Jumat, 31 Agustus 2012

BASHIRAH, ditengah Terbatasnya Mata Lahir



Bismillaahirrahmaanirraahiim…

Purnama nyaris sempurna, sinarnya benderang bak pelita di pekat malam. Sayup-sayup simfoni malam mulai meredup tak terdengar. Sunyi mengantarkan saya pada sebuah renungan tentang hakikat sebuah kebahagiaan ditengah keterbatasan.

Allah tak pernah pilih kasih terhadap hambaNYA. Semua hal yang Ia ciptakan telah diatur dengan desain paling sempurna, melalui ketelitian yang sedimikian rupa, melewati proses panjang yang sarat hikmah. Siang & malam Ia sibuk mengurusi hambaNYA tanpa kenal lelah.  Hingga terciptalah kita, makhluk  dengan sebaik-baik bentuk. Meski secara kasat mata, dalam pandangan manusia yang serba tak sempurna, nampaklah beberapa sosok dengan kondisi lahiriah yang terbatas.

Beberapa minggu terakhir, berkali-kali Allah pertemukan saya dengan seorang tunanetra. Di angkot, di perjalanan menuju kampus, di majlis ilmu, dan di tempat kerja.  Setiap kali bertemu mereka, yang pertama kali terbersit adalah rasa iba. Sempitnya saya merasa, betapa tidak nyamannya menyaksikan kehidupan alam yang memiliki berjuta pesona ini hanya dalam satu warna serta kondisi, hitam & gelap.  Betapa menyusahkannya ketika pergi kemana-mana harus membawa tongkat yang menjadi penuntun jalan. Betapa sedihnya saat ia tak mampu melihat lekuk wajah orang-orang yang dicintai & disayanginya.  Ah, sayangnya ketika rasa iba menguasai diri yang terpikirkan justru hanya satu titik saja, kelemahan. Nyatanya, siapa bilang mereka tak pernah bahagia?

***

Setahun lalu ketika saya masih tinggal di asrama, ada sosok luar biasa yang begitu berjasa dalam menyemangati & membentuk diri saya untuk konsisten berdekatan dengan Al-Qur’an. Beliau dan keluarganya tinggal persis disamping asrama santri. Karena akses kami dengan beliau cukup mudah, tak jarang setiap kali ada masalah atau keperluan yang berhubungan dengan asrama kami konsultasikan kepada beliau. Pun ketika ada beberapa santri yang mengalami kesulitan dalam belajar ,muraja’ah, dan menghafal Qur’an, kami tak segan untuk berbagi dan meminta solusi dari beliau. Sosok sederhana nan penuh semangat  ini tak lain adalah ustadz pembimbing tahfidz saya. Beliau hanya memiliki kemampuan melihat kurang lebih 50%. Kadang ketika berpapasan dengan para santri, ustadz seringkali keliru memanggil nama kami karena penglihatannya yang tidak jelas.

Beliau adalah seorang hafidz, kami seringkali dibuat terkesan oleh sosoknya. Sebelum waktu setor hafalan tiba, biasanya ustadz selalu mengompori kami untuk meningkatkan semangat menghafal dengan kisah2 hikmah ataupun petuah menggunggah yang sungguh kami nantikan setiap pagi.  Ketika tiba giliran menyetor hafalan, dengan sabar ustadz mendengarkan, memperbaiki hafalan yang salah, juga membenarkan makhraj & tajwid yang kurang tepat. Sempurna. Hafalan ustadz sangat kokoh, seakan-akan beliau hafal letak dari huruf ke huruf pada setiap ayat Al-Qur’an. Padahal penglihatannya sangat terbatas. Subhanallaah, ditengah keterbatasan Allah tlah memuliakannya dengan Al-Qur’an. Al-Qur’an telah menjadikan beliau sosok yang berpembawaan tenang, tajam pikirannya, bijaksana dalam menyikapi masalah, dan peka dalam setiap situasi.

Banyak contoh yang telah memberikan ibrah mendalam dalam diri saya dari seorang tunanetra. Ada Kang Hanan, siswa Aliyah yang buta sejak lahir namun telah beberapa kali menjuarai lomba pidato di pesantren, sekolah, hingga tingkat kabupaten. Ada juga LSM Ummi Maktum Voice, yang menginspirasi orang-orang agar bersegera menginfakkan sebagian rezekinya untuk menyebarkan Al-Qur’an Braille bagi para tunanetra. Dan masih banyak lagi sosok inspirasi dari kalangan mereka yang menyadarkan saya untuk tidak memandang sebelah mata atas kekurangannya.

***

BASHIRAH, kekuatan mata hati, adalah salah satu hadiah yang Allah berikan kepada orang-orang seperti mereka. Kondisi penglihatan yang terbatas mampu membuat mereka lebih peka menyikapi apa yang mereka dengar, lihat, raba dan rasakan. Ia adalah cahaya hati yang benderang, menuntun pemiliknya untuk berjalan sesuai hati nuraninya. Allah Maha Adil, mengangkat sebagian orang dengan kekurangan fisiknya dan menjatuhkan lainnya walaupun berjasad sempurna. Lihatlah bagaimana cara Allah mencukupi rezeki ditengah gelapnya pandangan seorang tunanetra. Bagaimana Allah meninggikan derajat seorang yang terbatas penglihatannya dengan sesuatu yang sangat mulia, Al-Qur’an. 

Kekuatan mata hati menjadi pelitanya. Allah telah menggantikan kebutaan matanya sebagai cahaya dalam pandangan dan pancaran di hati. Sehingga ia dapat melihat dengan mata hati, apa-apa yang tidak dapat dilihat oleh mata kepala orang lain. Mereka bahagia hingga tak lagi merasai kekurangan itu.

Lalu bagaimana dengan kita yang telah Allah sempurnakan lahiriahnya? Semoga tak pernah lupa mengurai syukur…karena disanalah sebenarnya kunci setiap kebahagiaan.


Syarifatun Nisa NH

Dalam renungan..

Kamis, 30 Agustus 2012

Lembar Cinta untuk Ananda # Pengantar Sederhana..



Bismillaahirrahmaanirraahiim…

Ada rindu yang mengendap setiap kali melihat teduh pandangan seorang anak. Ada cinta yang menyeruak ketika wajah-wajah polos nan pancarkan kejujuran itu tersenyum menyapa. Sesekali asa memainkan naluri keibuan diri, kelak akankah kujumpa permata hatiku? 




Ananda, penyejuk hati bunda..

Tak mengapa, meski saat ini kau masih terlukis sempurna dalam impian. Namun ketahuilah, sejak Allah amanahkan diri ini sebagai seorang wanita, saat itu pula bunda merasa telah dititipi benih yang akan menghuni rahim bunda kelak. Sibiran daging bukti keagungan Allah yang harus terjaga dengan sempurna. Bahkan jauh hari sebelum bunda menyempurnakan separuh agama, kau telah memiliki hak untuk bunda rawat dalam kebaikan.

Anakku, banyak orang bilang..buah tak akan pernah jatuh jauh dari pohonnya. Mungkin tak keliru jika bunda mengartikan kelak ketaatanmu kepada Allah, kecintaanmu kepada Rasulullaah, komitmenmu terhadap dien Islam, kedekatanmu dengan Al-Qur’an tak akan jauh berbeda dari apa yang tertanam dalam diri bunda sejak saat ini. Baik, setengah-setengah ataukah buruk? Tentu bunda inginkan yang terbaik untukmu, nak…

Ananda, penentram jiwa bunda..

Seorang ibu adalah madrasah pertama untuk anaknya, yang apabila ia mempersiapkannya dengan baik maka akan terlahirlah generasi-generasi yang hebat buah dari pendidikannya. Lalu bunda tersadar, semua persiapan itu tidaklah instan, semua persiapan itu tidak bisa tercapai tiba-tiba. Perlu proses  panjang yang akhirnya membuat bunda banyak belajar dan memahami makna keutamaan sebuah “madrasah”. Ibarat menanam benih yang baik, agar ia tumbuh subur dan dapat memberi manfaat kelak kepada banyak orang, maka bunda harus mengetahui kapan saat terbaik untuk menyiramnya, pupuk apa saja yang akan menopang tumbuh kembangnya, bagaimana ilmu untuk merawatnya. Bunda harus telaten dan sabar untuk itu. Tak elok rasanya jika bunda inginkan yang terbaik untukmu, tapi bunda sendiri enggan berjuang memantaskan diri di hadapan Allah.

Untuk itu, sekuat tenaga bunda berusaha menempa dan mendidik diri sejak saat ini. Agar kau terbina sejak dini..bahkan sebelum kau terbentuk dan lahir dari rahim bunda, kuharap nanda sudah merasakan indahnya tarbiyah melalui diri bunda..Biidznillaahi ta’ala..

InsyaAllah, besok kita jumpa lagi ya, nanda…ini hanya pengantar sederhana dari banyak lembar impian, harapan dan do’a bunda untukmu..Sepertinya bibimu mulai kesulitan dengan tugasnya, bunda harus bantu bibi dulu.. :)

Bunda bingkis doa terindah untukmu nak,


“Rabby hably minash shaalihiin.” 
Shalih, shalihah, kelak jadilah permata hati bunda yang mencinta & dicintai Allah...




Sabtu, 25 Agustus 2012

Teruntuk Adinda



Ingin kulukis senja..

Menyinar gradasi jingga di bening mata,

Menghapus gerimis-gerimis di sayu cahaya

Meski resahmu tak jua mereda

Adakah kau maknai adinda?

Untuk satu bilik makna

Hari ini dan seterusnya tak pernah berbeda

Pun ketika kau harus terluka,

Ada asa yang harus kita renda,

Selamanya tanpa jeda..

Di setiap hening masa,

Dalam seruak rasa,.

hati tak pernah sendiri , adinda ..

Ada Allah yang tak pernah tiada,

Menenun  cinta NYA untuk kita,

Menanti yang hina segera berbalut taqwa..

Rindui taubat hamba..

Karena hidup hanyalah tentang DIA



Beriring  ridhaNYA yang menyejuk di jiwa.



(Teruntuk adikku yang jauh dari pelupuk mata, semoga sedikit membasuh lara, meski tak cukup istimewa :) 
      

Selasa, 14 Agustus 2012

PANTAI HALOGENIA (Sekilas tentang Pendekatan Multiple Intelligence Semasa SMA)



Semburat warna mentari menyapa pagi dengan ramah, lembut menelusup celah-celah nyiur hijau yang berderet sepanjang tepian pantai. Pagi ini penduduk sekitar Pantai Halogenia nampak lebih sibuk dari biasanya. Sekumpulan anak-anak nelayan berlari-lari dengan riang, satu sama lain saling berkejaran menuju deburan ombak, menciduk airnya kedalam ember dan cepat-cepat membasahi gundukan pasir kering yang terletak agak jauh di pesisir pantai. Sebagian temannya yang lain tengah sibuk membentuk padatan pasir basah dengan cetakan-cetakan sederhana yang unik, membangun istana impian mereka.

Sementara itu tak jauh dari pantai, di sebuah gubuk sederhana, Nenek Halida terlihat sangat bersemangat memasukkan Kristal-kristal garam hasil panen siang kemarin kedalam bungkus-bungkus plastik kecil. Sesekali ia meneriaki cucu-cucunya Fluor, Clor, Brom dan Iod yang tengah bermain air laut untuk berhati-hati.

Pantai Halogenia yang eksotis semakin ramai dengan kunjungan para wisatawan yang hendak berlibur menikmati panorama indah yang menarik hati …


Pantai Halogenia? Memang ada ya? Dimana, dimana?

Hehe, teman-teman cari di peta mana pun, InsyaAllah saya yakin tidak akan menemukannya :D

Prolog diatas adalah sekilas cuplikan sebuah naskah, dan Pantai Halogenia adalah hasil imajinasi kami semasa belajar di kelas 3 SMA.

***

Berawal dari keresahan seorang guru kimia ketika mendapati nilai ulangan kimia kami  tidak juga menunjukkan kemajuan yang signifikan, padahal kimia termasuk salah satu mata pelajaran yang diikutsertakan dalam Ujian Nasional. Saat itu guru kimia kami sempat menanyakan dan mengevaluasi bersama mengapa hal itu bisa terjadi, dan salah satu penyebabnya adalah kebanyakan dari kami merasa jenuh dengan metode belajar klasik yang kami dapati di hampir semua mata pelajaran. Hingga muncullah ide cemerlang dari beliau yang membuat kami bingung cukup lama (hehe, aslinya sih saya yang bingung :D)

Waktu itu guru kami langsung membagi siswa-siswi yang ada di kelas menjadi beberapa kelompok dan memberi nama kelompok sesuai dengan judul BAB yang harus depelajari. Pikir kami, paling juga kami disuruh buat power point lagi, lalu mempresentasikannya di depan kelas. Tapi ternyata semua prasangka kami salaah besar.

Tak lama dari itu Pak Hadyan (guru kimia) menjelaskan tugas yang harus kami kerjakan yaitu menyajikan materi kimia dengan bermain drama. Sontak kami kaget, kelas tiba-tiba ramai..bagaimana bisa? Ini pelajaran kimia atau kesenian? Kemudian Pak Hadyan segera menenangkan kami dengan menyampaikan beberapa poin yang dapat kami lakukan untuk memulai proses pengerjaan tugas. Prinsipnya sebenarnya sama saja dengan presentasi, sebelum menyajikan kami harus mendalami materi terlebih dahulu, hanya perbedaannya sajian dibuat lebih kreatif melalui drama dan power point yang biasa dibuat berubah menjadi bentuk naskah.

Sebelum menyusun naskah, anggota kelompok yang pintar di pelajaran kimia mau tidak mau harus memahami lebih dulu sebelum membagi ilmu yang ia fahami kepada anggota kelompok lain, kemudian kami berdiskusi untuk menyamakan persepsi agar tidak salah menyampaikan materi dalam drama.

Setelah materi kami fahami, waktunya para penyusun naskah ambil bagian. Bermunculanlah ide kreatif dari semua anggota kelompok tentang drama yang akan dimainkan, mulai dari setting tempat, alur cerita, penokohan, sampai ide2 jenaka sebagai bumbu dalam drama. Kebetulan saat itu kelompok saya kebagian BAB tentang HALOGEN. Karena halogen adalah unsure pembentuk garam dan biasanya pembentukan garam identik terjadi di laut, akhirnya tercetuslah PANTAI HALOGENIA menjadi latar tempat dalam drama kami.

Awalnya cukup kesulitan juga ketika materi kimia yang biasa disampaikan dalam bahasa formal harus diolah kedalam bahasa naskah yang  harus mudah difahami oleh penonton. Tapi alhamdulillaah, mungkin karena baru kali itu kami merasakan belajar kimia dengan enjoy, tanpa dipusingkan dengan rumus2 yang njelimet, lalu mengalirlah inspirasi-inspirasi kami.

Untuk memudahkan dalam menyampaikan materi, kami membuat tokoh2 dalam drama berperan langsung sebagai unsure-unsure halogen dan unsure lain sebagai pereaksi. Agar kesannya tidak menggurui, kami menyampaikan sifat masing-masing unsure dengan candaan anak-anak nelayan yang sedang bermain di pantai. Salah satu contoh ketika menerangkan kereaktifan unsure2 halogen, kami mengemasnya menjadi bentuk permainan oray-orayan (saya kurang tau bahasa Indonesianya oray-orayan apa, ular-ularan gitu ya? -__-“) dimana setiap anak-anak yang memerankan tokoh Fluor (Fluorin), Clor (Clorin), Brom (Bromin), Iod (Iodin), dan Asti (Astatin) disusun berurutan sesuai dengan kereaktifan paling tinggi berdiri di depan, menyusul unsure-unsure dengan kereaktifan lebih rendah di belakangnya.

Uniknya, teman-teman yang mengaku kurang ngeuh dengan pelajaran kimia justru terlihat sangat menikmati perannya. Karena, saat itu proses belajar tidak semata terpaku pada kemampuan kognitif yang terkesan menganaktirikan teman-teman yang memiliki potensi dan kecerdasan di aspek lain. Ada teman saya yang sangat suka menari, dan ia pun mampu memaksimalkan potensi yang dimilikinya dengan memunculkan ide tarian anak-anak sebelum bermain pasir (bahkan lagu pengiringnya pun masih terekam jelas dalam ingatan saya, lagu milik penyanyi cilik Eno Lerian DuDiDuDiDam). Ada juga yang kecerdasannya muncul di musical, sibuk memilih musik-musik yang tepat untuk meramaikan drama.

Walaupun begitu kami tetap memahami esensi dari materi kimia yang harus kami sajikan, karena kami sadari selain memahamkan diri sendiri kami juga harus memahamkan isi materi kelompok kami kepada siswa lain. Satu hal yang menyenangkan bahwa kami dapat  memahami dan menyampaikan materi yang terbilang sulit dengan gaya belajar kami sendiri, sesuai kecerdasan yang dimiliki masing-masing. Cukup adil bukan?

***

Selama proses mendalami materi, penyusunan naskah, hingga pagelaran drama itulah yang selalu saya ingat sampai sekarang. Bagi saya drama kimia ini merupakan metode belajar yang paling mengesankan selama belajar di bangku sekolah. Pak Hadyan telah berhasil menstimulus kami untuk mempelajari kimia dengan kemasan yang terbilang aneh saat itu, hingga saya melihat teman-teman saya sangat maksimal memunculkan masing-masing potensi yang dimilikinya. Kami bisa dengan bebas mengeksplorasi kemampuan dan mengembangkan sayap-sayap imajinasi kami untuk dituangkan dalam drama kimia.

Sederhananya saya menyimpulkan bahwa seperti inilah salah satu potret penerapan strategy belajar dengan pendekatan Multiple Intelligence yang tengah marak dibahas di kalangan para pendidik. Dimana guru mampu membangunkan dan menarik keluar semua potensi yang terpendam dalam diri siswa didik dengan tidak memandang sebelah mata kecerdasan siswa lain yang mungkin dalam ukuran penilaia kognitifnya kurang, sehingga siswa merasa dapat memberikan manfaat dan kontribusi dalam setiap pembelajaran yang dilakukan.

Jujur saya masih sangaaattt sedikit pengalamannya di dunia pendidikan, masih harus banyak belajar. Hanya ingin berbagi pengalaman dan semoga apa yang telah didapat dari guru saya ini bisa menjadi inspirasi bagi guru-guru lainnya untuk lebih melejitkan kreativitasnya dalam mendidik siswa.

Terakhir saya ucapkan banyak terimakasih kepada guru-guru kehidupan yang telah sabar mendidik saya hingga saat ini. Semoga Alloh karuniakan balasan atas setiap ilmu yang diberikan dengan limpahan nikmat yang jauh lebih sempurna disisiNYA. Aamiin Yaa Rabb

Syarifatun Nisa NH
Penghujung Pagi, 150812



Senin, 28 Mei 2012

Rubel Sahaja #1

Bismillaahirrahmaanirrahiim,
"Ada banyak cara untuk menciptakan kebahagiaan dalam diri kita, salah satunya adalah dengan berbagi kebahagiaan itu sendiri kepada sesama."
Sekitar sebulan lalu saya mendapat kabar gembira dari The Ney dan kawan2 tentang tembusnya proposal Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang mereka gagas ke meja Dikti. Program Funtahsin Al-Qur’an untuk Anak-anak Jalanan Pasar Ciroyom yang bertujuan untuk membangun pendidikan karakter berbasis agama tersebut mendapat sambutan yang sangat positif dari pihak Dikti. Program inilah yang menjadi gerbang awal pertemuan kami dengan mereka, penguat rasa syukur kami.

Ahad sore menjelang ashar, alhamdulillaah terasa begitu berenergi sekali..selepas bertugas di SMM, saya langsung bersiap-siap untuk pergi ke Ciroyom. Seharusnya sudah dari 4 pekan lalu saya pergi ke tempat itu, namun karena ada beberapa hal yang harus diselesaikan di pesantren, keinginan untuk pergi kesana pun saya tabung dulu berminggu-minggu.

Angkot putih berpolet kuning yang saya tumpangi pun melaju dengan cepat. Sesampainya di pasar Ciroyom, bau menyengat khas pasar tradisional menyerbu indera penciuman saya. Jalanan becek, rutinitas pasar terlihat mulai berkurang, di sudut lain, aktivitas sekitar stasiun Ciroyom nampak masih ramai. Berbekal peta sederhana dari seorang sahabat saya pun memberanikan diri menyusuri sekitar pasar, melewati terminal kecil menuju sebuah bangunan bertingkat dekat tower yang menjadi patokan. Alhamdulillaah, akhirnya saya sampai di atap teratas pasar. Angin sepoi-sepoi terasa sangat menyejukkan, dan tiba-tiba saja saya dikerubuti sekelompok anak yang berebut menyalami saya.

 “Assalamu’alaikum, kaa, “

 “Jajang, kaa”

 “Nur, kaa”

“Evita..”

“Saya ian ka”

Wajah-wajah polos itu terlihat riang, satu persatu sibuk memperkenalkan dirinya. Ini kali pertama saya bertemu mereka..ya, baru sepersekian detik saja, mereka langsung menyambut hangat layaknya bertemu seseorang yang sudah dikenal lama, pintar sekali mereka membuka kunci kebahagiaan saya ^__^
Malu-malu saya pun mulai memperkenalkan diri didepan mereka.

Beberapa dari mereka terlihat kotor, sangat kotor…baju yang kumal, celana dekil dengan tali rapia melingkar di seputar pinggangnya yang kurus, kaki yang penuh lumpur tanpa alas, tangan yang lengket penuh lem..hiks, sedih sekali menyaksikan ini.

Ah ya, ada dua anak dengan kelakuan yang tak biasa berhasil menyedot perhatian saya. Mereka menatap saya dengan pandangan kosong. Tangan kiri mereka disembunyikan dibalik bajunya, kemudian lincah mengangkat bagian baju sekitar leher sampai menutupi hidungnya, dari balik baju mereka terlihat sesuatu menyembul, serupa wadah kecil yang isinya mereka hirup dalam-dalam. Penasaraaan, apa gerangan yang mereka hirup itu???

 #Bersambung :D
karena asrama sebentar lagi dikunci, ceritanya saya tangguhkan dulu ^____^

Selasa, 17 April 2012

Hikmah# Kejutan Sepanjang Perjalanan

Matahari semakin terik, udara terasa tidak bersahabat, panasnya menjalar hingga ke ubun-ubun. Akhir-akhir ini cuaca sedang tidak stabil. Paginya panas, lalu siangnya tiba-tiba hujan lebat, atau terkadang sebaliknya. Keadaan ini membuat beberapa penumpang angkot Ledeng-Caheum nampak tidak nyaman. Di jok paling ujung seorang ibu terlihat sibuk mengibas-ngibaskan kipas kecilnya sampil mengusap dahi anaknya yang bercucuran keringat, disebelahnya sesosok lelaki berusaha menggeser kaca angkot yang macet. Saya sendiri memilih duduk dekat pintu angkot. Angin yang berhembus kencang lewat pintu yang terbuka, cukup mengurangi rasa gerah yang dirasa.



Alhamdulillaah, selang beberapa menit kemudian angkot merapat di terminal Cicaheum. Saya yang baru turun langsung diserbu oleh beberapa kuli angkut dan kondektur bus yang menawarkan jasa. Dengan cepat saya pun melesat, melewati tempat pembelian tiket yang sesak dan menaiki bus Budiman jurusan Pangandaran. Bus terlihat lengang, penumpang bisa dihitung jari. Satu, dua pedagang asongan yang sejak tadi bertahan di bus mulai putus asa menyodorkan dagangannya. Rasa lelah mendorong saya untuk segera duduk, dan hup... akhirnya saya menepi di jok terdepan belakang supir.



Langit nampak tenang seiring mata saya yang mulai meredup diserang kantuk. Sayup-sayup dari headset masih terdengar suara Ustadz Roni tengah mengisahkan shirah sahabat di MQFM. Budiman perlahan merayap diikuti bertambahnya para penumpang, termasuk dua jok samping kiri saya sekarang terisi. Sepasang suami istri itu melempar senyum santun kepada saya, siapa sangka, dua orang ini akan memberi baanyak sekali kejutan dan hikmah sepanjang perjalanan pulang…apa pasal???



***



Melewati kampus UIN Sunung Djati, tiba-tiba saya dan para penumpang dikejutkan oleh suara tinggi seorang bapak,



“Jadi minantu the sing sopan, ulah sok dulak delek lamun panggih jeung kolot urang the!!!” ujarnya dengan nada menyentak.



Saya yang sedang menikmati kajian shirah di MQ sontak menoleh kearah pemilik suara tersebut. Persis selang satu jok disamping saya terdapat seorang bapak dengan wajah gusar tengah memarah-marahi istrinya, telunjuknya menunjuk kejam kearah sang istri, si istri yang tak terima dengan perlakuan suami dengan sengit melawan sentakannya, begitu seterusnya, suaminya pun terus membentak dan membeberkan semua kekurangan istrinya dengan kencang. Beberapa menit kemudian keluarlah ultimatum dari mulut sang istri.



“Ceuk urang ge naon, lamun teu minat rumah tangga jeung urang, teu kudu kawin baheula the, hanjakal!!!” matanya menyolot.



(sebelumnya saya minta maaf memuat percakapan suami istri tersebut yg terkesan sangat kasar)



Saat itu posisi saya tepat dipojok suami istri tersebut, melihat dengan mata sendiri kronologis kejadiannya. Bingung, sambil terus beristighfar.. maksud hati ingin melerai tapi situasi tidak memungkinkan. Kondektur yang bertubuh kekar saja terlihat kesulitan menenangkan dua sejoli ini, bagaimana lagi saya? Sampai pada akhirnya pertengkaran pun terhenti oleh dering HP sang suami “Yaa Rosulalloh..Yaa Habiiballoh, Muhammad ibn abdillaah….” Syahdu sholawat terlantun, saya hanya bisa terbengong mendengarnya. Heran bukan kepalang... Alhamdulillaah, atas izin Alloh sholawat mampu meredamkan emosi keduanya. Dalam hati saya bergumam, untunglah bapak itu masih teringat Rosululloh.



Waktu yang tepat untuk pindah tempat duduk, dengan hati-hati saya pun segera meminta ijin untuk pindah tempat.



Di tempat duduk yang baru, hati saya terus mendengungkan keheranan, otak saya tak habis pikir atas kejadian tadi. Kok bisa ya suami memarahi istri di depan banyak orang? Kok bisa ya istri berani menyentak dan menyumpahi suami sendiri? Kejadian tadi berlangsung sekitar 20 menit, dan banyak sekali ibrah yang bisa saya petik darinya.



***



Pemicu utama pertengkaran sebenarnya berawal dari salahnya komunikasi, saya yakin maksud suaminya baik yaitu mengingatkan istrinya untuk berlaku sopan kepada mertuanya. Tapi, karena kehendak yang ia inginkan disampaikan dengan buruk, terkesan memojokkan sang istri, jadilah prahara memanjang. Pikir saya (sudut pandang orang yang belum menikah, hehe :D), alangkah baiknya jika dalam situasi ini istri berusaha menenangkan suami dan meredakan emosinya terlebih dahulu lalu kemudian mengajak berbicara dengan baik-baik. Tapi sayang yang terlihat justru sebaliknya, sang suami keukeuh dengan kesalahan istri yang baru ia tahu dari orang lain, sang istri mempertahankan dirinya dengan menujukkan ketidakmauan dikoreksi, terlihat kurang pandai dalam menyampaikan keinginan dengan lancar sehingga muncul salah paham dan memicu kemarahan satu sama lain, imbasnya terbeberlah aib kedua pasangan dan hilangnya rasa hormat istri kepada suami. Islam sendiri dengan indah telah memberi solusi dalam mengatasi masalah tsb, yaitu dengan melakukan tabayun (mencari kebenaran atas informasi yang didapat) terlebih dahulu, agar jelas tanduk permasalahannya. Andai saja sang suami tahu indahnya komunikasi Rosululloh ketika menasihati istrinya yang cemburu. Mari kita simak….



Dari Aisyah rodhiyallohu ‘anha, dia berkata,

“Aku tidak pernah melihat orang yang pandai memasak seperti halnya Shafiyah. Suatu hari dia membuatkan makanan bagi Rasululloh shollallohu ‘alaihi wassalam yang ketika itu beliau di rumahku. Seketika itu badanku gemetar karena rasa cemburu yang menggelegak. Lalu aku memecahkan bejana Shafiyah. Aku pun menjadi menyesal sendiri. Aku berkata ‘Wahai Rosululloh, apa tebusan atas apa yang kulakukan ini?’ Beliau menjawab, ‘Bejana harus diganti dengan bejana yang sama, makanan harus diganti dengan makanan yang sama’” (HR Abu Dawud dan Nasa’i)



Dalam riwayat lain diceritakan dari Anas rhodiyallohu ‘anhu,

“Ada diantara istri Nabi shollallohu ‘alaihi wassalam yang menghadiahkan semangkuk roti dicampur kuah kepada beliau, selagi beliau ada dirumah istri beliau yang lain (Aisyah). Aisyah menepis tangan pembantu yang membawa mangkuk, sehingga mangkuk itu pun jatuh dan pecah Nabi langsung memunguti roti itu dan meletakkan kembali diatas mangkuk, seraya berkata, ‘Makanlah, ibu kalian sedang cemburu.’ Setelah itu beliau menunggu mangkuk pengganti dan memberikan mangkuk yang pecah tadi kepada Aisyah.” (Diriwatkan oleh Bukhori, Tirmidzi, Ahmad, Abu daud dan Nasa’i)



Subhanalloh, tidaklah beliau mengatakan dan memperlakukan istrinya dengan kasar melainkan dengan teladan dan kata-kata yang haq. Tidak cukupkah dua hadits ini menjadi renungan?



Jika ada surga di dunia, maka itu adalah pernikahan yang bahagia. Tetapi jika ada neraka di dunia itulah rumah tangga yang penuh pertengkaran. Semua orang pastilah mengidamkan keluarga sakinah yang dikaruniai Alloh mawaddah dan rohmah. Dalam mencapai ini, maka komunikasi keduanya menjadi bagian yang sangat penting mengingat sebagian besar waktu kita adalah untuk berkomunikasi satu sama lain. Gagal berkomunikasi antara suami, istri maupun anak sangat rentan mengganggu keutuhan keluarga.



Kalau kata guru saya, “Teko hanya mengeluarkan isi teko, jika isinya kopi maka yang keluar pun kopi, jika isinya air bening maka yang keluarnya pun air bening.” Analogi ini mencerminkan bahwa perlakuan khususnya perkataan yang kita keluarkan adalah cermin dari hati kita, bisa jadi ketika suami istri mengucapkan kata-kata kasar satu sama lain berarti juga mencerminkan keadaan hatinya yang jauh dari Alloh. Wallohua’lam..maka, betapa pentingnya bagi kita untuk memohon selalu pertolongan dan bimbingan dari Alloh dalam keadaan ini, karena kita yakini betul bahwa hanya Alloh saja penggenggam hati kita.



Menurut Cahyadi Takariyawan, untuk membangun komunikasi yang baik antar komponen keluarga, hal yang pertama kali harus dimiliki adalah menciptakan visi keluarga yang jelas. Harus ada cita-cita besar yang terang benderang dan menjadi sebuah ikatan moral yang kokoh untuk diwujudkan dalam kehidupan. Mardhotillaah…Inilah visi yang sangat kokoh yang mengikat keluarga menuju muara yang sangat jelas, berlaku baik satu sama lain hingga bersama-sama meraih surga dan merindukan ridho Alloh dalam setiap kehidupannya. Wallohua’lam..



***



Tidak terasa bus sudah menempuh setengah perjalanan menuju Banjar, artinya sudah dua jam pertengkaran suami istri itu mereda. Diam-diam saya lihat pasangan itu sedang berbicara dengan tenang dan duduk berdampingan. Alhamdulillaah, singkatnya saya menebak mereka sudah berdamai..horeeee :D



Saya mulai menikmati perjalanan, gradasi warna senja yang terlukis dilangit terlihat sangat indah. Lamat-lamat terdengar adzan maghrib. Saya pun menyempatkan waktu mustajab antara adzan dan iqomat dengan memperbanyak do’a. Yaa Alloh, karuniakan padaku pendamping yang sholih, yang membersamaiku memikul amanah dariMU, bersama-sama menghidupkan ruh Al-Qur’an dalam keluarga kami kelak, menulis, berbagi, menebar hikmah dan manfaat kepada sesama. Jika suatu saat ada percikan ujian yang menimpa, lapangkan hati kami untuk menghadapinya bersama dan kokohkan ikatan kami dalam keimanan. Aamiin Yaa Robb..



Terima kasih atas kejutan singkat penuh ibrah itu Alloh, perjalanan panjang yang sarat hikmah. Sepertinya kejadian ini menjadi salah satu pengalaman yang tak terlupakan dan InsyaAlloh menjadi bekal bagi kehidupan saya kedepannya. Dengan kejadian ini, mungkin Alloh hendak membina diri saya untuk memikirkan dan melakukan aksi perbaikan diri terus menerus. Ya, semoga saja begitu. Pasangan kita adalah cerminan diri kita juga bukan?!



#Selamat merangkum hikmah sahabat :)



Syarifatun Nisa NH, 130412

Di teduhnya rumah tercinta ^__^

Selasa, 31 Januari 2012

Bidadari


Ummi, disini banyak sekali bidadari mi..
seperti yang ummi ceritakan dulu,
bidadari-bidadari yg selalu menjaga dirinya dari fitnah dunia,
bidadari yang tunduk pandangan & hatinya demi mengharap ridho Alloh.
Bidadari cantik ya mi..
ingin sekali seperti mereka, bercahaya dengan penjagaanNYA :')

Kamis, 08 Desember 2011

SEBENTUK KOMITMEN

Ini bukanlah hari menyejarah, bahkan masih terlalu jauh jika yang dimaksud adalah hari kelahiran..Ntah kenapa, sudah beberapa pekan perhatianku ditarik paksa menuju angka 19. Jika bukan karena tayangan itu, mungkin aku tak akan semerinding ini. Aku dibuat malu, menyaksikan sekumpulan kecil itu..riang sekali, teduh wajahnya mengalihkan semua penat yang sempat bertengger menyesakkan saraf. Aku larut dalam kisah mereka yang tak kasat mata, namun memancarkan bermilyar cahaya… Laksana buah utrujjah yang sangat harum aromanya, indah warnanya dan manis rasanya..mereka luar biasa melebihi yang lain.

Jika hidup ini diibaratkan sebuah perjalanan, seharusnya dalam hitungan tahun ke-19 aku telah menempuh jarak yang sangat jauh, maka anggaplah aku sempat merasa kelelahan mengayun langkah hingga suatu waktu ditengah perjalanan aku menemukan sebuah pohon yang sangat rindang memayungi sekelilingnya dan aku pun tak mampu mengelak untuk berteduh dibawahnya sembari menenangkan diri dan mempersiapkan kembali bekal perjalanan selanjutnya. Maka pohon yang menyejukkan itu adalah mereka…

Lekat kuikuti kembali kisah mereka di layar, lalu aku mulai membandingkan 19 itu dengan angka-angka yang mereka miliki, ada 5, 6, 7, 11, 15..selisih yang cukup jauh bukan? Angkaku jelas lebih tinggi dari mereka. Namun, dalam seketika aku pun terpekur memaknai hal itu, usiaku tepaut jauh dari mereka tapi prestasi mulia yang mereka raih jauh melampauiku. MasyaAlloh, kurasakan butir-butir itu mengalir. Al-Qur’an yang membuat mereka begitu bercahaya dalam pandanganku. Aku malu pada sosok-sosok suci itu, mereka telah mampu menghafal, menjaga, dan mengamalkan Al-Qur’an dalam usia dini yang penuh keimanan. Bagaimana tidak tergetar hatiku melihat kenyataan ini?

“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal sholih bahwa bagi mereka adalah pahala yang besar.” (Al-Isro’ [17] : 9)


Aku kecipratan kabar gembira yang tertoreh dalam Al-Qur’an dari mukmin-mukmin kecil itu, sahabat... Betapa bahagianya…istirahatku akhirnya membuahkan bekal.

Sedikit mendekati penghujung ke-19 yang tak lama lagi meningkat, aku akan melanjutkan perjalanan. Teriring do’a dari mereka yang tak lelah membimbing dan menyemangati, semoga istiqomah dan mampu menjadi sahabat Al-Qur’an. Perjalanan ini adalah sebentuk komitmen yang tak bisa ditawar lagi, dengan memohon selalu pertolongan dan rahmat Alloh, semoga angka2 bertingkat itu tak sekedar menjadi penghias usia..hingga pergantiannya selalu beriringan dengan nafas-nafas Al-Qur’an yang mendampingi perjalananku, hingga kutemui ridhoNya..

“Lihat dan renungkan,setiap orang yg bertekad akan sampai tujuan.
Dan tujuan yang paling mulia adalah menghafal Alquran sekalipun dapat di abaikan..
Jika engkau berniat,bergegaslah....
Jika engkau bertekad maka bulatkan,dan ketahuilah bahwa orang yang rela di barisan akhir tidak akan menemukan kebahagiaan....
Wahai yang bercita-cita tinggi untuk menghafal Al-Qur'an,
ruhmu merindukan keutamaan,semangatmu terpancar untuk melampaui perkebunan indah ini,agar engkau bisa memetik buah dan bunganya......
sekarang,sekarang saatnya engkau bergerak merapat menuju mushafmu.....menambah dan mengingat hafalan mu!!!”
(Ustadz Suhud)


"Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Quran untuk peringatan, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?."

Jumat, 28 Oktober 2011

menunggu, merindu, berjaga, berdo'a


Di suatu tempat,
ntah dimana
di dunia..
Seseorang menunggumu
berdo'a..
seperti do'a yang biasa engkau ucapkan
sehabis sholat

Pada suatu saat,
ntah apabila
di dunia..
seseorang merindukanmu,
berjaga-jaga,
seperti malam-malammu
yg berlalu sangat lambat

Seseorang menunggu, merindu, berjaga dan berdo'a
di suatu tempat,
pada setiap
seperti engkau
selalu..


(Sumber : Ajip Rosidi)

Rabu, 13 Juli 2011

Bersabarlah Wahai Putri Ummi..

Ketika bunga itu telah mekar, maka ia akan menebarkan harumnya. Memberikan kesejukan bagi yang memandangnya, memberikan rasa tenang untuk sekelilingnya, menebarkan keindahan yang menyenangkan, bahkan anginpun selalu menyapanya dengan penuh kelembutan, serta matahari turut memberikan sinaran kehidupan yang selalu menggelorakan.


Pada saatnya nanti akan ada seorang yang akan mendatanginya, dengan membawa maksud untuk melindunginya. Tenanglah duhai putri ummi, pada waktunya nanti, pahlawanmu akan datang menjemput dengan penuh keridhoan dari Rabb-Nya.



Maka, tidak perlu ada keresahan ataupun rasa was-was untuk sebuah penantian. Karena semua telah ada yang mengurusnya. Pada waktunya kelak, akan ada sebuah moment indah yang tiada pernah terbayang.



Tak perlu keresahan itu menghantui, tak perlu kegelisahan menggelayuti. Asalkan kau terus berjalan dan memelihara hatimu sesuai yang disyariatkan oleh Tuhan-Mu wahai permata hati keluarga.



Rabb-Mu bahkan telah menakdirkan sosok belahan jiwamu ketika ruh mu baru saja ditiupkan dalam rahim ibu. Hanya do'a yang bisa memenuhi harapanmu, karena Allah pasti akan selalu merengkuh segala pengharapan-Mu pada-Nya. Hanya senandung do'amu lah yang bisa mengubah takdir yang buruk menjadi takdir indah.



Ketahuilah , janji Allah tiada pernah ingkar. Bahwa ketika engkau menjadi muslimah yang menghambakan diri sepenuhnya kepada Allah, lalu di hatimu hanya ada kecintaan kepada yang Maha memiliki cinta. Maka, yang akan menjemputmu kelak adalah hamba yang juga hatinya dipenuhi ketaqwaan, seorang hamba yang jiwanya selalu dekat dengan Rabb nya.



Kini, yang perlu kau lakukan adalah berkaca pada air mata kehidupan yang bening. Sudahkah engkau menjaga hati-Mu, wahai putri abi? Sudahkah kau junjung tinggi harkat dan martabatmu sebagai wanita yang kelak akan melahirkan penerus agama? Sudahkan engkau mulai mendo'akan segala kebaikan bagi permata hati yang kelak lahir dari rahimmu? Sudahkan engkau tersadar bahwa begitu banyak hal yang masih perlu kau renungi dan engkau persiapkan dalam masa penantian?



Berdamailah dengan jiwamu wahai perhiasan dunia, bahwa penantian adalah sebuah hadiah suci dari Rabb-Mu, penantian adalah sebuah keindahan dalam kehidupan, dan penantian adalah sebuah pendidikan langsung dari Yang Maha Memiliki Hati. Sebab kelak engkau akan menjadi samudra kehidupan bagi anak-anakmu. Penyejuk hati bagi Pendamping-Mu, penguat hati bagi belahan jiwamu, . Serta rahmat bagi sekeliling-Mu.



Ketika dalam setiap helaan nafasmu telah dipenuhi dengan kepasrahan kepada Rabb-Mu, maka tak perlu lagi kecemasan dan kekhawatiran akan sosok yang kelak menjadi pasanganmu. Kerana Allah Maha Mengetahui sedang dirimu tiada mengetahui apapun. Bahkan segala yang masih menjadi rahasia Allah, akan menjadi sebuah kejutan yang mengharukan batin bagimu.



Ketika dengan sepenuh jiwa dan raga kau berjuang menjaga diri dari segala kehinaan. Tak perlu kau dirundung pilu. Kerana Allah telah menyiapkan seorang hamba yang kelak dengan sepenuh jiwa dan raganya menjagamu, membimbingmu dalam menggapai ridho ilahi, dan mencintaimu karena Allah.



Maka, buatlah bidadari surga cemburu padamu, cemburu akan keteguhan menjaga harga diri muslimah, cemburu akan ketaatanmu kepada Allah, cemburu akan pesona yang engkau tebarkan untuk makhluk semesta, cemburu akan cinta dan kasih sayangmu yang sedalam dan seluas samudra, dan kesabaranmu dalam penantian… Kerana engkaupun pasti bisa menjadi bidadari dunia akhirat yang penuh dengan anugrah cinta dari Allah. Percayalah….=)


* renungan dalam "taman kebaikan", semoga bermanfaat dunia akhirat, amin ya Rabb..


**Kiriman dari ukhty dear, Mahshuna...


"Apa yang kau takutkan untuk sebuah pernikahan ukhti? sementara Allah dan RasulNya tlh memberikan banyak kebaikan didalamnya.. :)" tak lama setelah kiriman itu..ia, sahabatku, menanyakannya..

Aku menerawang, meski sedikit sesak kuutarakan,

"Aku khawatir, belum mampu menjadi madrasah terbaik untuk jundi-jundiku kelak. Sejenak ukhti, aku sedang mempersiapkannya dulu untuk amanahku. Tidak usah khawatir, tak ada yang kutakuti darinya. Semoga ia yang mendampingiku nanti tak pernah menyesali kebaradaanku dan selalu meridhai aku sebagai ibu dari jundi-jundinya :)
do'akan aku :)"

Jumat, 01 Juli 2011

Tak Semua Rasa Bisa Ia Lisankan

Nyaman, setiap kali melihatnya dengan wajah ceria sekalipun aku tau tak banyak waktu yang ia gunakan untuk sekedar merebah lelah. Ia..dua tahun diatasku, wajahnya sederhana pun penampilannya. Sayang..ia sama sekali tak bisa membuatku sedikit saja membuang senyum, meski hanya sekedar berpapasan dengannya ^___^
Pagi itu, setelah beberapa lama bejibaku dengan tugas kuliah dan tuntutan kerja masing2, kami bertemu, lagi.. pandangannya lekat kearahku, namun sedikit sekali kulihat senyumnya.
"Ada apa?" heranku terucap, sambil sesekali melirik pakaian dan merapihkan jilbab, khawatir ada yang membuatnya tak nyaman dengan penampilanku saat itu.
"Tidak ada, " singkat.
Tak biasanya..
Kugamit lengannya, "Kenapa teteh….teteh kangen nisa ya?" kuajak ia tersenyum.
Ia diam, lalu melepas tanganku, sedikit kikuk ia pun menghambur kearahku, lirihnya
"Iyaa nisa, teteh kangen nisa, tapi teteh malu mau bilangnya."
Allah… di titik inilah kurasakan manisnya ukhuwah. Meski tak semua rasa bisa ia lisankan, bahkan untuk mengungkap rindu pada seorang adik pun begitu malu. Ada saatnya memang rasa-rasa itu tak perlu diobral, sekalipun tak diucapkan, keterkaitan hati dengan sendirinya meyampaikan. Alhamdulillah, terimakasih Yaa Rabb..atas rindu yang Kau titipkan padanya, untukku :)

Kamis, 05 Mei 2011

Teruslah Berbuat

Semuanya terasa serba teratur meski dzahirnya terlihat tak tersusun, karena rangkaian cerita yang Alloh tetapkan selalu lebih indah dari yang kurangkai sendiri..selalu mengalir tak terencanakan, mencerminkan bahwa aku hanya mampu berperan sebagai konseptor kesekian setelah keMaha teraturan konsepNya. Dia, Alloh yang Maha Penyayang , tak ingin azzam dan ikhtiarku tertahan diujung pena..hingga dalam prosesnya Alloh yakinkan langkah ini, seakan kudengar titahNya, “Teruslah berbuat, AKU ingin melihat hambaKu berjuang lebih tangguh dari sebelumnya. AKU ingin meridhoi setiap langkahnya, maka jadikan niatmu selalu tertuju padaKU!!”
..Dan kubiarkan diri ini lelah di dunia, karena aku berharap istirahatku kelak bermanja-manja bersama Alloh Al-Lathif dan Rosululloh SAW..
Amiin Yaa Mujib...

Rabu, 13 April 2011

Programmer Menjemput Surga

Ga sengaja, pas lagi searching tugas Algoritma, nemu postingan keren dari blog http://insansains.wordpress.com..ini isinya :)


*----------------------------------------------------------------------*
* PMHG.PRG *
* Program Melewati Hari dengan Gemilang *
* Keterangan : Program membuat diri selamat dunia dan akhirat *
* : Function dan Procedure tidak terlampir *
* Dibuat oleh : Insan Sains *
* Tanggal : 20 Oktober 2008 *
*----------------------------------------------------------------------*

*----------------------------------------------------------------------*
* INISIALISASI VARIABLE DAN KONSTANTA
* Set alarm pada 03:00 am
* Set kalimat pembuka aktifitas dengan basmallah
* Set kalimat penutup dengan hamdalah
* Dapatkan variable lainnya yang dapat membantu
*----------------------------------------------------------------------*
Alarm_Bangun = 03:00
Membuka_Aktifitas = "bismillah"
Menutup_Aktifitas = "alhamdulillah"
Masih_bernyawa = [undefined] //Tergantung anugrah nafas dari Allah
Hari_Ini = date()

*----------------------------------------------------------------------*
* Lakukan sepanjang hayat
*
do while (Masih_bernyawa)

* Jika alarm berbunyi atau engkau dijamu terbangun tengah malam
if (Alarm_Bangun == on) .or. (Automatic_wake_up == on)

* Bersyukurlah atas kehidupan yang dianugerahkan
* Bersyukur pula karena engkau dipilih-Nya sebagai
* hamba yang mendapat jamuan di sepertiga malam terakhir
@lisan say kalimat(Membuka_Akfitas)

* Lengkapi syukurmu dengan mengambil air wudhu
* Basahi wajahmu dengan air mata taubat
* Hadirkan kerinduanmu untuk berjumpa dengan Tuhanmu
do Ambil_Wudhu // silahkan baca prosedur Ambil_Wudhu yang tepat

* Sempurnakan syukur & wudhumu dengan berdiri, menghampar sajadah
* Hadapkan wajahmu kepada Tuhan Semesta Alam
* Biarkanlah lambungmu jauh dari tempat tidur
* Disaat manusia lain lelap hangat tertidur
* Karena tentu ada ganti yang lebih baik bagimu kelak
do Tahajjud

* DIA senang bila hambanya meminta
* Maka berdoa dan mohon ampunlah kepada-Nya
* DIA pasti mengabulkan doa dan permohonanmu
do Munajat

* Jika hari Senin atau Kamis maka bersahurlah agar berkah
* Berpuasa sunnahlah, agar jasad, ruh, dan akalmu terjaga
* Bukankah ini sunnah yang paling dicintai oleh kekasih-Nya?
if (Hari_Ini == Senin) .or. (Hari_Ini == Kamis)
do Sahur
endif

* Jika masih ngantuk, tidurlah sejenak hingga terdengar adzan shubuh
* Manusia memiliki keterbatasan, jasadmu memiliki hak
* jangan memaksakan beribadah yang tidak mampu jasadmu memangkunya
if (Status_badan = ngantuk)
do Tidur_sejenak
endif

endif

* Dirikan shalat shubuh berjamaah
* Para malaikat turun ke bumi untuk memberkahi dan mendoakan
* para pecinta yang mencari kecintaan kepada Tuhannya.
* Tambahi dengan dengan tilawah
* Agar permulaan harimu basah dengan kalimat suci-Nya
do Shalat_Shubuh
do Tilawah

* Olah ragakan jasad sejenak
* DIA mencintai hamba-hamba-Nya yang kuat
* Kuat fisik, juga kuat ruhaninya.
do riyadhah

* Bersihkan badan, persiapkan diri mencari maisyah
* Jangan pernah meminta, jangan pernah menjadi beban
* Jangan pernah mengeluh, jangan sia-siakan harimu
do bersih_bersih
do persiapan_maisyah

* Bila cobaan, musibah dan ujian menghadang
* maka bersabar, ikhlaskan, dan tetaplah bertawakkal
* Bukankah Allah itu Maha Mengatur? Dia yang Maha Menggenggam
do case
case (Cobaan == Datang)
do Sabar

case (Musibah == Merintang)
do Iklaskan

case (Keinginan .not. Terpenuhi)
do Tawakkal

endcase

* Kamu hidup di zaman yang banyak hal syubhat merajalela
* Maka carilah yang halal-halal saja
* Selama engkau berpapasan dengan perempuan bukan mukhrim
* Tundukan pandangan, segera hisab diri
do while (Berpapasan == Perempuan_bukan_Muhrim)
do Tundukkan_Pandangan

* Cek kemampuan
* Jika sudah mampu dan siap, menikahlah
* Jika belum, istiqamahlah dalam berpuasa sunnah
Kemampuanku = Check_Kemampuan(saat_ini)

if (Kemampuanku == OK)
do nikah // Menuju keluarga sakinah mawaddah warahmah

else
do puasa_sunnah

endif

enddo

* Tunaikanlah kewajiban-kewajibanmu kepada Allah
do tugas_khalifah

* Penuhi hak-hak saudara-saudaramu yang lain
* Beri dan jawablah salam untuk saudaramu seiman
* Doakan saudaramu bila ia bersin
* Berilah nasihat kepada saudaramu baik diminta maupun tidak
* Penuhi undangannya, bila ia mengundang
* [Coba baca kembali prosedur ber-amal sosial]
do penuhi_hak_manusia

* Bersedekahlah...!
* Baik disaat lapang, maupun disaat kurang
* Tak akan pernah berkurang harga yang disedekahkan
* Justru Allah akan melipatgandakannya 10 hingga 700 kali
do sedekah

* Buatlah agar hatimu merasakan selalu diawasi Tuhanmu
* dengan demikian segala sikap dan ucapmu senantiasa lurus
do Muraqabah

* Jika kau berbuat khilaf, maka segeralah bertaubatlah
* Sesali, bertekad tidak mengulangi
* serta melakukan kebaikan untuk menutupi
* Silahkan baca prosedure taubatan nasuha
do Taubat

* Shalehkan diri, tebar manfaat untuk umat,
* siapkan amal untuk bekal saat perjumpaan dengan ajal
* Setelah engkau memperbaiki diri, jangan lupa untuk beramal
* Setelah salam terucap, engkau dititah untuk bertebaran
* Maka penuhilah dunia dengan amal terbaikmu
do Tarbiyah_dzatiyah
do Amal_Prestatif

* Tutup harimu dengan muhasabah diri
* Sesali dan minta maaflah kepada orang-orang yang kau dzalimi
if (Hari_Ini == malam)
do Muhasabah
endif

@lisan say kalimat(Penutup_Aktifitas)

enddo // Lakukan semuanya sepanjang hayat
*----------------------------------------------------------------------*

Minggu, 27 Maret 2011

Kembali Menyusun Hikmah

Pada awalnya, mungkin, ia terlalu tinggi menengadahkan harapan..tanpa menyadari bahwa dalam semua ikhtiarnya tetaplah ada skenario Alloh yang tak akan mampu terelak. Bukan harapan sebenarnya yang menjadi masalah, hanya orientasinya pada saat itu belum benar-benar lurus menuju ridha-Mu, hingga Alloh membuatnya terdampar pada sebuah suasana yang belum pernah ia rencanakan. Karena cinta-Mu, Engkau tawarkan harapan lain yang lebih ia butuhkan.

Saat itu, otaknya terus memutar kendali, mencari makna apa yang ingin Dia sampaikan dari semua keputusan itu. Namun, ia sadari..ada sesuatu yang tak cukup difahami oleh akal semata, imanlah yang mengawali terbukanya keterhijaban hati menuju hikmah.

Cukup lama ia ikuti alur yang harus dijalani, sesekali matanya terpejam..adakah ia belum ridho atas ketetapanNya? Melihat kondisi tempatnya mencari ilmu tak sesuai yang ia harapkan, terlebih suasana yang membuat ia kikuk untuk melakukan sesuatu.
Suasana hati, ya suasana hati belum selaras dengan apa yang diyakini. Imbasnya, ia mulai keteteran mengikuti pelajaran yang disampaikan, hanya karena satu alasan..”Ini bukan bidangku, aku tidak mampu melanjutkan ini.”

Untunglah Dia tak pernah sedikitpun letih membimbingnya. Teguran seorang teman cukup membuatnya tersentak..

“Sebenarnya anti hanya membuat alibi agar anti bisa pindah dari tempat itu. Bukan anti tak mampu mempelajarinya, tapi belum ikhlasnya anti untuk berada ditempat itu mengacaukan semua sistem yang seharusnya dapat mendukungmu untuk belajar.”

Yaa Rahiim, ia terhempas merasakan letih atas apa yang ia hadapi. Letih yang ia buat sendiri. Lalu ia putuskan untuk menghimpun kembali kekuatan. Sepertinya, kebelumikhlasan ia atas ketetapanMu telah menguap membentuk kabut yang menghalanginya untuk menikmati hikmah. Entah dimana hatinya ketika ayat-ayatMu ia tilawahkan, entah dimana ia letakkan ilmu mengelola hati yang selama ini ia dapat dari para asatidz.

Inilah saat yang tepat untuk mengkomunikasikan hati dan pikiran, lirihnya. Ia pun memilih menyendiri, berlari menuju rumahMu. Baru ia tapakkan kakinya dipelataran, sudah sangat terasa betapa Alloh merindukannya. Di masjid berlantai kayu itu, ia utarakan semua yang menghimpitnya padaMu. Ia menangisi dirinya sendiri, betapa kerdilnya iman yang ia miliki ketika ia berpikir bahwa kebahagiaan hanya terletak pada yang kasat mata saja. Hingga ia rindukan dirinya yang dulu, diri yang bahagia dengan senyumannya, diri yang bahagia dengan setiap amanah yang Alloh berikan, diri yang bahagia karena yakinnya terhadap janjiMu bahwa dibalik kesulitan itu selalu ada kemudahan.

Al Kariim, tanpa disadari, terbilang hitungan hari ia sempat menjauh dariMU. Padahal letihnya raga, tak seharusnya melemahkan hati. Kini ia kembali mengurai syukur, karena disamping tempat itu, Engkau posisikan ia disebuah pesantren sebagai penyeimbang. Disini Engkau beri ia kesempatan untuk memaknai ilmuMu lebih dalam lagi, ilmu yang InsyaAlloh mendekatkannya pada al-haq. Alhamdulillah, ia kembali menyusun hikmah. Karena cinta-Mu, Engkau tawarkan harapan lain yang lebih ia butuhkan.

“Kadang bukan suasana yang harus diganti, tapi rasa yang harus diperbaiki. Kau belum tentu bahagia dengan hanya berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Kembalilah kepada rasa yang seharusya ada pada dirimu agar kau bahagia.” (Aidh bin Abdullah Al Qarniy)

“Katakanlah, “Wahai hamba-hambaku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Alloh! Sesungguhnya Alloh mengampuni dosa-dosa dari semuanya. Sungguh Dialah yang Maha Pengampun, Maha Penyayang. Dan kembalilah kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepadaNya....” (QS Az-Zumar 53-54)


(Alhamdulillah, terimakasih Alloh, Kau berikan sebuah amanah yang membuatku tak bisa pindah dari kampus ini. Mungkin ini caraMu untuk memberiku kebahagiaan itu. Terimakasih ummi & abi tercinta yang sudah setia mendengarkan cerita2ku disini :) Akhirnyaa, Jazakumullah.. zahra, deli, nita, esty & teman2 yg lain...kalian yang menguatkanku untuk bertahan di tempat ini. Semoga Alloh selalu berikan keistiqomahan dalam setiap gerak hati, fikiran dan lisan kita. Amiin Yaa Robb. Hamasah!!)

*Semua ketetapanNya sangat patut disyukuri ^^

Minggu, 20 Februari 2011

Mempersiapkan Masalah

Bismillaahirrohmaanirrohiim…

Hari ini, benar-benar ingin menjauh dari segala pernak-pernik yang berhubungan dengan kuliah. Saat ini saja..untuk merefleksikan hati dan bercengkrama dengan masalah..(efek UAS PTI kemarin sepertinya.. :D). Eit, tenang dulu sahabat...tak akan kubuat tulisan ini sia-sia, Insya Alloh..

Sebelum masuk ke topik inti (halaah... -_-“ ). Yuk kita kendurkan dulu ketegangan yang menghimpit kita dengan istighfar..sudah?! baiklah, tulisan ini hanya boleh dibaca oleh pihak-pihak yang mencintai senyum..hehe, ^^

Sahabat, pernahkah kita mempersiapkan sebuah masalah?
(lho ko masalah dipersiapkan? bukannya kita harus memberantas si masalah itu biar hati kita tenang?)

Oh,tidak bissa..!! maksudnya gini lho sahabatku, saya bantu dengan ilustrasi ya..

Misalkan, saya membayangkan kalau suatu hari nanti Alloh mengundang saya untuk berkunjung ke Baitulloh (Amiin Yaa Robb..) dengan rizki yang tidak diduga-duga. Tentunya pada saat itu saya akan sangat bersyukur, dan tanpa tedeng aling-aling langsung menerima undangan itu. Saya pun mulai membayangkan perjalanan indah saya ketika menaiki pesawat dengan jama’ah lain. Tapi tiba-tiba saya ingat kalau saya takut akan ketinggian!! (bukankah ini masalah?). Jelas saya tidak ingin membatalkan perjalanan ibadah yang sungguh sudah saya rindukan sejak lama hanya karena phobia ketinggian. Seketika itu otak saya pun mulai beraksi mencari solusi, membuat peta yang dapat mengantarkan saya menuju pintu keluar dari masalah itu. Pokoknya saya harus jadi pergi! Dan..taraaaaa, lampu ide pun menyala :D setelah mencoba mempelajari masalah, dan menyesuaikannya dengan kondisi yang ada, akhirnya saya menemukan jalan keluarnya yaitu saya tidak boleh duduk tepat disamping jendela pesawat. Yap, alhamdulillah masalah ini selesai dan solusi pun didapat.

Nah, sekarang sudah terbayang bukan apa itu “mempersiapkan masalah”?

Ya, terkadang ketika sedang merencanakan sesuatu seringkali kita tertahan oleh masalah-masalah yang kita bayangkan sendiri. Padahal masalah-masalah itu belum tentu terjadi, hanya saja seringkali kita ditakuti oleh ketidaksiapan kita dalam menghadapi masalah di kemudian hari. Tapi bersyukurlah sahabatku, disadari atau tidak saat sedang membayangkan sebuah masalah..hati dan pikiran kita secara spontan akan mencari jalan keluar sebagai langkah antisipasi. Betul?

Dalam sebuah buku, saya menemukan sebuah kalimat hikmah yang menggugah semangat saya. Begini bunyinya..

”Masalah adalah kesempatan untuk beristirahat, lalu bangkit dan berubah.”


Awalnya saya bingung kenapa harus dikatakan kesempatan untuk beristirahat? setelah saya renungi, ternyata memang benar..jika kita mampu menghadapi masalah dengan bijak, maka ia akan mengantarkan kita menuju sebuah pencerahan, menyingkap kabut yang menghalangi kemudahan..agar sadar kemana kita harus bersandar, mentafakuri kelemahan diri dan mengakui kebesaran Alloh Robbul Izzati yang menjanjikan jalan keluar dari setiap ujian masalah kita. Ujian adalah tarbiyah dari Alloh, apakah kita kan sabar ataupun sebaliknya.. (The Zikr)

“Kini, dengan yakin kukatakan..masalah itu nikmat!!dengannya kutelusuri kesalahan-kesalahan yang ada dalam diri ini, karenanya aku pun semakin mendekatkan diri pada Alloh..sungguh nikmat yang luar biasa.”


Selamat merangkum hikmah sahabat....semoga catatan yang sangat sederhana ini bermanfaat. Afwan, jika ada kata yang sia-sia..

Baiklah..masih dalam keadaan tersenyum ya, saya akhiri tulisan ini dengan sebuah do’a..

“Ya Tuhanku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah pula aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong.” (QS Al-Israa : 80)


Amiin Yaa Robbal ‘alamiin..

Barokallohu fiikum..^^

(Untukmu Saniku, Alloh tak pernah membatasi nikmat yang ia berikan untuk kita. Semangat ya.. \^_^/
Untukmu adikku, Azka..hikmah itu terhampar luas dan kaulah penentunya, akan disimpan dengan iman atau dibiarkan terserak begitu saja. Dari Ummi, abi dan dirimu, kutemukan sejatinya perjuangan.. \^_^/ )

Senandung Cinta Syuhada

Mati bagiku tiada masalah
Asalkan dalam ridho dan rahmat Alloh
Dengan jalan apa pun mati itu terjadi
Asalkan kerinduan kepadanya terpenuhi
Kuberserah menyerah kepada-Nya
Sesuai takdir dan kehendak-Nya
Semoga berkat dan rahmat Alloh tercurah
Pada setiap sobekan daging dan darah
(Khubaib Bin ‘Ady)



Bismillaahirrohmaanirrohiim...

Apa kabar sahabat? semoga selalu terpatri syukur yang tak terukur atas setiap aliran nikmat yang diberikan-Nya. Nikmat atas jari-jari kita yang masih leluasa melakukan sesuatu yang bermanfaat. Meski terlihat kecil, pernahkah terfikir jika suatu saat Alloh cabut nikmat atas jari telunjuk kita? mungkin karenanya kita akan kesulitan dalam menulis, bahkan kerepotan saat menyuapkan makanan..yuk bersyukur dari hal yang terkecil, agar semakin terbuka hati dan fikiran kita untuk merenungi setiap karunia dari-Nya..^^

Sahabat, pinjam waktumu sejenak..ada sekelumit kisah luar biasa dari seorang prajurit perindu syahid yang ingin kubagi, sejenak saja..InsyaAlloh terhampar hikmah yang mendalam dari kisahnya.

*****


Hari itu, haru menyeruak didalam hatinya. Lirih lisannya bergantian mengucap takbir dan tasbih. Selepas peperangan di Lembah Badar usai dan kaum muslimin menggenggam kemenangan, ia tak pernah menyangka akan memikul amanah yang agung dari sesosok yang dicintainya. Ya, hari itu ia terpilih sebagai duta yang diamanahi untuk menyebarkan cahaya kebenaran, menghujamkan ketauhidan dan mengajarkan islam kepada kabilah ‘udal dan Qarah.

Esoknya, berbekal keimanan yang kokoh, ia pun berangkat melakukan perjalanan bersama 9 orang duta lainnya yang diamanahi tugas yang sama. Sepanjang perjalanan ia terus merenungi bahwa ini bukanlah perjalanan yang mudah, musuh-musuh Alloh akan terus mengintai dan siap menghalangi perjalanan yang mulia itu kapan saja. Namun, kekhawatiran itu terkalahkan oleh ketaqwaan yang terpatri dalam dirinya dan rasa kecintaannya kepada Rasululloh.

Hingga suatu waktu, setibanya di sebuah perkampungan suku Hudzail yang terletak di perbatasan antara daerah ‘Usfan dan Makkah, sekelompok kafir Quraisy mencium keberadaan mereka. Para kafir Quraisy tentu tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, dengan sigap mereka menghimpun seluruh kaum kafir dari suku Hudzail untuk menghadang perjalanan utusan Rosululloh. Dengan nafsu yang membara para musuh Alloh itu menyiapkan beratus anak panah dan memburu mereka. Namun serbuan anak panah tersebut tidak menyurutkan langkah para pejuang kebenaran untuk melanjutkan perjalanan, hingga satu persatu dari mereka syahid dan hanya tersisa seorang saja yang luput dari pembunuhan itu. Adalah ia, yang kecintaannya terhadap Rosululloh sangatlah besar. Khubaib bin ‘Ady.

Setelah berhasil membunuh sahabat-sahabatnya, kafir Quraisy mengikatnya dengan perlakuan yang hina, lalu ia diiringkan ke Makkah dan dijual sebagai budak dengan harga yang mahal kepada keluarga Al-Harits bin ‘Amr bin Naufal, seorang bangsawan sekaligus pemimpin Quraisy yang ia bunuh di lembah Badar.
Seluruh keluarga yang mengetahui peristiwa kematian Al-Harits oleh dirinya langsung memperlakukannya seperti binatang peliharaan mereka dengan menawan dan merantainya di halaman rumah Bani Harits. Mereka membiarkan Khubaib tersiksa dalam keadaan seperti itu, mereka tidak memberinya makan dan membiarkannya terpanggang terik matahari.

Tibalah saatnya pengeksekusian khubaib..sebelum eksekusi dilakukan ia meminta izin untuk menegakkan sholat dua rakaat terlebih dahulu. Dengan tatapan yang menghinakan mereka pun mengizinkannya untuk sholat karena menyangka bahwa khubaib hendak mempertimbangkan untuk menyerah kalah dan menyatakan keingkarannya kepada Alloh, Rosululloh dan agama Islam. Namun ia tak menghiraukan tatapan-tatapan itu dan melanjutkan niatnya untuk melaksanakan sholat. Ia pun sholat dengan khusyu dan hati yang pasrah. Ia rasakan kenikmatan yang luar biasa dalam setiap rakaatnya yang panjang hingga ia enggan untuk meninggalkan sholat. Akan tetapi kemudian ia berpaling ke arah para algojo dan dengan lantang berkata..

“ Demi Alloh, jika bukan karena khawatir akan persangkaan kalian kepadaku bahwa aku takut mati, niscaya akan kulanjutkan lagi sholatku!!!”


*****


Pelepah kurma yang menyerupai kayu salib telah disiapkan kafir Quraisy, kemudian mereka pun menyeret Khubaib dan mengikatnya kukuh disana. Pada saat itu seorang Quraisy memberikan tawaran kebebasan kepadanya dengan Rosululloh sebagai tebusannya. Dengan tegas ia pun menjawab, mengalunkan senandung kecintaannya terhadap Rosululloh, manusia sempurna yang selalu ia rindukan kehadirannya..

“Demi Alloh, tak sudi aku bersama anak istriku selamat dan menikmati kesenangan dunia, sedang Rosululloh tertimpa musibah meski hanya oleh sepotong duri!!!”


Allohuakbar!!!!


Tanah Tan’im dipenuhi darah yang tumpah. Terik matahari di padang sahara, penyiksaan yang bertubi-tubi tak sedikit pun melunturkan keimanan yang telah kuat tertanam dalam dirinya. Hingga tak dihiraukannya lagi perih luka yang menyiksa tubuhnya, yang ia rasakan hanyalah syahdu mengantar detik-detik pertemuannya dengan Ar-Rahiim..menitiskan ketenangan dalam kalbunya yang terus membayangkan kenikmatan surga yang akan segera diraihnya dengan gelar syuhada. Hingga ia melemah dan tubuhnya sudah tak kuasa bergerak..hanya lirih lisannya mengucap do’a ditengah riuhnya suara-suara musuh Alloh yang menyiksanya..

“Allohu Robbi,,telah kami tunaikan tugas dari Rosul-Mu, maka sampaikanlah kepadanya tindakan orang-orang ini terhadap kami.”


Setelah itu, hening menyergap..Khubaib telah menjemput syahid, menyempurnakan pertemuannya dengan kekasih sejati yang telah lama ia rindu untuk melihatnya..Alloh Robbul Izzaty...

*****


Tak lama kemudian, Alloh mengabulkan doa Khubaib menjelang syahid. Rosululloh pun mengutus dua orang sahabat , Miqdad bin Amir dan Zubair bin Awwam untuk membebaskannya dari tiang salib. Biidznillah, sampailah mereka ke tempat itu dengan mudah. Keduanya segera menurunkan tubuh Khubaib. Sungguh, mereka takjub melihat tubuh Khubaib yang masih utuh dan tercium wangi yang semerbak darinya. Subhanalloh, bumi pun menyambut untuk merengkuh jasad Khubaib sepenuh cinta.

*****


(Terinspirasi dari buku Spiritual Problem Solving...terpetik hikmah di ahad pagi..^^ membaca kisah ini, saya kembali teringatkan dengan ayat cinta dari-Nya dalam QS Al-Imron 169-171.
“Kekokohan iman yang terpancar dari para syuhada tak akan pernah redup, karena dihati para perindu surga mereka tetaplah hidup..”
Pantaskah diri ini merindukan syahid????
Selamat merangkum hikmah sahabat.. ^^)

Minggu, 09 Januari 2011

1 Sen, berbuah Iman

Suatu hari, seorang Imam Besar Masjid London hendak pergi ke suatu tempat. Untuk menikmati perjalanan, ia memilih menaiki bis yang dirasa nyaman olehnya. Sebelum menempati tempat duduk, ia membayar ongkos terlebih dahulu pada supir bis. Transaksi selesai, ia pun menerima uang kembaliannya dan duduk dengan tenang di kursi paling kanan (kalau disini mah seringnya duduk dulu, baru bayar :D). Sepanjang perjalanan, lisannya tak henti mengucap tasbih melihat pemandangan indah yang ia lewati. Saat sedang asyik menikmati perjalanannya, tiba-tiba ia teringat pada uang kembalian yang masih ada ditangannya. Lalu ia segera mengambil dompetnya, kemudian menghitung kembali uang tersebut sebelum dimasukkan. Namun sebelum sempat dimasukkan, ia terperangah mendapati uang kembaliannya lebih 1 sen. Ia kebingungan, apa yang harus dilakukannya, apakah uang itu harus dikembalikan atau tidak. Di satu sisi, ia menyadari bahwa itu bukan haknya, disisi lain hatinya berbisik “Sudah, itu milikmu..si supir pun tidak akan rugi jika kamu mengambilnya..ambil saja, cuma 1 sen ini ko!”.
Bis semakin mendekati tempat yang ia tuju, sementara sisi2 hatinya masih terus berperang menyuarakan pendapatnya. Akhirnya bis merapat ke depan halte, ia pun beranjak sambil terus meyakinkan hatinya bahwa itu bukan hartanya, sekecil apapun nilai uangnya. Sebelum turun, ia menghampiri supir bis tadi dan mengembalikan uang yang bukan miliknya. Ketika akan turun, tiba2 ia dikagetkan dengan teriakan supir bis..”Tuaaaaan..anda lolos tuan..anda lolos!!!”
Ia heran, ada apa lagi ini? Belum terjawab keheranannya, ia kembali dikejutkan dengan kelakuan supir itu yang tiba2 merangkulnya dengan erat, masih ia dengar suara lirih supir itu “Anda lolos tuan,.. anda lolos.”
Dengan rasa bingung ia pun bertanya.. “Apa yang anda maksud tuan?”
Supir itu pun melepaskan rangkulannya,
“Bukankah anda Imam Besar Masjid London?”
“Benar..”
“Anda lolos tuan...” lirihnya lagi sambil tersenyum, “Sudah lama saya mempelajari Islam dan saya pun tertarik untuk terus mendalaminya. Hingga tadi saat melihat anda menaiki bis saya, saya sangat senang dan tiba2 saja terpikirkan untuk menguji sejauh mana anda mengamalkan apa yang telah anda dakwahkan selama ini. Saya pun menambahkan 1 sen di uang kembalian anda, sepanjang jalan saya memikirkan apa yang akan anda lakukan, sesekali saya khawatir jika anda berbuat yang tidak seharusnya. Memang, 1 sen itu tidaklah terlalu berarti untuk saya, tapi jika anda mengambilnya, sungguh anda telah berdosa. Anda telah mengambil harta saya dan membelokkan saya kembali pada kekafiran. Syukurlah, anda tidak mengecewakan saya..”
“Alhamdulillah…” ucap sang Imam lirih, andai saja si supir tau bahwa hatinya sempat berdebat sebelum memutuskan. Ah, terima kasih Yaa Robb…
“Sekarang…” supir itu melanjutkan perkataannya, “Saya ingin menyempurnakan niat saya untuk masuk Islam, saya akan bersyahadat!!” tegasnya penuh haru.
“AllohuAkbar..” Imam itu pun tersungkur, hati dan lisannya tak henti mengucap takbir dan rasa syukur yang teramat dalam, sungguh hidayah-Nya telah menyinari siapa yang dikehendaki-Nya.

(Catatan sederhana == Terinspirasi dari tausiah ba’da maghrib Ustadz Budi Prayitno)

Silahkan merangkum hikmah… :) maaf kalau ceritanya terlalu didramatisir..hehe :D

Kamis, 23 Desember 2010

Hikmah Tahajud (Tahajud menurut Sains)

Pada dasarnya tubuh manusia memiliki suatu kelenjar yang berperan penting di dalam otak yaitu kelenjar pineal. Kelenjar pineal disebut sebagai kelenjar paling misterius. Filsuf Decrates menyebutnya the seat of soul atau pusat jiwa. Berjuta-juta tahun lalu, binatang reptil kuno memiliki mata ketiga berada di puncak kepala, yang sangat sensitif terhadap cahaya dan mengatur perputaran irama alami pada tubuh mereka. Dalam perjalanan evolusi, "mata" tersebut telah masuk ke otak dan menjadi kelenjar pineal.
Posisi Kelenjar Pineal
Kelenjar pineal terletak di bagian dalam otak epifisis serebri. Bentuknya kerucut, ramping seperti buah pinus. Pada manusia, panjangnya kurang dari satu sentimeter. Di dalam kelenjar buntu otak pineal itu terdapat serabut-serabut saraf. Di antaranya ada yang berhubungan langsung dengan saraf penglihatan sehingga sangat sensitif terhadap cahaya.
Kelenjar pineal sebenarnya menghasilkan dua macam hormon penting untuk mengendalikan aktivitas manusia. Seratonin berfungsi sebagai pemberi semangat untuk melakukan aktivitas di siang hari. Sebaliknya, pada malam hari, di saat kelenjar-kelenjar lain kurang aktif, kelenjar pineal ini bekerja mencapai puncak fungsinya yaitu mengeluarkan hormon melatonin.
Melatonin (5-methoxy-N-acetyltryptamine) merupakan hormon yang memegang peranan penting terhadap regulasi beberapa fungsi biologis. Melatonin merupakan hormon yang berasal dari asam amino tryptophan sebagai prekursor sehingga produksi hormon melatonin sangat bergantung pada ketersediaan asam amino tryptophan di dalam tubuh. Tryptophan merupakan asam amino esensial yang produksi dalam tubuhnya sangat kecil sehingga perlu adanya asupan protein dari makanan.
Alur Pembentukan Melatonin
Hormon melatonin mempunyai tugas sebagai pengatur hormon-hormon lain untuk melaksanakan tugasnya. Ibarat orkes simfoni, melatonin berfungsi sebagai konduktor: mengatur dan menjaga keharmonisan kerja hormon, menjaga keteraturan metabolisme sel, mempertahankan efisiensi dan efektivitas kerja sel, membuat sel tidak mudah rusak.
Alur Kerja Melatonin
Yang menarik dari hormon melatonin ini adalah waktu produksinya. Kelenjar pineal yang menghasilkan hormon melatonin merupakan kelenjar yang sangat sensitif terhadap cahaya sehingga kelenjar ini aktif pada malam hari. Berdasarkan penelitian ternyata hormon metalonin ini paling banyak dihasilkan sekitar pukul 02.00 – 04.00 malam. Hal ini dikarenakan pada waktu itu gangguan cahaya dari alam paling minimal.
Kurva Melatonin terhadap Waktu

Berdasarkan penelitian ternyata jumlah produksi hormon melatonin dapat ditingkatkan dengan melakukan aktivitas yang dapat memperlancar aliran darah dan hormon dari otak ke seluruh tubuh. Aktivitas yang paling tepat adalah dengan melakukan sholat pada waktu tersebut yaitu sholat tahajud. Hal ini dikarenakan pada dasarnya gerakan sholat merupakan aktivitas paling proporsional bagi anatomi tubuh manusia, bahkan dari sudut medis sholat merupakan gudang obat dari berbagai jenis penyakit. Bentuk aktivitas inilah yang membedakan kualitas kesehatan antara seseorang yang bangun malam untuk sholat tahajud dan yang melakukan aktivitas lain.
Sholat merupakan kombinasi gerakan yang memungkinkan adanya aliran darah yang kaya oksigen dapat mengalir dengan lancar dan berkesinambungan antara otak dan seluruh tubuh. Hal ini dapat menstimulus kelenjar pineal untuk memproduksi hormon melatonin lebih maksimal. Dengan maksimalnya jumlah melatonin dalam tubuh, maka keseimbangan tubuh secara keseluruhan akan terjada, hal ini sangat berkaitan dengan peran hormon melatonin terhadap kinerja tubuh.
Berikut ini beberapa kegunaan hormon melatonin :
1. Berperan penting terhadap kondisi tidur yang baik termasuk menurunkan temperatur tubuh dan menjaga keadaan tubuh saat tidur.
2. Mengurangi kolesterol sehingga dapat memperkecil kemungkinan mengidap jantung koroner.
3. Mengatasi radikal bebas (antioksidan), hal ini dikarenakan melatonin dapat mentralisir zat radikal dengan menyumbangkan elektronnya. Selain itu melatonin dapat menghambat pembentukan peroksinitrit (prekursor radikal) dengan menghambat enzim nitrit oksida sintetase. Melatonin merupakan antioksidan yang lebih reaktif dibandingkan vitamin E atau glutation sehingga lebih efektif mengatai zat radikal yang masuk ke dalam tubuh
Skema Fungsi Melatonin sebagai Antioksidan
4. Meningkatkan keefektifan sistem kekebalan tubuh, hal ini dikarenakan melatonin dapat menstimulus produksi sitokin InterLeukin−2 (IL−2), InterLeukin−6 (IL−6), and InterLeukin−12 (IL−12) sebagai sistem imun tubuh.
5. Dapat mencegah kanker karena berdasarkan peneltitian hormon melatonin dapat secara langsung mencegah perkembangan sel kanker di dalam tubuh.
6. Melindungi tubuh dari polusi lingkungan serta efek racun.
7. Dapat meringankan kondisi penderita AIDS, karena melatonin sanggup merangsang sel-sel kekebalan tubuh yang abnormal menjadi normal.
Salah satu hal yang cukup menarik adalah ternyata melatonin sudah dapat dikemas menjadi obat (pil) yang dapat digunakan untuk mengingkatkan kadar melatonin dalam tubuh. Hal ini seharusnya dapat menjadi suatu keunggulan bagi umat Islam yang dapat memperoleh hormon melatonin ekstra tanpa harus membeli tetapi cukup dengan melaksanakan sholat tahajud secara rutin.

Sumber : www.webkimia.blogspot.com

Minggu, 15 Agustus 2010

Karya-Nya yang Kurindu

Salah satu karya terindah Allah yang kurindu untuk menikmatinya, lagi…menghirup sejuknya pagi ditengah rimbun pepohonan dan gemuruh takbir alam semesta, merenungi keindahan langit yang terlihat tak berjarak dengan bumi, menyusuri hamparan pasir yang halus menggelitik ditemani pasukan burung pencari nafkah dengan bekal tasbih di setiap kepakannya. Ah…serasa ingin terlempar kembali ke masa dimana aku menatap semua kebesaran Allah ini, rasanya semua pelik & penat yang kubawa saat itu luruh seketika, ada yang menariknya dengan lembut melebur bersama lautan ombak, hingga semuanya tak nampak lagi ke permukaan. Ringaaaaan…
Subhanallah, jika sudah seperti ini tak ingin kudekati lagi apapun yang dapat menggiringku untuk melupakan syukur. Maka nikmat-Mu yang mana lagi yang kan kudustakan?
Aku rindu wangi ombak…Aku rindu mengintip makhluk2 indah dibalik karang…aku rindu menyatu dengan laut, karya hebat-Mu yang bila kutuliskan semua tentangnya tak akan pernah bisa kurampungkan sampai halaman terakhir, karena sungguh nikmat-Mu tak terbatas dan tiada akhir..
Untuk melepas kerinduanku, untuk menggugah kekaguman rasa akan kebesaran-Nya, yuuuk kita selami potret indah ciptaan Allah yang satu ini….hehe.. 

_^Karang Tawulan, 2 tahun yang lalu^_






Subhanallah,Indahnya...barangkali ada yang berminat untuk rihlah kesini, :)

Ingatkan....

"...dan penuhilah janji ; sesungguhnya janji itu akan dimintai pertanggungjawabannya.“( QS. Al-Israa’ 34)

Bertemu jeda diantara sela hitungan..satu..dua..janjiii menebas ingatan..belum terbayar,

bertambah cacat amal, Astaghfirullaahal’adziim… :’(

Yang terikat, perkenankan aku mengingat kembali yang harus kulunasi. Sungguh disamping yang kuingat, ada yang terlupa.

Mohon dengan sangat..Agar aku menepati dan kau terpenuhi... T_T
Ingatkan....

BASHIRAH, ditengah Terbatasnya Mata Lahir



Bismillaahirrahmaanirraahiim…

Purnama nyaris sempurna, sinarnya benderang bak pelita di pekat malam. Sayup-sayup simfoni malam mulai meredup tak terdengar. Sunyi mengantarkan saya pada sebuah renungan tentang hakikat sebuah kebahagiaan ditengah keterbatasan.

Allah tak pernah pilih kasih terhadap hambaNYA. Semua hal yang Ia ciptakan telah diatur dengan desain paling sempurna, melalui ketelitian yang sedimikian rupa, melewati proses panjang yang sarat hikmah. Siang & malam Ia sibuk mengurusi hambaNYA tanpa kenal lelah.  Hingga terciptalah kita, makhluk  dengan sebaik-baik bentuk. Meski secara kasat mata, dalam pandangan manusia yang serba tak sempurna, nampaklah beberapa sosok dengan kondisi lahiriah yang terbatas.

Beberapa minggu terakhir, berkali-kali Allah pertemukan saya dengan seorang tunanetra. Di angkot, di perjalanan menuju kampus, di majlis ilmu, dan di tempat kerja.  Setiap kali bertemu mereka, yang pertama kali terbersit adalah rasa iba. Sempitnya saya merasa, betapa tidak nyamannya menyaksikan kehidupan alam yang memiliki berjuta pesona ini hanya dalam satu warna serta kondisi, hitam & gelap.  Betapa menyusahkannya ketika pergi kemana-mana harus membawa tongkat yang menjadi penuntun jalan. Betapa sedihnya saat ia tak mampu melihat lekuk wajah orang-orang yang dicintai & disayanginya.  Ah, sayangnya ketika rasa iba menguasai diri yang terpikirkan justru hanya satu titik saja, kelemahan. Nyatanya, siapa bilang mereka tak pernah bahagia?

***

Setahun lalu ketika saya masih tinggal di asrama, ada sosok luar biasa yang begitu berjasa dalam menyemangati & membentuk diri saya untuk konsisten berdekatan dengan Al-Qur’an. Beliau dan keluarganya tinggal persis disamping asrama santri. Karena akses kami dengan beliau cukup mudah, tak jarang setiap kali ada masalah atau keperluan yang berhubungan dengan asrama kami konsultasikan kepada beliau. Pun ketika ada beberapa santri yang mengalami kesulitan dalam belajar ,muraja’ah, dan menghafal Qur’an, kami tak segan untuk berbagi dan meminta solusi dari beliau. Sosok sederhana nan penuh semangat  ini tak lain adalah ustadz pembimbing tahfidz saya. Beliau hanya memiliki kemampuan melihat kurang lebih 50%. Kadang ketika berpapasan dengan para santri, ustadz seringkali keliru memanggil nama kami karena penglihatannya yang tidak jelas.

Beliau adalah seorang hafidz, kami seringkali dibuat terkesan oleh sosoknya. Sebelum waktu setor hafalan tiba, biasanya ustadz selalu mengompori kami untuk meningkatkan semangat menghafal dengan kisah2 hikmah ataupun petuah menggunggah yang sungguh kami nantikan setiap pagi.  Ketika tiba giliran menyetor hafalan, dengan sabar ustadz mendengarkan, memperbaiki hafalan yang salah, juga membenarkan makhraj & tajwid yang kurang tepat. Sempurna. Hafalan ustadz sangat kokoh, seakan-akan beliau hafal letak dari huruf ke huruf pada setiap ayat Al-Qur’an. Padahal penglihatannya sangat terbatas. Subhanallaah, ditengah keterbatasan Allah tlah memuliakannya dengan Al-Qur’an. Al-Qur’an telah menjadikan beliau sosok yang berpembawaan tenang, tajam pikirannya, bijaksana dalam menyikapi masalah, dan peka dalam setiap situasi.

Banyak contoh yang telah memberikan ibrah mendalam dalam diri saya dari seorang tunanetra. Ada Kang Hanan, siswa Aliyah yang buta sejak lahir namun telah beberapa kali menjuarai lomba pidato di pesantren, sekolah, hingga tingkat kabupaten. Ada juga LSM Ummi Maktum Voice, yang menginspirasi orang-orang agar bersegera menginfakkan sebagian rezekinya untuk menyebarkan Al-Qur’an Braille bagi para tunanetra. Dan masih banyak lagi sosok inspirasi dari kalangan mereka yang menyadarkan saya untuk tidak memandang sebelah mata atas kekurangannya.

***

BASHIRAH, kekuatan mata hati, adalah salah satu hadiah yang Allah berikan kepada orang-orang seperti mereka. Kondisi penglihatan yang terbatas mampu membuat mereka lebih peka menyikapi apa yang mereka dengar, lihat, raba dan rasakan. Ia adalah cahaya hati yang benderang, menuntun pemiliknya untuk berjalan sesuai hati nuraninya. Allah Maha Adil, mengangkat sebagian orang dengan kekurangan fisiknya dan menjatuhkan lainnya walaupun berjasad sempurna. Lihatlah bagaimana cara Allah mencukupi rezeki ditengah gelapnya pandangan seorang tunanetra. Bagaimana Allah meninggikan derajat seorang yang terbatas penglihatannya dengan sesuatu yang sangat mulia, Al-Qur’an. 

Kekuatan mata hati menjadi pelitanya. Allah telah menggantikan kebutaan matanya sebagai cahaya dalam pandangan dan pancaran di hati. Sehingga ia dapat melihat dengan mata hati, apa-apa yang tidak dapat dilihat oleh mata kepala orang lain. Mereka bahagia hingga tak lagi merasai kekurangan itu.

Lalu bagaimana dengan kita yang telah Allah sempurnakan lahiriahnya? Semoga tak pernah lupa mengurai syukur…karena disanalah sebenarnya kunci setiap kebahagiaan.


Syarifatun Nisa NH

Dalam renungan..

Lembar Cinta untuk Ananda # Pengantar Sederhana..



Bismillaahirrahmaanirraahiim…

Ada rindu yang mengendap setiap kali melihat teduh pandangan seorang anak. Ada cinta yang menyeruak ketika wajah-wajah polos nan pancarkan kejujuran itu tersenyum menyapa. Sesekali asa memainkan naluri keibuan diri, kelak akankah kujumpa permata hatiku? 




Ananda, penyejuk hati bunda..

Tak mengapa, meski saat ini kau masih terlukis sempurna dalam impian. Namun ketahuilah, sejak Allah amanahkan diri ini sebagai seorang wanita, saat itu pula bunda merasa telah dititipi benih yang akan menghuni rahim bunda kelak. Sibiran daging bukti keagungan Allah yang harus terjaga dengan sempurna. Bahkan jauh hari sebelum bunda menyempurnakan separuh agama, kau telah memiliki hak untuk bunda rawat dalam kebaikan.

Anakku, banyak orang bilang..buah tak akan pernah jatuh jauh dari pohonnya. Mungkin tak keliru jika bunda mengartikan kelak ketaatanmu kepada Allah, kecintaanmu kepada Rasulullaah, komitmenmu terhadap dien Islam, kedekatanmu dengan Al-Qur’an tak akan jauh berbeda dari apa yang tertanam dalam diri bunda sejak saat ini. Baik, setengah-setengah ataukah buruk? Tentu bunda inginkan yang terbaik untukmu, nak…

Ananda, penentram jiwa bunda..

Seorang ibu adalah madrasah pertama untuk anaknya, yang apabila ia mempersiapkannya dengan baik maka akan terlahirlah generasi-generasi yang hebat buah dari pendidikannya. Lalu bunda tersadar, semua persiapan itu tidaklah instan, semua persiapan itu tidak bisa tercapai tiba-tiba. Perlu proses  panjang yang akhirnya membuat bunda banyak belajar dan memahami makna keutamaan sebuah “madrasah”. Ibarat menanam benih yang baik, agar ia tumbuh subur dan dapat memberi manfaat kelak kepada banyak orang, maka bunda harus mengetahui kapan saat terbaik untuk menyiramnya, pupuk apa saja yang akan menopang tumbuh kembangnya, bagaimana ilmu untuk merawatnya. Bunda harus telaten dan sabar untuk itu. Tak elok rasanya jika bunda inginkan yang terbaik untukmu, tapi bunda sendiri enggan berjuang memantaskan diri di hadapan Allah.

Untuk itu, sekuat tenaga bunda berusaha menempa dan mendidik diri sejak saat ini. Agar kau terbina sejak dini..bahkan sebelum kau terbentuk dan lahir dari rahim bunda, kuharap nanda sudah merasakan indahnya tarbiyah melalui diri bunda..Biidznillaahi ta’ala..

InsyaAllah, besok kita jumpa lagi ya, nanda…ini hanya pengantar sederhana dari banyak lembar impian, harapan dan do’a bunda untukmu..Sepertinya bibimu mulai kesulitan dengan tugasnya, bunda harus bantu bibi dulu.. :)

Bunda bingkis doa terindah untukmu nak,


“Rabby hably minash shaalihiin.” 
Shalih, shalihah, kelak jadilah permata hati bunda yang mencinta & dicintai Allah...




Teruntuk Adinda



Ingin kulukis senja..

Menyinar gradasi jingga di bening mata,

Menghapus gerimis-gerimis di sayu cahaya

Meski resahmu tak jua mereda

Adakah kau maknai adinda?

Untuk satu bilik makna

Hari ini dan seterusnya tak pernah berbeda

Pun ketika kau harus terluka,

Ada asa yang harus kita renda,

Selamanya tanpa jeda..

Di setiap hening masa,

Dalam seruak rasa,.

hati tak pernah sendiri , adinda ..

Ada Allah yang tak pernah tiada,

Menenun  cinta NYA untuk kita,

Menanti yang hina segera berbalut taqwa..

Rindui taubat hamba..

Karena hidup hanyalah tentang DIA



Beriring  ridhaNYA yang menyejuk di jiwa.



(Teruntuk adikku yang jauh dari pelupuk mata, semoga sedikit membasuh lara, meski tak cukup istimewa :) 
      

PANTAI HALOGENIA (Sekilas tentang Pendekatan Multiple Intelligence Semasa SMA)



Semburat warna mentari menyapa pagi dengan ramah, lembut menelusup celah-celah nyiur hijau yang berderet sepanjang tepian pantai. Pagi ini penduduk sekitar Pantai Halogenia nampak lebih sibuk dari biasanya. Sekumpulan anak-anak nelayan berlari-lari dengan riang, satu sama lain saling berkejaran menuju deburan ombak, menciduk airnya kedalam ember dan cepat-cepat membasahi gundukan pasir kering yang terletak agak jauh di pesisir pantai. Sebagian temannya yang lain tengah sibuk membentuk padatan pasir basah dengan cetakan-cetakan sederhana yang unik, membangun istana impian mereka.

Sementara itu tak jauh dari pantai, di sebuah gubuk sederhana, Nenek Halida terlihat sangat bersemangat memasukkan Kristal-kristal garam hasil panen siang kemarin kedalam bungkus-bungkus plastik kecil. Sesekali ia meneriaki cucu-cucunya Fluor, Clor, Brom dan Iod yang tengah bermain air laut untuk berhati-hati.

Pantai Halogenia yang eksotis semakin ramai dengan kunjungan para wisatawan yang hendak berlibur menikmati panorama indah yang menarik hati …


Pantai Halogenia? Memang ada ya? Dimana, dimana?

Hehe, teman-teman cari di peta mana pun, InsyaAllah saya yakin tidak akan menemukannya :D

Prolog diatas adalah sekilas cuplikan sebuah naskah, dan Pantai Halogenia adalah hasil imajinasi kami semasa belajar di kelas 3 SMA.

***

Berawal dari keresahan seorang guru kimia ketika mendapati nilai ulangan kimia kami  tidak juga menunjukkan kemajuan yang signifikan, padahal kimia termasuk salah satu mata pelajaran yang diikutsertakan dalam Ujian Nasional. Saat itu guru kimia kami sempat menanyakan dan mengevaluasi bersama mengapa hal itu bisa terjadi, dan salah satu penyebabnya adalah kebanyakan dari kami merasa jenuh dengan metode belajar klasik yang kami dapati di hampir semua mata pelajaran. Hingga muncullah ide cemerlang dari beliau yang membuat kami bingung cukup lama (hehe, aslinya sih saya yang bingung :D)

Waktu itu guru kami langsung membagi siswa-siswi yang ada di kelas menjadi beberapa kelompok dan memberi nama kelompok sesuai dengan judul BAB yang harus depelajari. Pikir kami, paling juga kami disuruh buat power point lagi, lalu mempresentasikannya di depan kelas. Tapi ternyata semua prasangka kami salaah besar.

Tak lama dari itu Pak Hadyan (guru kimia) menjelaskan tugas yang harus kami kerjakan yaitu menyajikan materi kimia dengan bermain drama. Sontak kami kaget, kelas tiba-tiba ramai..bagaimana bisa? Ini pelajaran kimia atau kesenian? Kemudian Pak Hadyan segera menenangkan kami dengan menyampaikan beberapa poin yang dapat kami lakukan untuk memulai proses pengerjaan tugas. Prinsipnya sebenarnya sama saja dengan presentasi, sebelum menyajikan kami harus mendalami materi terlebih dahulu, hanya perbedaannya sajian dibuat lebih kreatif melalui drama dan power point yang biasa dibuat berubah menjadi bentuk naskah.

Sebelum menyusun naskah, anggota kelompok yang pintar di pelajaran kimia mau tidak mau harus memahami lebih dulu sebelum membagi ilmu yang ia fahami kepada anggota kelompok lain, kemudian kami berdiskusi untuk menyamakan persepsi agar tidak salah menyampaikan materi dalam drama.

Setelah materi kami fahami, waktunya para penyusun naskah ambil bagian. Bermunculanlah ide kreatif dari semua anggota kelompok tentang drama yang akan dimainkan, mulai dari setting tempat, alur cerita, penokohan, sampai ide2 jenaka sebagai bumbu dalam drama. Kebetulan saat itu kelompok saya kebagian BAB tentang HALOGEN. Karena halogen adalah unsure pembentuk garam dan biasanya pembentukan garam identik terjadi di laut, akhirnya tercetuslah PANTAI HALOGENIA menjadi latar tempat dalam drama kami.

Awalnya cukup kesulitan juga ketika materi kimia yang biasa disampaikan dalam bahasa formal harus diolah kedalam bahasa naskah yang  harus mudah difahami oleh penonton. Tapi alhamdulillaah, mungkin karena baru kali itu kami merasakan belajar kimia dengan enjoy, tanpa dipusingkan dengan rumus2 yang njelimet, lalu mengalirlah inspirasi-inspirasi kami.

Untuk memudahkan dalam menyampaikan materi, kami membuat tokoh2 dalam drama berperan langsung sebagai unsure-unsure halogen dan unsure lain sebagai pereaksi. Agar kesannya tidak menggurui, kami menyampaikan sifat masing-masing unsure dengan candaan anak-anak nelayan yang sedang bermain di pantai. Salah satu contoh ketika menerangkan kereaktifan unsure2 halogen, kami mengemasnya menjadi bentuk permainan oray-orayan (saya kurang tau bahasa Indonesianya oray-orayan apa, ular-ularan gitu ya? -__-“) dimana setiap anak-anak yang memerankan tokoh Fluor (Fluorin), Clor (Clorin), Brom (Bromin), Iod (Iodin), dan Asti (Astatin) disusun berurutan sesuai dengan kereaktifan paling tinggi berdiri di depan, menyusul unsure-unsure dengan kereaktifan lebih rendah di belakangnya.

Uniknya, teman-teman yang mengaku kurang ngeuh dengan pelajaran kimia justru terlihat sangat menikmati perannya. Karena, saat itu proses belajar tidak semata terpaku pada kemampuan kognitif yang terkesan menganaktirikan teman-teman yang memiliki potensi dan kecerdasan di aspek lain. Ada teman saya yang sangat suka menari, dan ia pun mampu memaksimalkan potensi yang dimilikinya dengan memunculkan ide tarian anak-anak sebelum bermain pasir (bahkan lagu pengiringnya pun masih terekam jelas dalam ingatan saya, lagu milik penyanyi cilik Eno Lerian DuDiDuDiDam). Ada juga yang kecerdasannya muncul di musical, sibuk memilih musik-musik yang tepat untuk meramaikan drama.

Walaupun begitu kami tetap memahami esensi dari materi kimia yang harus kami sajikan, karena kami sadari selain memahamkan diri sendiri kami juga harus memahamkan isi materi kelompok kami kepada siswa lain. Satu hal yang menyenangkan bahwa kami dapat  memahami dan menyampaikan materi yang terbilang sulit dengan gaya belajar kami sendiri, sesuai kecerdasan yang dimiliki masing-masing. Cukup adil bukan?

***

Selama proses mendalami materi, penyusunan naskah, hingga pagelaran drama itulah yang selalu saya ingat sampai sekarang. Bagi saya drama kimia ini merupakan metode belajar yang paling mengesankan selama belajar di bangku sekolah. Pak Hadyan telah berhasil menstimulus kami untuk mempelajari kimia dengan kemasan yang terbilang aneh saat itu, hingga saya melihat teman-teman saya sangat maksimal memunculkan masing-masing potensi yang dimilikinya. Kami bisa dengan bebas mengeksplorasi kemampuan dan mengembangkan sayap-sayap imajinasi kami untuk dituangkan dalam drama kimia.

Sederhananya saya menyimpulkan bahwa seperti inilah salah satu potret penerapan strategy belajar dengan pendekatan Multiple Intelligence yang tengah marak dibahas di kalangan para pendidik. Dimana guru mampu membangunkan dan menarik keluar semua potensi yang terpendam dalam diri siswa didik dengan tidak memandang sebelah mata kecerdasan siswa lain yang mungkin dalam ukuran penilaia kognitifnya kurang, sehingga siswa merasa dapat memberikan manfaat dan kontribusi dalam setiap pembelajaran yang dilakukan.

Jujur saya masih sangaaattt sedikit pengalamannya di dunia pendidikan, masih harus banyak belajar. Hanya ingin berbagi pengalaman dan semoga apa yang telah didapat dari guru saya ini bisa menjadi inspirasi bagi guru-guru lainnya untuk lebih melejitkan kreativitasnya dalam mendidik siswa.

Terakhir saya ucapkan banyak terimakasih kepada guru-guru kehidupan yang telah sabar mendidik saya hingga saat ini. Semoga Alloh karuniakan balasan atas setiap ilmu yang diberikan dengan limpahan nikmat yang jauh lebih sempurna disisiNYA. Aamiin Yaa Rabb

Syarifatun Nisa NH
Penghujung Pagi, 150812



Rubel Sahaja #1

Bismillaahirrahmaanirrahiim,
"Ada banyak cara untuk menciptakan kebahagiaan dalam diri kita, salah satunya adalah dengan berbagi kebahagiaan itu sendiri kepada sesama."
Sekitar sebulan lalu saya mendapat kabar gembira dari The Ney dan kawan2 tentang tembusnya proposal Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang mereka gagas ke meja Dikti. Program Funtahsin Al-Qur’an untuk Anak-anak Jalanan Pasar Ciroyom yang bertujuan untuk membangun pendidikan karakter berbasis agama tersebut mendapat sambutan yang sangat positif dari pihak Dikti. Program inilah yang menjadi gerbang awal pertemuan kami dengan mereka, penguat rasa syukur kami.

Ahad sore menjelang ashar, alhamdulillaah terasa begitu berenergi sekali..selepas bertugas di SMM, saya langsung bersiap-siap untuk pergi ke Ciroyom. Seharusnya sudah dari 4 pekan lalu saya pergi ke tempat itu, namun karena ada beberapa hal yang harus diselesaikan di pesantren, keinginan untuk pergi kesana pun saya tabung dulu berminggu-minggu.

Angkot putih berpolet kuning yang saya tumpangi pun melaju dengan cepat. Sesampainya di pasar Ciroyom, bau menyengat khas pasar tradisional menyerbu indera penciuman saya. Jalanan becek, rutinitas pasar terlihat mulai berkurang, di sudut lain, aktivitas sekitar stasiun Ciroyom nampak masih ramai. Berbekal peta sederhana dari seorang sahabat saya pun memberanikan diri menyusuri sekitar pasar, melewati terminal kecil menuju sebuah bangunan bertingkat dekat tower yang menjadi patokan. Alhamdulillaah, akhirnya saya sampai di atap teratas pasar. Angin sepoi-sepoi terasa sangat menyejukkan, dan tiba-tiba saja saya dikerubuti sekelompok anak yang berebut menyalami saya.

 “Assalamu’alaikum, kaa, “

 “Jajang, kaa”

 “Nur, kaa”

“Evita..”

“Saya ian ka”

Wajah-wajah polos itu terlihat riang, satu persatu sibuk memperkenalkan dirinya. Ini kali pertama saya bertemu mereka..ya, baru sepersekian detik saja, mereka langsung menyambut hangat layaknya bertemu seseorang yang sudah dikenal lama, pintar sekali mereka membuka kunci kebahagiaan saya ^__^
Malu-malu saya pun mulai memperkenalkan diri didepan mereka.

Beberapa dari mereka terlihat kotor, sangat kotor…baju yang kumal, celana dekil dengan tali rapia melingkar di seputar pinggangnya yang kurus, kaki yang penuh lumpur tanpa alas, tangan yang lengket penuh lem..hiks, sedih sekali menyaksikan ini.

Ah ya, ada dua anak dengan kelakuan yang tak biasa berhasil menyedot perhatian saya. Mereka menatap saya dengan pandangan kosong. Tangan kiri mereka disembunyikan dibalik bajunya, kemudian lincah mengangkat bagian baju sekitar leher sampai menutupi hidungnya, dari balik baju mereka terlihat sesuatu menyembul, serupa wadah kecil yang isinya mereka hirup dalam-dalam. Penasaraaan, apa gerangan yang mereka hirup itu???

 #Bersambung :D
karena asrama sebentar lagi dikunci, ceritanya saya tangguhkan dulu ^____^

Hikmah# Kejutan Sepanjang Perjalanan

Matahari semakin terik, udara terasa tidak bersahabat, panasnya menjalar hingga ke ubun-ubun. Akhir-akhir ini cuaca sedang tidak stabil. Paginya panas, lalu siangnya tiba-tiba hujan lebat, atau terkadang sebaliknya. Keadaan ini membuat beberapa penumpang angkot Ledeng-Caheum nampak tidak nyaman. Di jok paling ujung seorang ibu terlihat sibuk mengibas-ngibaskan kipas kecilnya sampil mengusap dahi anaknya yang bercucuran keringat, disebelahnya sesosok lelaki berusaha menggeser kaca angkot yang macet. Saya sendiri memilih duduk dekat pintu angkot. Angin yang berhembus kencang lewat pintu yang terbuka, cukup mengurangi rasa gerah yang dirasa.



Alhamdulillaah, selang beberapa menit kemudian angkot merapat di terminal Cicaheum. Saya yang baru turun langsung diserbu oleh beberapa kuli angkut dan kondektur bus yang menawarkan jasa. Dengan cepat saya pun melesat, melewati tempat pembelian tiket yang sesak dan menaiki bus Budiman jurusan Pangandaran. Bus terlihat lengang, penumpang bisa dihitung jari. Satu, dua pedagang asongan yang sejak tadi bertahan di bus mulai putus asa menyodorkan dagangannya. Rasa lelah mendorong saya untuk segera duduk, dan hup... akhirnya saya menepi di jok terdepan belakang supir.



Langit nampak tenang seiring mata saya yang mulai meredup diserang kantuk. Sayup-sayup dari headset masih terdengar suara Ustadz Roni tengah mengisahkan shirah sahabat di MQFM. Budiman perlahan merayap diikuti bertambahnya para penumpang, termasuk dua jok samping kiri saya sekarang terisi. Sepasang suami istri itu melempar senyum santun kepada saya, siapa sangka, dua orang ini akan memberi baanyak sekali kejutan dan hikmah sepanjang perjalanan pulang…apa pasal???



***



Melewati kampus UIN Sunung Djati, tiba-tiba saya dan para penumpang dikejutkan oleh suara tinggi seorang bapak,



“Jadi minantu the sing sopan, ulah sok dulak delek lamun panggih jeung kolot urang the!!!” ujarnya dengan nada menyentak.



Saya yang sedang menikmati kajian shirah di MQ sontak menoleh kearah pemilik suara tersebut. Persis selang satu jok disamping saya terdapat seorang bapak dengan wajah gusar tengah memarah-marahi istrinya, telunjuknya menunjuk kejam kearah sang istri, si istri yang tak terima dengan perlakuan suami dengan sengit melawan sentakannya, begitu seterusnya, suaminya pun terus membentak dan membeberkan semua kekurangan istrinya dengan kencang. Beberapa menit kemudian keluarlah ultimatum dari mulut sang istri.



“Ceuk urang ge naon, lamun teu minat rumah tangga jeung urang, teu kudu kawin baheula the, hanjakal!!!” matanya menyolot.



(sebelumnya saya minta maaf memuat percakapan suami istri tersebut yg terkesan sangat kasar)



Saat itu posisi saya tepat dipojok suami istri tersebut, melihat dengan mata sendiri kronologis kejadiannya. Bingung, sambil terus beristighfar.. maksud hati ingin melerai tapi situasi tidak memungkinkan. Kondektur yang bertubuh kekar saja terlihat kesulitan menenangkan dua sejoli ini, bagaimana lagi saya? Sampai pada akhirnya pertengkaran pun terhenti oleh dering HP sang suami “Yaa Rosulalloh..Yaa Habiiballoh, Muhammad ibn abdillaah….” Syahdu sholawat terlantun, saya hanya bisa terbengong mendengarnya. Heran bukan kepalang... Alhamdulillaah, atas izin Alloh sholawat mampu meredamkan emosi keduanya. Dalam hati saya bergumam, untunglah bapak itu masih teringat Rosululloh.



Waktu yang tepat untuk pindah tempat duduk, dengan hati-hati saya pun segera meminta ijin untuk pindah tempat.



Di tempat duduk yang baru, hati saya terus mendengungkan keheranan, otak saya tak habis pikir atas kejadian tadi. Kok bisa ya suami memarahi istri di depan banyak orang? Kok bisa ya istri berani menyentak dan menyumpahi suami sendiri? Kejadian tadi berlangsung sekitar 20 menit, dan banyak sekali ibrah yang bisa saya petik darinya.



***



Pemicu utama pertengkaran sebenarnya berawal dari salahnya komunikasi, saya yakin maksud suaminya baik yaitu mengingatkan istrinya untuk berlaku sopan kepada mertuanya. Tapi, karena kehendak yang ia inginkan disampaikan dengan buruk, terkesan memojokkan sang istri, jadilah prahara memanjang. Pikir saya (sudut pandang orang yang belum menikah, hehe :D), alangkah baiknya jika dalam situasi ini istri berusaha menenangkan suami dan meredakan emosinya terlebih dahulu lalu kemudian mengajak berbicara dengan baik-baik. Tapi sayang yang terlihat justru sebaliknya, sang suami keukeuh dengan kesalahan istri yang baru ia tahu dari orang lain, sang istri mempertahankan dirinya dengan menujukkan ketidakmauan dikoreksi, terlihat kurang pandai dalam menyampaikan keinginan dengan lancar sehingga muncul salah paham dan memicu kemarahan satu sama lain, imbasnya terbeberlah aib kedua pasangan dan hilangnya rasa hormat istri kepada suami. Islam sendiri dengan indah telah memberi solusi dalam mengatasi masalah tsb, yaitu dengan melakukan tabayun (mencari kebenaran atas informasi yang didapat) terlebih dahulu, agar jelas tanduk permasalahannya. Andai saja sang suami tahu indahnya komunikasi Rosululloh ketika menasihati istrinya yang cemburu. Mari kita simak….



Dari Aisyah rodhiyallohu ‘anha, dia berkata,

“Aku tidak pernah melihat orang yang pandai memasak seperti halnya Shafiyah. Suatu hari dia membuatkan makanan bagi Rasululloh shollallohu ‘alaihi wassalam yang ketika itu beliau di rumahku. Seketika itu badanku gemetar karena rasa cemburu yang menggelegak. Lalu aku memecahkan bejana Shafiyah. Aku pun menjadi menyesal sendiri. Aku berkata ‘Wahai Rosululloh, apa tebusan atas apa yang kulakukan ini?’ Beliau menjawab, ‘Bejana harus diganti dengan bejana yang sama, makanan harus diganti dengan makanan yang sama’” (HR Abu Dawud dan Nasa’i)



Dalam riwayat lain diceritakan dari Anas rhodiyallohu ‘anhu,

“Ada diantara istri Nabi shollallohu ‘alaihi wassalam yang menghadiahkan semangkuk roti dicampur kuah kepada beliau, selagi beliau ada dirumah istri beliau yang lain (Aisyah). Aisyah menepis tangan pembantu yang membawa mangkuk, sehingga mangkuk itu pun jatuh dan pecah Nabi langsung memunguti roti itu dan meletakkan kembali diatas mangkuk, seraya berkata, ‘Makanlah, ibu kalian sedang cemburu.’ Setelah itu beliau menunggu mangkuk pengganti dan memberikan mangkuk yang pecah tadi kepada Aisyah.” (Diriwatkan oleh Bukhori, Tirmidzi, Ahmad, Abu daud dan Nasa’i)



Subhanalloh, tidaklah beliau mengatakan dan memperlakukan istrinya dengan kasar melainkan dengan teladan dan kata-kata yang haq. Tidak cukupkah dua hadits ini menjadi renungan?



Jika ada surga di dunia, maka itu adalah pernikahan yang bahagia. Tetapi jika ada neraka di dunia itulah rumah tangga yang penuh pertengkaran. Semua orang pastilah mengidamkan keluarga sakinah yang dikaruniai Alloh mawaddah dan rohmah. Dalam mencapai ini, maka komunikasi keduanya menjadi bagian yang sangat penting mengingat sebagian besar waktu kita adalah untuk berkomunikasi satu sama lain. Gagal berkomunikasi antara suami, istri maupun anak sangat rentan mengganggu keutuhan keluarga.



Kalau kata guru saya, “Teko hanya mengeluarkan isi teko, jika isinya kopi maka yang keluar pun kopi, jika isinya air bening maka yang keluarnya pun air bening.” Analogi ini mencerminkan bahwa perlakuan khususnya perkataan yang kita keluarkan adalah cermin dari hati kita, bisa jadi ketika suami istri mengucapkan kata-kata kasar satu sama lain berarti juga mencerminkan keadaan hatinya yang jauh dari Alloh. Wallohua’lam..maka, betapa pentingnya bagi kita untuk memohon selalu pertolongan dan bimbingan dari Alloh dalam keadaan ini, karena kita yakini betul bahwa hanya Alloh saja penggenggam hati kita.



Menurut Cahyadi Takariyawan, untuk membangun komunikasi yang baik antar komponen keluarga, hal yang pertama kali harus dimiliki adalah menciptakan visi keluarga yang jelas. Harus ada cita-cita besar yang terang benderang dan menjadi sebuah ikatan moral yang kokoh untuk diwujudkan dalam kehidupan. Mardhotillaah…Inilah visi yang sangat kokoh yang mengikat keluarga menuju muara yang sangat jelas, berlaku baik satu sama lain hingga bersama-sama meraih surga dan merindukan ridho Alloh dalam setiap kehidupannya. Wallohua’lam..



***



Tidak terasa bus sudah menempuh setengah perjalanan menuju Banjar, artinya sudah dua jam pertengkaran suami istri itu mereda. Diam-diam saya lihat pasangan itu sedang berbicara dengan tenang dan duduk berdampingan. Alhamdulillaah, singkatnya saya menebak mereka sudah berdamai..horeeee :D



Saya mulai menikmati perjalanan, gradasi warna senja yang terlukis dilangit terlihat sangat indah. Lamat-lamat terdengar adzan maghrib. Saya pun menyempatkan waktu mustajab antara adzan dan iqomat dengan memperbanyak do’a. Yaa Alloh, karuniakan padaku pendamping yang sholih, yang membersamaiku memikul amanah dariMU, bersama-sama menghidupkan ruh Al-Qur’an dalam keluarga kami kelak, menulis, berbagi, menebar hikmah dan manfaat kepada sesama. Jika suatu saat ada percikan ujian yang menimpa, lapangkan hati kami untuk menghadapinya bersama dan kokohkan ikatan kami dalam keimanan. Aamiin Yaa Robb..



Terima kasih atas kejutan singkat penuh ibrah itu Alloh, perjalanan panjang yang sarat hikmah. Sepertinya kejadian ini menjadi salah satu pengalaman yang tak terlupakan dan InsyaAlloh menjadi bekal bagi kehidupan saya kedepannya. Dengan kejadian ini, mungkin Alloh hendak membina diri saya untuk memikirkan dan melakukan aksi perbaikan diri terus menerus. Ya, semoga saja begitu. Pasangan kita adalah cerminan diri kita juga bukan?!



#Selamat merangkum hikmah sahabat :)



Syarifatun Nisa NH, 130412

Di teduhnya rumah tercinta ^__^

Bidadari


Ummi, disini banyak sekali bidadari mi..
seperti yang ummi ceritakan dulu,
bidadari-bidadari yg selalu menjaga dirinya dari fitnah dunia,
bidadari yang tunduk pandangan & hatinya demi mengharap ridho Alloh.
Bidadari cantik ya mi..
ingin sekali seperti mereka, bercahaya dengan penjagaanNYA :')

SEBENTUK KOMITMEN

Ini bukanlah hari menyejarah, bahkan masih terlalu jauh jika yang dimaksud adalah hari kelahiran..Ntah kenapa, sudah beberapa pekan perhatianku ditarik paksa menuju angka 19. Jika bukan karena tayangan itu, mungkin aku tak akan semerinding ini. Aku dibuat malu, menyaksikan sekumpulan kecil itu..riang sekali, teduh wajahnya mengalihkan semua penat yang sempat bertengger menyesakkan saraf. Aku larut dalam kisah mereka yang tak kasat mata, namun memancarkan bermilyar cahaya… Laksana buah utrujjah yang sangat harum aromanya, indah warnanya dan manis rasanya..mereka luar biasa melebihi yang lain.

Jika hidup ini diibaratkan sebuah perjalanan, seharusnya dalam hitungan tahun ke-19 aku telah menempuh jarak yang sangat jauh, maka anggaplah aku sempat merasa kelelahan mengayun langkah hingga suatu waktu ditengah perjalanan aku menemukan sebuah pohon yang sangat rindang memayungi sekelilingnya dan aku pun tak mampu mengelak untuk berteduh dibawahnya sembari menenangkan diri dan mempersiapkan kembali bekal perjalanan selanjutnya. Maka pohon yang menyejukkan itu adalah mereka…

Lekat kuikuti kembali kisah mereka di layar, lalu aku mulai membandingkan 19 itu dengan angka-angka yang mereka miliki, ada 5, 6, 7, 11, 15..selisih yang cukup jauh bukan? Angkaku jelas lebih tinggi dari mereka. Namun, dalam seketika aku pun terpekur memaknai hal itu, usiaku tepaut jauh dari mereka tapi prestasi mulia yang mereka raih jauh melampauiku. MasyaAlloh, kurasakan butir-butir itu mengalir. Al-Qur’an yang membuat mereka begitu bercahaya dalam pandanganku. Aku malu pada sosok-sosok suci itu, mereka telah mampu menghafal, menjaga, dan mengamalkan Al-Qur’an dalam usia dini yang penuh keimanan. Bagaimana tidak tergetar hatiku melihat kenyataan ini?

“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal sholih bahwa bagi mereka adalah pahala yang besar.” (Al-Isro’ [17] : 9)


Aku kecipratan kabar gembira yang tertoreh dalam Al-Qur’an dari mukmin-mukmin kecil itu, sahabat... Betapa bahagianya…istirahatku akhirnya membuahkan bekal.

Sedikit mendekati penghujung ke-19 yang tak lama lagi meningkat, aku akan melanjutkan perjalanan. Teriring do’a dari mereka yang tak lelah membimbing dan menyemangati, semoga istiqomah dan mampu menjadi sahabat Al-Qur’an. Perjalanan ini adalah sebentuk komitmen yang tak bisa ditawar lagi, dengan memohon selalu pertolongan dan rahmat Alloh, semoga angka2 bertingkat itu tak sekedar menjadi penghias usia..hingga pergantiannya selalu beriringan dengan nafas-nafas Al-Qur’an yang mendampingi perjalananku, hingga kutemui ridhoNya..

“Lihat dan renungkan,setiap orang yg bertekad akan sampai tujuan.
Dan tujuan yang paling mulia adalah menghafal Alquran sekalipun dapat di abaikan..
Jika engkau berniat,bergegaslah....
Jika engkau bertekad maka bulatkan,dan ketahuilah bahwa orang yang rela di barisan akhir tidak akan menemukan kebahagiaan....
Wahai yang bercita-cita tinggi untuk menghafal Al-Qur'an,
ruhmu merindukan keutamaan,semangatmu terpancar untuk melampaui perkebunan indah ini,agar engkau bisa memetik buah dan bunganya......
sekarang,sekarang saatnya engkau bergerak merapat menuju mushafmu.....menambah dan mengingat hafalan mu!!!”
(Ustadz Suhud)


"Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Quran untuk peringatan, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?."

menunggu, merindu, berjaga, berdo'a


Di suatu tempat,
ntah dimana
di dunia..
Seseorang menunggumu
berdo'a..
seperti do'a yang biasa engkau ucapkan
sehabis sholat

Pada suatu saat,
ntah apabila
di dunia..
seseorang merindukanmu,
berjaga-jaga,
seperti malam-malammu
yg berlalu sangat lambat

Seseorang menunggu, merindu, berjaga dan berdo'a
di suatu tempat,
pada setiap
seperti engkau
selalu..


(Sumber : Ajip Rosidi)

Bersabarlah Wahai Putri Ummi..

Ketika bunga itu telah mekar, maka ia akan menebarkan harumnya. Memberikan kesejukan bagi yang memandangnya, memberikan rasa tenang untuk sekelilingnya, menebarkan keindahan yang menyenangkan, bahkan anginpun selalu menyapanya dengan penuh kelembutan, serta matahari turut memberikan sinaran kehidupan yang selalu menggelorakan.


Pada saatnya nanti akan ada seorang yang akan mendatanginya, dengan membawa maksud untuk melindunginya. Tenanglah duhai putri ummi, pada waktunya nanti, pahlawanmu akan datang menjemput dengan penuh keridhoan dari Rabb-Nya.



Maka, tidak perlu ada keresahan ataupun rasa was-was untuk sebuah penantian. Karena semua telah ada yang mengurusnya. Pada waktunya kelak, akan ada sebuah moment indah yang tiada pernah terbayang.



Tak perlu keresahan itu menghantui, tak perlu kegelisahan menggelayuti. Asalkan kau terus berjalan dan memelihara hatimu sesuai yang disyariatkan oleh Tuhan-Mu wahai permata hati keluarga.



Rabb-Mu bahkan telah menakdirkan sosok belahan jiwamu ketika ruh mu baru saja ditiupkan dalam rahim ibu. Hanya do'a yang bisa memenuhi harapanmu, karena Allah pasti akan selalu merengkuh segala pengharapan-Mu pada-Nya. Hanya senandung do'amu lah yang bisa mengubah takdir yang buruk menjadi takdir indah.



Ketahuilah , janji Allah tiada pernah ingkar. Bahwa ketika engkau menjadi muslimah yang menghambakan diri sepenuhnya kepada Allah, lalu di hatimu hanya ada kecintaan kepada yang Maha memiliki cinta. Maka, yang akan menjemputmu kelak adalah hamba yang juga hatinya dipenuhi ketaqwaan, seorang hamba yang jiwanya selalu dekat dengan Rabb nya.



Kini, yang perlu kau lakukan adalah berkaca pada air mata kehidupan yang bening. Sudahkah engkau menjaga hati-Mu, wahai putri abi? Sudahkah kau junjung tinggi harkat dan martabatmu sebagai wanita yang kelak akan melahirkan penerus agama? Sudahkan engkau mulai mendo'akan segala kebaikan bagi permata hati yang kelak lahir dari rahimmu? Sudahkan engkau tersadar bahwa begitu banyak hal yang masih perlu kau renungi dan engkau persiapkan dalam masa penantian?



Berdamailah dengan jiwamu wahai perhiasan dunia, bahwa penantian adalah sebuah hadiah suci dari Rabb-Mu, penantian adalah sebuah keindahan dalam kehidupan, dan penantian adalah sebuah pendidikan langsung dari Yang Maha Memiliki Hati. Sebab kelak engkau akan menjadi samudra kehidupan bagi anak-anakmu. Penyejuk hati bagi Pendamping-Mu, penguat hati bagi belahan jiwamu, . Serta rahmat bagi sekeliling-Mu.



Ketika dalam setiap helaan nafasmu telah dipenuhi dengan kepasrahan kepada Rabb-Mu, maka tak perlu lagi kecemasan dan kekhawatiran akan sosok yang kelak menjadi pasanganmu. Kerana Allah Maha Mengetahui sedang dirimu tiada mengetahui apapun. Bahkan segala yang masih menjadi rahasia Allah, akan menjadi sebuah kejutan yang mengharukan batin bagimu.



Ketika dengan sepenuh jiwa dan raga kau berjuang menjaga diri dari segala kehinaan. Tak perlu kau dirundung pilu. Kerana Allah telah menyiapkan seorang hamba yang kelak dengan sepenuh jiwa dan raganya menjagamu, membimbingmu dalam menggapai ridho ilahi, dan mencintaimu karena Allah.



Maka, buatlah bidadari surga cemburu padamu, cemburu akan keteguhan menjaga harga diri muslimah, cemburu akan ketaatanmu kepada Allah, cemburu akan pesona yang engkau tebarkan untuk makhluk semesta, cemburu akan cinta dan kasih sayangmu yang sedalam dan seluas samudra, dan kesabaranmu dalam penantian… Kerana engkaupun pasti bisa menjadi bidadari dunia akhirat yang penuh dengan anugrah cinta dari Allah. Percayalah….=)


* renungan dalam "taman kebaikan", semoga bermanfaat dunia akhirat, amin ya Rabb..


**Kiriman dari ukhty dear, Mahshuna...


"Apa yang kau takutkan untuk sebuah pernikahan ukhti? sementara Allah dan RasulNya tlh memberikan banyak kebaikan didalamnya.. :)" tak lama setelah kiriman itu..ia, sahabatku, menanyakannya..

Aku menerawang, meski sedikit sesak kuutarakan,

"Aku khawatir, belum mampu menjadi madrasah terbaik untuk jundi-jundiku kelak. Sejenak ukhti, aku sedang mempersiapkannya dulu untuk amanahku. Tidak usah khawatir, tak ada yang kutakuti darinya. Semoga ia yang mendampingiku nanti tak pernah menyesali kebaradaanku dan selalu meridhai aku sebagai ibu dari jundi-jundinya :)
do'akan aku :)"

Tak Semua Rasa Bisa Ia Lisankan

Nyaman, setiap kali melihatnya dengan wajah ceria sekalipun aku tau tak banyak waktu yang ia gunakan untuk sekedar merebah lelah. Ia..dua tahun diatasku, wajahnya sederhana pun penampilannya. Sayang..ia sama sekali tak bisa membuatku sedikit saja membuang senyum, meski hanya sekedar berpapasan dengannya ^___^
Pagi itu, setelah beberapa lama bejibaku dengan tugas kuliah dan tuntutan kerja masing2, kami bertemu, lagi.. pandangannya lekat kearahku, namun sedikit sekali kulihat senyumnya.
"Ada apa?" heranku terucap, sambil sesekali melirik pakaian dan merapihkan jilbab, khawatir ada yang membuatnya tak nyaman dengan penampilanku saat itu.
"Tidak ada, " singkat.
Tak biasanya..
Kugamit lengannya, "Kenapa teteh….teteh kangen nisa ya?" kuajak ia tersenyum.
Ia diam, lalu melepas tanganku, sedikit kikuk ia pun menghambur kearahku, lirihnya
"Iyaa nisa, teteh kangen nisa, tapi teteh malu mau bilangnya."
Allah… di titik inilah kurasakan manisnya ukhuwah. Meski tak semua rasa bisa ia lisankan, bahkan untuk mengungkap rindu pada seorang adik pun begitu malu. Ada saatnya memang rasa-rasa itu tak perlu diobral, sekalipun tak diucapkan, keterkaitan hati dengan sendirinya meyampaikan. Alhamdulillah, terimakasih Yaa Rabb..atas rindu yang Kau titipkan padanya, untukku :)

Teruslah Berbuat

Semuanya terasa serba teratur meski dzahirnya terlihat tak tersusun, karena rangkaian cerita yang Alloh tetapkan selalu lebih indah dari yang kurangkai sendiri..selalu mengalir tak terencanakan, mencerminkan bahwa aku hanya mampu berperan sebagai konseptor kesekian setelah keMaha teraturan konsepNya. Dia, Alloh yang Maha Penyayang , tak ingin azzam dan ikhtiarku tertahan diujung pena..hingga dalam prosesnya Alloh yakinkan langkah ini, seakan kudengar titahNya, “Teruslah berbuat, AKU ingin melihat hambaKu berjuang lebih tangguh dari sebelumnya. AKU ingin meridhoi setiap langkahnya, maka jadikan niatmu selalu tertuju padaKU!!”
..Dan kubiarkan diri ini lelah di dunia, karena aku berharap istirahatku kelak bermanja-manja bersama Alloh Al-Lathif dan Rosululloh SAW..
Amiin Yaa Mujib...

Programmer Menjemput Surga

Ga sengaja, pas lagi searching tugas Algoritma, nemu postingan keren dari blog http://insansains.wordpress.com..ini isinya :)


*----------------------------------------------------------------------*
* PMHG.PRG *
* Program Melewati Hari dengan Gemilang *
* Keterangan : Program membuat diri selamat dunia dan akhirat *
* : Function dan Procedure tidak terlampir *
* Dibuat oleh : Insan Sains *
* Tanggal : 20 Oktober 2008 *
*----------------------------------------------------------------------*

*----------------------------------------------------------------------*
* INISIALISASI VARIABLE DAN KONSTANTA
* Set alarm pada 03:00 am
* Set kalimat pembuka aktifitas dengan basmallah
* Set kalimat penutup dengan hamdalah
* Dapatkan variable lainnya yang dapat membantu
*----------------------------------------------------------------------*
Alarm_Bangun = 03:00
Membuka_Aktifitas = "bismillah"
Menutup_Aktifitas = "alhamdulillah"
Masih_bernyawa = [undefined] //Tergantung anugrah nafas dari Allah
Hari_Ini = date()

*----------------------------------------------------------------------*
* Lakukan sepanjang hayat
*
do while (Masih_bernyawa)

* Jika alarm berbunyi atau engkau dijamu terbangun tengah malam
if (Alarm_Bangun == on) .or. (Automatic_wake_up == on)

* Bersyukurlah atas kehidupan yang dianugerahkan
* Bersyukur pula karena engkau dipilih-Nya sebagai
* hamba yang mendapat jamuan di sepertiga malam terakhir
@lisan say kalimat(Membuka_Akfitas)

* Lengkapi syukurmu dengan mengambil air wudhu
* Basahi wajahmu dengan air mata taubat
* Hadirkan kerinduanmu untuk berjumpa dengan Tuhanmu
do Ambil_Wudhu // silahkan baca prosedur Ambil_Wudhu yang tepat

* Sempurnakan syukur & wudhumu dengan berdiri, menghampar sajadah
* Hadapkan wajahmu kepada Tuhan Semesta Alam
* Biarkanlah lambungmu jauh dari tempat tidur
* Disaat manusia lain lelap hangat tertidur
* Karena tentu ada ganti yang lebih baik bagimu kelak
do Tahajjud

* DIA senang bila hambanya meminta
* Maka berdoa dan mohon ampunlah kepada-Nya
* DIA pasti mengabulkan doa dan permohonanmu
do Munajat

* Jika hari Senin atau Kamis maka bersahurlah agar berkah
* Berpuasa sunnahlah, agar jasad, ruh, dan akalmu terjaga
* Bukankah ini sunnah yang paling dicintai oleh kekasih-Nya?
if (Hari_Ini == Senin) .or. (Hari_Ini == Kamis)
do Sahur
endif

* Jika masih ngantuk, tidurlah sejenak hingga terdengar adzan shubuh
* Manusia memiliki keterbatasan, jasadmu memiliki hak
* jangan memaksakan beribadah yang tidak mampu jasadmu memangkunya
if (Status_badan = ngantuk)
do Tidur_sejenak
endif

endif

* Dirikan shalat shubuh berjamaah
* Para malaikat turun ke bumi untuk memberkahi dan mendoakan
* para pecinta yang mencari kecintaan kepada Tuhannya.
* Tambahi dengan dengan tilawah
* Agar permulaan harimu basah dengan kalimat suci-Nya
do Shalat_Shubuh
do Tilawah

* Olah ragakan jasad sejenak
* DIA mencintai hamba-hamba-Nya yang kuat
* Kuat fisik, juga kuat ruhaninya.
do riyadhah

* Bersihkan badan, persiapkan diri mencari maisyah
* Jangan pernah meminta, jangan pernah menjadi beban
* Jangan pernah mengeluh, jangan sia-siakan harimu
do bersih_bersih
do persiapan_maisyah

* Bila cobaan, musibah dan ujian menghadang
* maka bersabar, ikhlaskan, dan tetaplah bertawakkal
* Bukankah Allah itu Maha Mengatur? Dia yang Maha Menggenggam
do case
case (Cobaan == Datang)
do Sabar

case (Musibah == Merintang)
do Iklaskan

case (Keinginan .not. Terpenuhi)
do Tawakkal

endcase

* Kamu hidup di zaman yang banyak hal syubhat merajalela
* Maka carilah yang halal-halal saja
* Selama engkau berpapasan dengan perempuan bukan mukhrim
* Tundukan pandangan, segera hisab diri
do while (Berpapasan == Perempuan_bukan_Muhrim)
do Tundukkan_Pandangan

* Cek kemampuan
* Jika sudah mampu dan siap, menikahlah
* Jika belum, istiqamahlah dalam berpuasa sunnah
Kemampuanku = Check_Kemampuan(saat_ini)

if (Kemampuanku == OK)
do nikah // Menuju keluarga sakinah mawaddah warahmah

else
do puasa_sunnah

endif

enddo

* Tunaikanlah kewajiban-kewajibanmu kepada Allah
do tugas_khalifah

* Penuhi hak-hak saudara-saudaramu yang lain
* Beri dan jawablah salam untuk saudaramu seiman
* Doakan saudaramu bila ia bersin
* Berilah nasihat kepada saudaramu baik diminta maupun tidak
* Penuhi undangannya, bila ia mengundang
* [Coba baca kembali prosedur ber-amal sosial]
do penuhi_hak_manusia

* Bersedekahlah...!
* Baik disaat lapang, maupun disaat kurang
* Tak akan pernah berkurang harga yang disedekahkan
* Justru Allah akan melipatgandakannya 10 hingga 700 kali
do sedekah

* Buatlah agar hatimu merasakan selalu diawasi Tuhanmu
* dengan demikian segala sikap dan ucapmu senantiasa lurus
do Muraqabah

* Jika kau berbuat khilaf, maka segeralah bertaubatlah
* Sesali, bertekad tidak mengulangi
* serta melakukan kebaikan untuk menutupi
* Silahkan baca prosedure taubatan nasuha
do Taubat

* Shalehkan diri, tebar manfaat untuk umat,
* siapkan amal untuk bekal saat perjumpaan dengan ajal
* Setelah engkau memperbaiki diri, jangan lupa untuk beramal
* Setelah salam terucap, engkau dititah untuk bertebaran
* Maka penuhilah dunia dengan amal terbaikmu
do Tarbiyah_dzatiyah
do Amal_Prestatif

* Tutup harimu dengan muhasabah diri
* Sesali dan minta maaflah kepada orang-orang yang kau dzalimi
if (Hari_Ini == malam)
do Muhasabah
endif

@lisan say kalimat(Penutup_Aktifitas)

enddo // Lakukan semuanya sepanjang hayat
*----------------------------------------------------------------------*

Kembali Menyusun Hikmah

Pada awalnya, mungkin, ia terlalu tinggi menengadahkan harapan..tanpa menyadari bahwa dalam semua ikhtiarnya tetaplah ada skenario Alloh yang tak akan mampu terelak. Bukan harapan sebenarnya yang menjadi masalah, hanya orientasinya pada saat itu belum benar-benar lurus menuju ridha-Mu, hingga Alloh membuatnya terdampar pada sebuah suasana yang belum pernah ia rencanakan. Karena cinta-Mu, Engkau tawarkan harapan lain yang lebih ia butuhkan.

Saat itu, otaknya terus memutar kendali, mencari makna apa yang ingin Dia sampaikan dari semua keputusan itu. Namun, ia sadari..ada sesuatu yang tak cukup difahami oleh akal semata, imanlah yang mengawali terbukanya keterhijaban hati menuju hikmah.

Cukup lama ia ikuti alur yang harus dijalani, sesekali matanya terpejam..adakah ia belum ridho atas ketetapanNya? Melihat kondisi tempatnya mencari ilmu tak sesuai yang ia harapkan, terlebih suasana yang membuat ia kikuk untuk melakukan sesuatu.
Suasana hati, ya suasana hati belum selaras dengan apa yang diyakini. Imbasnya, ia mulai keteteran mengikuti pelajaran yang disampaikan, hanya karena satu alasan..”Ini bukan bidangku, aku tidak mampu melanjutkan ini.”

Untunglah Dia tak pernah sedikitpun letih membimbingnya. Teguran seorang teman cukup membuatnya tersentak..

“Sebenarnya anti hanya membuat alibi agar anti bisa pindah dari tempat itu. Bukan anti tak mampu mempelajarinya, tapi belum ikhlasnya anti untuk berada ditempat itu mengacaukan semua sistem yang seharusnya dapat mendukungmu untuk belajar.”

Yaa Rahiim, ia terhempas merasakan letih atas apa yang ia hadapi. Letih yang ia buat sendiri. Lalu ia putuskan untuk menghimpun kembali kekuatan. Sepertinya, kebelumikhlasan ia atas ketetapanMu telah menguap membentuk kabut yang menghalanginya untuk menikmati hikmah. Entah dimana hatinya ketika ayat-ayatMu ia tilawahkan, entah dimana ia letakkan ilmu mengelola hati yang selama ini ia dapat dari para asatidz.

Inilah saat yang tepat untuk mengkomunikasikan hati dan pikiran, lirihnya. Ia pun memilih menyendiri, berlari menuju rumahMu. Baru ia tapakkan kakinya dipelataran, sudah sangat terasa betapa Alloh merindukannya. Di masjid berlantai kayu itu, ia utarakan semua yang menghimpitnya padaMu. Ia menangisi dirinya sendiri, betapa kerdilnya iman yang ia miliki ketika ia berpikir bahwa kebahagiaan hanya terletak pada yang kasat mata saja. Hingga ia rindukan dirinya yang dulu, diri yang bahagia dengan senyumannya, diri yang bahagia dengan setiap amanah yang Alloh berikan, diri yang bahagia karena yakinnya terhadap janjiMu bahwa dibalik kesulitan itu selalu ada kemudahan.

Al Kariim, tanpa disadari, terbilang hitungan hari ia sempat menjauh dariMU. Padahal letihnya raga, tak seharusnya melemahkan hati. Kini ia kembali mengurai syukur, karena disamping tempat itu, Engkau posisikan ia disebuah pesantren sebagai penyeimbang. Disini Engkau beri ia kesempatan untuk memaknai ilmuMu lebih dalam lagi, ilmu yang InsyaAlloh mendekatkannya pada al-haq. Alhamdulillah, ia kembali menyusun hikmah. Karena cinta-Mu, Engkau tawarkan harapan lain yang lebih ia butuhkan.

“Kadang bukan suasana yang harus diganti, tapi rasa yang harus diperbaiki. Kau belum tentu bahagia dengan hanya berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Kembalilah kepada rasa yang seharusya ada pada dirimu agar kau bahagia.” (Aidh bin Abdullah Al Qarniy)

“Katakanlah, “Wahai hamba-hambaku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Alloh! Sesungguhnya Alloh mengampuni dosa-dosa dari semuanya. Sungguh Dialah yang Maha Pengampun, Maha Penyayang. Dan kembalilah kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepadaNya....” (QS Az-Zumar 53-54)


(Alhamdulillah, terimakasih Alloh, Kau berikan sebuah amanah yang membuatku tak bisa pindah dari kampus ini. Mungkin ini caraMu untuk memberiku kebahagiaan itu. Terimakasih ummi & abi tercinta yang sudah setia mendengarkan cerita2ku disini :) Akhirnyaa, Jazakumullah.. zahra, deli, nita, esty & teman2 yg lain...kalian yang menguatkanku untuk bertahan di tempat ini. Semoga Alloh selalu berikan keistiqomahan dalam setiap gerak hati, fikiran dan lisan kita. Amiin Yaa Robb. Hamasah!!)

*Semua ketetapanNya sangat patut disyukuri ^^

Mempersiapkan Masalah

Bismillaahirrohmaanirrohiim…

Hari ini, benar-benar ingin menjauh dari segala pernak-pernik yang berhubungan dengan kuliah. Saat ini saja..untuk merefleksikan hati dan bercengkrama dengan masalah..(efek UAS PTI kemarin sepertinya.. :D). Eit, tenang dulu sahabat...tak akan kubuat tulisan ini sia-sia, Insya Alloh..

Sebelum masuk ke topik inti (halaah... -_-“ ). Yuk kita kendurkan dulu ketegangan yang menghimpit kita dengan istighfar..sudah?! baiklah, tulisan ini hanya boleh dibaca oleh pihak-pihak yang mencintai senyum..hehe, ^^

Sahabat, pernahkah kita mempersiapkan sebuah masalah?
(lho ko masalah dipersiapkan? bukannya kita harus memberantas si masalah itu biar hati kita tenang?)

Oh,tidak bissa..!! maksudnya gini lho sahabatku, saya bantu dengan ilustrasi ya..

Misalkan, saya membayangkan kalau suatu hari nanti Alloh mengundang saya untuk berkunjung ke Baitulloh (Amiin Yaa Robb..) dengan rizki yang tidak diduga-duga. Tentunya pada saat itu saya akan sangat bersyukur, dan tanpa tedeng aling-aling langsung menerima undangan itu. Saya pun mulai membayangkan perjalanan indah saya ketika menaiki pesawat dengan jama’ah lain. Tapi tiba-tiba saya ingat kalau saya takut akan ketinggian!! (bukankah ini masalah?). Jelas saya tidak ingin membatalkan perjalanan ibadah yang sungguh sudah saya rindukan sejak lama hanya karena phobia ketinggian. Seketika itu otak saya pun mulai beraksi mencari solusi, membuat peta yang dapat mengantarkan saya menuju pintu keluar dari masalah itu. Pokoknya saya harus jadi pergi! Dan..taraaaaa, lampu ide pun menyala :D setelah mencoba mempelajari masalah, dan menyesuaikannya dengan kondisi yang ada, akhirnya saya menemukan jalan keluarnya yaitu saya tidak boleh duduk tepat disamping jendela pesawat. Yap, alhamdulillah masalah ini selesai dan solusi pun didapat.

Nah, sekarang sudah terbayang bukan apa itu “mempersiapkan masalah”?

Ya, terkadang ketika sedang merencanakan sesuatu seringkali kita tertahan oleh masalah-masalah yang kita bayangkan sendiri. Padahal masalah-masalah itu belum tentu terjadi, hanya saja seringkali kita ditakuti oleh ketidaksiapan kita dalam menghadapi masalah di kemudian hari. Tapi bersyukurlah sahabatku, disadari atau tidak saat sedang membayangkan sebuah masalah..hati dan pikiran kita secara spontan akan mencari jalan keluar sebagai langkah antisipasi. Betul?

Dalam sebuah buku, saya menemukan sebuah kalimat hikmah yang menggugah semangat saya. Begini bunyinya..

”Masalah adalah kesempatan untuk beristirahat, lalu bangkit dan berubah.”


Awalnya saya bingung kenapa harus dikatakan kesempatan untuk beristirahat? setelah saya renungi, ternyata memang benar..jika kita mampu menghadapi masalah dengan bijak, maka ia akan mengantarkan kita menuju sebuah pencerahan, menyingkap kabut yang menghalangi kemudahan..agar sadar kemana kita harus bersandar, mentafakuri kelemahan diri dan mengakui kebesaran Alloh Robbul Izzati yang menjanjikan jalan keluar dari setiap ujian masalah kita. Ujian adalah tarbiyah dari Alloh, apakah kita kan sabar ataupun sebaliknya.. (The Zikr)

“Kini, dengan yakin kukatakan..masalah itu nikmat!!dengannya kutelusuri kesalahan-kesalahan yang ada dalam diri ini, karenanya aku pun semakin mendekatkan diri pada Alloh..sungguh nikmat yang luar biasa.”


Selamat merangkum hikmah sahabat....semoga catatan yang sangat sederhana ini bermanfaat. Afwan, jika ada kata yang sia-sia..

Baiklah..masih dalam keadaan tersenyum ya, saya akhiri tulisan ini dengan sebuah do’a..

“Ya Tuhanku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah pula aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong.” (QS Al-Israa : 80)


Amiin Yaa Robbal ‘alamiin..

Barokallohu fiikum..^^

(Untukmu Saniku, Alloh tak pernah membatasi nikmat yang ia berikan untuk kita. Semangat ya.. \^_^/
Untukmu adikku, Azka..hikmah itu terhampar luas dan kaulah penentunya, akan disimpan dengan iman atau dibiarkan terserak begitu saja. Dari Ummi, abi dan dirimu, kutemukan sejatinya perjuangan.. \^_^/ )

Senandung Cinta Syuhada

Mati bagiku tiada masalah
Asalkan dalam ridho dan rahmat Alloh
Dengan jalan apa pun mati itu terjadi
Asalkan kerinduan kepadanya terpenuhi
Kuberserah menyerah kepada-Nya
Sesuai takdir dan kehendak-Nya
Semoga berkat dan rahmat Alloh tercurah
Pada setiap sobekan daging dan darah
(Khubaib Bin ‘Ady)



Bismillaahirrohmaanirrohiim...

Apa kabar sahabat? semoga selalu terpatri syukur yang tak terukur atas setiap aliran nikmat yang diberikan-Nya. Nikmat atas jari-jari kita yang masih leluasa melakukan sesuatu yang bermanfaat. Meski terlihat kecil, pernahkah terfikir jika suatu saat Alloh cabut nikmat atas jari telunjuk kita? mungkin karenanya kita akan kesulitan dalam menulis, bahkan kerepotan saat menyuapkan makanan..yuk bersyukur dari hal yang terkecil, agar semakin terbuka hati dan fikiran kita untuk merenungi setiap karunia dari-Nya..^^

Sahabat, pinjam waktumu sejenak..ada sekelumit kisah luar biasa dari seorang prajurit perindu syahid yang ingin kubagi, sejenak saja..InsyaAlloh terhampar hikmah yang mendalam dari kisahnya.

*****


Hari itu, haru menyeruak didalam hatinya. Lirih lisannya bergantian mengucap takbir dan tasbih. Selepas peperangan di Lembah Badar usai dan kaum muslimin menggenggam kemenangan, ia tak pernah menyangka akan memikul amanah yang agung dari sesosok yang dicintainya. Ya, hari itu ia terpilih sebagai duta yang diamanahi untuk menyebarkan cahaya kebenaran, menghujamkan ketauhidan dan mengajarkan islam kepada kabilah ‘udal dan Qarah.

Esoknya, berbekal keimanan yang kokoh, ia pun berangkat melakukan perjalanan bersama 9 orang duta lainnya yang diamanahi tugas yang sama. Sepanjang perjalanan ia terus merenungi bahwa ini bukanlah perjalanan yang mudah, musuh-musuh Alloh akan terus mengintai dan siap menghalangi perjalanan yang mulia itu kapan saja. Namun, kekhawatiran itu terkalahkan oleh ketaqwaan yang terpatri dalam dirinya dan rasa kecintaannya kepada Rasululloh.

Hingga suatu waktu, setibanya di sebuah perkampungan suku Hudzail yang terletak di perbatasan antara daerah ‘Usfan dan Makkah, sekelompok kafir Quraisy mencium keberadaan mereka. Para kafir Quraisy tentu tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, dengan sigap mereka menghimpun seluruh kaum kafir dari suku Hudzail untuk menghadang perjalanan utusan Rosululloh. Dengan nafsu yang membara para musuh Alloh itu menyiapkan beratus anak panah dan memburu mereka. Namun serbuan anak panah tersebut tidak menyurutkan langkah para pejuang kebenaran untuk melanjutkan perjalanan, hingga satu persatu dari mereka syahid dan hanya tersisa seorang saja yang luput dari pembunuhan itu. Adalah ia, yang kecintaannya terhadap Rosululloh sangatlah besar. Khubaib bin ‘Ady.

Setelah berhasil membunuh sahabat-sahabatnya, kafir Quraisy mengikatnya dengan perlakuan yang hina, lalu ia diiringkan ke Makkah dan dijual sebagai budak dengan harga yang mahal kepada keluarga Al-Harits bin ‘Amr bin Naufal, seorang bangsawan sekaligus pemimpin Quraisy yang ia bunuh di lembah Badar.
Seluruh keluarga yang mengetahui peristiwa kematian Al-Harits oleh dirinya langsung memperlakukannya seperti binatang peliharaan mereka dengan menawan dan merantainya di halaman rumah Bani Harits. Mereka membiarkan Khubaib tersiksa dalam keadaan seperti itu, mereka tidak memberinya makan dan membiarkannya terpanggang terik matahari.

Tibalah saatnya pengeksekusian khubaib..sebelum eksekusi dilakukan ia meminta izin untuk menegakkan sholat dua rakaat terlebih dahulu. Dengan tatapan yang menghinakan mereka pun mengizinkannya untuk sholat karena menyangka bahwa khubaib hendak mempertimbangkan untuk menyerah kalah dan menyatakan keingkarannya kepada Alloh, Rosululloh dan agama Islam. Namun ia tak menghiraukan tatapan-tatapan itu dan melanjutkan niatnya untuk melaksanakan sholat. Ia pun sholat dengan khusyu dan hati yang pasrah. Ia rasakan kenikmatan yang luar biasa dalam setiap rakaatnya yang panjang hingga ia enggan untuk meninggalkan sholat. Akan tetapi kemudian ia berpaling ke arah para algojo dan dengan lantang berkata..

“ Demi Alloh, jika bukan karena khawatir akan persangkaan kalian kepadaku bahwa aku takut mati, niscaya akan kulanjutkan lagi sholatku!!!”


*****


Pelepah kurma yang menyerupai kayu salib telah disiapkan kafir Quraisy, kemudian mereka pun menyeret Khubaib dan mengikatnya kukuh disana. Pada saat itu seorang Quraisy memberikan tawaran kebebasan kepadanya dengan Rosululloh sebagai tebusannya. Dengan tegas ia pun menjawab, mengalunkan senandung kecintaannya terhadap Rosululloh, manusia sempurna yang selalu ia rindukan kehadirannya..

“Demi Alloh, tak sudi aku bersama anak istriku selamat dan menikmati kesenangan dunia, sedang Rosululloh tertimpa musibah meski hanya oleh sepotong duri!!!”


Allohuakbar!!!!


Tanah Tan’im dipenuhi darah yang tumpah. Terik matahari di padang sahara, penyiksaan yang bertubi-tubi tak sedikit pun melunturkan keimanan yang telah kuat tertanam dalam dirinya. Hingga tak dihiraukannya lagi perih luka yang menyiksa tubuhnya, yang ia rasakan hanyalah syahdu mengantar detik-detik pertemuannya dengan Ar-Rahiim..menitiskan ketenangan dalam kalbunya yang terus membayangkan kenikmatan surga yang akan segera diraihnya dengan gelar syuhada. Hingga ia melemah dan tubuhnya sudah tak kuasa bergerak..hanya lirih lisannya mengucap do’a ditengah riuhnya suara-suara musuh Alloh yang menyiksanya..

“Allohu Robbi,,telah kami tunaikan tugas dari Rosul-Mu, maka sampaikanlah kepadanya tindakan orang-orang ini terhadap kami.”


Setelah itu, hening menyergap..Khubaib telah menjemput syahid, menyempurnakan pertemuannya dengan kekasih sejati yang telah lama ia rindu untuk melihatnya..Alloh Robbul Izzaty...

*****


Tak lama kemudian, Alloh mengabulkan doa Khubaib menjelang syahid. Rosululloh pun mengutus dua orang sahabat , Miqdad bin Amir dan Zubair bin Awwam untuk membebaskannya dari tiang salib. Biidznillah, sampailah mereka ke tempat itu dengan mudah. Keduanya segera menurunkan tubuh Khubaib. Sungguh, mereka takjub melihat tubuh Khubaib yang masih utuh dan tercium wangi yang semerbak darinya. Subhanalloh, bumi pun menyambut untuk merengkuh jasad Khubaib sepenuh cinta.

*****


(Terinspirasi dari buku Spiritual Problem Solving...terpetik hikmah di ahad pagi..^^ membaca kisah ini, saya kembali teringatkan dengan ayat cinta dari-Nya dalam QS Al-Imron 169-171.
“Kekokohan iman yang terpancar dari para syuhada tak akan pernah redup, karena dihati para perindu surga mereka tetaplah hidup..”
Pantaskah diri ini merindukan syahid????
Selamat merangkum hikmah sahabat.. ^^)

1 Sen, berbuah Iman

Suatu hari, seorang Imam Besar Masjid London hendak pergi ke suatu tempat. Untuk menikmati perjalanan, ia memilih menaiki bis yang dirasa nyaman olehnya. Sebelum menempati tempat duduk, ia membayar ongkos terlebih dahulu pada supir bis. Transaksi selesai, ia pun menerima uang kembaliannya dan duduk dengan tenang di kursi paling kanan (kalau disini mah seringnya duduk dulu, baru bayar :D). Sepanjang perjalanan, lisannya tak henti mengucap tasbih melihat pemandangan indah yang ia lewati. Saat sedang asyik menikmati perjalanannya, tiba-tiba ia teringat pada uang kembalian yang masih ada ditangannya. Lalu ia segera mengambil dompetnya, kemudian menghitung kembali uang tersebut sebelum dimasukkan. Namun sebelum sempat dimasukkan, ia terperangah mendapati uang kembaliannya lebih 1 sen. Ia kebingungan, apa yang harus dilakukannya, apakah uang itu harus dikembalikan atau tidak. Di satu sisi, ia menyadari bahwa itu bukan haknya, disisi lain hatinya berbisik “Sudah, itu milikmu..si supir pun tidak akan rugi jika kamu mengambilnya..ambil saja, cuma 1 sen ini ko!”.
Bis semakin mendekati tempat yang ia tuju, sementara sisi2 hatinya masih terus berperang menyuarakan pendapatnya. Akhirnya bis merapat ke depan halte, ia pun beranjak sambil terus meyakinkan hatinya bahwa itu bukan hartanya, sekecil apapun nilai uangnya. Sebelum turun, ia menghampiri supir bis tadi dan mengembalikan uang yang bukan miliknya. Ketika akan turun, tiba2 ia dikagetkan dengan teriakan supir bis..”Tuaaaaan..anda lolos tuan..anda lolos!!!”
Ia heran, ada apa lagi ini? Belum terjawab keheranannya, ia kembali dikejutkan dengan kelakuan supir itu yang tiba2 merangkulnya dengan erat, masih ia dengar suara lirih supir itu “Anda lolos tuan,.. anda lolos.”
Dengan rasa bingung ia pun bertanya.. “Apa yang anda maksud tuan?”
Supir itu pun melepaskan rangkulannya,
“Bukankah anda Imam Besar Masjid London?”
“Benar..”
“Anda lolos tuan...” lirihnya lagi sambil tersenyum, “Sudah lama saya mempelajari Islam dan saya pun tertarik untuk terus mendalaminya. Hingga tadi saat melihat anda menaiki bis saya, saya sangat senang dan tiba2 saja terpikirkan untuk menguji sejauh mana anda mengamalkan apa yang telah anda dakwahkan selama ini. Saya pun menambahkan 1 sen di uang kembalian anda, sepanjang jalan saya memikirkan apa yang akan anda lakukan, sesekali saya khawatir jika anda berbuat yang tidak seharusnya. Memang, 1 sen itu tidaklah terlalu berarti untuk saya, tapi jika anda mengambilnya, sungguh anda telah berdosa. Anda telah mengambil harta saya dan membelokkan saya kembali pada kekafiran. Syukurlah, anda tidak mengecewakan saya..”
“Alhamdulillah…” ucap sang Imam lirih, andai saja si supir tau bahwa hatinya sempat berdebat sebelum memutuskan. Ah, terima kasih Yaa Robb…
“Sekarang…” supir itu melanjutkan perkataannya, “Saya ingin menyempurnakan niat saya untuk masuk Islam, saya akan bersyahadat!!” tegasnya penuh haru.
“AllohuAkbar..” Imam itu pun tersungkur, hati dan lisannya tak henti mengucap takbir dan rasa syukur yang teramat dalam, sungguh hidayah-Nya telah menyinari siapa yang dikehendaki-Nya.

(Catatan sederhana == Terinspirasi dari tausiah ba’da maghrib Ustadz Budi Prayitno)

Silahkan merangkum hikmah… :) maaf kalau ceritanya terlalu didramatisir..hehe :D

Hikmah Tahajud (Tahajud menurut Sains)

Pada dasarnya tubuh manusia memiliki suatu kelenjar yang berperan penting di dalam otak yaitu kelenjar pineal. Kelenjar pineal disebut sebagai kelenjar paling misterius. Filsuf Decrates menyebutnya the seat of soul atau pusat jiwa. Berjuta-juta tahun lalu, binatang reptil kuno memiliki mata ketiga berada di puncak kepala, yang sangat sensitif terhadap cahaya dan mengatur perputaran irama alami pada tubuh mereka. Dalam perjalanan evolusi, "mata" tersebut telah masuk ke otak dan menjadi kelenjar pineal.
Posisi Kelenjar Pineal
Kelenjar pineal terletak di bagian dalam otak epifisis serebri. Bentuknya kerucut, ramping seperti buah pinus. Pada manusia, panjangnya kurang dari satu sentimeter. Di dalam kelenjar buntu otak pineal itu terdapat serabut-serabut saraf. Di antaranya ada yang berhubungan langsung dengan saraf penglihatan sehingga sangat sensitif terhadap cahaya.
Kelenjar pineal sebenarnya menghasilkan dua macam hormon penting untuk mengendalikan aktivitas manusia. Seratonin berfungsi sebagai pemberi semangat untuk melakukan aktivitas di siang hari. Sebaliknya, pada malam hari, di saat kelenjar-kelenjar lain kurang aktif, kelenjar pineal ini bekerja mencapai puncak fungsinya yaitu mengeluarkan hormon melatonin.
Melatonin (5-methoxy-N-acetyltryptamine) merupakan hormon yang memegang peranan penting terhadap regulasi beberapa fungsi biologis. Melatonin merupakan hormon yang berasal dari asam amino tryptophan sebagai prekursor sehingga produksi hormon melatonin sangat bergantung pada ketersediaan asam amino tryptophan di dalam tubuh. Tryptophan merupakan asam amino esensial yang produksi dalam tubuhnya sangat kecil sehingga perlu adanya asupan protein dari makanan.
Alur Pembentukan Melatonin
Hormon melatonin mempunyai tugas sebagai pengatur hormon-hormon lain untuk melaksanakan tugasnya. Ibarat orkes simfoni, melatonin berfungsi sebagai konduktor: mengatur dan menjaga keharmonisan kerja hormon, menjaga keteraturan metabolisme sel, mempertahankan efisiensi dan efektivitas kerja sel, membuat sel tidak mudah rusak.
Alur Kerja Melatonin
Yang menarik dari hormon melatonin ini adalah waktu produksinya. Kelenjar pineal yang menghasilkan hormon melatonin merupakan kelenjar yang sangat sensitif terhadap cahaya sehingga kelenjar ini aktif pada malam hari. Berdasarkan penelitian ternyata hormon metalonin ini paling banyak dihasilkan sekitar pukul 02.00 – 04.00 malam. Hal ini dikarenakan pada waktu itu gangguan cahaya dari alam paling minimal.
Kurva Melatonin terhadap Waktu

Berdasarkan penelitian ternyata jumlah produksi hormon melatonin dapat ditingkatkan dengan melakukan aktivitas yang dapat memperlancar aliran darah dan hormon dari otak ke seluruh tubuh. Aktivitas yang paling tepat adalah dengan melakukan sholat pada waktu tersebut yaitu sholat tahajud. Hal ini dikarenakan pada dasarnya gerakan sholat merupakan aktivitas paling proporsional bagi anatomi tubuh manusia, bahkan dari sudut medis sholat merupakan gudang obat dari berbagai jenis penyakit. Bentuk aktivitas inilah yang membedakan kualitas kesehatan antara seseorang yang bangun malam untuk sholat tahajud dan yang melakukan aktivitas lain.
Sholat merupakan kombinasi gerakan yang memungkinkan adanya aliran darah yang kaya oksigen dapat mengalir dengan lancar dan berkesinambungan antara otak dan seluruh tubuh. Hal ini dapat menstimulus kelenjar pineal untuk memproduksi hormon melatonin lebih maksimal. Dengan maksimalnya jumlah melatonin dalam tubuh, maka keseimbangan tubuh secara keseluruhan akan terjada, hal ini sangat berkaitan dengan peran hormon melatonin terhadap kinerja tubuh.
Berikut ini beberapa kegunaan hormon melatonin :
1. Berperan penting terhadap kondisi tidur yang baik termasuk menurunkan temperatur tubuh dan menjaga keadaan tubuh saat tidur.
2. Mengurangi kolesterol sehingga dapat memperkecil kemungkinan mengidap jantung koroner.
3. Mengatasi radikal bebas (antioksidan), hal ini dikarenakan melatonin dapat mentralisir zat radikal dengan menyumbangkan elektronnya. Selain itu melatonin dapat menghambat pembentukan peroksinitrit (prekursor radikal) dengan menghambat enzim nitrit oksida sintetase. Melatonin merupakan antioksidan yang lebih reaktif dibandingkan vitamin E atau glutation sehingga lebih efektif mengatai zat radikal yang masuk ke dalam tubuh
Skema Fungsi Melatonin sebagai Antioksidan
4. Meningkatkan keefektifan sistem kekebalan tubuh, hal ini dikarenakan melatonin dapat menstimulus produksi sitokin InterLeukin−2 (IL−2), InterLeukin−6 (IL−6), and InterLeukin−12 (IL−12) sebagai sistem imun tubuh.
5. Dapat mencegah kanker karena berdasarkan peneltitian hormon melatonin dapat secara langsung mencegah perkembangan sel kanker di dalam tubuh.
6. Melindungi tubuh dari polusi lingkungan serta efek racun.
7. Dapat meringankan kondisi penderita AIDS, karena melatonin sanggup merangsang sel-sel kekebalan tubuh yang abnormal menjadi normal.
Salah satu hal yang cukup menarik adalah ternyata melatonin sudah dapat dikemas menjadi obat (pil) yang dapat digunakan untuk mengingkatkan kadar melatonin dalam tubuh. Hal ini seharusnya dapat menjadi suatu keunggulan bagi umat Islam yang dapat memperoleh hormon melatonin ekstra tanpa harus membeli tetapi cukup dengan melaksanakan sholat tahajud secara rutin.

Sumber : www.webkimia.blogspot.com

Karya-Nya yang Kurindu

Salah satu karya terindah Allah yang kurindu untuk menikmatinya, lagi…menghirup sejuknya pagi ditengah rimbun pepohonan dan gemuruh takbir alam semesta, merenungi keindahan langit yang terlihat tak berjarak dengan bumi, menyusuri hamparan pasir yang halus menggelitik ditemani pasukan burung pencari nafkah dengan bekal tasbih di setiap kepakannya. Ah…serasa ingin terlempar kembali ke masa dimana aku menatap semua kebesaran Allah ini, rasanya semua pelik & penat yang kubawa saat itu luruh seketika, ada yang menariknya dengan lembut melebur bersama lautan ombak, hingga semuanya tak nampak lagi ke permukaan. Ringaaaaan…
Subhanallah, jika sudah seperti ini tak ingin kudekati lagi apapun yang dapat menggiringku untuk melupakan syukur. Maka nikmat-Mu yang mana lagi yang kan kudustakan?
Aku rindu wangi ombak…Aku rindu mengintip makhluk2 indah dibalik karang…aku rindu menyatu dengan laut, karya hebat-Mu yang bila kutuliskan semua tentangnya tak akan pernah bisa kurampungkan sampai halaman terakhir, karena sungguh nikmat-Mu tak terbatas dan tiada akhir..
Untuk melepas kerinduanku, untuk menggugah kekaguman rasa akan kebesaran-Nya, yuuuk kita selami potret indah ciptaan Allah yang satu ini….hehe.. 

_^Karang Tawulan, 2 tahun yang lalu^_






Subhanallah,Indahnya...barangkali ada yang berminat untuk rihlah kesini, :)

Ingatkan....

"...dan penuhilah janji ; sesungguhnya janji itu akan dimintai pertanggungjawabannya.“( QS. Al-Israa’ 34)

Bertemu jeda diantara sela hitungan..satu..dua..janjiii menebas ingatan..belum terbayar,

bertambah cacat amal, Astaghfirullaahal’adziim… :’(

Yang terikat, perkenankan aku mengingat kembali yang harus kulunasi. Sungguh disamping yang kuingat, ada yang terlupa.

Mohon dengan sangat..Agar aku menepati dan kau terpenuhi... T_T
Ingatkan....