bener-bener liat ko Om!”
“ Ya udah, jangan terlalu dipikirin. Mungkin kamu cuma berhalusinasi!” pinta Om Rian.
“ Tapi, Dinda khawatir banget sama Om!”
“ Udah…! tuh liat, kartunnya lucu banget!”
Aku pun segera membalikan kepalaku ke arah TV. Tapi, rasa penasaran itu mendorongku untuk bertanya sekali lagi sama Om Rian. Sayang, Om Rian tidur. Akhirnya kuurungkan niat tersebut. Kupandangi Om Rian, dia memang sosok cowo yang ideal. Bayangin deh, punya wajah ganteng, soleh, bahkan otaknya pun bener-bener kaya Einstein. Kuliahnya aja di Trinity College Melbourne Australia, dapat beasiswa lagi. Wow… keren banget kan! Pasti banyak cewe yang naksir. Ah, kalau aja aku punya suami kaya Om Rian, pasti aku bangga banget. He… masih anak SMP ko udah mikirin nikah ya??
Saking serunya ngelamun, gak terasa aku jadi pengen ikutan tidur.
*****
( Tok…Tok…Tok ) tiba-tiba sebuah ketukan pintu membangunkanku. Tapi, Om Rian mana ya? ah, mungkin lagi sholat. Kebetulan aku lagi haid, jadinya aku gak sholat. Ketukan pintu itu terdengar lagi, aku pun segera menuju ruang tamu dan membukakan pintu.
“Bunda….?”
Seketika itu Bunda langsung memelukku.
“ Ada apa Bunda? Bunda ko nangis? Lagian kenapa Bunda udah pulang? bukannya tadi Bunda bilang seminggu lagi?” tanyaku sewot
“ Sayang, Bunda harap kamu gak kaget dengar berita yang Bunda bawa!”
“ Ada apa si? Dinda bingung ni Bun!”
Bunda pun segera mengajakku duduk di sofa.
“ Sayang, semalam Om Rian kirim E-mail sama Bunda katanya hari ini dia mu pulang. Tapi, barusan Bunda dapat telepon dari bandara di Australia. Katanya pesawat yang Om Rian naiki tergelincir. Dan Om Rian…Om Rian meninggal Dinda, hiks…” cerita bunda sambil terus menangis.
“ Ah, mereka salah liat mungkin Bun! Om Rian udah datang ko..liat aja deh Bun!” segera kutarik tangan Bunda menuju kamar Om Rian akan kutunjukan bukti kalo Om Rian benar-benar sudah pulang.
Tapi, hatiku sungguh kaget. Kamar Om Rian masih seperti dulu sebelum dia pulang. Langsung kuperiksa lemari Om Rian, kosong… Lalu, koper yang tadi aku simpan mana? Merasa belum yakin, aku pun mengajak Bnda ke ruang tengah, yang ada cuma bantal yang tadi kupakai. Bungkus Phitato yang tadi Om Rian makan ko gak ada??? Om Rian dimana???
Seketika itu darahku seakan berhenti mengalir. Astaghfirulloh… Om Rian…!Aku pun memeluk Bunda dengan erat dan menangis sejadi-jadinya.
(Cerpen Nisa yang pertama nih…waktu itu masih kelas 2 SMP…Afwan ya kawan kalo alurnya masih ga nyambung..he2)
Langganan:
Postingan (Atom)
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
CAMBUK
”Lakukanlah segala kebaikan yang bisa kita kerjakan, selama kita bisa dan harus selalu berusaha untuk BISA....”
“Subhanallah, kata penyemangat yang dahsyat!!!” gumamku sambil menutup lembaran akhir majalah pemberian kak Syifa. Segera kumasukkan majalah itu kedalam tas.
Semalam Kak Syifa pulang dengan membawa seabreg buku untukku. Seperti biasa, tanpa babibu segera kuraih buku-buku itu dari tangannya, itung-itung meringankan beban dia. Hehe…Aku suka lihat senyum manis Kak Syifa, walaupun wajahnya kelihatan sangat lelah saat itu.
“Kakak senang….nanti kakak beli lagi ya. Insya Alloh!!!” janji Kak Syifa sambil memamerkan senyum manisnya itu. Selalu itu yang ia katakan. Buku seolah-olah sudah menjadi oleh-oleh wajib setiap dia pulang. Ntah sudah berapa banyak buku pemberiannya. Yang pasti sekarang rak ‘perpustakaan mini’ di kamarku telah dipenuhi koleksi buku dari Kak Syifa.
“ Meskipun dari kampung, pemikiran kita gak boleh ngampung!!!Makanya tanamkan semangat membaca dari sekarang, agar kita mempu bersaing dengan orang-orang kota..oke!!!” pesan Kak Syifa suatu hari.
****
“ Daaarrrr!!!!! Hayoo..ngelamun terus Naf…kunaon atuh??” gadis manis itu mengagetkanku.
“Astaghfirullah, ichaa! Untung aku gak jantungan. Lagian hobi banget sih ngagetin orang!!!” bentakku.
Eh, yang dibentak malah mesem-mesem sendiri sambil nunjukin wajah usilnya.
“ Aih, Nafisa!!! Laa taghdhab…aku kan cuma becanda. Hehe..yaudah, aku daftarin Facebook ya cantik.” Bujuk icha.
“Fb????gak usah ah cha….!!” Jawabku ragu.
“Ga apa-apa ko Naf!!!.Fb banyak manfaatnya juga lho. Lewat Fb, kita bisa sharing sama anak-anak rohis dari sekolah lain, belum lagi banyak ilmu yang akan kita dapat dari mereka. Ya kan???gak usah khawatir gitu lah.” Lagi-lagi bujukan sahabatku ini mengalahkanku. Gak tega rasanya lihat icha kecewa.
“Yaudah, tapi gak janji sering aku buka lho Fb-nya..”
“Iya, terserah kamu aja deh..aku buatin sekarang ya!” tawar icha penuh semangat.
Aku hanya bisa mengangguk mendengar tawarannya. Kebetulan hari ini Pak Tedi guru fisika kami gak hadir. Jadi icha bisa dengan bebas memainkan Accer hitam kesayangannya. Wajahnya berseri-seri saat ia mulai berselancar di dunia maya. Ah, aku bahkan gak tertarik dengan berbagai aktivitas seperti itu. Bagiku cukuplah dunia maya sebagai salah satu media informasi bukan untuk main-main.
****
“Makasih ya cha!” kuraih HP-ku dari tangannya sambil melemparkan senyumku.
Ya, setelah berhasil mendaftarkan aku di Facebook icha langsung meminjam HP-ku. Aku pun meminjamkannya tanpa curiga. Kuperhatikan saja tangan mungilnya yang menari lincah diatas keypad HP-ku. Sesekali ia tersenyum riang tanda kemenangan.
“Sama-sama..udah mau nyampe rumah kamu tuh. Siap-siap gih!!” icha mengingatkan.
“Yup,Duluan ya cha…Assalamu’alaikum ukhti!!” aku pamit, berlari kecil mendekati pintu bis. Sayup kudengar teriakan icha.
“Wa’alaikumussalaam…jangan lupa coba dibuka di rumah ya Naf Fb-nya!! Udah aku sediain tuh aplikasinya di HP kamu.”
Kulambaikan tanganku pada icha tanda mengerti. Bis pun berhenti tepat di depan rumah sederhanaku.
****
Letih, segera kurebahkan badanku setelah kulahap habis satu buku seri Motivasi pemberian kak Syifa semalam. Rakus ya…gak apa!!! asalkan itu bisa membuatku menjadi lebih baik, kenapa tidak segera kulahap ilmunya?
“Icha tadi masukkan aplikasi apa ya???ah, gak ada salahnya aku coba. Anggap saja sebagai tanda bahwa aku menghargainya. Sekali ini saja, mudah-mudah gak keterusan!” gumamku dalam hati.
Tiba-tiba rasa penasaran menjalar dalam hatiku. Kuraih Sony Ericsson K700i kesayanganku.
Klik..kubuka salah satu aplikasi itu. Kutuliskan alamat Facebookku didalamnya. Loading…aku tak sabar menunggu. Ada apakah gerangan dibalik Facebook itu? Complete.. akhirnya Fb-ku terbuka sudah. Kujelajahi akun baruku itu. Sepertinya Icha sudah menambahkan banyak teman untukku. Kucoba mengisi status Fb-ku dengan kata hikmah yang kudapat tadi pagi.
Waaah…Subhanallah begitu banyak teman yang memberi komentar di statusku. Aku pun mulai asyik membalas komentar-komentar itu. Hmm… Benar kata icha, aku bisa dapat banyak ilmu disini. Senangnya bisa diskusi dengan banyak ikhwah di dunia maya. Tapi tiba-tiba saja koneksi internet di HP-ku terputus. Oow, ternyata pulsaku habis.
“Lho???tadi kan masih ada 2000, ko udah habis lagi…? Yah, padahal lagi seru-serunya diskusi nih.” Aku ngedumel sendiri dalam hati. “Ahaa, isi lagi aja ah pulsanya…masih ada uang simpanan ini.”
Tiba-tiba saja aku merasa mendapat energi untuk pergi membeli pulsa ke Counter Wafa, satu-satunya Counter yang ada di kampungku. Aneh, biasanya aku paling malas kalau harus jalan kaki ke Counter Wafa hanya untuk beli pulsa 5 ribu. Maklum jaraknya dari rumahku cukup jauh. Biasanya sih kalau isi pulsa cukup kirim SMS ke Mang Entis yang punya Counter itu. Barulah aku bayar besoknya sambil berangkat sekolah. Sayangnya sisa pulsaku sekarang gak cukup untuk ngirim 1 SMS pun. Yah, kutanggung sendiri deh akibatnya.
****
Dua bulan sudah aku aktif di dunia maya. Ntah itu untuk sekedar mencari informasi atau hanya main-main. Jangkauan komunikasinya pun sekarang semakin meluas mulai dari YM, Gtalk, dan Nimbuzz. Aku ketagihan chatting. Ya seperti itulah, seakan ada virus dunia maya yang begitu dahsyat menyerangku. Susah melepasnya. Waktu luang yang biasa kumanfaatkan untuk membaca kini kugunakan hanya untuk menyapa teman-teman yang online di YM atau yang lainnya.
Lihatlah buku-buku di rak ‘perpustakaan miniku’ semakin tak terawat, usang dan berdebu. Belum lagi setumpuk oleh-oleh wajib dari Kak Syifa 1 bulan lalu, masih teronggok diatas meja belajarku. Sama sekali belum tersentuh mpunya. Andai kak Syifa tahu, masihkah dia tersenyum manis untukku??Kakak…maafkan Nafisa!
Tidak hanya itu, pengeluaranku pun semakin tidak terkontrol karena seringnya beli pulsa. Pulsa 5 ribu yang biasanya kutargetkan habis selama 2 minggu, kini hanya terpakai 2-3 hari saja. Astaghfirullah…bukankah orang-orang yang boros itu temannya Syaithan??
Dilihat dari segi manfaatnya sih kuakui banyak yang kudapat darisana. Lewat itu semua aku bisa memperluas silaturahmi dengan saudara-saudara muslim di seluruh dunia khususnya Indonesia, selain itu banyak ilmu yang kudapat dari teman-teman dunia mayaku.
Subhanallah….tapi aku pun tak harus mengorbankan banyak waktu untuk melakukannya. Ntah sampai kapan kelalaian ini berakhir seandainya aku tidak menyadarinya dari sekarang. Aku gak berhak menyalahkan Icha yang telah memgenalkanku pada dunia ini. Karena ini salahku yang telah mengonsumsi internet secara berlebihan diluar kebutuhan. Meskipun pada dasarnya Icha ikut andil dalam masalah ini.
Aku teringat materi mentoring minggu lalu yang sempat membuatku bergidik. Saat itu mentorku menyampaikan perkataan Ibnu Qayyim Al-Jauziyah tentang kelalaian manusia :
“Dan barangsiapa memperhatikan keadaan manusia, maka dia pasti dapatkan mereka seluruhnya –kecuali sedikit saja- merupakan golongan dari orang-orang yang hatinya lalai dari mengingat Alloh SWT, mereka mengikuti hawa nafsunya, sehingga urusan-urusan dan kepentingan mereka terabaikan, yaitu mereka kurang perhatian terhadap hal-hal yang mendatangkan manfaat dan kemaslahatan baginya, sedang mereka menyibukkan diri dengan hal-hal yang sama sekali tidak bermanfaat baginya, bahkan justru mendatangkan malapetaka bagi mereka, baik sekarang maupun di masa mendatang.”
Ah Yaa Rabb, benarlah adanya bahwa eksistensiku untuk mengingatMu sudah tak semantap dulu lagi. Waktu panjang yang seharusnya kugunakan untuk bertemu dengan-Mu kian terkikis oleh kelalaian-kelalaian yang merugikan. Sehingga durasi untuk menyapa-Mu pun semakin berkurang. Padahal aku harus menyiapkan banyak amunisi untuk menghadapi akhirat nanti.
Cukuplah pengalaman itu kujadikan cambuk untuk memperbaiki diri. Karena aku tak ingin hidayah-Mu memudar hingga hatiku pias tanpa kesejukan mengingatMu.
Rasanya diri ini semakin bergetar ketakutan saat mengingat laranganMu itu..
“….Janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (Al-Araf 205)
Yaa Ghaffar, ampuni aku yang telah lalai.
Kuputuskan untuk MENGAKHIRINYA!!!!!!
(hehe….dibuat pas lagi sering2nya chatting…sayang belum bisa benar-benar mengakhiri aslinya mah. Masih dalam proses, InsyaAlloh!!!!setidaknya sekarang udah bisa mengurangi jatah internetan…Ya, masih banyak yang harus dilakukan selain ini. Tetap seMangaaaat!!!!!!!!)
“Subhanallah, kata penyemangat yang dahsyat!!!” gumamku sambil menutup lembaran akhir majalah pemberian kak Syifa. Segera kumasukkan majalah itu kedalam tas.
Semalam Kak Syifa pulang dengan membawa seabreg buku untukku. Seperti biasa, tanpa babibu segera kuraih buku-buku itu dari tangannya, itung-itung meringankan beban dia. Hehe…Aku suka lihat senyum manis Kak Syifa, walaupun wajahnya kelihatan sangat lelah saat itu.
“Kakak senang….nanti kakak beli lagi ya. Insya Alloh!!!” janji Kak Syifa sambil memamerkan senyum manisnya itu. Selalu itu yang ia katakan. Buku seolah-olah sudah menjadi oleh-oleh wajib setiap dia pulang. Ntah sudah berapa banyak buku pemberiannya. Yang pasti sekarang rak ‘perpustakaan mini’ di kamarku telah dipenuhi koleksi buku dari Kak Syifa.
“ Meskipun dari kampung, pemikiran kita gak boleh ngampung!!!Makanya tanamkan semangat membaca dari sekarang, agar kita mempu bersaing dengan orang-orang kota..oke!!!” pesan Kak Syifa suatu hari.
****
“ Daaarrrr!!!!! Hayoo..ngelamun terus Naf…kunaon atuh??” gadis manis itu mengagetkanku.
“Astaghfirullah, ichaa! Untung aku gak jantungan. Lagian hobi banget sih ngagetin orang!!!” bentakku.
Eh, yang dibentak malah mesem-mesem sendiri sambil nunjukin wajah usilnya.
“ Aih, Nafisa!!! Laa taghdhab…aku kan cuma becanda. Hehe..yaudah, aku daftarin Facebook ya cantik.” Bujuk icha.
“Fb????gak usah ah cha….!!” Jawabku ragu.
“Ga apa-apa ko Naf!!!.Fb banyak manfaatnya juga lho. Lewat Fb, kita bisa sharing sama anak-anak rohis dari sekolah lain, belum lagi banyak ilmu yang akan kita dapat dari mereka. Ya kan???gak usah khawatir gitu lah.” Lagi-lagi bujukan sahabatku ini mengalahkanku. Gak tega rasanya lihat icha kecewa.
“Yaudah, tapi gak janji sering aku buka lho Fb-nya..”
“Iya, terserah kamu aja deh..aku buatin sekarang ya!” tawar icha penuh semangat.
Aku hanya bisa mengangguk mendengar tawarannya. Kebetulan hari ini Pak Tedi guru fisika kami gak hadir. Jadi icha bisa dengan bebas memainkan Accer hitam kesayangannya. Wajahnya berseri-seri saat ia mulai berselancar di dunia maya. Ah, aku bahkan gak tertarik dengan berbagai aktivitas seperti itu. Bagiku cukuplah dunia maya sebagai salah satu media informasi bukan untuk main-main.
****
“Makasih ya cha!” kuraih HP-ku dari tangannya sambil melemparkan senyumku.
Ya, setelah berhasil mendaftarkan aku di Facebook icha langsung meminjam HP-ku. Aku pun meminjamkannya tanpa curiga. Kuperhatikan saja tangan mungilnya yang menari lincah diatas keypad HP-ku. Sesekali ia tersenyum riang tanda kemenangan.
“Sama-sama..udah mau nyampe rumah kamu tuh. Siap-siap gih!!” icha mengingatkan.
“Yup,Duluan ya cha…Assalamu’alaikum ukhti!!” aku pamit, berlari kecil mendekati pintu bis. Sayup kudengar teriakan icha.
“Wa’alaikumussalaam…jangan lupa coba dibuka di rumah ya Naf Fb-nya!! Udah aku sediain tuh aplikasinya di HP kamu.”
Kulambaikan tanganku pada icha tanda mengerti. Bis pun berhenti tepat di depan rumah sederhanaku.
****
Letih, segera kurebahkan badanku setelah kulahap habis satu buku seri Motivasi pemberian kak Syifa semalam. Rakus ya…gak apa!!! asalkan itu bisa membuatku menjadi lebih baik, kenapa tidak segera kulahap ilmunya?
“Icha tadi masukkan aplikasi apa ya???ah, gak ada salahnya aku coba. Anggap saja sebagai tanda bahwa aku menghargainya. Sekali ini saja, mudah-mudah gak keterusan!” gumamku dalam hati.
Tiba-tiba rasa penasaran menjalar dalam hatiku. Kuraih Sony Ericsson K700i kesayanganku.
Klik..kubuka salah satu aplikasi itu. Kutuliskan alamat Facebookku didalamnya. Loading…aku tak sabar menunggu. Ada apakah gerangan dibalik Facebook itu? Complete.. akhirnya Fb-ku terbuka sudah. Kujelajahi akun baruku itu. Sepertinya Icha sudah menambahkan banyak teman untukku. Kucoba mengisi status Fb-ku dengan kata hikmah yang kudapat tadi pagi.
Waaah…Subhanallah begitu banyak teman yang memberi komentar di statusku. Aku pun mulai asyik membalas komentar-komentar itu. Hmm… Benar kata icha, aku bisa dapat banyak ilmu disini. Senangnya bisa diskusi dengan banyak ikhwah di dunia maya. Tapi tiba-tiba saja koneksi internet di HP-ku terputus. Oow, ternyata pulsaku habis.
“Lho???tadi kan masih ada 2000, ko udah habis lagi…? Yah, padahal lagi seru-serunya diskusi nih.” Aku ngedumel sendiri dalam hati. “Ahaa, isi lagi aja ah pulsanya…masih ada uang simpanan ini.”
Tiba-tiba saja aku merasa mendapat energi untuk pergi membeli pulsa ke Counter Wafa, satu-satunya Counter yang ada di kampungku. Aneh, biasanya aku paling malas kalau harus jalan kaki ke Counter Wafa hanya untuk beli pulsa 5 ribu. Maklum jaraknya dari rumahku cukup jauh. Biasanya sih kalau isi pulsa cukup kirim SMS ke Mang Entis yang punya Counter itu. Barulah aku bayar besoknya sambil berangkat sekolah. Sayangnya sisa pulsaku sekarang gak cukup untuk ngirim 1 SMS pun. Yah, kutanggung sendiri deh akibatnya.
****
Dua bulan sudah aku aktif di dunia maya. Ntah itu untuk sekedar mencari informasi atau hanya main-main. Jangkauan komunikasinya pun sekarang semakin meluas mulai dari YM, Gtalk, dan Nimbuzz. Aku ketagihan chatting. Ya seperti itulah, seakan ada virus dunia maya yang begitu dahsyat menyerangku. Susah melepasnya. Waktu luang yang biasa kumanfaatkan untuk membaca kini kugunakan hanya untuk menyapa teman-teman yang online di YM atau yang lainnya.
Lihatlah buku-buku di rak ‘perpustakaan miniku’ semakin tak terawat, usang dan berdebu. Belum lagi setumpuk oleh-oleh wajib dari Kak Syifa 1 bulan lalu, masih teronggok diatas meja belajarku. Sama sekali belum tersentuh mpunya. Andai kak Syifa tahu, masihkah dia tersenyum manis untukku??Kakak…maafkan Nafisa!
Tidak hanya itu, pengeluaranku pun semakin tidak terkontrol karena seringnya beli pulsa. Pulsa 5 ribu yang biasanya kutargetkan habis selama 2 minggu, kini hanya terpakai 2-3 hari saja. Astaghfirullah…bukankah orang-orang yang boros itu temannya Syaithan??
Dilihat dari segi manfaatnya sih kuakui banyak yang kudapat darisana. Lewat itu semua aku bisa memperluas silaturahmi dengan saudara-saudara muslim di seluruh dunia khususnya Indonesia, selain itu banyak ilmu yang kudapat dari teman-teman dunia mayaku.
Subhanallah….tapi aku pun tak harus mengorbankan banyak waktu untuk melakukannya. Ntah sampai kapan kelalaian ini berakhir seandainya aku tidak menyadarinya dari sekarang. Aku gak berhak menyalahkan Icha yang telah memgenalkanku pada dunia ini. Karena ini salahku yang telah mengonsumsi internet secara berlebihan diluar kebutuhan. Meskipun pada dasarnya Icha ikut andil dalam masalah ini.
Aku teringat materi mentoring minggu lalu yang sempat membuatku bergidik. Saat itu mentorku menyampaikan perkataan Ibnu Qayyim Al-Jauziyah tentang kelalaian manusia :
“Dan barangsiapa memperhatikan keadaan manusia, maka dia pasti dapatkan mereka seluruhnya –kecuali sedikit saja- merupakan golongan dari orang-orang yang hatinya lalai dari mengingat Alloh SWT, mereka mengikuti hawa nafsunya, sehingga urusan-urusan dan kepentingan mereka terabaikan, yaitu mereka kurang perhatian terhadap hal-hal yang mendatangkan manfaat dan kemaslahatan baginya, sedang mereka menyibukkan diri dengan hal-hal yang sama sekali tidak bermanfaat baginya, bahkan justru mendatangkan malapetaka bagi mereka, baik sekarang maupun di masa mendatang.”
Ah Yaa Rabb, benarlah adanya bahwa eksistensiku untuk mengingatMu sudah tak semantap dulu lagi. Waktu panjang yang seharusnya kugunakan untuk bertemu dengan-Mu kian terkikis oleh kelalaian-kelalaian yang merugikan. Sehingga durasi untuk menyapa-Mu pun semakin berkurang. Padahal aku harus menyiapkan banyak amunisi untuk menghadapi akhirat nanti.
Cukuplah pengalaman itu kujadikan cambuk untuk memperbaiki diri. Karena aku tak ingin hidayah-Mu memudar hingga hatiku pias tanpa kesejukan mengingatMu.
Rasanya diri ini semakin bergetar ketakutan saat mengingat laranganMu itu..
“….Janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (Al-Araf 205)
Yaa Ghaffar, ampuni aku yang telah lalai.
Kuputuskan untuk MENGAKHIRINYA!!!!!!
(hehe….dibuat pas lagi sering2nya chatting…sayang belum bisa benar-benar mengakhiri aslinya mah. Masih dalam proses, InsyaAlloh!!!!setidaknya sekarang udah bisa mengurangi jatah internetan…Ya, masih banyak yang harus dilakukan selain ini. Tetap seMangaaaat!!!!!!!!)
Om Rian…
Pagi ini hujan semakin deras. Kubuka jendela kamar, dinginnya udara membuatku sangat menggigil. Segera kupakai mantel biru kesukaanku, lalu aku pun kembali mendekati jendela. Kuperhatikan air hujan yang berjatuhan, Ada rasa rindu terbersit di hati setelah 4 bulan lamanya hujan tak menyapaku. “ Terima kasih Allah, Kau telah akhiri kemarau yang panjang ini.” gumamku dalam hati.
Tiba-tiba HP-ku berderit, nyaris mengagetkanku. Segera kuraih Nokia 6600 kesayanganku.
“ Hallo..! Assalamualaikum, ada apa Bunda?” sapaku
“ Waalaikumsalam, Dinda! Gak ada apa-apa ko. Kamu udah sarapan belum?” Tanya Bunda di seberang sana.
“ Baru aja mu sarapan! Bunda kapan pulang? Dinda kesal ni sendirian terus di rumah!”
“ Bunda juga belum tau! Paling 1 atau 2 minggu lagi, Bunda pulang. Kan ada Bi Inah, masa kesal si?”
“ Tadi pagi Bi Inah pulang, katanya Mang Asep sakit. Ah Bunda! Ko pulangnya lama banget si? Oya Bun, boleh gak Dinda ajak Tiara nginap disini? Dinda kan takut tidur sendirian!”
“ Ya udah, boleh ko! Udah dulu ya, workshopnya udah dimulai tuh! Assalamualaikum, hati-hati di rumah ya sayang!”
“ Waalaikumsalam, sama-sama, Bun!” jawabku sambil menyimpan HP.
*****
“ Duh, Tiara mana ya? Ko belum datang juga?”
Tiba-tiba…( Tok..tok..tok..) “ Nah, pasti Tiara!” ujarku sambil membukakan pintu.
“ Tiara, kamu ko lama ba…. Om Rian??? Ko Om pulang? bukannya kemarin Om masih di Australia??” tanyaku kaget..
“ Assalamualaikum Dinda! kamu kaget ya? Maaf, Om gak sempat ngasih tau kamu kalo Om mu pulang! kebetulan Om libur kuliah satu bulan. Di Australia kan lagi musim semi!” ujar Om Rian.
“ Waalaikumsalam! Iya ni, Om Rian bikin Dinda kaget aja. O.. gitu ya! masuk yu Om.”
“ Makasih, Bunda sama Ayah kemana? Rumah ko sepi?”
“ Bunda ma Ayah lagi dinas di luar kota, jadinya Dinda sendirian di rumah! Eh..taunya Om datang, Dinda seneng banget lo Om! Dinda kangen banget ma Om. Ya udah, Om istirahat dulu gih! Terus jangan lupa mandi, badan Om bau banget!”
“ Ye…ni anak! Orang baru datang, langsung disuruh mandi.”
“ Aduh… ampun! Jangan nyubit donk, baru datang udah nyebelin!”
Om Rian pun masuk kamarnya sambil nyengir. Kuperhatikan dia sampai pintu. MasyaAllah, kepala Om Rian ko berdarah?? Aku pun segera mendekatinya, terlihat darah segar membasahi rambutnya. Ya Alloh… ada apa dengan Om Rian? Aku nyaris berteriak, kaget. Tapi tiba-tiba HPku bergetar ‘1 new message’ “ Din, kayanya aku ga jadi ke rumah kamu. Ibu ngadak-ngadak sakit, gak apa-apa kan Din? Sorry!”. Kubaca SMS dari Tiara, aku pun segera membalasnya.
“ Din, tolong dong jemur handuk Om!” teriak Om Rian dari kamar, refleks aku pun kaget.
“ Iya Om, sebentar! Dinda lagi balas SMS teman dulu ni, lagian diluar kan hujan!”
“ Cie…teman apa teman? jadi curiga nih. Kamu punya pacar ya? Ya udah, Om gak jadi jemur handuknya deh!”
“ Ye.. main curigaan aja! Pacar??? Gak juga ko! Nah..gitu donk, Dinda kan gak jadi repot.”
“ Dinda keponakan Om yang cantik, bukannya Om curiga! Tapi, Om mu pesan ma kamu. Kamu harus belajar yang benar, jangan dulu deh pacaran! Kalo kamu udah sukses kan enak. Jodoh mah tar juga datang sendiri, Okey!” nasihat Om Rian
“ Iya Omku yang baik, Dinda mau belajar yang benar and gak bakalan pacaran dulu deh!” janjiku sama Om Rian.
“ Oya Din, jalan-jalan keluar yuk! Om lapar ni.. gimana kalo kita ke restoran Sunda. Om kangen banget ma pasakan Sunda. Lagian di Australia mah makanannya gak bersahabat di lidah, gak variatif juga menurut om.” keluh Om Rian
“ Iya ni, Dinda juga lapar. Yu akh…. Eh, bentar dulu Om! Kesananya pake apa? Pake motor Dinda aja ya!”
“ Ya udah, kamu ambil kuncinya gih! Biar Om yang nyetir.”
Aku segera berlari ke kamar untuk mengambil kunci. Kuberikan kunci motorku pada Om Rian. Om Rian pun langsung tancap gas.
Setibanya di restoran, kami disambut hangat oleh para pelayan. Karena perut kami udah keroncongan banget, kami segera memesan makanan and langsung makan. Kulihat Om Rian makan dengan lahap. Tapi… darah yang tadi aku lihat di kepalanya ko hilang??? Lagian, kenapa wajahnya pucat ??? Akh, mungkin cuma kecapain, jarak Australia-Indonesia kan jauh banget. Tapi darah itu bikin aku makin penasaran.
“ Din, ko malah melongo sih? Ayo makan!” tiba-tiba Om Rian membuyarkan lamunanku.
“ Eh...i…iya Om!” jawabku.
Setelah perut kami terisi penuh, kami pun segera pulang. Sepanjang perjalanan, aku terus memikirkan kejadian itu. Akhirnya kuputuskan untuk menanyakannya sama Om Rian, nanti setibanya di rumah.
“ Ukh, masuk yu ah Din! Om udah kedinginan banget nih!” ajak Om Rian setelah menyimpan motorku di garasi.
Kami segera menuju ruang tengah dan segera menonton kartun Tom and Jerry. Ternyata selera Om Rian masih kaya anak kecil. Tiba-tiba, aku teringat akan niatku tadi,
“ Om, wajah Om ko pucat banget? Om cape ya? istirahat dulu gih, Dinda ambilin selimut ya biar Om gak kedinginan.” Tawarku.
“ Gak usah Din, disini udah hangat ko! Om pucat ya? Tapi, Om gak apa-apa ko. Swear…!”
“ Oh… ! tapi, boleh gak Dinda nanya sesuatu ma Om????”
“ Emang kamu mu nanya apa Dinda? kayanya serius banget ni!”
“ Gini… tadi, Dinda ngeliat darah di kepala Om! Om sakit ya???”
“ Akh, kamu salah liat kali! Coba deh perhatiin sekarang, apa kepala Om masih ada darahnya? Gak kan?”
“ Iya si! Tapi, tadi Dinda bener-bener liat ko Om!”
“ Ya udah, jangan terlalu dipikirin. Mungkin kamu cuma berhalusinasi!” pinta Om Rian.
“ Tapi, Dinda khawatir banget sama Om!”
“ Udah…! tuh liat, kartunnya lucu banget!”
Aku pun segera membalikan kepalaku ke arah TV. Tapi, rasa penasaran itu mendorongku untuk bertanya sekali lagi sama Om Rian. Sayang, Om Rian tidur. Akhirnya kuurungkan niat tersebut. Kupandangi Om Rian, dia memang sosok cowo yang ideal. Bayangin deh, punya wajah ganteng, soleh, bahkan otaknya pun bener-bener kaya Einstein. Kuliahnya aja di Trinity College Melbourne Australia, dapat beasiswa lagi. Wow… keren banget kan! Pasti banyak cewe yang naksir. Ah, kalau aja aku punya suami kaya Om Rian, pasti aku bangga banget. He… masih anak SMP ko udah mikirin nikah ya??
Saking serunya ngelamun, gak terasa aku jadi pengen ikutan tidur.
*****
( Tok…Tok…Tok ) tiba-tiba sebuah ketukan pintu membangunkanku. Tapi, Om Rian mana ya? ah, mungkin lagi sholat. Kebetulan aku lagi haid, jadinya aku gak sholat. Ketukan pintu itu terdengar lagi, aku pun segera menuju ruang tamu dan membukakan pintu.
“Bunda….?”
Seketika itu Bunda langsung memelukku.
“ Ada apa Bunda? Bunda ko nangis? Lagian kenapa Bunda udah pulang? bukannya tadi Bunda bilang seminggu lagi?” tanyaku sewot
“ Sayang, Bunda harap kamu gak kaget dengar berita yang Bunda bawa!”
“ Ada apa si? Dinda bingung ni Bun!”
Bunda pun segera mengajakku duduk di sofa.
“ Sayang, semalam Om Rian kirim E-mail sama Bunda katanya hari ini dia mu pulang. Tapi, barusan Bunda dapat telepon dari bandara di Australia. Katanya pesawat yang Om Rian naiki tergelincir. Dan Om Rian…Om Rian meninggal Dinda, hiks…” cerita bunda sambil terus menangis.
“ Ah, mereka salah liat mungkin Bun! Om Rian udah datang ko..liat aja deh Bun!” segera kutarik tangan Bunda menuju kamar Om Rian akan kutunjukan bukti kalo Om Rian benar-benar sudah pulang.
Tapi, hatiku sungguh kaget. Kamar Om Rian masih seperti dulu sebelum dia pulang. Langsung kuperiksa lemari Om Rian, kosong… Lalu, koper yang tadi aku simpan mana? Merasa belum yakin, aku pun mengajak Bnda ke ruang tengah, yang ada cuma bantal yang tadi kupakai. Bungkus Phitato yang tadi Om Rian makan ko gak ada??? Om Rian dimana???
Seketika itu darahku seakan berhenti mengalir. Astaghfirulloh… Om Rian…!Aku pun memeluk Bunda dengan erat dan menangis sejadi-jadinya.
(Cerpen Nisa yang pertama nih…waktu itu masih kelas 2 SMP…Afwan ya kawan kalo alurnya masih ga nyambung..he2)
Tiba-tiba HP-ku berderit, nyaris mengagetkanku. Segera kuraih Nokia 6600 kesayanganku.
“ Hallo..! Assalamualaikum, ada apa Bunda?” sapaku
“ Waalaikumsalam, Dinda! Gak ada apa-apa ko. Kamu udah sarapan belum?” Tanya Bunda di seberang sana.
“ Baru aja mu sarapan! Bunda kapan pulang? Dinda kesal ni sendirian terus di rumah!”
“ Bunda juga belum tau! Paling 1 atau 2 minggu lagi, Bunda pulang. Kan ada Bi Inah, masa kesal si?”
“ Tadi pagi Bi Inah pulang, katanya Mang Asep sakit. Ah Bunda! Ko pulangnya lama banget si? Oya Bun, boleh gak Dinda ajak Tiara nginap disini? Dinda kan takut tidur sendirian!”
“ Ya udah, boleh ko! Udah dulu ya, workshopnya udah dimulai tuh! Assalamualaikum, hati-hati di rumah ya sayang!”
“ Waalaikumsalam, sama-sama, Bun!” jawabku sambil menyimpan HP.
*****
“ Duh, Tiara mana ya? Ko belum datang juga?”
Tiba-tiba…( Tok..tok..tok..) “ Nah, pasti Tiara!” ujarku sambil membukakan pintu.
“ Tiara, kamu ko lama ba…. Om Rian??? Ko Om pulang? bukannya kemarin Om masih di Australia??” tanyaku kaget..
“ Assalamualaikum Dinda! kamu kaget ya? Maaf, Om gak sempat ngasih tau kamu kalo Om mu pulang! kebetulan Om libur kuliah satu bulan. Di Australia kan lagi musim semi!” ujar Om Rian.
“ Waalaikumsalam! Iya ni, Om Rian bikin Dinda kaget aja. O.. gitu ya! masuk yu Om.”
“ Makasih, Bunda sama Ayah kemana? Rumah ko sepi?”
“ Bunda ma Ayah lagi dinas di luar kota, jadinya Dinda sendirian di rumah! Eh..taunya Om datang, Dinda seneng banget lo Om! Dinda kangen banget ma Om. Ya udah, Om istirahat dulu gih! Terus jangan lupa mandi, badan Om bau banget!”
“ Ye…ni anak! Orang baru datang, langsung disuruh mandi.”
“ Aduh… ampun! Jangan nyubit donk, baru datang udah nyebelin!”
Om Rian pun masuk kamarnya sambil nyengir. Kuperhatikan dia sampai pintu. MasyaAllah, kepala Om Rian ko berdarah?? Aku pun segera mendekatinya, terlihat darah segar membasahi rambutnya. Ya Alloh… ada apa dengan Om Rian? Aku nyaris berteriak, kaget. Tapi tiba-tiba HPku bergetar ‘1 new message’ “ Din, kayanya aku ga jadi ke rumah kamu. Ibu ngadak-ngadak sakit, gak apa-apa kan Din? Sorry!”. Kubaca SMS dari Tiara, aku pun segera membalasnya.
“ Din, tolong dong jemur handuk Om!” teriak Om Rian dari kamar, refleks aku pun kaget.
“ Iya Om, sebentar! Dinda lagi balas SMS teman dulu ni, lagian diluar kan hujan!”
“ Cie…teman apa teman? jadi curiga nih. Kamu punya pacar ya? Ya udah, Om gak jadi jemur handuknya deh!”
“ Ye.. main curigaan aja! Pacar??? Gak juga ko! Nah..gitu donk, Dinda kan gak jadi repot.”
“ Dinda keponakan Om yang cantik, bukannya Om curiga! Tapi, Om mu pesan ma kamu. Kamu harus belajar yang benar, jangan dulu deh pacaran! Kalo kamu udah sukses kan enak. Jodoh mah tar juga datang sendiri, Okey!” nasihat Om Rian
“ Iya Omku yang baik, Dinda mau belajar yang benar and gak bakalan pacaran dulu deh!” janjiku sama Om Rian.
“ Oya Din, jalan-jalan keluar yuk! Om lapar ni.. gimana kalo kita ke restoran Sunda. Om kangen banget ma pasakan Sunda. Lagian di Australia mah makanannya gak bersahabat di lidah, gak variatif juga menurut om.” keluh Om Rian
“ Iya ni, Dinda juga lapar. Yu akh…. Eh, bentar dulu Om! Kesananya pake apa? Pake motor Dinda aja ya!”
“ Ya udah, kamu ambil kuncinya gih! Biar Om yang nyetir.”
Aku segera berlari ke kamar untuk mengambil kunci. Kuberikan kunci motorku pada Om Rian. Om Rian pun langsung tancap gas.
Setibanya di restoran, kami disambut hangat oleh para pelayan. Karena perut kami udah keroncongan banget, kami segera memesan makanan and langsung makan. Kulihat Om Rian makan dengan lahap. Tapi… darah yang tadi aku lihat di kepalanya ko hilang??? Lagian, kenapa wajahnya pucat ??? Akh, mungkin cuma kecapain, jarak Australia-Indonesia kan jauh banget. Tapi darah itu bikin aku makin penasaran.
“ Din, ko malah melongo sih? Ayo makan!” tiba-tiba Om Rian membuyarkan lamunanku.
“ Eh...i…iya Om!” jawabku.
Setelah perut kami terisi penuh, kami pun segera pulang. Sepanjang perjalanan, aku terus memikirkan kejadian itu. Akhirnya kuputuskan untuk menanyakannya sama Om Rian, nanti setibanya di rumah.
“ Ukh, masuk yu ah Din! Om udah kedinginan banget nih!” ajak Om Rian setelah menyimpan motorku di garasi.
Kami segera menuju ruang tengah dan segera menonton kartun Tom and Jerry. Ternyata selera Om Rian masih kaya anak kecil. Tiba-tiba, aku teringat akan niatku tadi,
“ Om, wajah Om ko pucat banget? Om cape ya? istirahat dulu gih, Dinda ambilin selimut ya biar Om gak kedinginan.” Tawarku.
“ Gak usah Din, disini udah hangat ko! Om pucat ya? Tapi, Om gak apa-apa ko. Swear…!”
“ Oh… ! tapi, boleh gak Dinda nanya sesuatu ma Om????”
“ Emang kamu mu nanya apa Dinda? kayanya serius banget ni!”
“ Gini… tadi, Dinda ngeliat darah di kepala Om! Om sakit ya???”
“ Akh, kamu salah liat kali! Coba deh perhatiin sekarang, apa kepala Om masih ada darahnya? Gak kan?”
“ Iya si! Tapi, tadi Dinda bener-bener liat ko Om!”
“ Ya udah, jangan terlalu dipikirin. Mungkin kamu cuma berhalusinasi!” pinta Om Rian.
“ Tapi, Dinda khawatir banget sama Om!”
“ Udah…! tuh liat, kartunnya lucu banget!”
Aku pun segera membalikan kepalaku ke arah TV. Tapi, rasa penasaran itu mendorongku untuk bertanya sekali lagi sama Om Rian. Sayang, Om Rian tidur. Akhirnya kuurungkan niat tersebut. Kupandangi Om Rian, dia memang sosok cowo yang ideal. Bayangin deh, punya wajah ganteng, soleh, bahkan otaknya pun bener-bener kaya Einstein. Kuliahnya aja di Trinity College Melbourne Australia, dapat beasiswa lagi. Wow… keren banget kan! Pasti banyak cewe yang naksir. Ah, kalau aja aku punya suami kaya Om Rian, pasti aku bangga banget. He… masih anak SMP ko udah mikirin nikah ya??
Saking serunya ngelamun, gak terasa aku jadi pengen ikutan tidur.
*****
( Tok…Tok…Tok ) tiba-tiba sebuah ketukan pintu membangunkanku. Tapi, Om Rian mana ya? ah, mungkin lagi sholat. Kebetulan aku lagi haid, jadinya aku gak sholat. Ketukan pintu itu terdengar lagi, aku pun segera menuju ruang tamu dan membukakan pintu.
“Bunda….?”
Seketika itu Bunda langsung memelukku.
“ Ada apa Bunda? Bunda ko nangis? Lagian kenapa Bunda udah pulang? bukannya tadi Bunda bilang seminggu lagi?” tanyaku sewot
“ Sayang, Bunda harap kamu gak kaget dengar berita yang Bunda bawa!”
“ Ada apa si? Dinda bingung ni Bun!”
Bunda pun segera mengajakku duduk di sofa.
“ Sayang, semalam Om Rian kirim E-mail sama Bunda katanya hari ini dia mu pulang. Tapi, barusan Bunda dapat telepon dari bandara di Australia. Katanya pesawat yang Om Rian naiki tergelincir. Dan Om Rian…Om Rian meninggal Dinda, hiks…” cerita bunda sambil terus menangis.
“ Ah, mereka salah liat mungkin Bun! Om Rian udah datang ko..liat aja deh Bun!” segera kutarik tangan Bunda menuju kamar Om Rian akan kutunjukan bukti kalo Om Rian benar-benar sudah pulang.
Tapi, hatiku sungguh kaget. Kamar Om Rian masih seperti dulu sebelum dia pulang. Langsung kuperiksa lemari Om Rian, kosong… Lalu, koper yang tadi aku simpan mana? Merasa belum yakin, aku pun mengajak Bnda ke ruang tengah, yang ada cuma bantal yang tadi kupakai. Bungkus Phitato yang tadi Om Rian makan ko gak ada??? Om Rian dimana???
Seketika itu darahku seakan berhenti mengalir. Astaghfirulloh… Om Rian…!Aku pun memeluk Bunda dengan erat dan menangis sejadi-jadinya.
(Cerpen Nisa yang pertama nih…waktu itu masih kelas 2 SMP…Afwan ya kawan kalo alurnya masih ga nyambung..he2)
Langganan:
Postingan (Atom)